Kritis pada Teori Pendidikan Modern, Upaya Kembali pada Sumber yang Shohih


Berselancar di dunia maya memang mengasyikkan, tapi juga melenakan…. Alih2 dapet banyak pengetahuan, tapi hati2 jangan sampai tersesat pada banyak pemikiran.

Begitu klik, sampai pada “dunia pendidikan anak”, dan mau tak mau kita dijejali dengan ragam informasi termasuk penelitian2 terbaru dengan teori2nya… sejenak saya terdiam. Proses berpikir ini perlu waktu,  sampai datang “paksaan” untuk segera menyadarinya. Mencermati merebaknya teori2 pendidikan anak “mutaakhir” jaman sekarang, baik produk “barat” maupun “lokal” yang sejalur dengan pemikiran barat, sebagai “ibu guru” di rumah kadang dalam benak saya berpikir…..  kelihatannya kok bagus sekali teori2 mereka, apalagi kalo ada yang “kebetulan” ngepas dengan kondisi anak saya.

Sebagai manusia, lumrah kalo kadang (atau malah sering) tergoda untuk mempercayai dan menerapkan dalam kehidupan mendidik anak. Wah, tapi setelah direnungkan, kok saya jadi sering “ketemu” teori2 mereka dan terpaku pada penelitian dan upaya pembuktian mereka. Saking banyaknya, mungkin manusia sampai bingung (karena semua dicoba untuk diterapkan), mana yang pantas dan layak diikuti dan dijadikan referensi. Kok kelihatannya ilmiah banget ya? Apalagi ditunjang penelitian mereka bertahun2, data statistik, dsb…

Sebutlah teori tentang kapan waktu paling baik anak mulai belajar membaca, menulis, dan berhitung, tentang Teori Belajar Konstruktivisme, teori Learning Style, teori tentang Multiple Intelligence (katanya anak ada yang punye tipe Linguistic intelligence/word smart. Logical-mathematical intelligence/number/reasoning smart, Spatial intelligence/picture smart, Bodily-Kinesthetic intelligence/body smart, Musical intelligence/music smart, Interpersonal intelligence/people smart, Intrapersonal intelligence/self smart, Naturalist intelligence, nature smart. Juga teori pendidikan JEAN-JACQUES ROUSSEAU yang dianggap punya sumbangan penting dalam hal pengaruh teori pendidikan modern, dan yang paling menonjol dari kesemuanya itu adalah gairahnya yang berkobar-kobar terhadap terjelmanya persamaan hak dan derajat. Tentang Teori Perkembangan Kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss, dan seabrek teori kekinian lainnya yang telalu panjang disebutkan disini.

Teori pengasuhan dan  pendidikan modern berkembang sangat pesat di negara-negara  barat. Ilmu pendidikan hasil temuan manusia bersifat relatif karena pendidikan manusia itu tergantung kepada sistemnya. Produk karakter manusia seperti apa yang akan dihasilkan tergantung kepada sistem dan lingkungan yang membentuknya, lebih fundamental tergantung pada “AQIDAH”nya. Jadi ilmu pendidikan dan psikologi yang dihasilkan tentu akan tergantung bagaimana sistem dan nilai-nilai yang dianut oleh sistem atau teori tersebut. Dengan kata lain kita tidak bisa mengadopsi begitu saja teori pendidikan dan psikologi dari barat.

Kasarannya, duduk-duduk bersama ahlu bid’ah saja kita tidak boleh, karena dikhawatirkan kita terkena syubhatnya. Nah, bagaimana pula jika kita banyak berdekatan dan mengadopsi orang2 tak beraqidah islam secara lurus bahkan dengan ringan hati kita mengadopsi teori2nya.

Teori yang dijamin benar didalam pendidikan dan psikologi adalah yang bersumber pada Alqur’an dan Hadits, sehingga sebagai umat Islam dalam masalah pendidikan dan psikologi ini kita harus merujuk  kepada dua sumber tersebut.

Teori pendidikan dan psikologi modern merupakan hasil usaha  manusia yang “katanya” bersifat ilmiah berdasarkan temuan, eksperimen serta  pengalaman empiris yang didasari nilai-nilai manusia yang dianut pada suatu saat dan suatu tempat. Tentu saja sifatnya tidak absolut karena sistem yang membentuknya bersifat relatif  sehingga bisa saja teori ini berubah dalam perjalanannya. Apa yang dianggap baik dan benar pada suatu waktu dan suatu tempat belum tentu benar di waktu dan tempat yang lain.

Tapi bukan berarti kita tidak boleh sama sekali menengok teori atau metode pendidikan dan pembelajaran yang berkembang pesat dalam psikologi modern, oleh karena mengabaikan sama sekali temuan-temuan ilmiah (baca: yang ilmiah syar’an) membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengoptimalkan tugas kita sebagai orang tua. Tidak sedikit  temuan-temuan ilmiah lebih memudahkan kita menjalankan dalil-dalil wahyu (Quran dan Hadits). Kadang dalil wahyu  memberi  panduan yang bersifat prinsip dan umum sehingga pengetahuan kita tentang metode2 baru yang belum tersentuh oleh kita sebelumnya dapat memudahkan kita menerapkannya pada tingkat teknis dan operasional..

Pada saat ini di mana arus informasi tidak dapat (“sulit”) dibendung dan nyaris merambah tanpa batas maka kita tidak bisa sepenuhnya terisolasi dari  pengaruh perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga ada hal-hal yang bersifat global yang harus kita amati aspek pengaruh perkembangannya  dalam dunia pendidikan.

Tapi apakah semua teori dan temuan ilmiah harus kita ikuti ? Atau menunggu sampai teori modern itu terbukti kesalahannya sekian tahun mendatang ? Yang kita perlukan adalah menguji apakah teori itu sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, jadi penakarnya adalah dua sumber tersebut, karena Quran dan Hadist pasti benar dan telah teruji dalam rentang sejarah yang panjang.

Berikut sedikit saya kutip tulisan dari karya Al Magribi bin Sa’id Al Maghribi, dalam buku Begini Seharusnya Mendidik Anak, Darul Haq:

1. Manhaj Islam dalam Pendidikan Anak:

Manhaj islam dalam pendidikan anak sudah sangat sempurna dan komprehensif karena bersumber dari manhaj Ilahi bukan manhaj yang bersumber pada gagasan dan hasil pemikiran manusia, yang sangat beragam pendapat, teori, gagasan, kecondongan, dan pemikiran. Maka sudah pasti, manhaj yang berasal dari gagasan dan pemikiran manusia bisa jadi penuh dengan kekurangan dan cacat karena beberapa sebab:

> Pemikiran manusia hanya mengandalkan kemampuan otak dan pandangan belaka yang terkadang tepat kadang meleset serta memiliki daya jangkau yang terbatas sesuai dengan kondisi dan daerah, dan keyakinan, boleh jadi dianggap baik boleh jadi dianggap tidak baik. Adapun manhaj islam dalam pendidikan menyiapkan standar yang selalu benar, cocok (relevan) sesuai dengan kondisi, tempat, dan umat manapun, sepanjang zaman.

> Manhaj islam adalah konsep yang sempurna yang mencakup seluruh kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia dalam urusan dunia, agama dan akhirat, sejak lahir hingga kembali kepada Alloh.

> Manhaj islam juga memperhatikan soal kejiwaan manusia dari berbagai segi dalam segala kondisi, interaksi, dan menunaikan kewajiban dan tugas hidup.

> Manhaj islam sesuai dengan fitrah manusia bahkan membimbing dan mewujudkan keseimbangan antara potensi badan, akal dan ruh, sehingga bekerja sama secaraq baik, berbeda dengan manhaj jahiliyyah yang hanya mengandalkan potensi badan dan akal belaka.

Sangatlah layak bila kita selalu meniti dan berpegang teguh dengan manhaj islam dalam mendidik anak-anak kita. Namun umat sekarang banyak yang menyelisihi manhaj yang lurus dan mengambil manhaj kaum kuffar seperti George, Michael, Freud, dan Jackson. Kaum muslimin banyak yang menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai idola sehingga mereka menjauh dari pendidik yang mulia dan pengajar terbaik serta memberi peringatan dan penunjuk kepada jalan yang lurus yaitu Rosululloh, Muhammad bin Abdulloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

2. Sumber dan Pedoman Pendidikan

Tarbiyah atau pendidikan yang benar dibangun di atas dasar dan landasan yang jelas, maka siapa yang ingin berhasil dalam mendidik anaknya hendaknya mengikuti dan meniti di atas dasar dan landasan tersebut.

Dasar dan landasan pendidikan tersebut diambil dari sumber yang lurus dan benar yang bertujuan untuk membentuk kepribadian generasi islam dan berusaha untuk menyelamatkan umat islam dari keterhinaan dan kemunduran. Kondisi umat yang mundur tersebut menjadikan mereka mengekor kepada umat lain, sementara sebelumnya Islam adalah adalah suatu umat yang menjadi pemimpin dan pengendali dunia.

Tidak ada jalan lain untuk mengubah dan mengembalikan kejayaan umat kecuali dengan 2 langkah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al Allamah Muhammad Nashirudin al Albani, pertama “tashfiyah” yaitu pemurnian agama umat dari berbagai macam pengaruh kotoran syirik, bid’ah, khurofat. Dan yang kedua adalah “tarbiyah” yaitu membina umat di atas manhaj dan aqidah islam yang benar.

Maka dari itu, kembali pada sumber pendidikan yang shohih adalah jalan keluar permasalahan umat dalam mendidik anak-anaknya.

Sumber dan pedoman pendidikan yang dimaksud adalah:

Pertama: Al Qur’an

“Sesungguhnya al Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al Isroo’:9)

“Sesungguhnya al Qur’an ini adalah tali Alloh, dia adalah cahaya yang terang dan obat yang bermanfaat, orang yang berpegang teguh akan terpelihara, orang yang mengikuti akan selamat. Tidak bengkok sehingga harus diluruskan, tidak tersesat sehingga harus dikembalikan kepada jalan yang lurus, tidak pernah habis keajaibannya, dan tidak akan pernah rusak karena banyak dibantah.” (hadits riwayat Al Hakim, ia menshohihkannya).

Kedua: As Sunnah

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al Qur’an) dan Rosul (sunnah).” (An Nisaa’: 59)

“Barangsiapa mentaati Rosul,  sesungguhnya ia telah mentaai Alloh.” (An Nisaa’: 80)

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Beliau ditanya: “Dan siapa yang menolak wahai Rosululloh?” Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mentaatiku masuk surga dan barangsiapa membangkangku berarti menolak masuk surga.” (Al Bukhori, 13/214)

Sebaik-baik pendidikan adalah pendidikan yang dilakukan seorang pendidik hakiki kepada putra-putrinya.

Ketiga: Jalan Hidup Salafus Sholih

Mereka merupakan sebaik-baik umat dalam mengikuti sunnah Rosul, mereka adalah panutan, yang kita ambil ilmu dan pelajaran hidupnya dan kita mengambil dari mereka berbagai cara dan langkah dalam mendidik anak-anak mereka di atas keimanan kepada Alloh dan RosulNya serta bagaimana kondisi anak-anak mereka. Maka hal itu menjadi acuan dan landasan kita dalam mendidik anak-anak sehingga mereka mengetahui secara sempurna bagaimana kehidupan para salaf dan cara mereka dalam mendidik anak-anak mereka.

Keempat: Ilmu dan Ulama

Di antara sumber materi pendidikan adalah ilmu dan ulama sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama salaf tentang keutamaan ilmu.

Mu’adz bin Jabal berkata, “Belajarlah sebab mencari ilmu adalah suatu kebaikan dan bagian dari ibadah serta menda’wahkan kepada yang lain merupakan bagian taqorrub. Ilmu merupakan menara jalan para calon penghuni surga, teman di kala kesepian, pendamping dalam pengasingan, teman bersanding di kala berduaan, petunjuk pada saat bahagia dan gundah, dan penjaga ketika sepi serta senjata ampuh untuk melawan musuh. Alloh mengangkat kaum dengan ilmu tersebut hingga menjadi panutan dan perbuatan mereka diikuti. Ilmu adalah sumber kehidupan hati dari kebodohan, lampu penerang bagi jalan kehidupan dari kegelapan, dan sumber kekuatan tubuh dari kelemahan, serta ilmu sebagai penghantar seorang hamba sampai pintu gerbang kemuliaan di dunia akhirat. Berpikir tentang ilmu sama dengan puasa mudzakaroh, sama dengan qiyamul lail, maka ilmu sebagai sarana untuk menyambung silaturrahmi serta untuk mengenal halal dan harom.”

Imam Malik berkata, “Tidak boleh mengambil ilmu dari 4 orang dan boleh dari selain mereka:

  • Tidak boleh mengambil ilmu dari orang bodoh dan hilang akalnya
  • Dari ahli bid’ah yang mengajak pada kebid’ahan
  • Orang berdusta dalam meriwayatkan ucapan manusia
  • Dan tidak boleh mengambil ilmu dari tokoh yang dianggap baik dan sholih namun tidak bisa memilah antara hadits yang dia sampaikan


Malik bin Anas berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambilnya.”

Sedangkan para ulama adalah ahli waris para Nabi. Maka hendaklah para pendidik membiasakan bertanya tentang hukum Alloh, dan membiasakan anak-anaknya bermulazamah, menghargai dan menghormati para ulama, bersikap rendah hati dan sopan kepada mereka, serta bersegera memberi bantuan dan pelayanan pada mereka.

Kelima: Bersanding dengan Orang-orang Sholih

Ini adalah sumber penting dalam pendidikan islam anak-anak kita. Pendidik utama, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar pandai-pandai memilih teman bagi anak-anak kita.

“Seseorang tergantung pada agama temannya, maka hendaklah memeperhatikan diantara kalian siapa yang dijadikan teman.” (riwayat Abu Dawud 4833, At Tirmidzi 2379, dikeluarkan oleh Imam Ahmad, 2/303, 334)

Teman yang baik adalah nikmat yang agung, sebab ia akan selalu mengingatkanmu kepada Alloh ketika kamu lupa, membantumu ketika sedang berdzikir, menolongmu ketika engkau butuh, memberimu ketika kau meminta.

Wahai sang pendidik yang beriman, sesungguhnya umat kita telah sampai pada kondisi yang sangat memilukan akibat tradisi meniru dan mengekor orang bejat dan kafir. Mereka mencekoki kita dengan berbagai kotoran dan racun, baik dari sisi aqidah, pemikiran,  dan budaya. Sementara mereka juga menyalakan api peperangan dan permusuhan serta kebencian sehingga mereka berusaha mengacak-acak persatuan kita, memecah belah kerukunan kita, dan mereka menebarkan di bumi islam yang tercinta berbagai macam racun busuk dan pemikiran yang menghancurkan dan merusak.

******

Lalu bagaimana sikap kita terhadap banyaknya teori yang bermunculan sekarang ini? Sadar atau tidak, kadang bahkan seringkali teori2 itu akan mempengaruhi pola hidup kita, pola pikir kita, dalam hal ini adalah dalam konteks metode dan seluk-beluk mendidik anak. Ujung2nya, teori2 yang berkembang bisa menjadi sumber dan pedoman pendidikan anak2 masyarakat kita.

Dari teori2 “mutaakhir” asal barat maupun “lokal” yang muncul sekarang ini, boleh-lah kemungkinannya saya bagi ke dalam 3 bagian:
1. Teori2 pendidikan anak yang bersesuaian dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih
2. Teori2 pendidikan anak yang sebagiannya bersesuaian dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih, dan sebagiannya bertentangan dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih
3. Teori2 pendidikan anak yang “jelas2” bertentangan dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih

Lepas dari pembagian tersebut di atas, kita bertanya, adakah atau mungkinkah teori2 tersebut semuanya bersesuaian dengan manhaj salaf?Atau adakah dan mungkinkah sebagian teori tersebut ada yang bersesuaian dengan manhaj salaf?  Atau malah, kebanyakan teori tersebut bertentangan dengan manhaj salaf

Tentu saya tidak bisa menghakimi dan menghukumi satu persatunya, mengingat perlu disiplin ilmu din yang komplek. Tapi dengan berbekal ilmu dan tak pernah lelah bertanya pada ulama, kita sebaiknya teliti dan berusaha mengacu pada kaidah manhaj salaf, kita bisa membandingkan, menimbang, dan mencocokkan, apakah teori yang dicetuskan sekelompok pakar “barat” maupun “lokal” tersebut ada sandarannya dalam din atau tidak.

Berkaitan dengan merebaknya teori2 ini, seyogyanya yang pertama menjadi fokus perhatian kita sebagai pelaku pendidikan berbasis “rumah”, yang pertama adalah bertanya pada “ulama” (Fas’aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun), bagaimana hukum mempelajari teori2 “mereka”, bagaimana hukum mengadopsi sebagian teori yang kita anggap bersesuaian dengan manhaj yang haq? Atau bagaimana sikap yang utama dalam permasalahan ini, mengambil sebagian dengan meyaringnya (seandainya kita punya kemampuan untuk menyaring), ataukah malah sebaiknya kita meninggalkannya? Perlukah kita mempelajari dan mengadopsi teori2 “mereka”? Atau kalaupun dianggap “perlu”, seberapa perlu kita mengadopsi atau sekedar “membaca” sebagai “wacana” untuk pengembangan metode pendidikan “sunni homeschooling” kita? Tentu ini bukan hal yang sepele, karena berkaitan dengan halal dan haram. Berkaitan dengan sikap wala’ dan baro’. Dan juga sikap kehati-hatian seorang muslim.

Rasanya tak ingin, jika kita kutip sedikit saja teori mereka, lantas membuat kita ikut membesarkan nama mereka, membuat eksistensi mereka diakui masyarakat bahkan dunia. Yang akhirnya menjadikan mereka menjadi panutan manusia… Jadi apa umat islam ini kelak?

Semua kembali pada individu dan “prinsip hidup” masing-masing (baca: manhaj). Seandainya, sekali kita menerapkan teori mereka, membuat kita kagum pada keberhasilan mereka, kemudian membuat kita mencari teori2 yang lainnya, dan semakin lama semakin banyak memakai teori mereka, bahkan pandangan2 kritis dan tajam mereka lama2 menjadi “KUHP” (Kitab dan Undang2 serta Hukum Pendidikan) anak2, yang ujung2nya mencerminkan sikap loyal (wala’) pada mereka, paham mereka, eksistensi mereka, maka ini adalah suatu musibah aqidah umat. Maka, menahan diri dari “berdekat-dekatan” dengan mereka adalah senjata ampuh untuk menyelamtkan diri dari bencana dunia dan akhirat. Wallohu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s