Jadwal Harian


Membuat jadwal harian mungkin mudah, yang seringkali sulit adalah komitmen melaksanakan jadwal yang kita buat. Tapi tentu tak ada salahnya kita mencoba kan?

Keluarga kami sudah berkali-kali bongkar pasang jadwal harian. Bahkan tak jarang jadwal itu hanya sebatas kertas tertempel di papan dan dinding ruangan, berakhir sebatas angan dan impian karena tidak pernah terealisasikan.

Tapi tenang, jangan galau. Gagal? Buat lagi dan lagi. Tak sesuai? Ubah lagi dan lagi.

Aku tak akan bercerita tentang carut-marutnya jadwal sekolah rumah kami, to the point saja… ini jadwal kami yang sedang berlaku setelah liburan panjang berlalu:

Pekan/tanggal/bulan/tahun:………………………………..

No

Kegiatan

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Ahad

1 Sholat *
2 Menghapal Al Qur-an *
3 Membaca Al Qur-an *
4 Menghapal Doa
5 Membaca buku (kisah islam, ensiklopedi, umum)
6 Menghapal Hadits
7 Bahasa Arab
8 Menulis Arab
9 Menulis Latin
10 Berhitung
11 Sains/Umum
12 Membuat Kreasi
13 Bermain keluar
14 Lain-lain

* Kegiatan wajib harian

Selainnya pilihan

Kegiatan yang sudah dilakukan di cecklist (V). Kalau tabel jadwalnya penuh dengan cecklist, ahmad bakal girang, senang, bahagia, bangga, ternyata seharian dia sudah belajar banyak hal.

Keterangan:

  1. Sholat > minimal 1x/hr ikut abi jama’ah di masjid (kalau ga hujan dan abi pas di rumah), atau ikut sholat bareng ummi, pas maghrib atau ba’da maghrib praktek sholat sendiri, latihan gerakan dan bacaan sholat
  2. Menghapal Al Qur-an > muraja’ah  dan surat baru
  3. Membaca Al Qur-an > setengah halaman/hr, ba’da maghrib, karena masih awal maka bacanya kami cukupkan setengah halaman saja. Alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar sesuai rencana.
  4. Menghapal doa > doa lama yang sudah dihapal ditambah artinya (ini resep dari adik ipar, istilah di ma’had dia ngajar disebut sebagai “pendalaman”)
  5. Membaca kisah islam/buku cerita > ganti-ganti si anak yang memilih, kadang cuma 1 halaman, kadang beberapa halaman sampai satu judul selesai
  6. Menghapal hadits > 2 hr sekali, kadang mau tiap hari, kadang tidak mau sama sekali
  7. Bahasa arab > biasanya 2 atau 3 hari sekali
  8. Menulis arab > sedang “digalakkan” kembali
  9. Menulis latin > biasanya 2 atau 3 hari sekali
  10. Berhitung > 2 atau 3 hari sekali, kadang 1 minggu penuh tidak mau berhitung, kadang mau tiap hari
  11. Sains/umum (termasuk pengetahuan islam)> diselipkan dalam aktivitas sehari-hari
  12. Membuat kreasi > lagi jarang berkreasi nih, tapi dia pintar berkreasi kok dengan koleksi mainannya, tiap hari ada saja up datenya
  13. Bermain keluar > wah kalau ini setiap hari ba’da ashar adalah jam mainnya bersama teman-temannya
  14. Lain-lain > kegiatan apa saja yang tidak tertulis diatas

Senin-jum’at adalah hari “padat” belajar (kayaknya keluarga HS lain juga begitu ya?), sabtu-ahad opsional (biasanya hari ahad full libur), tetapi sabtu-ahad tetap diusahakan melakukan kegiatan sholat, baca Al Qur-an, dan menghapal (paling tidak murajaah meskipun cuma satu surat).

Bagaimana dengan komputer?

Sengaja tidak dimasukkan jadwal, karena intensitas pemakaian komputer di rumah termasuk sering (suka-suka memakainya). Ada keluarga HS yang menjadwal anaknya dapat jatah main komputer 1 jam/hr, bahkan ada yang 1x/minggu. Wow, keren… semoga suatu saat kami bisa membuat jadwal pemakaian komputer dengan lebih baik lagi.

Bagaimana realitanya?

Normalnya, ahmad bisa menyelesaikan 5-7 kegiatan (sesekali lebih dari 7), dengan waktu pelaksanaan yang sangat fleksibel. Kadang sebagian bisa dikerjakan pagi hari setelah sarapan (diatas jam 9, maklum bangunnya siangan), kadang disambi mengerjakan pekerjaan rumah, kadang menjelang dzuhur, kadang ba’da dzuhur, sisanya malam hari ba’da maghrib. Tapi tak jarang juga karena satu dan lain hal, hanya terlaksana beberapa kegiatan saja. Untuk kegiatan opsional, jatuhnya per kegiatan bisa 2 atau 3 hari sekali, bahkan bisa 1 minggu sekali, atau kalau lagi “rajin” dan semangat bisa juga dilahap tiap hari. Realitanya…fleksibel. Kapan kita mau off dan kapan mau laju kencang semua ada di tangan kita dan anak-anak kita, biidznillah..

Berapa waktu yang dibutuhkan? Kurang lebih total waktu 2-3 jam bisa kok menyelesaikan beberapa kegiatan yang kita targetkan. Cepat kan? Terus waktu yang tersisa lainnya buat apa dong? Di waktu yang lainnya sebenarnya anak-anak juga “belajar” kok. Belajar dari aktivitas seluruh anggota keluarga dan semua yang terjadi di lingkungan sekitar kita, anak belajar tentang Tuhan (din), belajar adab dan akhlak, belajar tertib dan disiplin, kemandirian, belajar berempati dan membantu orang disekitarnya, belajar mengendalikan emosi, belajar mengerti, dll, belajar tentang hidup yang riil yang terlalu sulit dituliskan dengan pena dan kertas-kertas.

Bagaimana jika tidak terlaksana? Ya… namanya rencana, pasti ada kalanya meleset dari jadwal yang sudag ditetapkan, pastinya ada saja hal-hal yang membuat sekali dua kali jadwal tidak terlaksana. Sakit lah, sangat sibuk lah, ada tamu lah, bepergian lah, dllnya. Tidak bisa hari ini, maka penuhilah esok hari………

10 thoughts on “Jadwal Harian

  1. hoo…kirain teh semuanya dilaksanain…
    kalo aku belum ditarget pake jadwal plek tempel dinding mba…
    soalnya ngeliat kemampuannya ziyad dan kemauannya ziyad…..
    jadi yang mesti tiap hari itu sekarang masihh cuma baca iqro, baca latin, hafalan sama nulis latin…
    yang lainnya masih sambi sambi…kalo nulis arab udah tamat tapi mesti ada pendalaman lagi…tapi blom mule…Alhamdulillah tapi aku lebih nikmati itu dan Ziyad juga gak stress jadinya…(akunya juga dingg). ya itu…sbnrnya aku rada2 penganut anak itu jangan terlalu banyak dijejeli banyak2 di saat waktu mereka bermain : D

  2. Hehe, iya kasihan lah jangan dijejelin. Jadwal segitu juga ahmad santaaai kok. Tetep aja lebih buanyak mainnya. Keliatannya banyak banget ya? Tenang sis, nulis latin juga paling 4-5 kalimat pendek. Nulis arab juga paling huruf2 hijaiyah atau beberapa fi’il yang hurufnya belum bersambung (sambil nulis sambil mengenalkan kosakata kata kerja maksudnya). Hadits juga paling cuma 1 yang pendek, bahasa arab juga biasanya tebak-tebakan sambil dia main atau sambil masak, atau belajar di komputer, kadang dia ngerjain worksheet buatan sendiri, kadang ditulisin soal di papan tulis dia jawab, dia kan udah bisa baca arab jadi lumayan membantu. Sholat juga cuma baru ikut-ikutan. Hapalan, dllnya juga santai, diulang-ulang wae *ckckck*, sambil main (makanya ga nambah-nambah nih), baca buku juga sambil main ustadz-ustadzan, bercerita bisa sambil tiduran, sambil ngobrol n bersantai *perasaan bersantai terus yah?* bisa bikin origami atau apa kek… ya, namanya “kehidupan rumah” kayaknya dimana-mana kek gitu. Aku pikir aku sudah memberinya banyak waktu bermain, bahkan ketika belajar juga bermain *memang dunianya begitu kan?*. Sekarang sudah waktunya dia sedikit mengetahui bahwa tiba saatnya nanti “belajar adalah wajib”…

    Eh siska pernah baca di blog tetangga kan? Coba liat jadwal hariannya, bahasa inggris, main piano, baca buku-buku nonfiksi yang kurang “mendidik”, matematika, les musik ini lah itu lah. Dan hal-hal seperti ini yang sekarang marak, seiring maraknya homeschooling.

    Tadinya kami unschooling banget, tapi dipikir-pikir butuh dijadwal untuk membentuk “disiplin belajar”, juga biar umminya disiplin. Soalnya kami menyadari bahwa kami sangat2 tidak disiplin… Moga anak2 kita belajar dalam suasana hati yang senang ya sis, bukan karena terpaksa, bukan karena dipaksa…

  3. nah itu mba…maksudku…sama…aku lebih banyak pake sistem dulu2 sblum ada “pencitraan” atau “penetapan” ‘hey…saya menerapkan homeschooling ke anak2 saya.”
    jadi belajarnya masih ngalir….istlahe unschooling ya?
    wis ngantuk ki…mo nulis di blog ttg ini tapi gak sempet2…kmrn ada yang nanyain soalnya..mo homeschoolingin anaknya yg umur 3 tahun kayanya kok susah bgt…..
    kayanya ada yang mesti diluruskan ttg homeschooling ini

    ah..irodah lagi…irodah lagi…
    waktu luaangg…datanglahhhh : D

  4. sebelum 5 th-an kayaknya anak2 memang lebih tepat unschooling, tp mungkin ga semua ya, ini pengalaman pribadi aja, soalnya ada jg yg “disiplin ketat” sejak kecil. ada temen yg menerapkan HS jg (subhanallah, mungkin sebelumnya dia ga ngerti istilah HS, tp tanpa dia sadari dia sudah meng-HS-kan 3 *bahkan mungkin sekarang sdh 4* anaknya), dia cerita setiap bangun tidur anaknya ga boleh turun dari kasur sebelum dia menghapal. Itu cerita waktu ahmad masih sekitar 3 th-an, sedang umur salah satu anaknya yang dpt aturan itu lebih muda dikit. Kereeen…geleng2 deh aku. Kalo anakku ga bisa digituin, PROTES. Kalo belajar di sekolah kan emang udah fix jam belajarnya, jam segini belajar ini, jam segini belajar yg lainnya. Meskipun bisa jadi pada jam2 yang sudah ditetapkan sekolah anak ada kalanya *bahkan bisa jadi sering* merasa terpaksa, tertekan, ga mood, ga konsen, tetap saja dia harus ngikutin jam yg sudah ditetapkan (kalo aku dulu SMA, gurunya ngajar kita ngapain kek, malah kadang ijin ke luar kelas *makan baso di kantin* hehe. sekarang SMA ku sdh jd RSBI, kasus kyk gitu msh ada ga ya?). Kalo dirumah, memang lebih fleksibel, tp menurutku tetap perlu jadwal *yg fleksibel* jg tentunya. Kadang mikir jg, apa bisa ya dewasa nanti anakku bisa “benar2 disiplin”? Mendisiplinkan anak n seluruh keluarga adalah PR berat keluarga HS-ers.

  5. O bgtu y mb,..alhamdulillah dpt masukan byk dr blog ini ttg mdidik anak dirumah.
    Trus mb,berarti ana salah paham ya,tak pikir unschooling tuh slhsatu model dr HS,pemahaman yg slhkah?

    Ahmad ga pernah kesulitan dlm slh 1 hal y mb?mksdku lancar2 sj,lgsg bisa ktk diberi hal br?

    Lg perlu byk belajar mb.
    {ni ana,galuh smga mb msh ingat dg teman skamar mb fa}.

  6. @ galuh
    iya jelas masih inget dek… subhanallah, ga kerasa ya dah 6 tahunan kita ga ketemu. setauku jg gitu dek, unschool termasuk salah satu metode HS. coba deh search di google, insyaAllah nemu banyak penjelasan tentang unschooling.
    ..
    “Ahmad ga pernah kesulitan dlm slh 1 hal y mb?mksdku lancar2 sj,lgsg bisa ktk diberi hal br?”
    ..
    ya jelas ada tho… ga ada yg sempurna dek. banyak jg masalah yg “kami” hadapi. susah diajak ngapal (nawar mulu, ngeyel mulu, byk alasan, mulutnya capek lah, mual lah, dll), baru “tertarik” belajar baca latin usia 4 th-an, diajari matematika jg ga tertarik, diajari nulis ga minat, diajak baca (baca sendiri maksudnya) rayuannya pun harus mantap. Sering pas “jam belajar” mogok, ga mood (yang tadinya pas main aja ceria, tiba2 ga mood gitu spt kehilangan selera). Tapi alhamdulillah, meski kesannya kayak ga serius gitu dia nangkep. Namanya anak-anak, “pelajaran” apapun bisa masuk lewat apapun, bahkan dengan tehnik yang sama sekali sering tidak kita duga. Makanya masa-masa seperti itu lebih pas dengan metode unschool, kalo aku siih (ga tahu ya yang lain). Meskipun sebenarnya aku ga terlalu “ambil hati” dengan istilah2 yang ada, tapi kadang perlu -sekedarnya saja-. Aku bukan termasuk yang oriented banget dengan hal spt itu.

  7. masyaALLAH…mantabs..lanjutkan!!he.he.melu2 judule HS lanjutkan..jadwalny bagus,pengen ngikutin mb..jazaakillaah khoir..btw,dgn jadwal itu umminya msh sempet peeling,maskeran,pedikur,menikur,kur-kur g?jd inget dl d sakinah…..

  8. wah, jgn buka kartu disini dek! perasaan ga pernah pedikur n kur-kur yg lain deh, paling banter facial sama mantan supervisor spa sheraton itu, hehe.. lumayan, gratis… sayang akhwat2 dulu pada ga memanfaatkan kesempatan, padahal kan “ga dilarang” kan?. eh, adeknya salma siapa namanya? lupa…. dah berapa th nih skrg? ana ga ada blog ya? apa dirahasiakan?

  9. oh ya ‘afwan y mb jd buka kartu soale penasaran mbrini yg skrg msh spt yg doeloe ga..skrgkn dah sibuk ngurus ahmad dan HSny..o ya nama adike salma,syafiq skrg 15 bulan..ora nduwe blog mbak..baarakallaahu fiik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s