Kisah sepekan bersama keluarga


Beberapa hari lalu rumah kecil kami mendapat tamu keluarga dari kampung halaman, kurang lebih 9 orang menginap selama beberapa hari. Alhasil, ahmad menjadi sangat2 caper dan sulit diatur. Semua ditabrak2, dilempar2, ditumpah2, diacak2, pergi ke pasar semua diminta, ke warung minta jajan, makan  jadi mogok keasyikan main dan cari perhatian, tidur siang kesorean, tidur malam kemalaman. Boro2 mau mengaji dan menghapal serta mendengar kisah seperti biasanya, bahkan komputer kesayangannya dihidupkan lalu ditinggal. Semua itu demi “keluarga” barunya yang tidak bisa dia jumpai sehari2.

Tak pernah terbayangkan, bagaimana jika dia dikelilingi mbah2nya yang lebih sering “memanjakan” dan menuruti keinginannya, serta terlalu “memaklumi” kesalahn2 dan sekian banyak ulah2 “nakal” yang sengaja dibuatnya.

Semua memang sangat wajar bagi anak2 dengan ulah capernya, begitu juga semua itu karena simbahnya sangat sayang sama cucunya. Dia terlalu senang, bahagia, mendapat banyak teman baru, dan bisa melakukan banyak petualangan seru. Bahkan sampai mandi, pake baju, tidur, maunya sama mereka. Untuk beberapa hari, dia lupa ummi dan abinya. Kalo biasanya dia minta ini itu, minta kesini kesitu, tidak selalu dituruti orangtuanya, mbah2nya dengan setia meladeni permintaannya.

Untuk sementara waktu, semua itu memang menyenangkan, wajar dan tak perlu dikhawatirkan. Tapi apa jadinya kalo setiap hari dia mendapatkan pelayanan istimewa seperti itu. Rasanya ummi enggan membayangkan dan tak ingin semua itu terjadi. Bukan berarti tidak senang berkumpul dengan keluarga, orangtua, tapi ternyata bahtera itu butuh satu haluan, satu kemudi… dan ternyata masih masih banyak hal yang harus dipersiapkan untuk bekal bersama agar tidak terombang-ambing.

Setelah mereka semua pulang, rumah jadi sepi, ada sedih ditinggal keluarga, tapi ada senangnya juga. Kehidupan kembali normal, ahmad menjadi lebih tenang dan tidak “seliar” kemarin, dia bisa duduk manis di depan komputer, menggambar, bermain lego, playdough, menggunting2, mau makan, ikut memasak, dan selalu minta maaf  jika berbuat salah pada abi umminya.

Sepertinya, irama akan berubah sepeninggal mereka. Kritikan mereka akan sikap kami yang kadang keras dan tegas pada anak, tentang latihan kesabaran, meluangkan waktu untuk anak dengan keikhlasan, sangat perlunya introspeksi, dan menerima segala kekurangan, sesuatu kadang tidak seperti yang kita inginkan dan cita2kan …. Aktivitas yang terendap sekian lama sepertinya bisa dimulai lagi …

5 thoughts on “Kisah sepekan bersama keluarga

  1. wa’alaikumussalam….. hooh mba, az zahro yk. kok mba desti sampe sini🙂
    sekarang dimana nih? dah pulang indo? gimana kabar anak2?

  2. mb desti, abdulloh dah hapal 6 juz ya?
    barokallohu fiik…. jd pengen nyubit, dah gede ya sekarang?
    bagi2 dong mba ngajar tahfidznya…

  3. ia alhamdulillah dia dah hapal 6 juz lebih dikit. tau dari mana?
    wa fiik barakallah…….cara ngajarinnya ada di fbku.
    ia nih sekarang dah gede, dah 6,5tahun….entar lagi minta nikah nih gak kerasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s