Homeschooling dalam Undang2


Dalam sistem pendidikan di Indonesia, homeschooling (diterjemahkan sebagai Sekolah Rumah) merupakan jalur pendidikan informal.


Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1):

“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”


Pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan informal kecuali standar penilaian apabila akan disetarakan dengan pendidikan jalur formal dan nonformal sebagaimana yang dinyatakan pada UU No. 20/23, pasal 27 ayat (2).


Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.

2. Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.


(Sumber: “Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa”, Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

copas dari homeschoolinganakmuslim.blogspot.com

Jam Belajar Sekolah Rumah


Untuk mendapatkan kesetaraan dengan jalur pendidikan formal dan nonformal, Depdiknas memberikan guideline jumlah jam belajar yang setara dengan paket A, B, dan C.

Paket A
Setara SD/MI tahap awal
Paket A
Setara SD/MI
Paket B
Setara SMP/MTs
Paket C
Setara SMU/MA
595 jam/tahun 680 jam/tahun 816 jam/tahun 969 jam/tahun
180 hari/tahun 180 hari/tahun 180 hari/tahun 180 hari/tahun
3.3 jam/hari 3.8 jam/hari 4.5 jam/hari 5.4 jam/hari
34 mg/tahun 34 mg/tahun 34 mg/tahun 34 mg/tahun
30 SKS/semester 30 SKS/semester 34 SKS/semester 38 SKS/semester
@35 menit @ 40 menit @ 40 menit @45 menit

Catatan:

  1. Kerumahtanggaan diintegrasikan ke dalam matapelajaran terkait.
  2. Etika bekerja ekonomi lokal diintegrasikan dan matapelajaran ketrampilan bermata pencaharian diintegrasikan menjadi mata pelajaran kecakapan kerja.
  3. Untuk paket B dan C diberikan matapelajaran kecakapan kerja sebanyak 4 SKS yang dapat diberikan setiap semester atau diblok pada kelas akhir semester awal.

(Sumber: “Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa”, Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

copas dari homeschoolinganakmuslim.blogspot.com

Komunitas Belajar


Ketika banyak pihak yang melaksanakan homeschooling bergabung dan menyusun atau menentukan silabus serta bahan ajar bagi peserta didiknya, maka itu merupakan suatu kelompok belajar atau disebut Komunitas Belajar.

Komunitas Belajar merupakan satuan pendidikan jalur nonformal. Acuan dalam UU mengenai Komunitas Belajar ada pada UU 20/2003 pasal 26 ayat (4):

“Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.”

Peserta didik dari Komunitas Belajar yang memenuhi persyaratan dapat mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan pada jalur pendidikan non formal. Hal itu sejalan dengan UU 20/2003 pasal 26 ayat (6):

“Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.”

Agar kegiatan homeschooling bisa memperoleh penilaian dan penghargaan melalui pendidikan kesetaraan, perlu ditempuh langkah-langkah pembentukan Komunitas Belajar sebagai berikut:

1. Mendaftarkan kesiapan orang tua/keluarga untuk menyelenggarakan pembelajaran di rumah/lingkungan kepada Komunitas Belajar.
2. Berhimpun dalam suatu komunitas.
3. Mendaftarkan komunitas belajar pada bidang yang menangani pendidikan kesetaraan pada Dinas Pendidikan kabupaten/kota setempat.
4. Mengadministrasikan peserta didik sesuai dengan program paket belajar yang diikutinya.
5. Menyusun program belajar dan strategi penyelenggaraan secara menyeluruh dan berkesinambungan sesuai dengan program paket belajar yang diselenggarakannya.
6. Mengembangkan perangkat pendukung pembelajaran.
7. Melakukan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai peserta didik secara berkala per semester.
8. Mengikutsertakan peserta didik yang sudah memenuhi persyaratan dalam Ujian Nasional.

Sejalan dengan hal di atas, pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk:

1. Melakukan pendataan Komunitas Belajar dan sekolah rumah yang menjadi anggotanya.
2. Melakukan pembinaan terhadap Komunitas Belajar.
3. Memfasilitasi terselenggaranya ujian nasional bagi peserta didik sekolah rumah yang terdaftar pada Komunitas Belajar.

(Sumber: “Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa”, Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

copas dari homeschoolinganakmuslim.blogspot.com

Penilaian dan Ujian Kesetaraan


Sistem penilaian pendidikan kesetaraan dilakukan dengan:

  1. Penilaian mandiri dengan mengerjakan berbagai latihan yang terintegrasi dalam setiap modul.
  2. Penilaian formatif oleh tutor melalui pengamatan, diskusi, penugasan, ulangan, proyek, dan portofolio, dalam proses tutorial.
  3. Penilaian semester.
  4. Ujian Nasional oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional.

Ujian Nasional pendidikan kesetaraan untuk program Paket A, Paket B, dan Paket C dimaksudkan untuk menyetarakan lulusan peserta didik dari pendidikan nonformal dengan pendidikan formal/sekolah. Hal ini sesuai dengan UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP 19/2005 tentang standar nasional pendidikan.

Ujian Nasional diselenggarakan 2 (dua) kali setahun, periode pertama April dan Mei, dan periode kedua bulan Oktober. Penyesuaian dapat dilakukan bila pada bulan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Peserta Ujian Nasional adalah warga belajar pada program Paket A, B, dan C dengan persyaratan administratif sebagai berikut:

  1. terdaftar pada Kelompok Belajar dan tercatat dalam buku induk.
  2. memiliki STTB/Ijazah/Surat Keterangan yang berpenghargaan sama dengan STTB dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah, dengan tahun penerbitan sekurang-kurangnya dua tahun sebelum mengikuti Ujian Nasional.
  3. duduk di kelas VI untuk Paket B, kelas III untuk Paket C serta telah menyelesaikan seluruh modul pembelajaran yang harus dipelajari pada masing-masing program atau telah menyelesaikan seluruh program pada SD/MI, SMP/MTS atau SMA?MA atau sederajat disertai bukti berupa hasil penilaian berupa rapor.
  4. pada saat ujian telah berumur sekurang-kurangnya 12 tahun untuk Paket A, 15 tahun untuk Paket B, dan 18 tahun untuk Paket C.

Mata pelajaran yang diujikan adalah sebagai berikut:

  1. Paket A: PPKN, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, IPA
  2. Paket B: PPKn, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA
  3. Paket C IPS: PPKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, Tatanegara, Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ekonomi
  4. Paket C IPA: PPKn, Bahasa Inggris, Biologi, Bahasa dan Sastra Indonesia, Fisika, dan Matematika
  5. Paket C Bahasa: PPKn, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah Budaya, Sastra Indonesia, dan Bahasa Asing Pilihan

Nilai minimal kelulusan secara akumulatif dari seluruh mata pelajaran yang diujikan tanpa ada nilai kurang dari 3.01 pada setiap mata ujian adalah:

Paket A : 22,5

Paket B : 28,5

Paket C : 28,5 (IPS)

Paket C : 33,25 (IPA)

(Sumber: “Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa”, Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

copas dari homeschoolinganakmuslim.blogspot.com

Anak 3 th belajar cebok…


Begini lucunya anak kecil belajar cebok…


Mi, ahmad kebelet pipis”. Jawab ummi, “Sok atuh pipis, bisa jongkok di closet kan?”. Begitu masuk kamar mandi dan jongkok pelan2 sambil pegangan tembok (karena licin), ternyata keluar juga pipisnya. “Mi, ahmad yg cebok sendili aja, kan udah gede udah bisa sendili”. Umminya agak tidak percaya (karena sebelumnya belum pernah cebok sendiri), “iya gitu udah bisa? Tapi airnya diambilin ummi ya”. Kata ahmad, “iya miii, bisa, sini gela…”. Trus ummi perhatiin aja dari pintu kamar mandi soalnya takut kepleset… (Bener juga ternyata), “Oo, iya ya, anak ummi sekarang mah udah pinter pipis sendiri, bisa cebok sendiri juga”.

Apa coba ekspresi seorang anak kecil dipuji n diberi kepercayaan melakukan sesuatu yg sangat ingin dicobanya? Senang sekali pastinya… Dengan ekspresi puas, “iih, ahmad dah pintel banget ya mi, nanti kalo pipis lagi cebok sendili ya mi, kan udah gede cebok sendili”. Ummi cuma bisa bilang, “yaaa lah, tp kalo mau pipis ditemenin ummi ya, kamar mandinya kan licin takut kepleset”. Ahmad setuju jg…..

Ternyata, setelah sekali mencoba pipis n cebok sendiri, kegiatan barunya ini tidak berhenti sekali dua tiga kali. Belum ada setengah jam, “mii, kebelet pipis lagi”. “ya, sok pipis”. Umminya ngambil air segayung, dia yang cebok. Begitu seterusnya, kok aneh kebelet pipiiiis terus… Tidur siang sebentar, tiba2 bangun dan langsung minta pipis. Bahkan ditinggal sholat ashar, lepas celana sendiri dan pipis ke kamar mandi. Kalo dihitung, mungkin bisa 10 kali masuk keluar kamar mandi… dlm waktu belum sampai setengah hari, sebentar2 pipis, sampai2 umminya agak dongkol juga dibuatnya (dalam hati, ini anak sengaja dibuat2 apa memang benar2 kebelet pipis ), alasannya sih kebelet (padahal cuma mau cebok sendiri pake gayung kali ya? 🙂

Duuuh, begini ya kalo anak lagi pengen belajar sesuatu…. ternyata buat ahmad masuk keluar kamar mandi berkali2 untuk pipis dan cebok sendiri adalah hal baru yang sangat menyenangkan. Dan ahmad bilang, nanti kalo abi pulang kantor mau tunjukkin ke abi kalo dia sudah bisa cebok sendiri…


***  Anak2 selalu belajar, sadar atau tanpa dia sadari. Anak2 juga akan percaya diri bahwa dia mampu jika kita beri kesempatan dan kepercayaan. Hasilnya, anak2 akan lebih percaya diri, mandiri, dan akan selalu mencoba hal baru lainnya, dan tentu saja mambuat bangga orangtuanya…. dan kita akan selalu menunggu kejutan2 baru yang dilakukannya.

(bersambung…)