Pengalaman membuat paspor


Tentu sudah bukan hal yang sulit sekarang ini untuk membuat paspor. Tapi bagi saya pengalaman membuat paspor menjadi hal yang cukup merepotkan karena saya mengurus sendiri bersama anak-anak tanpa suami. Tempat yang kami pilih adalah imigrasi kelas II Cilacap. Alhamdulillah saya bisa numpang nginap di rumah adik saya tak jauh dari kantor imigrasi sehingga saya tak perlu bolak balik kebumen Cilacap .
Sudah jauh hari dokumen saya siapkan. Dari kopi KK, akta kelahiran, buku nikah, KTP, beserta dokumen aslinya tentunya. Dengan sangat percaya diri kami datang jam 8 ke kantor imigrasi membawa semua berkas syarat. Sebelum ambil nomor antrian saya menuju meja petugas di bagian depan, disitu berkas kami diperiksa lebih dulu sebelum ambil nomor antrian (pemeriksaan awal). Jadi kalau di bagian pertama ini beres, ga ada kekurangan, insyaallah lancar proses selanjutnya. Rupanya berkas kami belum lengkap. Sesuai apa yang kami dapat dari berbagai sumber sebenarnya syarat diatas sudah cukup. Ternyata untuk paspor anak-anak ada tambahan syarat yang baru saya ketahui setelah saya ada di kantor imigrasi. Anak-anak harus datang bersama kedua orangtua, saya harus menyertakan berkas lain sebagai ganti kehadiran suami saya. Yaitu, copy paspor suami, surat pernyataan saya dan suami dibuat terpisah yang intinya menyatakan bahwa si anak kami perlu membuat paspor untuk tujuan ke Jepang. Surat pernyataan ini sepertinya memang wajib untuk syarat permohonan paspor anak dibawah 18 tahun. Surat pernyataan ini dibuat 4 lembar, atas nama saya masing-masing untuk Ahmad dan Maryam, dan atas nama suami masing-masing untuk Ahmad dan Maryam juga, tak lupa diberi materai. Ribet ya.. hihihi.
Mengingat posisi suami sudah di Jepang, saya pun meminta keringanan pada Mba petugas imigrasi. Akhirnya dibolehkan suami kirim scan paspor. Untuk surat pernyataan yang dimaksud sudah ada template nya, jadi saya minta adik saya scan surat pernyataan tersebut ke suami. Suami ketik ulang dan ditandatangani. Baru dikirim via email dan diprint. Syukurlah materai boleh ditempel di sebelah tandatangan suami, ga harus tandatangan di atas materai.
Jam 10 lebih baru semua berkas dinyatakan lengkap. Dan kami baru bisa ambil nomor antrian. Alhamdulillah antrian hari itu ga terlalu panjang. Kebanyakan sesama pengantri adalah para TKI, TKW, dan orang-orang yang mau umroh, mereka pun sama seperti saya banyak yang masih kurang ini itu. Hihihi.. Alhamdulillah Maryam cukup anteng dan ga rewel.
Tiba giliran antrian kami dipanggil, kami maju bertiga sekaligus. Sayang sekali petugas yang memeriksa kami cukup judes dan nyambi-nyambi nelpon orang, nerima telpon, dan ngurusi pemohon lain di belakang saya. lha gunanya nomor antrian ini apa??? Pingin rasanya protes tapi saya tahan-tahan. Akhirnya giliran Maryam foto dia nangis jerit-jerit karena sudah boring menunggu si petugas ngurusi hal-hal lain. Sampai kami pause dulu nunggu Maryam anteng. Karena rewel itu Maryam tidak diambil sidik jarinya. Semoga kelak ga bermasalah ini paspor maryam. Si petugas sih bilangnya ga apa-apa punya Maryam ga diambil kesepuluh sidik jarinya karena rewel.
Prosedur ini cukup singkat sebenarnya, dilakukan di satu meja dan di depan satu petugas, dari mulai verifikasi berkas, input data, wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari. Setelah itu kita dikasih tanda terima permohonan dari petugas untuk melakukan pembayaran. Sayangnya pembayaran ini ga sekalian di kantor imigrasi, tapi harus ke bank. Saya memilih ke BNI. Dan di BNI antri lagi.. hehehe… Bukti pembayaran dari BNI harus dibawa untuk pengambilan paspor nanti. Sesuai apa yang tertera di bukti pembayaran, paspor bisa diambil 3 hari sejak pembayaran.
Singkat cerita, 3 hari setelah pembayaran saya kembali ke kantor imigrasi. Untuk pengambilan paspor kita masuk lewat pintu belakang (pintu belakang beneran ya :)). Kantor imigrasi Cilacap ada 2 pintu, pintu depan untuk apply, pintu belakang untuk pengambilan. Sebelum ambil kita juga harus ambil nomor antrian dengan memasukkan nomor kita. Qadarullah mesin nomer antrian error sehingga kami dilayani manual. Setelah dicek, ternyata pembayaran saya dan Maryam belum masuk, alias statusnya belum dibayar. Kok bisa? Katanya sistem lagi error. Ya sudah saya pulang, harus nunggu sampai status saya sudah dibayar. Kalau status sudah dibayar baru bisa dilakukan pencetakan, uji kualitas, dan baru bisa diambil. Alhamdulillah paspor Ahmad sudah jadi hari itu. Jadi pembayaran atas nama Ahmad sudah masuk duluan. Setidaknya hari itu ada hasilnya lah ke kantor imigrasi..
Saya sampai 4x bolak balik ke kantor imigrasi sampai akhirnya paspor kami bertiga jadi. dan total butuh waktu 10 hari. benar-benar di luar dugaan. Syukurnya saya dan anak-anak ada tempat nginap di Cilacap. Jadi ga harus bolak balik kebumen Cilacap. Kecewa?? Ya jelas. Sudah tahu error beberapa lama itu sistem, kenapa tidak ada “maintenance”. ‘ala kulli hal harus bersyukur, semua akhirnya beres. Bangga dong, bisa bikin paspor tanpa suami.. hahahaha….

 

Kesimpulannya, kalau mau buat paspor cari info selengkap-lengkapnya apa syaratnya, datanglah ke kantor imigrasi dg membawa berkas yang lengkap, perhatikan jadwalnya, perhitungkan waktunya. Jangan sampai seperti teman saya nunggu di loket pengambilan paspor, dia datang jauh dari luar kota pagi bener bersama anaknya yang masih kecil, ternyata belum jadi, dan harus nunggu sampai jam 3 sore lebih. Ternyata untuk pengambilan jadwalnya adalah setelah dzuhur. Saya bersyukur karena saya cukup naik motor 15 menit ke imigrasi, itu pun naik motor nya pelan-pelan. Kalaupun bolak balik beberapa kali masih wajar capeknya.. lagian saya kan juga ga ada kerjaan.. kkkk
Baiklah, berikut saya tuliskan persyaratan permohonan paspor secara lengkap ya. Sumber ini berasal dari kantor imigrasi Cilacap, dan sepertinya berlaku umum di semua imigrasi di Indonesia. Tapi untuk lebih pastinya, kalau mau ya sebelum membuat paspor coba telpon ke kantor imigrasi telepon lah tanyakan syaratnya apa saja.
Persyaratan permohonan paspor umum:
1. KTP (e-KTP)

2. Kartu keluarga

3. Akta kelahiran/ijazah/akta nikah/surat ganti nama/bukti kewarganegaraan Indonesia/pasor lama (untuk permohonan penggantian paspor)

4. Semua persyaratan permohonan membawa dokumen yang asli dan fotocopy
Persyaratan permohonan paspor TKI:
1. KTP (e-KTP)

2. Kartu keluarga

3. Akta kelahiran/ijazah/akta nikah/surat ganti nama/bukti kewarganegaraan Indonesia

4. Surat permohonan dari sponsor

5. Surat rekomendasi dari Disnakertrans

6. Paspor lama (untuk permohonan penggantian paspor)

7. Semua persyaratan permohonan membawa dokumen yang asli dan fotocopy
Persyaratan permohonan paspor anak dibawah umur 18 tahun:
1. KTP (e-KTP) kedua orangtua

2. KTP (e-KTP) bagi anak yang telah berumur 17 tahun

3. Kartu keluarga

4. Akta kelahiran

5. Surat nikah orangtua

5. Paspor orangtua/wali

6. Surat pernyataan orang tua (pengalaman pribadi : disediakan template nya di kantor imigrasi)

7. Paspor lama (untuk permohonan penggantian paspor)

8. Kedua orang tua wajib hadir (pengalaman pribadi: menjelaskan alasan suami tidak bisa hadir dan cukup diwakilkan saya sebagai ibu)

9. Semua persyaratan permohonan membawa dokumen yang asli dan fotocopy)
Catatan:

* Jangan lupa sebelum ke imigrasi copy semua dokumen yang dibutuhkan, jadi datang langsung bisa antri tak perlu copy dokumen dulu

* Dokumen asli digunakan untuk mencocokkan copyan berkas persyaratan, jangan sampai ketinggalan

* Siapkan materai
Sekedar berbagi, semoga bermanfaat

Apa kabar homeschooling?


Ternyata berkomitmen untuk homeschooling tidak mudah. Tak akan berpanjang-panjang, yang jelas sampai saat ini Ahmad masih belum sekolah, masih homeschooling meski beginilah ala kadarnya. Apa boleh buat sudah terlanjur jauh begini … Kita lanjutkan.. hehehe

Sebenarnya mungkin tidak akan benar2 berlanjut, karena insyaallah kami akan menyusul suami ke Jepang, jadi Ahmad rencana akan sekolah disana. Karena beberapa pertimbangan Ahmad insyaallah akan mencoba sekolah. Karena kami benar2 tidak tahu prosedur HS di Jepang, dan karena sudah kacaunya HS Ahmad, semoga back to school bisa menjadi solusi terbaik. Tentu banyak tantangan Ahmad nanti karena dia sudah 10 tahun, masuk SD Jepang tidak dari awal kelas 1. Kami juga mempunyai masalah dengan kedisiplinan, semoga Ahmad bisa belajar disiplin pada anak2 Jepang nanti.

Sebagai orang tua kami juga yang secara tidak sadar sudah mengorbankan Ahmad dalam situasi ini. Karena emaknya yang tidak becus mendidik, HS Ahmad jadi kacau balau. Karena abinya studi di Jepang, Ahmad pun harus mengubah jalan hidupnya :)… Semoga nanti tidak hanya Abi yang belajar disana, tapi Ahmad, Maryam, dan emaknya pun bisa belajar banyak.

Banyak hal yang harus dimulai dari awal, banyak hal yang harus diubah total. Mungkin dengan ke Jepang kami jadi tersadar alangkah banyak hal yang selama ini tidak kami seriusi, baru sadar ketika kami harus pergi jauh ke negri seberang, baru kami bayangkan akan seperti apa kerasnya kehidupan disana. Tentu akan banyak hal yang berbeda dari indonesia, dan banyak hal yang berseberangan dengan islam. Semoga kami bisa melaluinya dengan sebaik-baiknya. Aamiin

Bagaimana Cara Mengirim Surat


Kali ini edisi kantor pos. Ahmad sudah lamaaa ingin kirim surat ke mbahnya di kampung. Dulu dia pernah bikin surat isinya pohon keluarga, dari atas ada mbah uyut,  mbah kakung mbah uti, abi ummi, maryam ahmad.. tentang silsilah keluarga critanya. Sudah dimasukin amplop, tapi mau dikirim lupaaa terus. Akhirnya hilang entah kemana.

Akhirnya dia bikin surat lagi, entah surat yang keberapa, haha.. trus dimasukin amplop. Umminya ga boleh lihat apa isinya. hehehe..  Tibalah saatnya kami ngeposin surat. Kami bawa ahmad ke kantor pos dekat  rumah. Ahmad tampak kaget… kantor pos kok kayak gini.. hihi.. Habis kecil sih, kaya rumah biasa,petugasnya ga pake seragam, ga ada mobil pos, ga ada logo pos yang mencolok dan menarik perhatian ahmad. Singkat cerita (lah emang singkat banget prosesnya hihi… dia mikirnya rada lamaan gitu kek masa dari dulu pingin ngerti kantor pos kaya apa, proses ngirim surat bagaimana eh kok ini cepet banget, harus pulang dong) giliran bayar, 6 ribu rupiah. Kata ahmad, hah.. 6 ribu doang, kan jauh mi. Laaah, klo whatsap malah lbh murah lg.. sekian detik nyampe pula…wkkk

Yah untuk kunjungan ke kantos dan belajar apa itu kantor pos memang ini terlalu singkat, mungkin harus ke kantor pos yang lebih besar, dan harus ada sesi wawancara. Ini mau wawancara gimana ya, lah di belakang meja pak pos tampak cuek, dan ooow malah ada beberapa tumpukan laundry di belakang sono… Masa mau nanya gini: pak pos, apa di kantor pos melayani laundry? LOL

Apa yang dia bayangkan tentang kantor pos ternyata tidak sesuai dengan perkiraannya.. hahaha… Sorry, boy.. tapi hutang ummi lunas ya, ngajak ke kantor pos.. LOL lagi

Selang beberapa hari, ada sms masuk, dari mbah uti.

Begini bunyi smsnya:

Assalamu’alaikum, ahmad ni suratnya dah sampe. Tp mbah uti blm sempat mbalas suratnya, mbah lg sibuk ngawasi ujian. gambarnya bagus sekali. nilainya 100 (ternyata suratnya isinya gambar aquarium beserta isinya, wkkk). mad,suratnya gak pake prangko ko bisa sampe alamat .mbah uti heran. #yaelaah, mbah uti ga update ya mad, kan sekarang bisa tanpa perangko#

sekian cerita ahmad
-edisi postingan yang tertunda-

Reminder


Sebagai muslim, pendidikan yang seharusnya kita berikan pada anak-anak kita adalah pendidikan yang dimulai dari mengajarkan nilai-nilai islam di atas pemahaman islam yang benar. Tidak hanya ketika kecil, saat menginjak remaja, dewasa, terus demikian sampai akhir..

Tak peduli sang anak kelak akan menjadi apa, sudah menjadi keharusan bahwa anak-anak harus kita ajarkan untuk berjalan diatas islam, dimanapun berada, pada kondisi apapun, kapanpun.. sekali lagi, nilai2 islam yang benar.

Karena ternyata, gelora semangat islamic homeschooling tak cukup hanya sekedar stempel atas nama islam. Tak cukup….

Ya, seperti sebuah retorika.. tapi itulah pendidikan yang sebenarnya..

Selama ini kita sering mendengar kalimat, “hasilnya spt apa, yang penting prosesnya”.. itu tak benar mutlak, ada yang perlu ditambahkan… ingatlah, innamal a’maalu bil khowaatim.. amal kita tergantung bagaimana akhirnya. Kita tidak pernah tahu akhir dari usaha kita akan membuahkan hasil seperti apa, kita dan anak-anak kita akan seperti apa.. akhir yang baik tentu yang kita harapkan.

Alangkah percaya dirinya kita, telah mendidik anak-anak atas nama islam, tapi ternyata bukan nilai-nilai islam yang sesungguhnya yang kita ajarkan. Sepertinya kita sudah merasa tenang, jika kita sudah berbicara dengan embel-embel kata islam..  Tapi naifnya kita, itu kadang anggapan kita saja.

Mari kita belajar apa itu islam dan apa yang diajarkan oleh islam. Masih banyak yang belum kita ketahui tentang ajaran islam dan pemahaman islam yang benar. Jangan sampai yang kita wariskan kepada anak-anak ternyata bukan nilai islam yang sesungguhnya. Sekian puluh tahun yang akan datang insyaallah kita akan melihat output yang kita hasilkan…

Bukan gagal… hanya belum berhasil


Dear ahmad,

8 tahun sudah usia ahmad. Sebenarnya sejak bayi ahmad sudah menjadi seorang pembelajar. Belajar menyusu, tengkurap, makan, minum, duduk, merangkak, berjalan, berlari.. Hingga bertambah usia pun semakin banyak belajar. Belajar menggambar, mewarnai, menulis, membaca, berhitung.. Makin besar makin banyak yang dipelajari. Termasuk belajar mengatur emosi, menahan diri, bersabar, memahami.

Tak disangka, semakin besar semakin banyak hal yang harus dipelajari. Begitu membuka pintu dan jendela, nampak semakin banyak hal diluar sana yang belum disentuh. Semua itu baru terlihat dari jauh, belum didekati. Apa yang dipelajari baru satu titik tinta di tengah air lautan.. Bayangkan.. belum seberapa, kan?

***

Kalau tulisanmu masih acak-acakan itu bukan berarti kau belum bisa menulis. Kau hanya perlu banyak menulis, lama-lama akan rapi.

Kalau kau belum banyak hapalan, itu bukan berarti karena kau tak menghapal. Kau hanya perlu lebih banyak dan serius menghapal.

Kalau kau belum bisa membuat kreasi, itu bukan berarti kau tak bisa berkarya. Kau hanya perlu telaten dan mencoba.

Kalau kau belum pintar matematika, bukan berarti kau bodoh dalam matematika. Kau hanya perlu menyukainya, dan bersabar menghitung angka-angka.

Kalau kau masih belum disiplin, bukan berarti disiplin itu menyusahkan. Kau hanya perlu melakukan hal yang seharusnya, kau akan tertib nantinya.

Kalau kau belum mandiri, bukan berarti karena kau tak bisa melakukannya. Kau hanya perlu membiasakannya. Kau akan terkejut bahwa ternyata itu sangat mudah.

Kalau kau kurang rajin, bukan berarti kau itu pemalas. Kau hanya perlu lebih semangat. Kau akan tahu malas itu ternyata membosankan.

Kalau kau banyak kekurangan, bukan berarti kau tak punya kelebihan. Di antara kekurangan-kekurangan itu, satu saja kelebihanmu sudah membuat kami bangga. Kau tak harus menjadi seorang dengan penuh kelebihan, karena kekurangan tidak selalu menjadi suatu kesalahan.

***
Kekuranganmu adalah bagian dari kekurangan ummi dan abi,
kita hanya perlu memperbaiki

With love,
Ummi dan (mewakili) Abi

Berbalas pantun


si ahmad lagi suka niru jarjit berpantun nih.. mengasah bahasa… wkkk. tapi sayang kalau berpantun sering ngaco.

dua tiga suka nabung,
alias ga nyambung…

tak apa lah..
dah berlatih susah payah..

karena pantunnya sering salah rima.. akhirnya dia banyak niru pantun umminya…

yaaah,
dua tiga pergi berburu…
ga seruuuu…

tapi bagus juga sih. ummi kan jadi bisa menyampaikan pesan moral sambil lucu-lucuan.. atau marahnya diungkapkan lewat pantun kan jadi ga begitu menyeramkan.. hahaha…

misal nih,

dua tiga kepompong…
jangan suka bohooong…

dua tiga daun talas…
jangan suka malas…

bisa juga untuk memuji,

dua tiga nyayur lodeh…
ahmad baik deh…

dua tiga burung perkutut…
ahmad memang nurut..

atau untuk nyuruh,

dua tiga goreng ayam…
tolong ya jagain maryam….

hihihi…