Maukah kau jadi ibu paling bahagia?


Seorang teman pernah berkata:

“ Pokokna mah anak kita berkompetisi dengan kemampuanna sendiri, dengan targetna sendiri. Bukan berkompetisi dengan kemampuan anak lain. Ari si anak, nilai kognitifna sae, eta mah bonus, nu kudu diupayakan mah kumaha tah budak jadi sholih, jadi tabungan emak jeung bapa-na. Kitu tah….”

Perasaan bahwa anak kita beda anak-anak lain, kemampuan anak-anak kita tidak seperti anak lain, anak lain sudah bisa begini begitu kok anak kita belum bisa apa-apa, anak kita tidak punya banyak kelebihan seperti anak lain, dsb…. seringkali menghinggapi perasaan seorang ibu. Termasuk diri saya sendiri pernah timbul “syubhat” semacam itu. Tapi seorang teman sudah mengingatkan saya dengan sms di atas. Sepintar apapun, sehebat apapun, dan sebanyak apapun kelebihan dan prestasi anak, tetap nomor satu tujuan pendidikan orangtua terhadap anak adalah “menjadikan dia anak yang sholih”. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan seorang ibu selain memiliki anak yang seperti ini.

Apakah anak sholih harus pintar? Itu relatif. Apakah anak sholih harus bisa segala hal? Itu juga relatif. Apakah anak sholih harus “ter-” dalam segala hal? Itu juga tidak harus. Yang mutlak bahwa anak sholih adalah anak yang “baik” menurut kacamata syariat. Baik (lurus, red) agamanya, yang konsekuensinya akan berimplikasi pada seluruh tatanan hidupnya. Karena tidak ada satu pun permasalahan dunia dan akhirat yang agama tidak mengaturnya. Anak yang sholih melazimkan lurusnya pemahaman agama, kemuliaan akhlak, shohihnya ibadah, bersihnya hati dan jiwa, dsb. Adapun nilai-nilai lainnya nu sae, eta mah bonus…. ziyadah nikmat dari Allah atas upaya kita menjadikan nilai-nilai syariat, agama, sebagai pelajaran pertama dan paling utama dalam hidupnya.

Tatkala saya pribadi dihinggapi berbagai “kekhawatiran” seiring perkembangan usianya, maka saya harus merenungi lagi hakikat saya menjadi orangtua, kewajiban saya terhadap anak, dan harapan yang seharusnya saya miliki terhadap anak-anak saya. Tidak lain tidak bukan, adalah berusaha menjadikannya anak sholih, sebaik-baik gelar untuk anak, sebaik-baik prestasi untuk anak, di dunia dan akhirat. Dan ketika mengingat semua motivasi tersebut, akan timbul semangat mendidik, dan juga meluruskan kembali tujuan. Tak hanya sesekali, bahkan mungkin kita harus sering merenungi, mengingat kembali, karena syubhat-syubhat itu akan terus bermunculan. Apalagi di jaman seperti sekarang ini. Menanamkan nilai-nilai agama adalah pelajaran nomor 1, dari awal dia hidup sampai kelak hidup kita dan hidupnya berakhir……

Maukah kau menjadi ibu paling bahagia?

Jika mau, maka punya anak sholih adalah jawabannya……

Saya berharap semua ibu di seluruh dunia

menginginkan hal yang sama

menjadi guru pertama bagi anak-anaknya

menjadi guru favorit bagi anaknya

menjadi teman bermainnya

menjadi tempat curahan hatinya

menjadi pendididik sepanjang masa

di manapun sang anak berada…

kitalah yang pantas berbangga

terhadap anak-anak kita

bukan guru di sekolahnya

bukan pula ustadznya

tapi ibunya

ketika anak kita bisa sesuatu

karena kitalah yang pertama kali mengajarkannya


Dan jadilah engkau orangtua yang sholih

semoga Allah menjadikan untuk kita anak-anak yang sholih

— Semoga ummi dan abi selalu ingat hal ini —

6 thoughts on “Maukah kau jadi ibu paling bahagia?

  1. wahh bhs sundanya udah fasih niih teh rini..he.he..nice posting…mjd penyemangat dan pengingat utk ana..jazaakillaahu khoyro

  2. wah parah gini dibilang fasih? padahal dah 5 th di bandung, tetep aja ga bisa bhs sunda
    kalo dengar orang ngomong sih dikit2 paham, tapi ga bisa ngomongnya
    hayo lah, kita jadi ibu yang semangat :>>

  3. baru lihat blog anti lagi… kemarin2 teh belum di update. Eh… skrg udh banyak gini yah ^^ Pernah ngobrol2 sama ayah Abbas, harapan mudah2an anak-anak kami dan anak kaum muslimin istiqomah dalam sunnah bagaimanapun keadaan mereka nanti (nggak pinter merangkai ceritanya kaya anti, pokoknya intinya begitu. hehe…). Barakallahu fiik….

  4. hehe, emang dah begitu dari sononya bu ary, suka on-off gitu
    amin, semoga anak2 kita sholih, n istiqomah di mana pun berada
    wa fiik barakallah
    masih domisili di Yk? ato dah balik jakarta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s