Tempat Berpetualang


Tempat Berpetualang……..

Rumah Kontrakan

Rumah yang kami tempati adalah sebuah kontrakan di sekitar Dago, tidak luas, mungkin hanya 30 meter persegi, kecil mungil dan menjulang tiga lantai ke atas. Tidak disangka kami mendapatkan rumah sederhana yang menyenangkan ini. Rumah yang kami persiapkan untuk menanti buah hati kami yang kedua yang telah diambil kembali oleh Pemiliknya…

Pemandangan masih cukup indah dilihat dari lantai paling atas, gunung, pohon-pohon, udara juga cukup bersih jauh dari polusi. Di kontrakan inilah ahmad belajar “menjadi sehat”, belajar banyak hal, bereksperimen, dan belajar mengerti “kehilangan”. Meskipun rumah-rumah berimpit, tapi tetangga baik-baik. Ya, maklum… tanah semakin sedikit dan mahal, sementara penduduk makin padat. Seperti halnya jakarta, bandung juga penuh sesak.

Alhamdulillah kami masih bisa menyewa tempat tinggal di rantau ini. Kami bersyukur, karena kondisi rumah dan lingkungan sekitar begitu “mendukung” program2 dan petualangan kami “ber-sekolah di rumah”.

Belakang rumah persis, ada sebuah masjid. Memang ini seperti yang kami syaratkan dalam mencari tempat tinggal, dekat masjid. Karena abi (dan ahmad kelak) harus sholat jama’ah 5 waktu di masjid. Turun sedikit, ada sebuah sungai, sudah cukup kotor, tapi apa boleh buat… warga sekitar harus memakainya untuk mandi dan mencuci piring, mencuci baju dan motor, juga untuk berenang anak-anak….

Meskipun belum cukup lama tinggal di sini, ahmad sudah punya banyak teman, karena ahmad gampang sekali kenal dan suka berteman. Ternyata di sekitar kita masih banyak orang-orang yang hidupnya kekurangan, keadaan anak-anak yang beraneka ragam, semua memberi pelajaran tersendiri untuk ahmad.

Kampung Padi

Turun lagi, ada perumahan baru bekas persawahan… makanya dikasih nama “kampung padi”, begitu kata orang. Sebenarnya bukan bekas… lebih tepatnya, sawah yang dijadikan perumahan. Memang dilematis, sayang sebenarnya… lahan persawahan makin berkurang karena dipakai untuk keperluan perumahan, tapi orang juga butuh tempat tinggal. Semacam kami ini… masih jadi kontraktor rumah setiap tahun alias menyewa. ‘Ala kulli hal, alhamdulillah, ini juga nikmat yang tidak terkira……

Pemandangan di sekitar kampung padi cukup menyegarkan mata, nice view…  masih lihat gunung, sungai, bahkan air terjun. Kalau yang ini nih kesukaan ahmad. Kadang-kadang kami jadwalkan pagi-pagi jalan-jalan ke kampung padi, sepi, menghirup udara segar, sambil berjemur matahari, jalan-jalan perumahan pun cukup luas, lihat rumah-rumah bagus dan mewah, lihat gunung, dan air terjun…

Umminya juga jadi kepingin punya rumah sendiri seperti di kampung padi ini :)… Dekat kantor abi kerja, dekat pusat kota, strategis, cukup dekat tempat kajian, tidak harus lama-lama nunggu abi pulang, dan suasana masih asri. Tapi satu yang kurang, masjid….. Ummi mana punya uang buat bangun masjid di kampung padi ini. Wah, kalau ada komplek perumahan salafy strategis dan segar seperti ini… Jadi mimpi… (kata Rosululloh, 4 kebahagian seorang muslim, istri yang sholihah, rumah yang bagus, kendaraan yang bagus, dan tetangga yang baik, hehehe… ). Ahmad betah berlama-lama di sini, kecuali ummi dan bibi, karena pekerjaan rumah sudah menunggu. Belum lagi capek keliling kampung padi karena jalannya naik turun hampir 45 derajat.

Sekolah Alam

Turun ke arah kanan rumah, menyusuri jalan setapak yang sudah dibangun PLN, ada sebuah tempat yang cukup menarik, “sekolah alam”. Banyak bangunan dari kayu seperti saung-saung tempat makan khas orang sunda, tapi ini sungguh-sungguh ruang kelas sekolah, bukan restoran. Kegiatan belajar di kelas ini pun cukup dengan menggelar tikar.

Seperti namanya, sekolah alam… sekolah yang menyatu dengan alam. Konsep yang bagus, mungkin hampir mirip dengan homeschooling, tapi bagaimanapun ini sudah jadi “sekolahan”, yang masuk pagi-pagi dan pulang sore hari. Ahmad mau-mau saja masuk sekolah ini. Tapi umminya tak akan pernah mengijinkan, gawat kalau nanti ada pelajaran menyanyi dan nyoblos partai.

Murid-muridnya pake sepatu boot, dan bajunya tidak berseragam. Mereka harus membawa baju ganti karena selama belajar mereka akan belepotan. Mereka memanggil guru-guru mereka dengan ustadz/ustadzah. Tak disangka, anak-anak yang sekolah di tempat seperti ini justru anak orang-orang kaya, mobil antar jemput mereka pun parkirnya jauh di atas, karena jalan hanya bisa diakses motor, sepeda, dan pejalan kaki.

Kami juga suka membawa ahmad ke tempat ini. Jaraknya cukup dekat dengan rumah, dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah sawah dan kebon. Udaranya segar, karena masih dikelilingi pohon-pohon seperti hutan. Ahmad bisa main ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, jalan-jalan naik turun undak-undakan, keliling kolam sekolah, dan masuk ke tempat yang ahmad sebut “gerbong” kereta. Bisa sambil belajar, ngobrol, minum, dan makan-makan… Ada tempat duduk-duduk dari kayu, dan 3 keranjang sampah merah hijau biru yang ditempatkan menyebar di beberapa lokasi, masing-masing untuk sampah kertas, organik, dan anorganik (perlu ditiru nih….)

Seperti di kampung mbah uti, ahmad pun bisa melihat kandang kambing seperti di salah satu sudut sekolah ini, sawah dan juga orang-orangan sawah yang ramai mengusir burung pemakan padi.

Qodarulloh tiap kami main ke sekolah alam ini hari libur sekolah, jadi cukup bebas dan sepi. Paling-paling ada satu dua akhwat ustadzah di sekolah ini, dan mereka tentu sudah paham melihat orang berbaju gelap dan bercadar, mereka hanya senyum-senyum dari jauh, sepertinya enggan mendekat (dan ummi pun merasa agak canggung untuk mendekati, ummi tahu karena ummi dulu pernah menjadi “seperti mereka”). Padahal ummi pingin ngobrol-ngobrol dengan mereka, siapa tahu bisa menimba beberapa pengalaman….. (mungkin suatu saat ummi akan berani menyapa dan “wawancara” dengan mereka).

Jika ahmad diajak ke tempat-tempat seperti ini, wajah ahmad selalu berbinar-binar, sejak buka pintu rumah hingga pulang kembali ke rumah… (ummi lihat saking senangnya mungkin sulit digambarkan dengan kata-kata). Tidur siang pun ngelindurnya “indah”, bangun-bangun tidak nangis mengingat tempat dan kejadian yang baru dialami.

Wah, pokoknya masih banyak tempat berpetualang yang lain disini…. bahkan tempat-tempat seperti ini belum pernah kami temui selama kami tinggal di jogja (mungkin sebenarnya ada, tapi kami tidak pernah mengenalnya). Tapi bagaimanapun jogja masih jadi kota terindah buat kami (abi dan ummi), tempat kami mengenal manhaj salaf dan menimba ilmu…..

2 thoughts on “Tempat Berpetualang

  1. Hmm,, jadi kangen bandung mba,, Kakeknya Azzam juga di Bandung, Di Pangalengan (Bandung Selatan,,) sekarang kami sedang belajar di bumi Alloh Banjarmasin,, (Bedaaaa sekali dengan bandung dan jakarta),,

  2. waah… pangalengan… banyak susu dong mba… eh teh…
    kami pindah2 teh tinggalnya, pernah di tubagus, di dago pojok, n sekarang di gedebage… jauh dari “kota”
    mari pulang…. mampir sini dek azzam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s