Si Kaya dan Si Miskin


1#

A: “mi, si anu kaya ya?”

U: “emang kenapa gitu?”

A: “si anu rumahnya tingkat, punya mobil, sepedanya banyak”

U: “@#$%*!?” Baca lebih lanjut

Iklan

Reportase Menarik….


Kalau ibu-ibu ketemu ibu-ibu, biasanya yang dibicarakan salah satunya pasti seputar anak-anaknya. Beberapa waktu lalu, aku juga ketemu seorang ibu (ummahat), yang akhirnya aku terlibat diskusi seru dengannya.

Al kisah, ibu itu punya 4 anak, 2 anak pertama masuk SD, kelas 2 dan 1, anak ketiga usia 5,5 th (belum disekolahin, juni besok mau masuk TK), anak keempat usia 2 th. Aku pun mulai “mewawancarai” beliau. Sampai akhirnya beliau cerita panjang lebar tentang anak-anaknya.

Yang menarik ingin aku ceritakan disini adalah fakta bahwa dia tidak mengajari anak-anaknya menghapal sampai anak-anaknya benar-benar jelas ketika berbicara (ga cedal, salah satunya). Alasannya, karena ketika ngajarin ngapal tapi anaknya masih belum jelas ngomong apalagi cedal, maka makhrojnya akan salah, dan akan lebih susah lagi membetulkan ketika tiba saatnya mereka lancar bicara. Fakta kedua, ternyata beliau lebih dulu mengajari baca iqro sebelum yang lainnya, agar nanti dia bisa menghapal dari membaca al quran sendiri (tentu dibantu umminya). Fakta berikutnya, anaknya yang pertama (kelas 2 SD), hapalannya sudah 4,5 juz, mulai menghapal dari usia 6 tahun, setor murojaah 5 lembar per hari, baca al quran 1 lembar tiap hari. Fakta berikutnya, bahwa anaknya yang seusia ahmad (lebih tua dia sedikit), belum menghapal sama sekali, alasannya ngomongnya belum begitu jelas. Fakta berikutnya, beliau bertanya, “apa ahmad sudah menghapal”, kemudian aku jawab sudah… kemudian dengan heran dia bertanya lagi, “apa ahmad sudah lancar ngomongnya?”

Fakta selanjutnya, tentu aku KAGET. Hmmm…. memang, metode setiap keluarga berbeda-beda ya…

*Segera diposting biar ga keburu lupa, soalnya ini benar-benar fakta yang menarik*

HS? Lanjutkan!!!


Homeschooling lagi ngetrend? Mungkin iya. Ikut homeschooling karena trend? Tentu jangan. Itu tak akan bertahan lama.

Kalau kita perhatikan, saat ini banyak sekali keluarga yang “katanya” menerapkan homeschooling untuk anak-anaknya, terutama usia balita, TK. Bahkan, kegiatan anak bersama orangtua di rumah sepulang sekolah pun seringkali “disebut” dengan homeschooling. Seolah, ada diantara mereka yang benar-benar tidak mau “ketinggalan trend” homeschooling ini. Atau mungkin mereka tidak mau divonis tidak bertanggung jawab mendidik anak-anak mereka sendiri.

Sepertinya, tak terlalu sulit menerapkan HS untuk anak balita sampai usia TK. Sehingga jangan heran jika dimana-mana, kita menemui banyak klaim bahwa “kami HS”. Oke lah… itu hak masing-masing orang. Tapi setelah anak melewati masa TK-nya, fakta akan terbukti. Apakah yang kita klaim dengan HS selanjutnya akan benar-benar menjadi HS? Nyatanya, banyak sekali orangtua yang berani memutuskan untuk meng-HS-kan anaknya di usia TK. Tapi setelah TK berlalu? Moment itu benar-benar menjadi saat “pembuktian”. Apakah kita memang siap HS? #hanya sebuah renungan#

HS? LANJUTKAN !!! *maap, bukan iklan partai*

Biografi para ulama hadits


Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur -dapat dibaca- disini :

http://ahlulhadist.wordpress.com/

InsyaAllah kita akan menemukan perbendaharaan yang tak ternilai harganya. Bagus juga untuk bekal ibu-ibu mengajari anak-anaknya.

Mari kita segera meluncur ke situs tersebut di atas dan meraup faidah sebanyak-banyaknya…..

Alternatif pengganti nyanyian untuk anak-anak


Biasanya anak-anak TK diajari opo tho?  Intermezzo dikit yah… suatu kali pas aku blogwalking, aku nemu cerita, bahwa ada seorang mahasiswa indonesia yang tinggal di jepang, anaknya yang baru usia TK sudah bisa hapal 30-an lagu-lagu anak-anak jepang (berbahasa jepang pastinya). Ckckckc…. keren? Tentunya, apresiasi kita bisa jadi berbeda. Tapi kalau menilik kemampuan anak itu, subhanallah… kenapa ga disuruh ngapal al quran aja, mungkin dalam waktu singkat dia bisa hapal juzz amma, atau bahkan beberapa juz al quran.  Ada juga yang sampai menjadikan les piano seperti menu wajib anaknya. Baca lebih lanjut

Jadwal Harian


Membuat jadwal harian mungkin mudah, yang seringkali sulit adalah komitmen melaksanakan jadwal yang kita buat. Tapi tentu tak ada salahnya kita mencoba kan?

Keluarga kami sudah berkali-kali bongkar pasang jadwal harian. Bahkan tak jarang jadwal itu hanya sebatas kertas tertempel di papan dan dinding ruangan, berakhir sebatas angan dan impian karena tidak pernah terealisasikan.

Tapi tenang, jangan galau. Gagal? Buat lagi dan lagi. Tak sesuai? Ubah lagi dan lagi.

Aku tak akan bercerita tentang carut-marutnya jadwal sekolah rumah kami, to the point saja… ini jadwal kami yang sedang berlaku setelah liburan panjang berlalu: Baca lebih lanjut