Kontroversi Full HS dan Semi HS


Mau membahas tentang HS dan pernak-perniknya? Rasanya aku tak cukup kompeten deh. Apalagi mau jadi hakim perdebatan antara full HS dan semi HS. Ga usah lah… Bisa2 aku ditimpukin HS-ers seluruh indonesia. Jelas ga mau aku, bisa bonyok! Sudahlah cukup diwakilkan saja pada para blogger yang memang ahlinya bicara di ranah tsb. Sudah terlalu banyak situs yang mbahas HS dan lebih akurat serta aktual pembahasannya. So, blog ini memang ga pernah membahas tentang itu. Tapi? Kenapa tiba2 aku ingin nulis tentang kontroversi full HS n semi HS ya?

Ini sekedar suara hati kok, opini pribadi…

Sedikit mengikuti perdebatan 2 istilah tadi, ada beberapa opini yang aku kumpulin (ga semua disebutin biar ga kepanjangan, moal-moal…). Diantaranya:

  • Tidak ada pembedaan antara full dan semihomeschooling. Meskipun orang tua merasa tidak menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, di sekolah cuma main-main saja, tidak mementingkan rapor, dan kalau di luar sekolah melakukan kegiatan edukasional seperti keluarga homeschooling, tetapi kalau anak tetap di sekolah (kan), namanya anak sekolah, bukan anak homeschooling (kesimpulannya: karena ahmad ikut2-an TK meskipun jarang banget berangkat, dilarang pake istilah anak HS kalo menurut teori ini, ga rela deh istilah HS dipake sembarangan gitu kali)
  • Kalau menggabungkan metode homeschooling dengan sekolah, ya namanya afterschooling, bukan homeschooling (lha yang ini banyak dipake orang indonesia nih)
  • Yang namanya homeschooling ya homeschool, tidak ada full, atau semi, intinya orangtua mengambil tanggungjawab penuh pendidikan anak. Kalaupun sekolah tidak fulltime, bukan berarti semi HS (berarti yang anaknya setengah sekolah setengah HS ga pas pinjam2 istilah anak HS, awas loh pemilik istilah HS nanti protes, haha) > serupa dengan opini pertama
  • Tak masalah mau memilih sekolah, semi HS, ataupun HS penuh. Yang penting keluarga dapat memilih yang terbaik untuk anaknya (pendapat ini mencoba berkata bijak, istilahnya berusaha “washt” atau pertengahan)
  • Sebenarnya jika kita mendidik anak itu udah homeschooling kok… meskipun dimasukkan ke sekolah formal (gpp agak sedikit maksa, hehe suka-suka, istilah HS boleh dipake siapa saja)
  • Ada yg melihat HS lebih superior (HS is the best dah, kalo perlu sambil menyebutkan bejibun kelemahan sekolah formal-konvensional biar tambah mantap), ada yang melihat HS sekedar alternatif (HS adalah pilihan bagus untuk kasus2 atau kebutuhan tertentu)
  • Inilah indahnya HS. Beragam, berwarna-warni, seperti alam semesta yang diciptakan Tuhan secara natural beragam. Tak ada yang saling meniadakan satu dengan lainnya. Semuanya berlomba mencari yang terbaik untuk anak dan keluarga, semuanya berlomba untuk memakmurkan bumi dan semesta.Yang penting adalah spiritnya: keluarga bertanggung jawab dan terlibat secara aktif di dalam pendidikan anak (kalo ini ungkapannya pak sumardiono… sepertinya ungkapan yang cukup damai ya pak!)

Anda suka opini yang mana? Sok pilih, nu eta, nu eta… nu eta!! gratis, gratis, boleh pilih mana aja….!

Aku juga cinta HS. Aku rasa apapun itu namanya, yang paling penting adalah bahwa orangtua tak boleh berlepas diri dari tanggung jawab mendidik anak, orangtua harus berperan aktif dalam pendidikan anak, dengan melakukan pendidikan berbasis HS atau home-ed, ataukah dengan mengirimnya ke lembaga pendidikan yang “terbaik” buat anak (yang terbaik inilah yang seringkali sulit dicari, kriteria terbaik kadangkala subyektif untuk masing2 keluarga), atau dengan menggabungkan keduanya, bagiku tak masalah. Tapi itu dia, sebenarnya aku cinta HS. Pilihan manapun, selagi proses yang dijalani sang anak nyaman, cukup ideal katakanlah, dan membentuk pribadi sholih dan membawa kebaikan dunia akhirat, it’s OK.

Hmmm, tapi… jika aku merasa masih mampu mendidik anakku dengan segenap kemampuanku, maka insyaAllah aku akan terus berjuang melakukannya. Semua dah tahu dah, pendidik pertama adalah kedua orangtua, dan yang lain-lain adalah penyumbang pendidikan berikutnya. Tapi lagi… yang perlu dicatat: tak sepantasnya orangtua berleha-leha atau malah bersibuk-sibuk ria dengan urusan lain tetapi urusan pendidikan anak dikesampingkan atau sekedar dipercayakan pada pihak lain. Ibu, kau pintar, kau mampu, bahkan kau sarjana, S1, S2, sampai S3 barangkali, tapi kau tak dampingi pendidikan anak-anakmu. Ibu, kau pintar, kau mampu, tapi kau malah bekerja untuk orang lain meninggalkan kewajiban utama membimbing dan mendidik anak-anakmu.  Kalau saja anakmu bisa teriak, ”Ma, ibu macam apa kamu?”. Hiks… ini bukan dalam rangka menyindir pihak manapun lho ya (orang2 yang wajib bekerja mencari nafkah sampai harus meninggalkan anak2nya tidak masuk pembahasan masalah ini). Nanti di akhirat kan ibu-ibu dan bapak-bapak ini bakal ditanya oleh Allah tentang anak-anak mereka. Itu saja hujjahnya sudah cukup. Hiii, jadi merinding… na’udzubillahi min dzalik. Tu kan, udah tahu gitu juga masih ga maksimal usahanya (ini ngomong ke diri sendiri).

Lebih tegasnya: Daripada kita menghabiskan energi untuk membuat batasan istilah ini (HS), “Hayu, kita para orangtua lebih bersemangat mendidik dan memberikan bimbingan yang terbaik untuk anak2 kita, karena itu adalah kewajiban kita”.  (bacanya sambil berapi-api seperti berorasi, orasi pada diri sendiri)

Menurutku lagi, adakalanya, HS adalah jalan terbaik, dan demikian sebaliknya. Misalnya, kalau anakku pingin jadi ahli hadits (ini misal lho, habis susah cari contoh yang ekstrim, masa aku kasih contoh anakku pingin jadi polisi, -ahmad sampai detik ini ga pernah bercita2 jadi polisi-), sangat tak mungkin deh kalau tetap HS, mungkin sampai usia tertentu masih bisa, tp lihat kenyataan orangtuanya tidak kompeten di bidang ini itu, bertahan mengatakan bahwa HS adalah selalu yang terbaik menjadi pilihan yang sulit bagiku.

Hehe, ingat perdebatan tentang full HS dan semi HS aku pun jadi termangu-mangu. Kalau pelaku full HS ga sreg dengan pembagian istilah tersebut, maka sebagai orang yang mengaku menganut HS, aku ganti aja deh jadi home education, atau home learning, sepertinya makna lughotan dan istilahan menjadi lebih ‘aam (umum/luas). Mau tanya, kenapa sih disebut Home-Schooling (secara harfiyah=bersekolah di rumah), bukan Home-Learning saja (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat?! Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak. Begitu seperti yang dikatakan abu muhammad ade abdurrahman dalam artikel tentang ” Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah”. Artikel itu juga diupload di blog ini. Aku pribadi sangat “klik” dengan apa yang beliau tuliskan. Pakai istilah islamic homeschooling atau sunni homeschooling dengan yang dimaksudkan adalah “home learning”. Atau pakai istilah tarbiyah aulad ‘ala fahmi salaf  malah lebih “keren”, dan mencakup segala aspek, segala metode (metode HS, sekolah, mondok, mulazamah, sampai bahasa sekarangnya “les privat” juga masuk di dalamnya) , segala konteks, segala zaman, segala tempat, apa lagi ya… segalanya deh.  Sampai kehabisan kata2 nih, hehe (maklum bukan pujangga).

Yang jelas, kenapa orangtua harus mau jadi pendidik pertama dan utama (HomeSchool/HomeLearning yang islami/sunni), adalah beberapa pertimbangan berikut: (1) Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua. (2) Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (3) Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya ! (4) Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak >> ini ngutip ungkapan abu muhammad ade abdurrahman <<. Lebih mantapnya baca sendiri artikel beliau

Bagiku, nama takkan merubah hakikat. Hakikat pendidikan yang baik (menurut kacamata islam), bisa ditempuh dengan jalan apapun dan dengan nama apapun, asalkan tidak melenceng dari ketentuan syariat islam.

Kesimpulannya: sok, mangga disimpul sendiri.. 

14 thoughts on “Kontroversi Full HS dan Semi HS

  1. assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
    mba, besok saya ikut suami saya training di bandung insyaallah. kira-kira bisa ketemuan besok ga ya? biar suami ana bisa ketemu suami mba zulfa juga. hubungi saya ke hp ya mba. ini no hp saya 0821xxxxxxxx

  2. maunya ga panjang2,tapi kayaknya kalo umm Ahmad wis nulis, ga bs pendek dek, ampe moal-moal (pinjem istilahnya yak)
    Sammma bgt tu Aisyah sm Ahmad. Sekolah TK kayake lebih banyak liburnya. pernah tu bolos 2 bulan lebih. setelah itu cos dah kebiasaan jarang masuk, dalam seminggu pasti ada bolosnya. skarang Aisy milih HS. pernah sy tanya tar SD mo sekolah apa HS? sebenarnya sih dia dah negasin mo HS,tapi kan kt sbg ortu harus selalu ngecek komitmen anak. Haduh mungkin coz sy agak sering nanyakny dia sampe marah2 sambil mo nangis “pokoknya ak maunya homeschooling!”. iya…iya.. nak sabar,sabar. tar bilang gt ya ke abimu cos kayake beliau belum terlalu yakin deh

  3. @ exploring homeschooling

    wah itu penyakit lama umm, kalo ngomong ga bisa pendek.
    Tahun lalu waktu ikut TK, ahmad cuma berangkat 30-35 kali umm, tapi SPP ya ga boleh bayar 1x, heheh… makanya udah aja, sekolah di rumah aja, nikmat juga ternyata.
    ahmad kadang mau balik lagi sekolah jg sih, terutama kalo dia ga boleh keluar rumah (main), mesti “menggerutu” kepengin sekolah lagi, padahal sebenarnya cuma kepengin main, ketemu teman2nya. Ya namanya anak2, pikirannya sering berubah2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s