Tambahan tentang kawasaki


Menurut Dr. Najib Advani SpAK. Mmed. Paed., spesialis anak konsultan-ahli jantung anak dari Rumah Sakit Internasional Bintaro, “Penyakit Kawasaki merupakan penyakit vaskuler vaskulitis, penyakit yang menyerang pembuluh darah,” ujar Najib. Mengenai penyebabnya, berbagai penelitian yang dilakukan belum bisa menemukan penyebab pastinya. Namun diperkirakan penyakit ini disebabkan oleh infeksi yang mengganggu sistem immun (kekebalan). Proses penyakit ini dimulai dari infeksi oleh suatu virus atau kuman yang memacu terjadinya peradangan pembuluh darah secara menyeluruh, terutama pada arteri koroner jantung.

Ironisnya, sekitar 80 % kasus penyakit Kawasaki, dialami anak yang usianya di bawah 4 tahun. Jarang terjadi pada anak di atas 8 tahun. Anak laki-laki berpeluang terkena penyakit Kawasaki 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. “Di luar negeri pernah dilaporkan ada penderita yang baru berusia 12 hari. Pada bayi seperti ini penyakit Kawasaki lebih susah diketahui gejalanya,” jelas Najib sambil menambahkan bahwa sampai sekarang para ahli terus mengadakan penelitian untuk mencari penyebab penyakit Kawasaki.

Di Indonesia, menurut Najib, penyakit Kawasaki diperkirakan menyerang sekitar 35 ribu orang per tahun, bila dihitung berdasarkan jumlah balita di Indonesia sekitar 22 juta pertahun. “Tapi kasus penyakit Kawaski di Indonesia ibarat gunung es di lautan. Yang sekarang terungkap baru permukaannya saja,” ujarnya.

Gejalanya muncul bertahap
Dr. Panji Sp.AK dari RS Theresia menerangkan bahwa gejala klinis penyakit Kawasaki terbagi menjadi beberapa fase. Fase akut, fase sub akut dan fase convalescent. Untuk fase akut terjadi demam tinggi mendadak hingga 39-41 derajat Celcius, minimal lima hari dan muncul ruam merah berbagai bentuk di seluruh tubuh. Tak heran, bila banyak dokter yang kemudian mendiagnosa bahwa penyakit Kawasaki sebagai penyakit campak karena gejala awalnya yang hampir sama. “Bedanya, demam penderita penyakit Kawasaki tidak akan turun. Bahkan tidak akan menunjukan respon terhadap pemberian antibiotik,” ungkapnya.

Gejala lain yang timbul, adalah peradangan mata (konjungtivitis), perubahan pada mulut seperti bibir merah terang, bibir pecah  dan berdarah, dan lidah merah (strawberry tongue). “Untuk membedakan penyakit demam biasa dengan Kawasaki, ciri-ciri yang tampak adalah panas tinggi disertai dengan gejala pada daerah mulut dan lidah merah seperti stroberi,” Panji melanjutkan.

Selain itu, timbul juga rona kemerahan yang merata pada rongga mulut dan tenggorokan, kaki dan tangan pun membengkak kemerahan. Pada telapak kaki dan tangan pun terasa nyeri. Bahkan, adanya pembesaran kelenjar getah bening pada daerah leher. “Karena penyakit ini juga mempengaruhi sistem syaraf, anak menjadi gelisah, rewel, dan sering menangis. Untuk menghentikan tangis dan rewelnya pun sukar sekali,” tutur Panji. Setelah itu, penderita penyakit Kawasaki akan memasuki fase sub akut yang biasanya terjadi setelah 11-24 hari dari fase akut, yaitu pengelupasan kulit pada jari tangan dan kaki. Pada fase ini demam dan pembengkakan kelenjar mulai menghilang.

Sedangkan fase convalescent, dimulai ketika tanda-tanda penyakit hilang dan laju pengendapan darah kembali normal. Fase ini biasanya terjadi 6-8 minggu setelah penyakit Kawasaki timbul. Pada fase ini hasil nilai laboratorium menunjukkan normal dan trombosit bisa meningkat sampai 1 juta. “Hal ini terjadi terjadi karena penyumbatan kembali normal sehingga trombosit yang tersumbat masuk kembali, Kondisi ini kontras dengan DBD,” ujarnya.

Sangat berbahaya bila menyerang jantung
Menurut Joko Maryono, dokter spesialis jantung dari RS Pusat Pertamina, sebenarnya, jika gejala awal bahwa anak itu terdeteksi terkena Kawasaki cepat diketahui, maka penanganan penyakit dapat cepat dilakukan. Yang dikhawatirkan dari penyakit Kawasaki ini jika terjadi komplikasi. “Penyakit Kawasaki bisa menyebabkan pelebaran dan penipisan pembuluh darah yang mengarah pada pecahnya pembuluh darah. Di samping itu, juga bisa terjadi penyumbatan-penyumbatan pembuluh darah terutama di daerah jantung, sehingga terjadilah komplikasi,” ujarnya.

Komplikasi bisa berupa peradangan arteri koroner yang mengalirkan darah ke jantung, pelebaran bagian dari arteri koroner (aneurisma), peradangan kantung jantung (perikarditis), peradangan otot jantung (miokarditis) akut, gagal jantung, dan kematian otot jantung (infark miokard). “Yang paling ditakutkan bila penderita penyakit Kawasaki tidak segera diobati, adalah jika  seminggu setelah terkena sudah menyerang jantung. Dalam kasus ini penyakit Kawasaki mampu merusak arteri koroner yang mengalirkan darah ke jantung. Kalau arteri ini rusak, maka jantung tidak bisa mendapatkan darah yang cukup, sehingga otot jantung akan mati dan mengakibatkan kematian penderita,” jelas Joko.

Celakanya, Joko menambahkan, pada masa awal jantung mulai terserang, gejala fisiknya tidak bisa diketahui dari luar. Terlebih lagi, sekitar 5-20 persen penderita Kawasaki mengalami komplikasi jantung, yang biasanya timbul pada minggu kedua hingga keempat. Jika tidak terjadi komplikasi jantung, biasanya akan terjadi pemulihan sempurna.

Sekitar 2 persen penderita Kawasaki meninggal akibat komplikasi jantung; 50 persen diantaranya meninggal pada bulan pertama, 75 persen meninggal pada bulan kedua, 95 persen meninggal pada bulan keenam. Tetapi kematian bisa terjadi 10 tahun kemudian dan kadang secara tiba-tiba. “Ini mirip penyakit jantung yang dialami orang dewasa. Prosesnya memang berbeda, tapi pada akhirnya merusak arteri koroner dan dapat menyebabkan kematian. Penderita bisa mati mendadak karena pembuluh arteri koronernya pecah. Bisa juga karena gagal jantung,” ujar Joko

Untuk mendeteksi kelainan arteri koroner dan gangguan fungsi jantung, lanjut Joko, setiap penderita penyakit Kawasaki harus menjalani pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan ekokardiografi (EKO). “Sebab, meskipun sudah sembuh, setelah dewasa jantungnya bisa cacat, sehingga menyebabkan sesak napas dan terkena serangan jantung,”jelasnya.

Joko pun mengingatkan bahwa yang harus juga diwaspadai, penyakit Kawasaki membuat trombosit naik pada minggu kedua tanpa diketahui sebabnya. Kenaikannya bisa mencapai 2 juta per mililiter darah segar, padahal pada kondisi normal trombosit hanya berkisar pada angka 200 ribu ­- 400 ribu per mililiter. Kenaikan trombosit yang tinggi ini bisa mengakibatkan penyumbatan di pembuluh darah di jantung, sehingga darah menjadi kental. Pengentalan darah ini akan merusak jantung.

Joko Maryono menuturkan, agar tidak menimbulkan dampak lanjutan, penderita penyakit Kawasaki sebaiknya melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan EKG akan menunjukkan tanda-tanda dari miokarditis, perikarditis, artritis, meningitis aseptik atau vaskulitis koroner. Hitung darah lengkap juga perlu dilakukan untuk mengetahui peningkatan jumlah sel darah, putih dan anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah). Pemeriksaan darah berikutnya menunjukkan peningkatan jumlah trombosit. Selain itu perlu dilakukan pula rontgen dada, dan analisa air kemih yang bisa menunjukkan adanya nanah atau protein dalam air kemih.

Bisa pulih namun lama
Selain menyebabkan komplikasi dengan jantung, penyakit Kawasaki juga dapat menyebabkan komplikasi lainnya. Seperti ruam yang tidak biasa, nyeri atau peradangan sendi (terutama sendi-sendi yang kecil), peradangan non-infeksius pada selaput otak (meningitis aseptik), peradangan kandung empedu, dan diare. Namun, Najib menuturkan bahwa penderita penyakit Kawasaki tak perlu khawatir berlebihan karena penyakit ini bisa disembuhkan. “Penyakit Kawasaki bisa diobati. Tapi kalau kondisi jantung parah, bisa menyebabkan penderita mengalami penyakit jantung koroner setelah dewasa,”ucapnya.

“Untungnya, penderita Kawasaki di Indonesia masih bisa diobati dengan baik,” jelas Najib yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pengobatan terhadap penderita Kawasaki dilakukan dengan memberikan cairan imunoglobulin lewat infus selama 10-12 jam. Selain itu, penderita juga diberi aspirin untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah dan mengencerkan darah.

Pemberian imunoglobulin pada penderita penyakit Kawasaki akan menimbulkan efek yang dramatis. Setelah diberi obat tersebut, demam pasien mereda secara drastis. Pasien pun tidak rewel lagi. Bintik-bintik merah di sejukur tubuh dalam 24 jam sirna. Merah pada mulut hilang, merah pada tangan pasien juga mengelupas dibarengi dengan mengempisnya pembengkakan pada bagian tersebut.

Najib yang juga pernah mendalami penyakit jantung di University of Melbourne Australia ini mengatakan, pemulihan dari penyakit Kawasaki hingga kembali normal butuh waktu yang lama. “Umumnya, setelah seminggu keluar dari rumah sakit, pasien penyakit Kawasaki memang terlihat normal. Tapi, jantung dan arteri koronernya belum pulih benar. Untuk itu, pasien  harus melakukan kontrol secara rutin. Bahkan, jika terjadi kelainan jantung, kontrol bisa dilakukan setiap bulan sekali, dan itu bisa berlangsung seumur hidup pasien. Namun jika selama enam bulan kontrol tidak terdapat kelainan dan kondisi jantung serta kesehatan pasien dinilai bagus, kontrol bisa dihentikan,” terangnya

Untuk itu, Najib menyarankan agar para orangtua yang melihat gejala awal seperti terkena penyakit Kawasaki pada anak, agar tidak menunda-nunda ke dokter. Bila dokter pertama mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski pun gejala terkena Kawaski cukup jelas, segera hubungi dokter lain untuk mendapatkan opini kedua. “Sebab bisa jadi anak itu memang menderita Kawasaki. Jangan buang waktu karena penyakit ini menjalar terus. Sayang bila terlambat didiagnosa, bisa fatal akibatnya,” tandas Najib mengakhiri pembicaraan

Gejala klinis penyakit Kawasaki pada anak

* Demam yang turun-naik, tetapi biasanya diatas 39° Celsius, sifatnya menetap (lebih dari 5 hari) dan tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal.
* Rewel dan sering menangis.
* Kadang timbul nyeri kram perut.
* Ruam kulit di tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok.
* Ruam pada selaput lendir (misalnya lapisan mulut dan vagina).
* Tenggorokan dan lidah tampak merah (strawberry-red tongue).
* Bibir merah, kering dan pecah-pecah.
* Kedua mata memerah, tanpa disertai keluarnya kotoran mata.
* Telapak tangan dan telapak kaki memerah, dan membengkak.
* Kulit pada jari tangan dan jari kaki mengelupas (pada hari ke 10-20).
* Pembengkakan kelenjar getah bening leher.
* Nyeri persendian (atralgia) dan pembengkakan, seringkali simetris (pada sisi tubuh kiri dan kanan).

dikutip dr:

http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelHealth.php?artikelID=345

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s