Shiroh Nabi Muhammad


(Bagian 1)

Sebagai anak muslim tentu harus tahu dan mengenal siapa Nabi Muhammad (shollallohu ‘alaihi wasallam). Rosululloh bersabda,

Tidaklah seseorang beriman hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ibrohim Bapak Para Nabi

Nabi Ibrohim ‘alaihissalam adalah bapaknya para Nabi. Beliau hidup bersama keluarganya di bumi Palestina. Istrinya bernama Hajar, dan anaknya bernama Ismail. Alloh memerintahkan Nabi Ibrohim agar membawa anak dan istrinya ke bumi Hijaz.

Keimanan Yang Sempurna

Nabi Ibrohim pun pergi ke sebuah tempat, yang Alloh telah perintahkan beliau untuk ke sana. Di lembah Makkah yang tidak ada tumbuhan dan tidak ada air. Suatu waktu Nabi Ibrohim ingin kembali ke Palestina. Istrinya bertanya, “Apakah Alloh yang telah memerintahkan kamu dengan perkara ini?” Nabi Ibrohim menjawab, “Ya!” Istrinya berkata, “Kalau begitu Alloh tidak akan menelantarkan kita.” Dan ini adalah tanda keimanan yang sempurna kepada Alloh Yang Maha Agung.

Tawakkal Kepada Alloh

Nabi Ibrohim pergi meninggalkan Makkah. Beliau berdiri dan berdoa kepada Alloh agar menjadikan tempat ini menjadi negeri yang aman. Beliau berkata, “Robbij ‘al hadzaa baladan aaminaa” (Ya Alloh, jadikanlah tempat ini sebagai negeri yang aman). Beliau juga berdoa, “warzuqhum minatstsamarooti la’allahum yasykuruun” (Berilah rizki kepada mereka berupa buah-buahan, semoga mereka bersyukur). Kemudian beliau pun pergi meninggalkan anak dan istrinya, kembali ke Palestina.

Ismail Yang Haus

Nabi Ibrohim telah melaksanakan perintah Alloh Yang Maha Agung. Hajar dan putranya Ismail pun duduk sendirian. Ismail merasa haus. Sang ibu mengerti bahwa anaknya membutuhkan air. Sedangkan air yang dibawa telah habis. Hajar pun pergi mencari air. Beliau mendaki bukit Ash Shofaa. Namun tidak mendapatkan air di sana. Kemudian melihat ke bukit Al Marwah dan berharap melihat seseorang, tapi dia tidak melihat siapapun. Hajar pun segera menuju bukit Al Marwah, tapi tidak mendapatkan air di sana, tidak juga melihat seorang pun. Dia bersegera kembali ke bukit Ash Shofaa, berulang sampai 7 kali. Akhirnya beliau berdoa kepada Alloh. Lalu dia mendengar suara binatang sehingga khawatir keadaan Ismail. Hajar kembali menuju anaknya Ismail tanpa membawa air. Ternyata Ismail dalam keadaan baik.

Air Zam-zam

Alloh mengutus malaikat Jibril ke sisi Ismail. Jibril memukul bumi dengan kaki Ismail. Lalu keluarlah air dengan izin Alloh. Doa Nabi Ibrohim dan Hajar menjadi kenyataan. Alloh telah merahmati dan menyelamatkan Ismail dari kebinasaan.

Air ini mengalir dari sumber air yang baru. Hajar pun mulai mengumpulkan dan menahan air itu dengan pasir. Lalu beliau berkata pada air itu, “Zam-zam!” Makna zam-zam adalah “berkumpullah dan jangan berpisah”. Kemudian sumber air itu dinamakan zam-zam.

Tatkala sumber air zam-zam memancarkan air di tempat itu, para musafir yang lewat melihatnya, mereka pun menuju ke air tersebut. Mereka bertempat tinggal di sekitar zam-zam. Manusia saling berkenalan. Para pedagang pun menjadi banyak di sekitar zam-zam, sampai akhirnya daerah itu berubah menjadi kota perdagangan. Kota ini bernama Makkah, atau dinamai dengan Bakkah, juga disebut Ummul Quro (ibukota)

Nabi Ibrohim kembali ke Makkah dan Membangun Ka’bah

Setelah bertahun-tahun lamanya, Nabi aibrohim akhirnya kembali ke Makkah untuk mengunjungi istrinya Hajar, dan anaknya Ismail. Alloh pun memerintahkan Nabi Ibrohim untuk membangun Ka’bah. Yang membantu beliau membangun Ka’bah adalah putra beliau, Ismail ‘alaihis salam.

Keduanya berdoa kepada Alloh, “Ya Robb kami terimalah amalan kami ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.”

Kabilah Quraisy dan Tanda Kemuliannya

Keturunan Ismail pun berkembang biak menjadi banyak. Mereka tersebar di berbagai penjuru Makkah. Kabilah (suku) Quraiys pun berasal dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihis salam. Kabilah Quraiys menjadi sangat terkenal karena mereka memberi pelayanan kepada umat manusia.

Pemimpin kabilah ini memberi makan dan minum kepada kaum fakir. Dia lakukan ini untuk memuliakan para pengunjung Ka’bah. Pemimpin kabilah memberikan bendera peperangan. Dan makna “memberikan bendera” adalah menyerahkan bendera kepada komandan pasukan. Bendera ini dinamakan al liwaa’.

Perbuatan memberi makan orang-orang yang berhaji disebut ar rifaadah. Dan perbuatan memberi minum oranng-orang yang berhaji disebut as siqooyah. Ar rifaadah, as siqooyah, dan al liwaa’ merupakan tanda-tanda kemuliaan dan keluhuran. Semua itu dimiliki oleh kabilah Quraisy….

(Disarikan dari buku Shiroh Nabawiyah Versi Anak-anak, Penerbit Darul Ilmi, Ngaglik, Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s