Cita-cita


Suatu hari bu guru bertanya pada anak-anak tentang cita-cita mereka. Teman-teman ahmad ada yang bercita-cita mau jadi pilot, dokter, polisi, dan bidan. Giliran ahmad ditanya, “mau jadi sopir”. Guru yang satunya sampai tergeleng-geleng heran. Mungkin juga teman-temannya heran, kok ga keren sih…. Bu guru laporan ke saya, “umm, ternyata ahmad masih istiqomah pingin jadi sopir”. Saya pun cuma tersenyum, ga heran….. nanti juga ganti lagi kok cita-citanya. Ahmad memang sangat tertarik dengan mobil dan seluk beluknya. Setiap lihat mainan di toko, matanya tak lepas dari mobil-mobilan. Dia juga terobsesi punya mobil dan dia yang akan nyetir sendiri ketika besar nanti, itulah sebabnya dia ingin jadi sopir.

Dulu, waktu umur 2 tahunan, ahmad begitu ingin jadi ustadz, mungkin dia pikir ustadz itu manusia serba tahu, buktinya…. setiap kali dia nanya sesuatu umminya sering bilang, “kalo yang ini harus tanya ustadz”. Dan untuk membuktikannya, dulu kami pernah benar-benar memberinya kesempatan bertanya langsung pada ustadz  selepas kajian. “Surga itu ada dimana, jauh ya?”. Tapi sayang, sang ustadz tidak memberikan jawaban yang dia minta (mungkin dikira pertanyaannya “ga serius”, apalagi yang bertanya hanyalah seorang anak kecil belum genap 3 th, padahal dia benar2 mencari jawaban atas teka-tekinya itu).

Dulu, Ahmad juga pernah bercita-cita menjadi pedagang, maklum… setiap hari melihat pedagang keliling yg lalu lalang di sekitar rumah, dari tukang bakso, tukang siomay, tukang sayur, tukang jual donat, dll. Sampai-sampai setiap hari dia memperagakan diri menjadi seorang penjual dan umminya yg jadi pembeli (dia berlagak sbg “mang kokon” sang pedagang kecil di warung dekat kontrakan).

Pertama kali melihat proses membuat martabak, dia sangat terpesona, kemudian dia pun bercita2 jd tukang martabak. Setiap membeli martabak, pasti dia akan memperhatikan dengan seksama dengan naik di atas kursi biar terlihat jelas. Dan sampai dirumah dia praktek membuat martabak dengan peralatan dapur umminya selama berhari-hari tanpa terlihat bosan. Tentu saja dia meniru gaya-gaya penjual martabak dalam mengaduk telor, mendadar kulit, dan menggorengnya.

Berganti waktu, cita-citanya selalu berubah-ubah. Suatu waktu dia juga pernah ingin bekerja di Lipi seperti abinya, dia ingin mengumpulkan uang untuk naik pesawat, membeli mainan, membeli rumah dan mobil, dsb. Dia juga pernah sangat suka bertanam (bahkan sampai sekarang dia juga suka dunia tanaman), tapi sekalipun ga mau dibilang mau jadi petani. Demi rasa ingin tahunya tentang bercocok tanam, kami membelikan dia pot-pot dan minta tanah ke tetangga rumah untuk menanam melon dan semangka yang akhirnya dicabut karena tak kunjung berbuah.

Pengalaman yang sangat berkesan lainnya, adalah saat naik mobil, naik travel, dan naik angkot (naik angkot aja dia excited banget loh…. tapi untung umminya sama sekali ga malu). Ketertarikannya pada setir, speedometer, dan peralatan lain seputar perlengkapan mobil, membuat dia terobsesi pada “benda” yang namanya mobil. Al hasil menyetir pun menjadi permainan favoritnya. Permainan ini menjadi rutinitasnya selama berbulan-bulan, bahkan sampai sekarang, tanpa merasa bosan…. Sampai-sampai dia berusaha menamatkan Iqro’ 2-nya demi mendapat hadiah mobil-mobilan yang cukup bagus, yang pintunya bisa dibuka-buka katanya, yang seperti mobil beneran. Dan inilah yang mengantarkannya pada cita-citanya yang terbaru sekarang ini, yaitu menjadi seorang sopir. Catat, sopir bener-beneran, bukan sopir “boong-boongan”. Keren kan, cita-citanya menjadi “sopir” gitu loh…!!! Tapi dalam hati, ummi berharap suatu hari nanti cita-citanya menjadi sopir akan berubah.

Yang aneh, kegemarannya main “masak-masakan”, dan nimbrung kegiatan umminya memasak, dari potong-potong, ngulek, mblender, dsb, tak sekalipun membuat dia bercita-cita menjadi “tukang masak”. Setiap kali umminya tanya, ahmad mau jadi koki ya? Dia tegas dan sewot bilang “ga…. mau jadi sopir mobil bener-beneran”. Bahkan jika sesekali diledek “ahmad mau ga jadi sopir dan ustadz yang pintar dan sholeh”? Jawabnya marah, “ga…. mau jadi sopir aja”. Dan cita-cita inilah yang paling lama bertahan hingga sekarang.

Berbicara seputar cita-cita anak, jadi teringat pembahasan seperti ini di milis sunni homeschooling…. Cita-cita anak kecil seperti apakah yang perlu didukung? Sebagai orang tua yang bijak, tentulah kita mendukung apapun cita-cita anak selagi itu tidak melanggar syariat. Sebagai orang tua, kewajiban kita adalah mengarahkan, memberi pengetahuan, memberi pertimbangan dan bimbingan. Seiring usia, seiring bertambah dewasa nanti, kitalah yang paling bertanggung jawab manakala anak-anak kita akan memilih dan memilah-milah cita-cita mereka, mana yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya. Yang jelas, jangan sampailah anak-anak mengalami “hal-hal” yang tidak baik yang dialami kedua orang tuanya.

Setelah lama bercita-cita jadi sopir, kemarin dia berubah pikiran, “mau jadi peneliti saja, meneliti mobil, tiang listrik, lampu, rumah-rumah, semua-semua pokoknya diteliti”. Tuh kan, bener…. kaya totto chan. Saya percaya, mungkin nanti cita-citanya berubah lagi.

Do your best, Ahmad!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s