Kurikulum Fiqh dan Materi (3-6 th)


KURIKULUM FIQH
(3-6 th)

Tujuan:
1. Mengenal berbagai jenis air dan kegunaannya untuk bersuci
2. Mengenal dan mengetahui macam-macam najis dan cara membersihkannya
3. Mengetahui adab-adab buang air (ke kamar mandi) dan bisa mempraktekannya
4. Mengenal istinja (cebok) dan adab-adabnya
5. Mengenal wudhu dan mengetahui tata caranya serta belajar mempraktekannya
6. Mengenal tayammum dan tata caranya
7. Mengenal adzan dan iqomah , mengetahui bacaannya, dan belajar mempraktekannya serta bisa mengucapkan doa setelah adzan
8. Mengenal waktu-waktu sholat wajib, jumlah rokaatnya, dan mengetahui gerakan/tata cara sholat serta belajar mempraktekannya
9. Mengetahui pentingnya sholat berjamaah di masjid
10. Mengenal sekilas tentang sholat jum’at
11. Mengenal sekilas beberapa macam sholat sunnah
12. Mengenal zakat
13. Mengenal puasa romadhon
14. Mengenal seputar hari raya ‘idul fithri dan ‘idul addha

MATERI

A. AIR

Alloh menciptakan air untuk semua makhlukNya. Semua air yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi suci dan mensucikan. Kita bisa mandi, membersihkan badan, membersihkan najis, dan berwudhu dengan air tersebut.
Alloh berfirman:
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مآءً طَهُوْرًا Baca lebih lanjut

Iklan

Wahai Orangtua Belajarlah dari Anak


Banyak hal menarik selama orangtua dan keluarga bertandang ke Bandung. Salah satunya ketika orangtua harus belajar banyak dari sang cucu. Tak dipungkiri, meskipun sudah menjadi orangtua dan banyak makan asam garam, masih banyak hal yang keliru dan harus diperbaiki.

Ketika lupa makan dengan tangan kiri, sang cucu nyeletuk, “kok mbah makan pake tangan kili (kiri)”. Ketika sang cucu bandel, mbahnya kesel dan habis akal, “sini, takut ada hantu”. Sang cucu menjawab, “kan ga ada hantu mbah…”. Ketika mbah kakungnya sholat di rumah, sang cucu bertanya, “kok mbah kakung ga sholat di masjid?” Ketika mau masuk kamar mandi, mau pergi naik motor, turun hujan, ada petir, bahkan ketika bersin sang cucu berdoa dengan komplit, mbahnya tertegun…. Bahkan mbahnya salah jawab ketika ditanya bahasa arabnya mobil, dan dibetulkan oleh cucunya.

Ternyata sang cucu lebih pintar dan lebih banyak mengamalkan sunnah. Saya jadi malu, tapi sekaligus senang. Sang cucu yang justru memberitahu mbah2nya, pastinya ini akan lebih membekas dan meninggalkan kesan mendalam bagi mereka. Semoga orangtua kita mendapatkan hidayah.

Itu hanya sekelumit hal yang pantas dan tak usah kita merasa malu untuk kita belajar dari seorang anak. Cobalah tengok, masih banyak hal lain yang sebenarnya kita harus belajar dari anak. Bagaimana ketelatenan dan kesabaran anak ketika belajar jalan, kemauan anak ketika diajari membaca, menulis, menggambar, kesediaan anak mendengarkan ketika kita bercerita, kerelaan anak menghentikan tangis dan rengekan ketika meminta mainan atau jajan atau sesuatu yang sangat dia inginkan, kerelaannya meredam marah ketika sesuatu tidak sesuai harapannya, kesediaan anak ketika kita memintanya menghapal dan berdoa, dan kesabaran anak ketika menunggu abi dan umminya melakukan sesuatu yang dia inginkan, kegigihan anak melakukan berbagai aktivitas, dan masih banyak lagi…. Ternyata, bisa jadi kita sebagai orangtua tidak lebih baik dari anak2 kita.

Coba hubungkan gambar dengan angka yang cocok


Berawal dari kesukaannya menggambar, corat-coret, dan menghubung2kan garis, muncul ide berlatih mengenal angka dan jumlah dengan metode ini. Ahmad punya buku yang salah satu isinya ada pelajaran menghubungkan gambar dengan nama yg cocok, dan yg semisalnya. Tapi karena semua isi bukunya sudah habis dia hubung2kan dengan garis, akhirnya ummi yang harus membuat gambar2nya (tapi anak ummi memang paling suka dengan gambar buatan ummi kok)

Berlembar2 sudah ummi buat, dan beraneka gambar, dari gambar balon, speaker, masjid, bunga, pohon, payung, bola, sampai gambar huruf , dll yg tak mungkin disebutkan di sini. Sebelah kanan gambar, sebelah kiri angka, dan dia harus menghubungkan jumlah gambar sesuai angkanya. Gambar yg berjumlah 1 dan 2 dengan mudah dia hitung, dan angkanya pun sudah dia kenali. Tapi untuk angka di atas 2 dia masih harus beberapa kali berpikir dan mengingat, meskipun dia sudah bisa menghitung jumlahnya. Alhasil, pelajaran berhenti dulu sampai angka 5, dan jumlah 5. Alhamdulillah, ada kemajuan….

Di atas angka 5, dia sudah bosan, karena dia malas terlalu banyak gambar yang harus dia hitung. Ya sudah, sampai di sini dulu, kapan2 disambung lg. Ok…..

Belajar Menghitung


Lain anak memang lain kebiasaan. Lain anak memang lain kemampuan. Lain anak memang lain kesukaan…..

Iseng2 umminya nanya, mata ahmad ada berapa? Tanpa dihitung dulu, dia jawab “dua”. (bagus , dalam hati ummi, berarti dia bisa membayangkan berapa jumlah matanya). Trus kata ummi, kalo matanya ditutup satu jadi berapa? Jawabnya, “ada satu”. Kalo ditutup semua? “nol”… katanya (oh, berarti dia bisa ngitung). Trus ganti ummi tanya, kalo tangan ahmad ada berapa? “ada dua”. Kalo tangannya disumputin satu tinggal berapa? “satu”. Kalo disumputin semua” “nol”. Lumayan, belum bosan dia ditanya, malah minta ditanyain jumlah kakinya, hidungnya, lobang hidungnya, telinganya, mulutnya, semua anggota tubuhnya. Iseng2, dia malah jadi belajar berhitung.

Trus, karena dah lancar dengan bilangan 2, besoknya ummi mencari sesuatu yang berjumlah 3, 4 dst, roda becak, roda mobil, kaki kursi, atau apa aja lah… tapi dia sudah tdk tertarik (mungkin karena masih susah menghitung n membayangkan jumlahnya). Tapi lumayan, ini bisa jadi awal dia belajar angka, konsep jumlah dan bilangan.

Kisah sepekan bersama keluarga


Beberapa hari lalu rumah kecil kami mendapat tamu keluarga dari kampung halaman, kurang lebih 9 orang menginap selama beberapa hari. Alhasil, ahmad menjadi sangat2 caper dan sulit diatur. Semua ditabrak2, dilempar2, ditumpah2, diacak2, pergi ke pasar semua diminta, ke warung minta jajan, makan  jadi mogok keasyikan main dan cari perhatian, tidur siang kesorean, tidur malam kemalaman. Boro2 mau mengaji dan menghapal serta mendengar kisah seperti biasanya, bahkan komputer kesayangannya dihidupkan lalu ditinggal. Semua itu demi “keluarga” barunya yang tidak bisa dia jumpai sehari2.

Tak pernah terbayangkan, bagaimana jika dia dikelilingi mbah2nya yang lebih sering “memanjakan” dan menuruti keinginannya, serta terlalu “memaklumi” kesalahn2 dan sekian banyak ulah2 “nakal” yang sengaja dibuatnya.

Semua memang sangat wajar bagi anak2 dengan ulah capernya, begitu juga semua itu karena simbahnya sangat sayang sama cucunya. Dia terlalu senang, bahagia, mendapat banyak teman baru, dan bisa melakukan banyak petualangan seru. Bahkan sampai mandi, pake baju, tidur, maunya sama mereka. Untuk beberapa hari, dia lupa ummi dan abinya. Kalo biasanya dia minta ini itu, minta kesini kesitu, tidak selalu dituruti orangtuanya, mbah2nya dengan setia meladeni permintaannya.

Untuk sementara waktu, semua itu memang menyenangkan, wajar dan tak perlu dikhawatirkan. Tapi apa jadinya kalo setiap hari dia mendapatkan pelayanan istimewa seperti itu. Rasanya ummi enggan membayangkan dan tak ingin semua itu terjadi. Bukan berarti tidak senang berkumpul dengan keluarga, orangtua, tapi ternyata bahtera itu butuh satu haluan, satu kemudi… dan ternyata masih masih banyak hal yang harus dipersiapkan untuk bekal bersama agar tidak terombang-ambing.

Setelah mereka semua pulang, rumah jadi sepi, ada sedih ditinggal keluarga, tapi ada senangnya juga. Kehidupan kembali normal, ahmad menjadi lebih tenang dan tidak “seliar” kemarin, dia bisa duduk manis di depan komputer, menggambar, bermain lego, playdough, menggunting2, mau makan, ikut memasak, dan selalu minta maaf  jika berbuat salah pada abi umminya.

Sepertinya, irama akan berubah sepeninggal mereka. Kritikan mereka akan sikap kami yang kadang keras dan tegas pada anak, tentang latihan kesabaran, meluangkan waktu untuk anak dengan keikhlasan, sangat perlunya introspeksi, dan menerima segala kekurangan, sesuatu kadang tidak seperti yang kita inginkan dan cita2kan …. Aktivitas yang terendap sekian lama sepertinya bisa dimulai lagi …

Kurikulum Aqidah 3-5 th (update)


Kurikulum  AQIDAH
Sasaran usia:  3-5 th

A. Mengenal 3 Landasan Aqidah

1. Mengenal Tuhan (Alloh)
– Mengetahui siapa Tuhannya?
– Mengetahui Alloh dimana?
– Mengenal ‘Arsy
– Mengetahui ciptaan-ciptaan Alloh
– Mengetahui Alloh yang mengatur segala urusan
– Mengenal hakikat penciptaan manusia
2. Mengenal Agama Islam
– Mengetahui apa agamanya?
– Mengetahui Islam agama yang paling benar
– Mengenal rukun islam
3. Mengenal Nabi Muhammad
– Mengetahui siapa Nabinya?
– Mengetahui nasab Nabinya
– Mengetahui apa yang diajarkan Nabinya Baca lebih lanjut

Test… test…


Ngomong2 ganti theme nih karena sudah bosan pake yg lama.

Smg jd semangat ngisinya. Semoga cpt jg ganti suasana hati jg…

Berhubung si ummi lg agak kewalahan menghadapi si ahmad yg tambah ngeyel, semua jd serasa terbawa suasana hati.

Anak ga mau diajak belajar membaca, ga mau diajak iqro, diajak hapalan macet, makan susah, mandi apalagi.

Maunya maiiin aja n semaunya dia. Lg seneng outdoor nih sama tmn2. Tak seharusnya ummi terlalu banyak melarang, apalagi menuntut yg macam2, belajar ini itu, coba ini itu, toh anak ummi masih terlalu kecil untuk bisa diajak berpikir seperti orang dewasa.

Ummi dan abi harus memahami, beginilah dunianya sekarang.

Proses jg berganti, kadang mulus, kadang tersendat. Ini namanya ujian, latihan kesabaran, dan mungkin orangtua lebih dituntut untuk lebih bersungguh2, pantang menyerah, pantang bosan, dan pantang marah… (ini yg susah).

Ummi jg manusia, kadang marah, kadang dongkol, kadang sewot, sering ga sabar… lupa kalo ahmad itu masih anak2, masih terlalu kecil (padahal anaknya sendiri bilang sudah gede, mana mau dibilang anak kecil;).

Nah, masalahnya gimana mengikuti “ritme hidupnya” tanpa menyiksa batinnya, merampas waktu dan kesenangannya, dengan tetap bisa “mengendalikannya”.

Ini umminya yg lg gundah…. semoga badai cepat berlalu, hari berganti.