HS? Lanjutkan!!!


Homeschooling lagi ngetrend? Mungkin iya. Ikut homeschooling karena trend? Tentu jangan. Itu tak akan bertahan lama.

Kalau kita perhatikan, saat ini banyak sekali keluarga yang “katanya” menerapkan homeschooling untuk anak-anaknya, terutama usia balita, TK. Bahkan, kegiatan anak bersama orangtua di rumah sepulang sekolah pun seringkali “disebut” dengan homeschooling. Seolah, ada diantara mereka yang benar-benar tidak mau “ketinggalan trend” homeschooling ini. Atau mungkin mereka tidak mau divonis tidak bertanggung jawab mendidik anak-anak mereka sendiri.

Sepertinya, tak terlalu sulit menerapkan HS untuk anak balita sampai usia TK. Sehingga jangan heran jika dimana-mana, kita menemui banyak klaim bahwa “kami HS”. Oke lah… itu hak masing-masing orang. Tapi setelah anak melewati masa TK-nya, fakta akan terbukti. Apakah yang kita klaim dengan HS selanjutnya akan benar-benar menjadi HS? Nyatanya, banyak sekali orangtua yang berani memutuskan untuk meng-HS-kan anaknya di usia TK. Tapi setelah TK berlalu? Moment itu benar-benar menjadi saat “pembuktian”. Apakah kita memang siap HS? #hanya sebuah renungan#

HS? LANJUTKAN !!! *maap, bukan iklan partai*

24 thoughts on “HS? Lanjutkan!!!

  1. Dulu (sebelum punya anak) aku kepikiran pengen ngajarin anak sendiri, waktu itu boro-boro kenal HS. Meskipun tahun 2005/2006an mungkin sebenarnya dah ada praktisi HS (tapi belum se_booming sekarang). Ditunjang jauh dari koneksi internet (aku maksudnya, krn kalo suami kan orang IT jd ya mestinya dia bergelut dg itu terus), aku pun mulai kenal2 HS dari suami (kayaknya dia dulu dpt info HS dari milis as sunnah).

    Ngomong2 pengen ngajarin anak sendiri, pertama karena aku ngerasa “pendidikan orangtuaku” banyak yg kurang, lebih banyak untuk mengejar dunia, selain itu hasilnya ya beginilah, kuliah gagal jd sarjana (hehe, kalo ini sebenarnya pilihan hidup, alhamdulillah suamiku ga malu menikah dengan lulusan SMA ^^, dan seprtinya ahmad juga ga malu ibunya hanya lulusan SMA), adik2 terlibat masalah serius ketika remaja (meski ga sampai ngedrug/pergaulan bebas, tapi buat keluarga kami itu adalah aib yg besar). Sampai akhirnya mengenal manhaj salaf, semakin sadar bahwa apa yg pernah terjadi padaku, dan sedang terjadi pada adik2ku itu karena orangtua tidak melaksanakn kewajibannya dg sebaik2nya, bahwa sesungguhnya apa yang terutama adik2 alami itu karena ibu bekerja, karena masuk ke sekolah umum, sedangkan pondasi islam yg benar tidak tertanam dengan baik, akhirnya yang memetik buah pahit ini ya kami sekeluarga. Sebagai anak yang berguru pada pengalaman hidup orangtua, maka aku bertekad aku tak ingin mengulang kegagalan mereka (alhamdulillah, orangtua pun mengaminkan, bila mungkin bagi mereka dianggap cukup terlambat -semoga Allah memberi hidayah pada adik2ku tersayang-, tapi bagi aku yang baru memiliki anak2 tentu belum terlambat).

    Kedua, demi melihat sekolah2 yang ada sekarang (sekolah umum), maka makin kuatlah keinginanku untuk HS. Aku ingin menerapkan kurikulum yang berbeda, sesuai keinginan kami, bahkan jika itu berbeda dari kurikulum keluarga salafy HS-ers yang lain pun tak masalah. Prinsipku, “jangan takut HS anda berbeda, karena ketika memilih HS anda memang sudah berbeda”.

    Ketiga, meskipun ada banyak ma’had (aku jg tinggal dekat ma’had), tapi ternyata setelah kemarin mencoba beberapa bulan, hasilnya tak seperti ketika belajar di rumah (terutama dalam prosesnya). Bukan aku menyangsikan kemampuan ma’had, tapi untuk saat ini dengan HS itu membuatku melakukan pilihan tepat. Aku senang ketika anakku bisa menghapal surat2 karena aku yang mengajari, aku senang anakku sekarang bisa baca al quran karena aku yang mengajari, aku senang anakku sekarang lancar membaca karena aku yang mengajari, aku senang anakku bisa menulis karena aku yang mengajari, aku senang dia melakukan hal-hal positif karena dia peroleh dari kami (ummi abinya), dllnya. Karena kami tidak menyerahkannya pada sekolah maka aku lah (dan suamiku tentunya) yang mendapat pahala2 itu, yang mereguk kebahagiaan dan kebanggaan itu, yang akan selalu menjadi kenangan. Dan suatu saat aku ingin dia bangga, “aku bisa seperti ini” karena jerih payah ibu bapakku.

    Keempat, aku berprinsip selagi aku bisa melakukan aku akan mengajari anakku semampuku. Jika suatu saat aku mengirimnya ke pondok2, maka aku punya udzur, karena aku sudah tak mampu memberikan apa yang semestinya dia dapatkan.

    Kelima, kenapa aku HS? Karena aku cukup percaya diri dek…. Aku pernah menjadi anak kecil, aku pernah menjadi anak TK, aku pernah menjadi anak SD-SMA, aku pernah sekolah dan kuliah, aku belajar ngaji dari kecil, bahkan ketika aku khatam al quran kelas 4 SD, setelah itu aku baca kitab kuning gundul meskipun sebenarnya aku waktu itu ga ngerti sama-sekali kaidah bahsa arab, dan aku pernah belajar seperti apa yang akan anakku pelajari. Aku percaya, jika aku (dengan memohon pertolongan Allah) akan bisa mengajari anakku. Meskipun aku telah lupa, maka aku bisa belajar lebih dulu sebelum aku mengajarkannya. Bahkan ketika aku sama-sekali belum tahu, maka kami bisa belajar bersama-sama.

    Proses HS telah membawa pemahaman bagi kami bahwa “tidak tahu” itu tidak salah. Malahan kami menganggap bahwa “tidak tahu” adalah sumber dari banyak sekali pengetahuan. Bukankah “laa adri” adalah setengahnya ilmu? Ketika kita menyadari bahwa kita “tidak tahu”, itu adalah saatnya bagi kita untuk belajar dan harus belajar. Begitu juga berlaku bagi orangtua yang mengatakan, “aku tidak tahu caranya mengajari anakku”, maka saat itulah dia wajib belajar bagaimana cara dia mendidik anak2nya.

    Keenam, aku sangat menikmati ketika aku berkumpul bersama anak. Aku tak bisa jauh2 barang sehari saja. Aku selalu kawatir kalau aku meninggalkannya. Bahkan aku sering berpikir, apa aku sanggup melepasnya ketika dia masuk usia SMP. Aku pikir, sebelum usia baligh, alangkah baiknnya anak-anak tetap bersama kedua orangtuanya, saat2 dimana dia sangat tergantung pada orangtua, membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih orangtua, saat2 pembentukan karakter yang akan membantunya ketika dia beranjak remaja dan dewasa. Jika saja kami punya kemampuan seperti ustadz/ustadzah, mungkin kami tidak berpikir untuk menyekolahkan dia di usia SMP/SMA.

    Ketujuh, ini adalah inti dari semua alasan, “quu anfusakum wa ahliikum naaraan”. Anak2 yang Allah berikan pada kita adalah amanah, dan selama kita tidak melaksanakan kewajiban kita mendidiknya dengan baik maka hutang itu belum terbayarkan. Memondokkan anak juga termasuk bentuk pendidikan pada anak. Tapi jika kita memondokkan anak karena kita sebagai orangtua tak pernah BENAR-BENAR BERUSAHA mendidiknya dengan baik dan semaksimal mungkin, apa itu yang dinamakan orangtua yang bertanggung jawab? Silahkan dijawab sendiri, dari lubuk hati kita yang paling dalam.

    Itulah alsan pokok aku memilih HS. Alasan2 lainnya tentu masih ada, tapi nanti jadi bertele-tele jawabannya. Ini saja dah cukup panjang kan dek?

    Doain ya dek, teman2, semoga Allah memberi pertolongan pada kami…. dan pada semua keluarga yang menjalani pilihan HS ini. Amiin…

  2. Amin, wah panjang bgt jawabnnya ^ ^. Ana sendiri juga setuju rasanya kurang sreg jika mengirim anak ke pondok sejak kecil. Karena tentu beda kan kita yang mendidik dengan orang lain yang mendidik. Ketika ia makan dgn tngan kiri kita ingatkan, ketika ia masuk kamar mandi kita ingatkan untuk berdoa, pendidikan anak itu 24 jam. Gak kebayang kalo anak sejak kecil dikirim ke pondok, siapakah yg akan mengasuhnya (meskipun nantinya ada pengasuhnya, tp tentu beda kan dengan ortunya sendiri yg mengasuh). Apalagi anak prempuan yg akan qt ajari ttg kbersihan, masak, meladeni kebutuhan bapak, cara berhemat, tidak mubadzir harta. Kayaknya lebih pas jka ibunya sendiri yang mngajarkan. Tapi, pertimbangan masing ortu beda2 ya mba… Semangat untuk mba zalfa, smoga segala urusnnya dimudahkan Allah. ^ ^

  3. mh… umm ahmad sebenarnyanya sudah memberiku “virus” untuk mgn-HS anak-anakku🙂, tetapi… belum Pede nih, soanya aku kan masih dinas di RS (hiks…), ortuku guru dan suamiku ustadz di MTs. Jadi menurut ke-2nya skool is the best lah ya…biarpun, sebenarnya anak2ku nggak suka2 banget sekoah juga sih.. paing seminggu masuk 1 hari atau 3 hari… do’akan aku bisa mengikuti jejakmu ukhti… Jazakillah khoiron untuk share2nya di blog yang manis ini.

  4. @ ummu nafisa
    hehe, iya kepanjangan, bisa jd 1 postingan tuh dek. yap, betul! pertimbangan tiap orangtua berbeda. Amiin, semoga urusan kita semua dimudahkan

  5. @ umm harits
    lhoh virus? wah, kalo imunitas bagus, ga bakal kena virus tuh umm…. hehe becanda ^^. aku jd malu umm, bukan sarjana aja ke-pede-an gini. apalagi aku S3 ya? ortuku jg guru umm, tp begitu melihat cucunya, mereka ga protes kalo cucunya HS aja, padahal ya cuman begini2 aja. Pas mudik kemaren, ahmad diajak ke sekolah tempat ibu ngajar, meskipun ibu ga pernah bilang secara shorih, tapi ekspresinya menunjukkan rasa bangganya pada cucunya. Aku yakin, semua nenek, mbah, akan merasakan hal yang sama terhadap cucu2nya. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk membuat ibu merasa bahagia di masa tuanya. Kali ummu harits harus membuat “satu pembuktian”, orang kalo dah ada bukti biasanya baru percaya. Cuman, kalo untuk yang satu ini *HS* membuktikannya butuh waktu lama, bahkan bisa jadi tak bisa diukur dengan waktu. Skool is the best? Oke lah, tapi belajar lebih the best lg umm. Kata orang, belajar itu sepanjang hayat dikandung badan. Bener ga nih pepatahnya???

  6. @ umm harits
    oya umm, gmn dg ide “resign”? ada nih ummahat yg bentar lg resign, insyaAllah (sambil ngelirik ke arah ci****** n berharap yg bersangkutan koment disini). kita semua doakan smg rencananya berjalan lancar, mendapat kemudahan, dan mendapat imbalan yg setimpal atas keberaniannya, perjuangannya dan “pengorbanan” nya tentunya. kita tunggu aja kisah nyatanya, smg memberi inspirasi dan memberi semangat jg buat ummahat2 yg lain…

    btw, aku sangat mendukungmu ukhti…

  7. ci****** kuwi sopo mba rin?ada yang mau resign tho? *siap2 ngintip buat referensi xixixi..

    subhanallah mba, membaca penjelasan panjangmu alasan HS membuatkyu -insya Allah- jadi tambah mancap🙂

    pokoke semangka terus deh mba rin, daku mensupprot anti😀

    *trus postingan referensi buku2nya mas ahmad mana ya? ;p

  8. ci******? rahasia deh (sambil kedip2).
    kura2 dalam perahu, jangan pura2 tidak tahu…..
    buku2nya pada kececer kemana2 ni, gmn ngumpulinnya ya

  9. Iya mba, faktor ga pede ini niii bikin bingung. Pertanyaan mulai dari mana, referensi nya, kurikulum dan jadwalnya, satuan kegiatan hariannnya dan evaluasinya agar sesuai tujuan gimana… terus menerus berputar di kepala ana. Ada group yahoo sunnihomeschoolling juga mba, tapi belum coba buka. Ma’hadnya udah mau jadi sekolah payung mba?

  10. jadi kalo kita merasa sanggupnya nge-hs-in di usia preschool dan gak nge-hs-in anak pas sd itu bisa dianggap ngikutin trend ya mba?😀

    postingannya nadanya agak2 “keras” gitu😀
    kalo wisenya menurut aku…HS itu pilihan…seperti sering terdapat di group SHS facebook.
    Jadi, masing2 kan punya alasan untuk meng-HS atau tidak meng-HS. Dan penerapan HS itu bukan kewajiban utk kemudian yang tidak meng-HS adalah sebuah kesalahan…

    Ketika seseorang mencoba untuk meng-HS-kan anaknya di usia preschool mgkn karena penerapannya yang masih lebih mudah dan dengan resiko kecil…utk kemudian melihat kondisi selanjutnya apakah sang ibu dan anak memang siap untuk HS selanjutnya selama 6 tahun.

    *Ini curahan hati aku juga sih sebenernya….hehe…ya tapi bisa jadi berkaca dari postingan mba rini.

  11. @ mutia
    mulai dari mana? hehe, mulai dari sekarang n dari mana aja dek… kata orang, mengajari anak adalah panggilan batin seorang ibu. hihi..siapa yg bilang ya? setiap ibu biasanya punya naluri mendidik n mengajari anak, dari chemistry antara ibu n anak lahir ide2 brilian bahkan pastinya tidak identik antara ibu satu dg yg lainnya. pertanyaanya sekarang (walah kayak kuis aja ya), “sudahkah kita mendengar panggilan batin itu? sudahkan kita memiliki naluri seorang ibu?”…

    terus terang aku jg bingung mulai dr mana menjawab pertanyaanmu dek. dulu kami jg bertanya ttg itu, tp pertanyaan itu dlm rangka kami sudah memutuskan utk menjalani HS. mulai dari mana? mulai sekarang aja, ga ada kata terlambat kok. Referensi? kami baca2 info ttg HS dr mana aja, dr blog tetangga, dr buku2, dr milis, dr pengalaman HS tmn2 baik dari dlm negeri maupun luar negeri. Dari itu semua pastinya ada yg cocok n ada yg ga, ada yg satu visi banyak jg yg bertentangan. Mengetahui kisah2 mereka aku berpikir, “ah mereka aja bisa, kenapa aku ga?”. Membaca cerita mereka, aku dapat informasi n inspirasi sekaligus referensi. Bahkan aku belum pernah berpikir terlalu rumit tentang ini, just do it! untuk kurikulum pun direka2 sendiri, kira2 anakku dah bisa diajari apa ya? kita punya banyak buku2 ulama, ambil aja dari situ mana yg bisa diajarkan ke anak. bahkan mau SD ini, aku belum punya silabus yang “tertulis”, nyantai bgt ya…. hahaha. insyaAllah masih ada waktu 1 th lg sebelum ahmad “masuk SD”. aku tanya ke ummahat yang anaknya kelas 1 SD, “di sekolah anaknya diajari apa umm, mau nyontek niiih?” katanya, “mtk, ipa, ppkn, bhs indonesia, ips, diniyahnya aqidah, shiroh, fiqh, quran hadits, bhs arab”. ya udah, kami tinggal download dari BSE untuk kurikulum diknasnya, yg diniyah ambil2 dari kitab/buku kita sendiri. alhamdulillah, untuk silabus SD insyaAllah kami ada source dari satu atau 2 ma’had, tinggal untuk pelaksanaannya kami sesuaikan. berarti, orangtua harus belajar lagi ttg pelajaran SD, aqidah, shiroh, fiqh, ngapal quran hadits bareng anak, belajar bhs arab, tahsin n tajwid, sains, latihan berkreasi, latihan jd bu guru, latihan membagi waktu (jadwal), latihan menahan marah, dll… seru kan? (atau malah stress???)

    kalo satuan kegiatan harian, aku ga pake gituan dek… di usia ahmad, banyak hal “spontanitas”. yo opo iki?? jgn kaget lah, aku emang easy going. evaluasi ya disesuaikan dgn target. kumpulin portofolio, termasuk melalui poto2. macem th ini, target kami diantaranya, ahmad lancar baca quran n latin, hapalan selesai juz 30, hapalan beberapa hadits arba’in nawawi, sudah bisa wudhu n sholat (termasuk bacaannya), latihan bangun pagi, latihan “melaksanakan jadwal” yg udah dibuat, ngelemesin jari2nya itu lho yg susah… dll-nya. diakhir th dievaluasi, mana yg tercapai n mana yg belum, apa yg kurang, apa kendalanya, metode apa yg bagus untuk menunjang target tsb, apa yg menonjol dr kemampuannya n di bagian mana yg dia lemah menyerapnya, pa yg dia suka n mana yg ga suka. dllnya… mestinya masing2 kita punya target sendiri, n punya cara sendiri dalam mengevaluasinya.

    ah gitu aja dek, aku ga pandai berkata2. dan lagi aku bukan pakarnya. aku hanya umminya ahmad yg tahu hal2 tentang ahmad. heheh… dan mutia pasti jg tahu hal2 tentang shofi

  12. @ cizkah
    hehe… ya itu kan tulisan subyektif. kayaknya di blog ini subyektif semua ya? ^^
    ya iya lah, HS itu kan pilihan… pilihan jitu… haha!
    eh sis….
    kemarin aku ngobrol sama mba maryam n ustadz abu isa (pas lg ke bandung ceritanya) tentang anak2.
    perkataan beliau yg bikin aku rada kaget, “anak SD kalo bisa ga usah dipondokin, kasian, diajarin sendiri kan bisa”.
    mungkin karena beliau melihat kenyataan hidup anak2 kecil yg mondok, jauh dari orangtua.
    mondok/di rumah kadang realita yg dilematis…

    *tp ziyad kayaknya enak nih, bisa belajar di pondok tanpa harus mondok*

  13. @ cizkah
    tambahan nih sis…
    tulisan ini ga bermaksud mengadili orang2 yg memilih atau ga memilih HS lhoh ya, yg HS anaknya pas preschool maupun yg HS sampe besar.
    bukan bukan itu maksudnya…
    seperti di penutup tulisan, itu hanya sebuah renungan, apakah aku benar2 akan HS atau hanya “kemakan” trend.
    soalnya ini udah diambang pintu pembuktian nih. lanjut… ga… lanjut… ga… lanjutkan!!!

  14. haha…lha itu mba…pembuktian ke siapa….kalo gak ikut trend insyaAllah gak harus membuktikan ke siapa2…
    mungkin membuktikan ke diri sendiri kali ya

    btw…maksudnya ziyad enak bisa belajar di pondok tanpa harus mondok apa ya mba?
    ana gak tinggal di jamil…
    kalo pun di jamil…sptnya juga gak bakal nyekolahin di jamil…
    ya ada sesuatu alasan di antara bbg alasan yg membuat homeschooling is the best choice for now…

  15. # mau buktiin ke siapa lg? ya ke diri sendiri lah… mana ada orang mau mengakuiku? man ana? dan buat apa gitu lhoh cari2 pengakuan orang lain… hehe ^^. orang lain, bahkan pemerintah ga ada kepentingan / ga butuh dg pembuktianku mau HS lah, mau sekolah lah, mau mondok lah… hehe lg ^^. sejak ahmad lahir aku “sesumbar” mau HS-in anak. 5 th mungkin masih cukup mudah bagiku (dengan segala mcm kesulitan n kendala selama ini tentunya, ya..alhamdulillah Allah memberi kekuatan sampe detik ini). dan sekarang di ambang dia mau “SD” acapkali diliputi kegalauan, turun semangat, dllnya.

    # “btw…maksudnya ziyad enak bisa belajar di pondok tanpa harus mondok apa ya mba?”. ga bermaksud apa2… maksud baik kok… salah ucap ya mba ciz? afwan lah kalau begitu. lha posisi anti terakhir yg kutahu di dekat jamil, menurutku itu kan posisi “strategis” yang byk didambakan ummahat. husnudzon saya mah itu pasti memudahkan pendidikan anak, dlm hal ini ziyad, jd aku pikir “ziyad enak bisa belajar di pondok tanpa harus mondok”, sama kyk ahmad jg, “enak kok ahmad bisa belajar di ma’had sini (meskipun ahmad ga sekolah disitu)”. sama kyk disini jg anak2 SD ga pada mondok, baik anak ummahat maupun orang umum bisa sekolah di ma’had, tanpa mondok, karena tingal di sekitar ma’had, yg deket ya jln kaki atau naik sepeda, yang jauh ada jemputan atau diantar orangtuanya.

    # aku tentu menghargai pilihan apapun dari para orangtua, termasuk pilihan mba ciz, yg saat ini milih HS sbg “the best choice”…

    # kadang tulisan memang bisa dipahami mcm2 oleh pembaca, padahal tulisan/posting tsb tidak bertendensi melecehkan, merendahkan menuduh, menyombongkan diri, membandingkan, atau apapun lah. lha wong itu renungan batinku, pengamatanku yg subyektif dan tentu bisa salah meskipun ada faktanya.

    # introspeksi diri nih, lain kali hati2 kalo nulis, biar ga membuat salah persepsi. tapi kadang susah juga, menulis sesuatu yg membuat semua orang/semua pihak merasa senang, apalagi penulis blog kelas mcm aku ini. duuuh piye iki…

    # ya sudah lah… semoga ga ada yg merasa tersakiti dengan tulisanku ini, tapi jika memang ada yang ga berkenan dengan nada tulisanku kali ini minta maaf yang sebanyak2nya. dan aku berharap diantara pembaca HS-ers ada yang menjadi lebih “bersemangat” untuk melanjutkan perjuangannya. amiin… itulah maksud yang terpendam di balik tulisan ini.

  16. @ cizkah
    afwan ya ciz, itu jwbnnya jd panjang, sekalian maksudnya… siapa tahu di kemudian hari diperlukan oleh pembaca, terutama utk ummu ahmad, bahwa kurang-lebih begitulah maksudku.

  17. haha…santai aja…jangan2 mba rini yang salah nangkep nada komentar aku…santai ko mba…
    iya aku udah duga mba rini mesti ngira aku di jamil…

    alasannya gak mo mondokin gak pingin aku tulis di sini mba…
    btw lagi mo imel mba rini sama mba ary abis ini. Penting!😀

  18. iye non… aku jg ngerti siska santai. tp pas lah momennya buat nambahin “penjelasan” tsb.

    ini fakta lho, aku pernah baca di beberapa blog, seorang ibu nyekolahin anaknya pagi sampe siang, pulangnya…ibunya bilang “ini saatnya gue homeschooling-in anak gue”. ungkapan senada tak hanya sekali aku jumpai. sepertinya pengertian HS udah mulai bergeser… hehe, kalo baca2 tulisan mba andini rizky (http://homeschooling-indonesia.com/), wuih lebih “mantap” lg… meski beliau ga bisa HS-in anak2nya, tp idealismenya ttg HS membuatku mengacungkan jempol. tak jarang, tulisannya terasa “pedas”, tapi aku suka..suka… terlepas dari banyak hal yg berbeda, tapi kami sama2 mendukung HS.

  19. Mantab umm!!! Jawabannya lebih panjang daripada postingannya….
    Menyemangati sekali!! Ada keinginan juga untuk benar-benar terapkan HS….,
    Terasa mudah memang ngaku HS ketika anak masih usia prasekolah, but stelah itu….siapa yang bisa bertahan, kecuali mereka yang punya azzam.
    Semoga kami bisa memupuk semangat dan juga usaha untuk HS Fatih, tak sebatas mengikuti tren atau supaya dibilang beda dengan orang kebanyakan..
    Belajar banyak dari Ummu Ahmad!!! ^_^

  20. @ ummu fatih
    kami juga pupuk2 terus nih, biar semangatnya ga gampang layu..
    dibilang mudah sebenarnya kita sendiri bisa membuatnya mudah, dibilang susah ya emang ga mudah.
    kita saling menyemangati ya umm, bagus juga nih kita ada komunitas “jarak jauh”

  21. Ping-balik: Notes (2) | Rumahku Sekolahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s