Catatan ta’lim: Menentukan Target dalam Menuntut Ilmu


Beberapa waktu lalu, seorang syaikh (doktor) dari yaman berkunjung ke ma’had dekat rumah dan memberikan muhadharah seputar menuntut ilmu. Beliau berkunjung ke indonesia dalam rangka safari da’wahnya. Beliau masih sangat muda (kurang dari 30 th), termasuk salah satu gurunya adalah Syaikh Abul Hasan al Ma’ribi, sedang menyusun kitab Mausu’ah al Albani, dan baru menyelesaikan bab aqidah yang berjumlah 9 jilid.

Kenyataan yang sudah kita ketahui bersama, lemahnya semangat menuntut ilmu adalah hal yang banyak terjadi di kalangan kebanyakan penuntut ilmu, padahal seorang muslim dituntut untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu (ilmu syar’i). Diantara satu hal yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah ikhlas. Bahkan ikhlas merupakan salah satu pokok islam. Oleh karena itu kita harus menjauhi perkara2 atau hal2 yang dapat merusaknya.

Diantara point2 yang bisa merusak keikhlasan seperti yang syaikh sebutkan adalah:

  1. Tergesa-gesa dalam memberikan fatwa. Abdullah bin AHmad bin Hambal (putra Imam Ahmad) pernah bercerita, “Seringkali aku mendengar bapakku mengatakan laa adri (aku tidak tahu) padahal beliau seorang imam”. Begitu juga Imam Malik ketika ditanya seringkali mengatakan laa adri. Mereka para imam saja tidak malu mengatakan “laa adri”. Sementara para thulab jaman sekarang, mengatakan “laa adri” ibarat sebuah gunung telah menimpanya (istilahnya, gengsi dong, penulis). Shohnun ibnu Sa’id al Maliki mengatakan, “Tergesa-gesa memberi fatwa menunjukkan sedikitnya dia memiliki ilmu.
  2. Banyaknya berdebat. Ini juga penyakit parah yang banyak menjangkiti para penuntut ilmu jaman sekarang, bahkan mendominasi kalangan mereka. Maka tak jarang, usaha mereka hanya berakhir lelah saja. Dikatakan oleh Imam Al Auza’i, bahwa jika Allah menghendaki seorang hamba pintu keburukan maka Allah akan membukakan baginya pintu debat, dan sebaliknya jika Allah menghendaki kebaikan Allah akan membukakan pintu ilmu.
  3. Menuduh buruk/menilai buruk/ merendahkan orang lain yang setara (atau yang lebih rendah) ilmunya. Yang ini sudah bukan hal aneh lagi, jaman sekarang seorang berilmu meremehkan seorang yang lain, bahkan antar ustadz, antar ulama, yang lebih parah lagi dikalangan para thulab juga demikian.
  4. Membangun/membuat pendapat yang “nyleneh”, bukan karena dalil.Semakin mendekati akhir zaman, semakin banyak da’i2 yang aneh, yang pendapat atau fatwanya “nyleneh”. Mereka berkata ini qolallah wa qolarrasul, tapi sejatinya mereka berkata dengan hawa nafsu . Diantara mereka mengambil kaidah “selisihilah pendapat kebanyakan orang agar kau dikenal”

Syaikh juga membawakan satu point yang sangat menarik tentang salah satu hal yang dapat menjadi penyemangat dalam menuntut ilmu, yaitu menentukan “TARGET” dalam menuntut ilmu, sehingga kita tidak seperti sebagian orang yang belajar selama bertahun2 tapi “tidak mendapat apa2”. Ibarat mengendarai mobil tanpa arah dan tujuan yang jelas, maka yang dia peroleh hanyalah capek dan lelah.

Syaikh memberikan definisi “target” sebagai sebuah “bayangan” yang ada dalam benak kita yang betul2 terencana dan terwujud dalam bentuk yang nyata (sesuai kemampuannnya). Maka seorang yang hapalannya sangat lemah, kemudian dia punya target menghapal kutubus sittah bukanlah dikatakan mempunyai target yang realistis, kata syaikh. Target yang kita tetapkan sebaiknya realistis sesuai kemampuan yang kita miliki.

Nah, trus bagaimana seseorang bisa menentukan tagret dalam menuntut ilmu? Jawabannya adalah dengan menjawab pertanyaan berikut ini (macam kuisioner gitu):

  1. Apa yang engkau kehendaki dari menuntut ilmu?
  2. Kenapa engkau menginginkannya?
  3. Apakah engkau mampu mewujudkannya?
  4. Kapankah engkau “kira2” mampu mewujudkannya?
  5. Apakah kesulitan-kesulitan yang akan engkau hadapi dalam mewujudkannya?
  6. Apa yang akan engkau lakukan setelah engkau mewujudkannya?

Nah lagi, trus kapankah pertanyaan2 diatas kita “munculkan?”

  • Penuntut ilmu awalnya mempelajari semua dasar2 bidang ilmu. Kemudian dengan berjalan waktu muncul kecenderungan ilmu apa yang lebih dia sukai
  • Lihat kemampuan diri sendiri. Ada yang kuat hapalan, dll. Ada yang suka dan cocok mendalami ilmu2 ushul fiqh, ilmu hadits, dll
  • Meminta nasihat ulama. Dikisahkan tentang Imam adz Dzahabi, beliau awalnya sibuk dengan ilmu qiro’ah. Kemudian suatu saat beliau menulis surat kepada seorang ulama (gurunya). Dan gurunya itu berkata, “kau lebih pantas mempelajari ilmu hadits”. Bayangkan, dengan melihat tulisan adz Dzahabi, gurunya kemudian menyimpulkan, bahwa beliau lebih pantas mendalami ilmu hadits. Mungkin salah satunya, karena tulisan Imam adz Dzahabi tidak begitu bagus (jelek). Dan seorang ahli hadits biasanya tulisannya kurang begitu bagus, karena cepatnya dia harus menulis hadits yang didengarnya (tapi kalo jeleknya tulisan kita mah bukan indikasi kita ini calon ahli hadits, hehe). Allahu a’lam. Dan akhirnya, Imam adz Dzahabi menjadi salah satu imam hadits pada zamannya. Allahul musta’an.

Kemudian dibawakan pula sebuah contoh bagaimana praktek membuat sebuah target belajar, yaitu dengan menjawab pertanyaan2 seperti telah disebutkan di atas:

  1. Apa yang engkau kehendaki dari menuntut ilmu? (tujuan)> Misal, ingin menjadi ahli hadits
  2. Kenapa engkau menginginkannya? (alasan)> Karena aku mencintai ilmu hadits, atau karena kemampuanku cocok untuk mendalami ilmu hadits, atau karena ilmu hadits adalah ilmu yang sangat mulia
  3. Apakah engkau mampu mewujudkannya? (estimasi kemampuan)> Misal, ya aku yakin aku akan mampu, aku akan berusaha, aku akan mencari seorang guru (syaikh), atau lembaga yang mapan dalam bidang ini (optimis)
  4. Kapankah engkau “kira2” mampu mewujudkannya? (estimasi waktu)> Misal, aku akan mewujudkannya kira-kira dalam waktu 4 tahun
  5. Apakah kesulitan-kesulitan yang akan engkau hadapi dalam mewujudkannya? (kendala)> Aku akan menghadapi segala macam kesulitan, apapun itu, karena tak ada satu target pun kecuali ada kesulitan2 di dalamnya (optimis)
  6. Apa yang akan engkau lakukan setelah engkau mewujudkannya? (aplikasi)> Setelah aku menjadi ahli hadits, aku akan mentahqiq kitab-kitab ahlu sunnah, dsb…

***

Sepintas, aku pun terpikir bagaimana kalau pertanyan-pertanyaan itu ditujukan kepada diriku, hehe… ternyata aku sendiri bingung menjawabnya. Artinya, selama ini ternyata aku tak ubahnya seperti kebanyakan manusia penuntut ilmu yang tak punya target dan lemah semangat, aku tidak mempunyai target yang jelas dalam menuntut ilmu. Semua mengalir…. seperti air, tanpa tahu dimana air itu akan bermuara. Aku hanya “nrimo” dengan apa yang telah kudapat dan sedang kuusahakan, tak lebih. Seolah aku tak perlu target yang tinggi, padahal memasang target sama dengan memacu semangat.

Sedikit melamun sambil merenung … untuk ilmu dunia saja kita memasang target begitu tinggi, dengan sekian banyak pengorbanan, bahkan tak jarang membuat kita menggadaikan sebagian nilai2 agama, tapi untuk ilmu agama kita tak punya target dan tak mau berkorban (kalaulah tepat disebut berkorban).

Hhhhh… sungguh betapa tidak adilnya diri kita ya…

13 thoughts on “Catatan ta’lim: Menentukan Target dalam Menuntut Ilmu

  1. posting yang sangat bermanfaat … bertahun-tahun sudah aku mengenal manhaj salaf ukhti, rasanya ilmu juga segini-gini saja. sempat ter”gugah” ketika ikut ta’lim ustadz abdulloh taslim yang memberi tausyiah “istiqomah setelah mengenal manhaj salaf”, tapi..sampe sekrang masih stagnan juga. bahkan bisa dibilang menurun =(. dunia memang begitu indah di mata, tapi sangat melalaikan. btw, soal agregrasi trombosit, ana belum bisa jawab. di sini nggak ada ahli hematolog, jadi belum bisa tanya. buku2 kedokteran ana banyak yang kececer entah dimana, hehehe. suatu saat kalau dah nemu jawabannya, tak share, insyaaalloh. btw, sering nulis catatan ta’lim kayak gini juga yak..Barokallohu fiik umm ahmad.

  2. ya, sepertinya banyak yang merasa seperti itu.
    pokoknya ditunggu konsultasi gratisnya.
    wa fiiki barakallah

  3. kalo ana baru mengenal manhaj salaf tahun 2008, terlebih setelah menikah dengan zauji.. alhamdulillah jadi paham mengenai beberapa hal terkait agama (tapi kalo dibanding anti ya jauuuh hihihi)..
    berbeda dengan ketika kuliah dan ikut semacam halaqoh, baru sadar kalo waktu itu ilmu yg ana dapat sedikit (ato mungkin karena ana yg malas ya heheu)
    jazakillah khoiron share-nya umm ^_^ smangadh..smangadh!😀

  4. alhamdulillah, kita diberi nikmat mengenal manhaj salaf, dan berjuang meniti jalan di atasnya insyaAllah…
    jalan kita mengenalnya pun berbeda2, memang sungguh indah rencana Allah thd kita.
    semoga kita bisa mengamalkannya, dan istiqomah dari awal hingga akhirnya. aamiin….
    ya lah, setuju, hayu semangat!

  5. hayu atuh.. samaan ma ummu yusuf..ana jg baru mengenal manhaj yg haq pas menjelang nikah alhamdulillah, yg pasti tambah semangat thalibul ilmiy saat tau makna surat QS. Az-Zumar 39:9

    قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

    Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran.

    barakallahufikunna, t3t@p c3MuN9UdH,,!

  6. nama syaikhnya DR.Syadi Muhammad Salim An-Nu’man? Ahad lalu di Batam ada daurah juga, syaikhnya jg dtg dr Yaman, beliau usianya 27 tahun jd (lahir th 1984) jadi sama2 usianya kurang dr 30 th. Jangan2 org yg kita maksud sama ya..hehe, tapi bedanya beliau ngasih kajian bertema ttg Bahaya Terorisme.

  7. ummu salman mah semangat terus kayaknya nih… wa fiiki barakallah. ngomong2 hadiah pernikahannya indah banget euy…. “hidayah”. ngiri pisan ^^

  8. hehe lupa nama lengkapnya. syaikh abu hafsh gitu da pokokna mah. usiana sekitar segitu, kurang-lebih. kalo ahli hadits dah ditolak mah ini riwayat, hehe ^^

  9. assalamualaikum,, iya umm, namanya syaikh DR syadi muhamad salim, kunyah nya abu hafs,, kayanya memang sama orang nya dgn yg disebut sm umm salman..
    umm ahmad sehat? fathi sakit lg ni, batuk pilek panas,, anti prnah tau ga kalo demam bisa bikin kram, fathi ko jari tangannya (jempol aja sih) kraam gitu ya? kaku,, sms ku ga prnah nyampe ya?

  10. @ tasi:
    wa’alaykumsalam. falhamdulillah sehat. ahmad minta main ke dago, tp belum sempat, ni abinya malah mudik kami ga ikut. fatthi…… laa ba’sa thahurun insyaAllah. kurang tahu je, demam bisa bikin kram? belum pernah ngalamin kyk gitu. ahmad juga sering anget2 gitu, tp cpt sembuh alhamdulillah. sepertinya sejak kawasaki dia kurang fit.
    hp bututku sering mati n kalo dah mati dibiarin berhari2 ga dicharg. ke hp yg satunya ga tahu nomernya yah? yah begitulah, mohon maklum buat teman2 kalo kadang smsnya ga sampai, atau ga terbaca, atau ga terbalas. hehe..

    @ ummu salman:
    pertanyaannya udah dijawab tuh. syaikhnya sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s