Mengajari anak menghapal al qur’an


Saya lupa kapan tepatnya ahmad pertama kali menghapal, mungkin di usia 2,5 th-an. Kurang lebih setengah tahun yang lalu, hapalan ahmad sampai at takatsur (dimulai dari surat terakhir juz amma). Tak banyak… waktu itu dia lebih mudah menghapal doa sehari-hari (dan mufrodat bahasa arab). Saya juga tak tahu kenapa. Mungkin karena lafadznya lebih pendek-pendek, lebih rutin diucapkan, dan selalu berhubungan dengan aktivitas harian. Usia ahmad sekarang 4 th 3 bln, sedang hapalannya masih berkutat di surat al ‘alaq. Dan beberapa surat lain, dia hapal bagian-bagian awalnya, seperti adh dhuha, al buruj, ath thoriq, an nazi’at, dan an naba, cuma satu dua tiga ayat depannya.

Saya tidak dalam rangka berbangga, hanya ingin sedikit berbagi. Hapalan ahmad juga tidak banyak, tidak ada yang spesial, malah untuk sekarang kondisi hapalannya sedang memprihatinkan. Dulu pernah ada teman yang tanya lewat blog ini bagaimana metode hapalan ahmad. Saya janji akan menjawabnya dalam sebuah posting. Dan baru sekarang saya melunasinya.

Siapa sih yang tidak ingin anaknya jadi penghapal al qur’an? Mendengar cerita keberhasilan anak-anak kecil menghapal al qur’an selalu membuat merinding, dan merasa iri. Saya rasa ini salah satu“hasad” yang diperbolehkan dalam agama. Saya cuma ingin berbagi kepada sang penanya, beberapa metode yang pernah kami coba.

  1. Melafadzkan bacaan al qur’an di dekat anak sedari kecil sebelum sang anak bisa berbicara
  2. Mengajarkan (mentalqin) per kata ketika anak sudah bisa bicara dan mulai mau diajak menghapal
  3. Membaca bersama anak juzz amma berwarna atau al qur’an meskipun anak belum bisa membaca
  4. Sering-sering memutar VCD murottal anak, kalau ada yang bergambar, sehingga menambah daya tarik
  5. Menuliskan surat pendek di atas white board atau selembar kertas dan ditempel di dinding/pintu kamar, dan diganti surat lain jika sudah hapal (seperti biasa, saya hiasi gambar warna warni tepi-tepinya agar menarik)
  6. Beberapa anak lain metode hapalannya per ayat, satu hari satu ayat. Tapi kalau saya per surat (kebetulan memang suratnya masih pendek-pendek), karena ahmad akan susah menggabungkan ayat-ayat yang terputus, malah jadi tercampur-campur, atau malah karena cuma satu ayat esoknya jadi menguap terlupakan begitu saja. Jadi saya memilih per surat dibaca lengkap, dan diulang-ulang selama beberapa hari/minggu sampai hapal.
  7. Membacakan surat-surat pendek yang sedang jadi target hapalan setiap menjelang tidur
  8. Membuat permainan dalam menghapal. Bisa permainan apa saja, misal: saya membuat gulungan undian dari kertas origami, sang anak disuruh kocok sendiri, surat yang yang keluar berarti yang harus dia hapal/baca. Atau dengan permainan “ustadz-ustadzan”, saya yang jadi ustadz dan ahmad yang menghapal atau ahmad yang jadi ustadz dan saya yang bertugas menghapal, kadang saya pura-pura lupa & salah (berharap ahmad yang membetulkan bacaan saya)

Tentu semua butuh kesabaran, dan saya salah satu orang yang harus banyak belajar untuk bersabar. Dulu kami juga pernah terinspirasi ide dari teman di milis sunnihomeschooling, dengan membuat sendiri VCD murottal anak dengan koleksi gambar sendiri, tapi abinya ahmad baru coba buat surat an naas sudah menyerah, tidak telaten, si anak tidak tertarik pula. Padahal sang istri berharap, dengan ilmu komputer yang dia miliki, buatlah karya edukatif untuk anak. Dalam beberapa hal, seorang istri memang butuh bantuan suami, tak dipungkiri. Saya kan bukan super woman & super mother. Kalau bisa, pahala mendidik anak diraup bersama-sama……..

Di antara beberapa metode, yang masih kontinyu bertahan sampai sekarang adalah membacakan surat-surat pendek menjelang anak tidur. Kalau ibu-ibu lain ada acara membaca dongeng sebelum tidur, kami sering ngobrol sebelum tidur (saya suka bertanya pada ahmad apa yang dia lakukan hari itu, apa hari itu dia merasa bahagia, sedih, atau cerita tentang teman-temannya, dsb), kemudian membawakan kisah nabi atau sahabat atau kisah-kisah lainnya yang dia minta, dan terakhir membacakan juzz amma sampai anak tertidur (kadang kalau saya capek sekali atau anak yang capek, tidak ada sesi cerita nabi/sahabat, langsung menina-bobokan dengan bacaan surat-surat pendek). Tapi kadang juga acara sebelum tidur tersebut lewat begitu saja karena kondisi yang tidak meungkinkan, seperti kelelahan, rewel, sakit, dsb. Saya yakin, meskipun mulutnya kadang susah diajak ikut melafadzkan, tapi telinganya mendengar dan memorinya menyimpan. Dan itu sudah saya buktikan, insyaAllah sedikit memudahkan saya ketika mengajarinya menghapal.

Untuk membuat jadwal hapalan lebih ketat juga tidak mudah. Mungkin lihat-lihat tipe anaknya. Tak jarang saya juga adu mulut dengan ahmad, ujung-ujungnya… gagal acara hapalannya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Umminya memang kurang sabar dan telaten. Seiring usia bertambah, setiap hari diusahakan harus ada sesi menghapal meskipun cuma satu surat. Terkadang kalau ahmad lagi semangat dia sanggup muroja’ah dari an naas, al falaq, al ikhlash, sampai ke hapalan terakhir, bisa 10-20 surat. Tapi tak jarang juga dia tak mau menghapal sama sekali.

Semua berjalan tidak mulus, selalu ada kendala. Betapa tinggi kami sebagai orangtua bercita-cita memiliki anak penghapal al qur’an, tapi begitu banyak kekurangan yang kami miliki. Rasanya jadi timpang dan tak seimbang.

Dan berikut adalah catatan pribadi untuk dikoreksi dan diperbaiki:

  1. Kurang ketatnya jadwal menghapal
  2. Kurangnya pembiasaan dan contoh dari pengajar
  3. Adanya permainan (termasuk komputer) yang mengalihkan perhatian anak dari kegemaran menghapal. Saya jadi ingat penjelasan ustadz abu qotadah beberapa waktu lalu, kenapa seiring bertambahnya wasilah, fasilitas, dan kemudahan bagi thalabul ‘ilm kok justru kualitas makin menurun. Tidak lain adalah karena “barokah zaman”. Sudah dilansir dalam hadits Nabi, bahwa zaman sekarang lebih jelek dari kemarin, dan nanti lebih jelek dari hari ini, itulah fitnah. Dan itulah beratnya hidup di masa fitnah seperti sekarang ini. Ternyata benar, tersedianya fasilitas selain memang membantu tapi juga bisa melenakan, betapa beda kualitas thulab “pendahulu” dengan para thulab jaman sekarang
  4. Kurang tegas dalam penekanan terhadap anak dalam menghapal
  5. Kurangnya kesungguhan dan istiqomah kedua orangtua
  6. Kurangnya kerjasama yang baik antara suami-istri
  7. Banyaknya waktu tidak efektif untuk anak, qadarallah banyak musibah datang beruntun, seperti sakit, kematian, dll
  8. Dan kurangnya meminta kepada Allah…. Wallahul musta’an

Tapi semua tak ada kata terlambat, masih ada kesempatan untuk berusaha. Dan Allah sungguh akan menolong hambaNya yang berusaha, mendengar doa hambanya yang meminta. InsyaAllah….

5 thoughts on “Mengajari anak menghapal al qur’an

  1. Bismillah. Assalammu’alaykum..catatannya baguss um, kurang lebih metode pengajaran anti ke anak sama dengan ana kepada anak-anak. memang kita musti banyak sabar dalam mendidik anak. masyaAlloh tugas seorang ibu itu benar2 berat. semoga kita diberi kesabaran terus menerus dan terus bertambah. aamiin..salam kenal yaah ^^

  2. abu asiyah sering mengingatkan saya, “kalau pengen anaknya hafal alquran, orangtuanya juga mesti hafal alquran.”

    dan beliau pun mencita2kan sebuah keluarga penghafal alquran : )

    idealis banget ya mba.. tp menurut sy itu justru motivasi yg banyak hilang di zaman ini.. dikasih motivasi kayak gitu, alhamdulillah sy malah jadi tambah pede untuk mengurangi bbrp aktivitas lain demi meluangkan waktu untuk “itu” …

    jazakillahu khayran cerita2nya mb rini..

  3. wa iyyaki. hehe… kalo nunggu ortunya hapal, kapan yah? yah, semua ikut ngapal aja lah… program bersama. tinggal liat aja nanti siapa pemenangnya (bapaknya, ibunya, ato anaknya). balapan..balapan… aku kalah ketoke (lha wes pesimis dhisik ngono lho!)

  4. Ping-balik: Barokah Zaman « عطرة

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s