Bad police…


Eh, ​ngomong2 saya kaget sendiri, kok blognya banyak postingan.. hehe, itu sebenarnya sudah jadi draft, tapi  belum diposting2. Sekali lancar buka dasbor langsung deh saya post ini itu.
5-6 hari ini suami saya k Tokyo. Ada dauroh fuyu alias winter. Sebenarnya saya pingin ikut. Jauh2 mendatangkan ustadz dari Indonesia sayang sebenarnya kalau ga ikut dauroh. Tapi sepertinya karena beberapa hal suami akhirnya berangkat sendiri. 
Ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya ditinggal suami. Meski sudah terbiasa tapi rasanya gimana gitu. Kali ini saya kan di negri orang. Semoga sih rumah dan anak2 aman terkendali. Semoga stok bahan makanan cukup sampai suami pulang. Bertepatan dengan libur tahun baru, kabarnya disini pada tutup beberapa hari.
Baru hari pertama, Maryam sudah berulah. Nangis keras banget. Sambil njedug2in diri sendiri, kakinya nendang2 lantai. Suaranyaaaa… aaaaaggggghhhh… jangan ditanya kerasnya kaya apa. Apa aja usaha saya salah. Ditolongin ga mau, ditanya tambah nangis, ditawarin main apa gitu kek tambah menjadi2, digendong meronta2, ditinggal ngumpet juga ga mempan.. dibilangin baik2 juga marah, pokoknya ga ngaruh, apalagi dimarahin balik malah tambah keras nangisnya. Ini sudah semingguan lebih tingkahnya begini. Sejak awal datang begitu kalem dan cukup bisa adaptasi, ini mulai merasa di rumah sendiri kayaknya jadi bebas berekspresi, hehe. Padahal juga selalu diperhatikan. Dulu Ahmad masa2 seperti ini malah sebelum usia 3 th. Usia 2 tahunan Ahmad kalau nangis juga susah ditolongin, bahkan kalau nangis suka sampai muntah2. Maryam sepertinya lebih panjang masa rewelnya.. sabaaar..sabaaar… 
Sampai akhirnya saya dan suami terpaksa bermain peran menjadi bad police n helper. Kalau sudah mentok ga bisa nangani Maryam, suami acting jd bad police, naah baru Maryam mau ditolongin sm saya. Habis itu abinya minta maaf, clear…. Sounding ke Maryam bahwa Maryam anak baik, ga rewel, ga nangis, pinter, shalihah, bisa puluhan kali dalam sehari, seeeetiap hari, pujian juga tak kurang2.. semoga itu menjadi doa juga. 
Obaasan n others, para tetangga apato, maafin ya anak saya. Suka ribut n bikin kegaduhan. Duuh saya ga bisa ngomongnya, ga ngerti bahasanya. Jadi saya minta maaf dari blog ini saja 😂. Maklum, di Indonesia anak2 bebas mengekspresikan tangisan dan teriakan… Hehehe….
Nunggu suami pulang 4 hari lagi….
Salam dari kyoto

Iklan

Passion….


Rada berat nih ngomongin tentang passion…

Beberapa waktu lalu saya bingung ketika harus mengisi semacam angket dari sekolah, salah satu kolom yang harus saya isi adalah tentang hobi ahmad. Aneh ya, emaknya masa ga tahu hobi anaknya apa, hehehe…. Saya bingung karena beberapa hal yang Ahmad sukai apakah masuk kategori hobi apa bukan. 
Ketika buka2 draft, saya tiba2 nemu coretan saya tentang sebuah hobi. Hobi yang akan saya ceritakan ini bertahan cukup lama dan hampir2 Ahmad tak pernah bosan dengan satu hal ini. Hobi ini mungkin bukan sekedar hobi, karena dia bisa sangat serius menjalaninya.. Hobi apakah itu?? Bertanam…
Sejak usia 3 tahunan Ahmad memulai karir bertanamnya di dago, bandung. Padahal di usia yang sama Maryam mah kerjaannya ngambek mulu..hahaha. Menanam benih melon dan semangka adalah percobaan pertamanya. Masih saya simpan potonya di komputer lama di indonesia. Dulu, kalau beli melon dan semangka saya dan Ahmad suka mengumpulkan bijinya dan dikeringkan. Pertama kali menanam, melon dan semangka Ahmad tumbuh subur, tapi sayang hanya rimbun berbunga tanpa berbuah. Ya maklum namanya juga benih abal-abal.. hihi
Tapi pengalaman pertama menanam itu sangat menyenangkan. Melihat proses tumbuh kecambah, muncul daun, tumbuh besar.. berbunga. Belum nyiram-nyiramnya itu dia suka banget.
Gagal menanam melon dan semangka dicobalah menanam sawi di kontrakan baru, di gedebage. Waktu itu kami pake botol aqua gelas bekas.. tumbuh??? Sayang ga ada yang tumbuh juga. Menanam pandan pun layu, entah kenapa, padahal tanahnya subur. Akhirnya menanam bunga2an di pojok halaman malah tumbuh. Karena punya kesibukan lain akhirnya hobi bertanam berjalan sekedarnya. 
Setelah pindah ke cibinong mulailah dia menanam lagi. Ide ngebet menanam sebenarnya berasal dari pengalaman mudik. Mbahnya punya kebun di samping rumah. Kalo mudik dia sudah minta jadwal berkebun sama mbahnya. Dari ngisi polibag dengan tanah dan kotoran hewan, ikut nyangkul, nanam cabe, nyiram2… Seneng banget karena yang disiram banyak. Waktu itu di kebun ada pohon singkong, cabe, tomat, dll. Senang dia ngubek-ubek kebun.
Mbah uti juga sempat punya tanaman kembang kol yang subur. Kebun mbah uti isinya banyak tapi kayaknya ga semua hasilnya bagus. Ada mangga yang saking pendeknya kalau berbuah diambilin anak-anak untuk mainan, ada alpukat yang sampai sekarang ga berbuah, ada pohon pisang yang cuma bisa diambil daunnya (jambu klutuk). Ada daun waung yang seger kalau dimasak sayur bening (pada ga tau kan daun waung, hehe).. Ada aneka macam bunga.. Bahkan mahkota dewa yang ga pernah dimanfaatkan buahnya. 
Eh kembali ke bertanam… singkat cerita ahmad melanjutlan karir bertanam di cibinong. Di kontrakan tanpa tanah (maklum semua dah disemen). Awalnya potnya pake botol bekas ukuran 1,5L. Ditanami benih hasil ngumpulin sendiri juga.. tanam cabe.. tomat, pare, sledri bekas ummi ngesop kalau masih ada akarnya juga dia tanam. Juga bawang merah ambil di dapur. Sebagian tumbuh sebagian tidak. Ada juga lidah buaya pemberian tante tetangga rumah yang meski ditinggal mudik hampir 2 bulan pun masih subur. Lidah buaya adalah tanaman favoritnya karena ga rewel merawatnya. 
Saking senangnya melihat proses tumbuh si benih makin semangtlah bertanamnya. Kalau ke gramedia buku yang dicari ya tentang tanaman.. Tapi belinya cuma 1-2 buku saja yang sesuai karena metode lain tidak cocok dengan kondisi rumah. Maklum kontraktor. Beraneka benih ingin dia beli. Pertama beli tanah kompos dan pupuk malah di ace hardware.. vip banget kan.. hahaha. 
Tiada hari tanpa membaca buku bertanam. Tiada hari tanpa browsing tentang bertanam.. benih benih yang ingin dicoba. Pun makin variatif, cabe, bayam, seledri, kemangi, tomat, bawang, pare pun… padahal ga doyan pare.
Kalau pinjam hp saya apa yang dibaca? Cara merawat tanaman pare.. cara membuat pestisida alami…cara menanam sledri.. cara menanam cabe.. bayam.. tentang penyerbukan.. bunga jantan dan bunga betina.. penyakit tanaman..dsb…. taak habis-habis.. hehe
Dari sekian hobi yang paling lama bertahan ya bertanam ini. Dengan penuh penghayatan dan penjiwaan pula. Sehari lebih dari 5 kali tengok tanaman dan tak lupa selalu ada laporan ke saya yang kadang hanya ditanggapi dengan jawaban ya, ya, dan ya, karena dikit2 laporan.. dikit2 laporan…hahaha.. maaap ya mad.
Apakah setelah pindah ke Kyoto keinginan bertanam itu hilang? Tidak.. Seringkali ahmad ingin sayuran hasil belanja saya ditanam. Lumayan kalau nanti butuh bisa metik sendiri. Iya sih, saya lihat di apato tetangga ada beberapa pot tanaman, bahkan tanah di sekitar apato ada yg ditanami kucai dan daun bawang.
Ternyata anakku calon petani ya.. hihihi.. emaknya baru nyadar apa gimana ini. Ga papa kan ya, yang penting halal.. siapa tahu suatu saat nanti bisa jadi petani sukses..

Tapi tiap kali ditanya cita2nya apa, tetap jawabnya mau jadi peneliti  kaya Abi. #peneliti pertanian gitu kali ya?😂
Bermain lego adalah favoritnya.. dan bertanam adalah passionnya. Di saat teman-temannya bercita2 jadi polisi, pilot, pembalap, pesepakbola, anak saya mah suka banget bertanam.. Sayang sekali kami belum bisa memfasilitasi hobi menarik ini, belum bisa mengasah minat bakat nya ini.. Passion no action jadinya ya…. Sabar ya mad, akan ada tempat dan timing yang tepat.. insyaallah.
#Sambil meresapi dinginnya kyoto#

​Kenapa pilih kyoto?


Beberapa orang nanya kenapa suami saya kuliah di jepang. Barangkali ada yang berpikir orang seperti suami saya mungkin cocoknya di Arab. Padahal juga ga bisa bahasa arab, hanya mungkin karena jenggotan #eehhh….
Sebenarnya ini harusnya suami yang jawab. Tapi tak apa lah akan saya jawab versi saya sendiri. Karena kalau nanya suami jg paling sekata dua kata jawabnya. Susah nanti saya postingnya.
Pada mulanya saya ingin suami lanjut s3 ke saudi, ke KAUST. Hahaha.. Muluk-muluk banget ya. Biarinlah namanya juga kepingin. Atau ke KFUPM. Senada dengan saya, suami juga ingin ke dua kampus tersebut. Segala upaya sudah dilakukan, apply ke dua kampus tersebut sudah dilakukan berkali-kali, bahkan sejak mau lanjut s2 dahulu kala. Tapi apa daya, tetap gagal. Akhirnya s2 nya di ITB saja dekat dengan kantor. Dan rupanya, dengan mengantongi ijazah ITB pun suami saya tetap ga laku di KAUST n KFUPM, maklumlah nilainya pas2an, ahaha.. Setelah beberapa kali mencoba tetap saja dua kampus tersebut qadarullah ga mau menerima. Kkkk….

 
Suami sudah kadung ikut seleksi beasiswa. Dimana tahun 2016 kalau bisa sudah dapat kampus yang dituju. Suami saya juga aneh memang, daftar beasiswa tapi belum tahu mau kuliah dimana.
Karena ke saudi gagal.. Maka pilihan yang disarankan adalah k jerman. Tapi saya ga siap lahir batin. Lho yang mau kuliah memangnya siapa? 🙂 Ya intinya ga bisa lah saya ke jerman karena banyak alasan. Kalau suami sih jika ga mikir istri dan anak-anak mungkin mau-mau aja ke jerman. Ini versi saya (baca:husnudzon saya karena mempertimbangkan nasib istri dan anak-anak). Dari sudut pandang saya ya alasan ini lah salah satu yang mendasari  harus cari universitas lain. Dari sisi suami, mungkin karena kultur s3 disana rata2 lama. Untuk orang macam suami saya yang butuh dibimbing dan dikejar2, kurang cocok. Karena urusan suami kemana juga otomatis urusan istri mau dibawa kemana, maka perlulah memikirkan negara mana yang kira2 paling memungkinkan. Maklum lah kami ini kompak, dua sejoli yang tidak mau dipisahkan 🙂 Orang lain boleh kuliah pisahan bertahun- tahun jauh beda negara. Tapi saya sepertinya bukan tipe yang bisa seperti itu. Jatuhlah pilihan ke jepang. Setelah negara tujuan ditentukan urusan kampusnya dimana itu urusan suami. Yang mau sekolah kan dia..heheheh
Alhamdulillah dalam waktu yang mepet, singkat cerita suami berhasil diterima di kyoto university. Amazing juga saya. Ga nyangka… Batin saya, profesornya kurang teliti apa ga ini… hihihi. Masa kirim email selang beberapa jam langsung dibalas, disuruh tes bulan februari. pertengahan februari suami tes langsung ke kampus kyoto university, selang 2 minggu ada kabar diterima. eeh tengah april langsung berangkat. Benar2 di satu sisi kabar baik karena ibarat limit time eh tiba2 dapet universitas, tapi membuat saya pontang panting karena mau ditinggal secara dadakan. Mungkin seperti jodoh ya, waktu ketemu saya juga mepet dan ga disangka2. Wkkk
Kyoto ibarat jogja nya indonesia. Katanya begitu. Itu juga menjadi alasan memilih kyodai ini. Irama hidup n lingkungan jogja rupanya memang susah hilang dari ingatan kami. Selain itu kyodai katanya adalah kampus top di jepang setelah tokyo university (bener ora iki :), klo salah monggo dikoreksi). Mungkin ini yang bikin suami ngiler juga. Hahaha. Agak kawatir juga ga ketrima karena saudi pun sudah nolak. Tapi namanya takdir ya, siapa sangka akhirnya ketrima.
Di usia yang tidak lagi muda, akhirnya bertemulah suami dengan kampus yang mungkin pilihan terbaik untuknya. Juga untuk kondisi kami sekeluarga.
Semoga suami lancar dan sukses studinya dan ilmunya bisa bermanfaat.
Ganbatte kudasai!!!! 
Salam dari kyoto

Belajar dari sebuah kegagalan


​Kali ini saya ingin cerita tentang sebuah kegagalan. Dalam HS, tentu tak semua sukses seperti yang diharapkan. Bahkan seringkali banyak hal tak dilakukan sesuai keinginan. Salah satu yang menurut saya gagal (berarti masih banyak daftar kegagalan saya ini ya, hahaha), yaitu tentang kemandirian.
Di usianya yang 10 tahun, Ahmad masih banyak kekurangan soal kemandirian. Pada banyak hal, Ahmad masih belum bisa mandiri, minta tolong ummi untuk menyelesaikan banyak hal yang sebenarnya dia harusnya mampu. Tentu ini membuat saya geregetan. Selain mungkin karena karakter, ini juga faktor salah perlakuan. Selama ini emaknya terlalu mudah menyerah, entah karena ga sabar nunggu dia menyelesaikan suatu hal, juga karena saya ga suka dia ga bener ketika menyelesaikan suatu hal. Jadilah saya turun tangan. Saya tahu teori nya ga boleh seperti itu kalau mau melatih anak mandiri, tapi kok ya saya susah mempraktekannya.
Sekarang saya belajar tega, salah satunya adalah membiarkan Ahmad memasang tali sepatunya meskipun lama. Biarpun dia menali sepatunya dengan wajah kusut karena jengkel tidak saya bantu, saya mencoba tabah.. hahaha. Kejengkelan tentang tali sepatu itu akan sirna sepulang dari sekolah. 
Itu baru masalah tali sepatu. Masih banyak yang lain. Tapi, bagi yg minat HS jangan jadi pesimis. Banyak HSer yang sukses tidak seperti saya. Hahaha… 
Alhamdulillah, sekarang saya jadi mikir, banyak hal yang harus diperbaiki…
#mohon dimaklumi, Ahmad hampir ga pernah pake sepatu, 10 th pake sandal kemana2, bahkan beli sepatu juga baru2 ini, maklum ga sekolah.. 😂

Nihongo on progress


Kui bener pora yo nulis judule.. hehehe…
Beberapa bulan sebelum kami nyusul ke Kyoto, kami berencana les bahasa Jepang di kampung sebelah kampung saya. Alhamdulillah waktu itu nemu tempat les meski kelasnya kampung, tapi malah enak buat saya, fleksibel banget karena bisa janjian kapan berangkat kapan libur, boleh bawa anak (Maryam), disediakan mainan, bahkan boleh numpang beol pula di tempat les.. wkkk. Tak jarang sensei nungguin Maryam anteng ga rewel dulu baru lanjut ngajar. Maklum anak 2,5 th disuruh duduk manis nunggu emaknya sekolah kan ga sabar.
Rencana waktu itu kami akan les 2 paket, masing2 paket sekitar 1,5 bulan, masuk seminggu 3x. Karena ini les privat pertama sensei dengan peserta seorang emak dan anaknya yang masih 10 th, sensei pun belum punya modul khusus untuk kami pakai. Alhasil kami pakai buku yang biasa dipakai sensei ngajar peserta yang mau magang ke Jepang, ditambah materi yang kira2 bakal kami perlukan. Tapi rencana tinggal rencana, karena berbagai hal les hanya bisa berjalan 1 paket. Yaaah, lumayan lah minimal emaknya ini belajar cara baca tulis hiragana dan katakana, dan beberapa percakapan  sederhana. Biar ga malu2in banget gitu masa mau minta maaf bilangnya arigatou, pagi2 ketemu orang di jalan ucapin oyasumi.. wkkkk . 
Pas les, tentu saja saya lebih cepat dari ahmad dalam menghapal hiragana dan katakana, bahkan sedikit bisa baca. Ahmad lebih banyak nge-game soalnya jadi ga hapal2. Tapi setelah sekian bulan les berhenti dan saya ga pernah buka lagi buku les, menguap deh semua, bahkan hiragana saja saya banyak yang lupa. Saya sudah sempat mikir, Ahmad yang belajarnya malesnya minta ampun gimana nanti ngejar pelajaran di sekolah.
Hampir sebulan Ahmad sekolah, dan selama itu pula dia berhadapan langsung dengan bahasa Jepang. Awal-awal memang dia ngaku ga mudeng sensei dan teman2nya pada ngomong apa. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa menangkap sedikit demi sedikit bahkan bisa sedikit ngobrol dengan temannya. Karena dalam kondisi mau tak mau harus menggunakan bahasa Jepang, otomatis hiragana katakana pun hapal dengan sendirinya, dan kosakata pun mulai bertambah. 
Ahmad disarankan untuk banyak bermain dengan teman2 Jepangnya agar bahasanya bisa berkembang. Itu cara paling mengasyikkan dan cukup efektif untuk melatih bahasa.
Kekhawatiran mesti ada saja, bagaimana kalau dia tidak maksimal dalam pelajaran karena kelas 4 ke atas sudah susah pelajarannya, terutama kanjinya. Resiko masuk di tengah2 ya kayak gini, harus ngejar banyak. Tapi apapun lah, serahkan saja pada Ahmad. Asalkan ga mbeler2 amat insyaallah bisa. 
Saya sih belum survei, bagaimana kemampuan anak asing disini dalam mengatasi kendala bahasa, katanya sih dalam 3 bulan anak2 asing rata2 mulai menunjukkan bisa berbahasa Jepang. Ini masih 1 bulan, dan Ahmad sudah menunjukkan progresnya. Mari kita lihat 2 bulan lagi! Semoga semakin baik perkembangannya

Hilang satu, tumbuh seribu


​Seperti pepatah.. hilang satu tumbuh seribu.. 
Kakak berhenti HS dan mulai sekolah sejak kurang lebih sebulan ini. Tapi ada adiknya yang sudah mulai bisa diujicoba (emang barang?? Wkkk). 
Karakter Maryam sedikit berbeda dari kakaknya. Dia sejak kecil sudah suka makan sendiri, mau mencoba apa2 sendiri. Ketrampilan makannya di usia yang sama dengan kakaknya jauh lebih mahir adiknya. Mungkin ini juga salah emaknya, dulu terlalu memanjakan ahmad. Sifat kekeuh Maryam juga luar biasa. Umminya aja yang keras ini kalah kekeuh.. wkkkk. Di usia yang sama, kakaknya sudah sangat dewasa (dalam artian mudah diberi pemahaman), sedangkan Maryam boro2.. Hahaha.. di usia yang sama, kakaknya sudah bisa operasikan komputer, Maryam masih cengeng nangis dan belum bisa ngomong. Di usia yang sama kakaknya pinter main Lego, Maryam main masak2an.. ya iya lah. Di usia yang sama kakaknya pinter cerita, Maryam pinter beralasan…wkkk. Di usia yang sama, kakaknya sudah masuk iqro 3, Maryam baru main2 baca iqro 1… Hihihi… Unik kan? Ya, inilah kedua anak saya.. Bukan perbandingan keduanya yang jadi masalah, tapi dari perbedaan fakta itu berarti emak bapaknya semoga jadi bisa menilai bagaimana cara mengatasi si junior ini..
Terlepas dari banyak perbedaan antara dua anak ini, keduanya punya kesamaan, sama2 anaknya pak taufiq dan bu rini, hahaha… sama2 anak yang ceria, suka humor, suka bercerita, suka dibacain, suka susah tidur alias meleeek terus mbuh mikir apa ga merem2, suka bermain peran, sama2 cerewet, suka jalan2, suka berteman, dan perasa alias sensitif.
Meski Maryam ga pernah mau mengalah kalau terjadi konflik dengan kakaknya yang berakhir dengan saya memarahi Ahmad, tapi Maryam selalu setia, “ummiiii, jangang maah kakak, aciang” (ummi, jangan marahin kakak, kasian). So sweet kan… Hehehe
Dua anak ini selalu bikin keributan di rumah, ribut yang bikin ketawa dan ribut yang bikin marah. Tapi kalau keduanya diam (biasanya karena sakit), emaknya jadi merasa kesepian… Makanya, mending sehat aja lah semua meski rumah ribuuut trs. Tapi kalau disini saya juga mikir2 kalau mau buat keributan jangan parah2 amat lah ya. Karena penghuni apato ini kan macem2, ada yang bisa nerima keramaian dan kelucuan anak2 #eehh#, ada yang risih dan terganggu. Kemarin baru seminggu disini saja sudah dapat surat komplain dari obaasan… Wkkkk.. maap ya nek, saya bingung jelasinnya lha nenek ga bisa bahasa Indonesia, saya jg ga bisa bahasa Jepang… Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik untuk waktu yang lama (karena ahmad betah disini, eeh).
Belajar dari pengalaman Ahmad, sekarang saya lebih santai dalam menghadapi maryam. Saya merasa dulu terlalu cepat mengolah Ahmad, sehingga pada titik tertentu ada titik jenuh dan mentok. Baik dari pihak saya maupun si anak. Maryam sekarang sudah 3 tahun, tapi masih maiiin aja kegiatannya. Biarlah.. memang beda ini si junior.
Setelah Ahmad meninggalkan umminya pergi bersekolah, akan ada Maryam yang menggantikan, menemani hari2 ummi di rumah. Semoga Maryam bisa tumbuh kembang dengan baik…