Aku guru favorit anakku


Momen bermain di sekolah tak ubahnya sebuah petualangan seru yang setiap hari dinanti. Tidak hanya di sekolah, di lingkungan sekitar rumah pun demikian. Sehari saja tidak main ke lapang depan rumah bersama teman-temannya, bakal uring-uringan dan ngambek seharian, (hehe, sudah pintar ngambek dia…). Kadang saya heran, kok senang banget sih sama yang namanya “main”? Ah, namanya juga anak-anak. Saya yang terlalu naif, seperti tidak pernah mengalami masa kanak-kanak saja. Tapi mungkin semua anak begitu, senang bermain. Tinggal bagaimana kita orangtua mengatur jadwal, membuat aturan permainan dan mengajarkan adab-adab dalam bermain, membumbui permainannya dengan sesuatu yang bermanfaat. Dari proses bermain itu, dia juga belajar menahan diri, bersabar, mempraktekkan aturan berteman, berbuat baik terhadap mereka, mengerti kebutuhan temannya, belajar mengalah. Tentu sebagai orangtua harus bisa menjadi filter bagi anaknya, karena di luar sana juga sangat banyak keburukan.

Kekurangan ahmad salah satunya adalah suuuuusah sekali diajak ke sekolah (padahal siapa dulu yang mau ikut sekolah?). Dan “kelebihannya”, kalau sudah berangkat sekolah, suuuusah juga diajak pulang. Betahnya….. apalagi dia “ngefans” sama bu gurunya. Tapi, se-menyenangkan apapun dia bermain dengan anak-anak di sekolah, 4 jam adalah waktu yang membosankan. Bahkan, ahmad satu-satunya anak yang selalu menguap ketika giliran membaca dan hapalan, juga ketika latihan sholat. Kadang memang bertentangan dengan hati nurani, kasihan anak TK kok sekolahnya lama banget, dari jam 8 sampai adzan dzuhur baru pulang. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang hampir semua sekolah modelnya begitu. Itulah salah satu alasan juga, akhirnya saya tidak terlalu ketat untuk urusan anak berangkat sekolah.

Kelebihan belajar di rumah salah satunya ya urusan begini ini. Belajar yang harusnya selesai 1 jam, kalau di sekolah butuh 4 jam. Karena si anak harus “ngantri” dilayani oleh gurunya, sementara gurunya harus menggilir 10 anak, 20 anak, dsb. Tapi bagaimanapun, dibalik kekurangan-kekurangan yang ada, saat ini sekolah tersebut khususnya adalah “tempat bermain” yang lebih baik dan lebih aman di luar rumahnya. Dari situ dia mendapat banyak hal yang tidak dia temui di rumah. Saya tentu sadar, tidak semua “kebutuhan” hidupnya bisa diperoleh dari orangtua seluruhnya.

Dia jarang sekali sekolah, tapi dia sangat menyukai sekolah, guru, dan teman-temannya, terutama jam istirahatnya :> . Bahkan di rumah dia juga suka berakting menjadi pak guru, dan ummi menjadi muridnya atau sebaliknya. Pintu kamar dan dinding rumah pun jadi papan tulis yang fungsional, tempat menempel pelajaran-pelajarn yang dia inginkan. Tak jarang dia selalu bercerita tentang apa yang diajarkan bu gurunya, kata bu guru begini dan begini (membuat saya bangga sekaligus cemburu). Meskipun begitu, saya selalu bangga dan bahagia karena guru favorit ahmad adalah umminya, dan tempat belajar favorit adalah rumahnya. Sayalah yang paling mengerti kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, keinginannya, kesukaan dan ketidaksukaannya. Tak heran jika dia enggan ke sekolah dia akan membuat seribu alasan. Ckckckck…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s