Standar Kompetensi : Targhib


Tujuan: Memotivasi, merangsang, mendorong anak untuk melakukan kebaikan karena Allah, dan mengenalkan bentuk-bentuk ancaman bagi orang yang melanggar perintah Allah

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Referensi

Penilaian

BM

K

C

B

SB

1 Keindahan surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya 1. Sifat penghuni surga Al Jannatu Ni’amiha Wat Turuqu IlaihaKarya: Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi AL Atsari
2. Pintu-pintu surga
3. Kekalnya surga
4. Tingkatan penduduk surga
5. Makanan dan minuman penduduk surga
6. Pemandangan surga
7. Kenikmatan tertinggi penduduk surga
8.Penduduk surga yang terendah tingkatannya.
2 Amalan yang mengantarkan ke surga 1. Ikhlas Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadush SholihinKarya: Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaly
2. Sabar dan jujur
3. Taqwa
4. Muroqobah
5. Yakin dan tawakal
6. Istiqomah
7. Bersegera dalam kebaikan
8. Menjaga kehormatan
9. Saling menolong dalam kebaikan dan taqwa
10. Saling menasihati
3 Bahay-bahaya dosa dan kemaksiatan 1. Merusak dan melemahkan akal Al Jannatu Ni’amiha Wat Turuqu Ilaiha Jahannam Ahwaluna wa ahluhaKarya: Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi AL Atsari
2. Membutakan dan mematikan hati
3. Menyebabkan hilangnya rasa malu
4. Ditinggalkan Allah
4 Macam-macam perbuatan dosa dan kemaksiatan 1. Syirik Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadush SholihinKarya: Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaly
2. Durhaka kepada Allah dan orangtua
3. Berdusta
4. Dengki
5. Saling mencela
6. Ghibah
7. Menyerupai lawan jenis
8. Melihat lawan jenis
9. Menggambar makhluk hidup
5 Sifat neraka dan penghuninya 1. Besarnya neraka jahanam Al Jannatu Ni’amiha Wat Turuqu Ilaiha Jahannam Ahwaluna wa ahluhaKarya: Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi AL Atsari
2. Panas dan kerasnya neraka
3. Dalamnya dasar neraka
4. Sifat neraka
5. Badan penghuni neraka
6. Keras siksa neraka

Sumber:

Buku Pegangan Pengajaran Anak Islam “Doa-doa”, Ustadz Abu Umamah Abdurrahim, Media Insani

Bullying


Banyak bentuk-bentuk bullying yg tidak kita sadari. Ahmad adalah anak yang mungil badannya, gampang sakitnya, tersenggol dikit gampang jatuhnya (kadang disengaja juga sih), tidak suka kekerasan dalam permainan, tidak suka ada yang mengejek dalam bermain, sangat “menghargai” hal-hal kecil, lambat menulisnya. Keadaannya itu membuat dia “banyak” tersiksa. Padahal keadaan itu juga bukan hal yang dia inginkan, atau bahkan keadaan yang sama sekali tidak ia sesali jika toh terjadi pada dirinya. Dikatain agak “nylekit” aja curhat ke umminya, “mi, kok si anu gini-gini mi….”. Di jailin dikit aja ga suka, apalagi kadang teman-temannya main fisiknya agak kelewatan, main-senggol-senggolan saja ambruklah dia, trus katanya “pernah diinjek-injek temannya”. Yah, “diinjek” disini tentu ga bener-bener nginjek sampe gimanaa gitu. Tapi ahmad sangat tidak suka dan sebel. Buat ahmad, perbuatan seperti itu “jahaaat” banget. Diledek karena selalu terlambat menulisnya jg bisa nangis sakit hati. Namanya anak-anak, ada saja yg kasar ngomongnya, bertengkar rebutan sohib, ga ikut aturan permainan, egois, mengancam, meludah, mencakar, memukul, mendorong, dll sebagainya. Baca lebih lanjut

Aku mau sekolah rumah saja


Sudah beberapa hari ini, seorang ibu menikmati kehidupan “normal” dengan anaknya. Hari-hari normal yang seharusnya kujalani bersama ahmad, tidak hanya sekarang ini saja, tapi selamanya sepanjang aku bisa. Aku jadi tahu seberapa lancar dan fasih dia membaca iqro, aku jadi tahu seberapa bagus dia menghapal, aku jadi tahu bagaimana perkembangan latihan sholatnya, aku jadi tahu seberapa kemampuan menulisnya, aku jadi tahu seberapa besar minat bacanya, aku jadi tahu seberapa tinggi khayalannya, aku jadi tahu seberapa bagus daya kreatifitasnya, aku jadi tahu apa saja yang benar-benar sedang diminatinya, aku jadi tahu apa saja yang membuat dia betah belajar, aku jadi tahu apa saja yang tidak dia sukai ketika belajar, aku jadi tahu bagaimana cara memecahkan persoalanku dengannya, aku jadi tahu bagaimana seharusnya aku menghargai dirinya yang telah berjuang menjadi anak baik untuk dirinya sendiri dan untuk kedua orang tuanya, aku jadi tahu kenapa dia mau selalu bersamaku dan kenapa aku selalu betah bersamanya….

Dia berkata padaku, berulang kali, “ahmad mau sekolah rumah aja”, sambil mata berkaca-kaca. Bahkan jari mungilnya sudah bisa menuliskan pesan di papan tulisnya, “ummilupaterus”, tanpa kubantu mengejanya…

*pagi hari sambil beberes*

Selingan: sesuatu yang hilang


Suatu hari, seperti biasa ahmad ga masuk sekolah. Kata dia, “mi, kemarin ahmad muntah… terus kata bu guru ahmad disuruh libur saja, istirahat”. Ya sudah, mau gimana lagi, malam belum menjelang saja sudah diniatin begitu. Pagi-pagi, setelah minum susu, kami berencana jalan ke alfa mart, lumayan jauh untuk ukuran kami berdua, terutama umminya. Tumben juga, saat-saat ga sekolah seperti ini, pagi-pagi ahmad dah mandi.

Sebelum berangkat jalan-jalan, dia nunggu umminya mengelap sandal karena ternyata sandal yang mau kupakai belepotan kena air hujan. Matanya jeli lihat seekor kupu terbang di depan kami, “Mi, kok tanaman ahmad ada kupu-kupunya? Berarti rumah ahmad kotor?”. “Bagus kan…, kupunya cantik kok, kupu-kupu juga suka yang indah-indah, tuh kan maunya datangin bunga,” kataku. Masih bertanya, “mi, emang kupu-kupu ga nggigit ya?”. “Enggak, cuma terbang2 aja cari nektar, sari bunga,” jawabku sekenanya. “Mi, kupu2 dari kotoran?”, dia tanya lagi. Hehe… beberapa hari kemarin pertanyaannya bolak-balik berkutat tentang binatang ini dari kotoran bukan mi, binatang itu dari kotoran bukan mi? Kalo binatang ini dari kotoran juga mi? Hahhhh…. rupanya dia salah tangkap alias salah paham.Gara-garanya, halaman penuh dengan ngengat mengerumuni lubang septic tank yang sedikit amblas. Weleh-weleh, sebagai pengontrak rumah ngeluh juga nih dikasih tambahan fasilitas seperti ini.

Baca lebih lanjut