Gandum oh gandum


Untuk kalangan mahasiswa kehutanan UGM, tentu sudah ga asing lagi dengan dengan julukan “prof telo” yang disematkan pada mantan dekan Pak Suhardi ini. Sosok satu ini memang gencar mengkampanyekan anti gandum. Ga sengaja aku menemukan bacaan ini: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11073219

Serasa aku mengingat kembali jogja, bernostalgia menyusuri tepian selokan mataram, dan ngubek-ubek tempat-tempat disekitarnya, fakultas tetangga, masjid-masjidnya, termasuk ke balairung untuk pertama kalinya ketika aku punya keperluan mencari-cari ruangan mbak tjuk sekretaris rektor yang kebetulan kakak angkatan SMU tahun 80-an dan senior satu kostan (ga penting ini, tapi sejak saat itu aku jadi pede kalo harus ke kampus-kampus tetangga karena suatu keperluan, ga takut tersesat).

Kembali ke Prof. Suhardi. Dulu, aku sering melihat bapak yang satu ini mengayuh sepeda di antara deretan mobil dan motor di kota jogja, menuju kampus tempat beliau mengabdi. Sampai selokan mataram, dengan gesit beliau belokan sepeda “untanya” ke arah gerbang dekat hutan mini di tengah kota itu. Tanpa malu, tanpa minder, diantara sekian banyak bawahannya dan mahasiswanya yang pake mobil atau motor. Karena apa? Bukan karena beliau ga punya mobil atau motor, tapi karena itu memang pilihannya, pilihan hidup sehat. Ya, ya, ya… beliau memang very humble.

Kemudian, tentang beliau yang anti gandum. Itu karena cintanya pada produk ubi, singkong, ketela, dan umbi-umbi lainnya. Selain itu, lumayan hemat nih devisa negara kalo impor gandumnya dikurangi. Itu pun bukan isapan jempol belaka. Dulu, pas ospek (mantan panitia nih), ketika beliau ngisi acara buat mahasiswa, hidangan yang tersaji tak lain adalah singkong rebus (beliau memang selalu minta hidangan seperti itu). Kami takjub melihat beliau makan dengan lahapnya, dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa apa yang beliau makan itu sangat lezat, padahal itu hanya sepotong singkong. Tak heran, bila beliau sering memberi penyuluhan untuk menanami tanah kosong diantara pohon-pohon jati dengan menanami ubi atau singkong ini. Jadilah hutan rakyat yang bermanfaat. Dan ternyata ubi itu kandungan betakarotennya tinggi lho, vit A-nya melebihi jeruk. Katanya… Cari weh inpormasinya di google. Top deh. Ga salah nih profesor… Pantesan beliau begitu terlihat sangat sehat, makanannya sehat, organik, kendaraannya juga sehat. Ngomong-ngomong dosen-dosen kehutanan itu sehat-sehat lho, sudah sepuh aja masih kuat tracking di hutan-hutan.

Dan yang mungkin tak dilupa oleh mahasiswa kehutanan, di sebuah rumah sederhana di bawah rerimbunan pohon-pohon besar hutan wanagama, tempat istirahat para praktikan dan dosen ketika menyambangi hutan untuk suatu keperluan, si ibu pemilik rumah yang ramah selalu menyediakan air putih atau teh juga singkong rebus hangat dengan aroma khas kayu bakar, gratis. Baiknya ibu itu…. Aku jadi malu, dulu aku suka bawain anaknya yang masih kecil kue-kue dari supermarket seperti tango, wafer, dllnya, padahal makanan yang ibu itu berikan untuk anaknya jauh lebih sehat dari apa yang aku bawa.

Itu cerita tentang profesor kami yang berdedikasi terhadap per-teloan. Tapi bagaimana dengan mahasiswanya? Setahun sekali, biasanya SKI ngadain bazar (mantan kader dih), salah satu yang dijual adalah donat (produk da’im donat milik senior kami yang sekarang sudah “punya nama besar”). Kalau Pak Hardi lewat, tuh etalase kecil tempat memajang donat diliatiiin sama beliau. Kami hanya senyum2 simpul, malu, tapi tetep jualan itu donat, enak sih pak….

Sebenarnya mau cerita apa sih ini? Muter-muter ya? Ya… sudah lama sekali aku cari ubi, singkong, pisang tanduk di warung-warung tapi selalu ga ada. Kata penjualnya, lagi langka bu…mahal. Tapi kalo cari terigu, ga pernah kehabisan. Selalu ada di warung-warung, toko-toko, minimarket, supermarket, hampir semua ada dengan berbagai merek. Yah, semahal-mahalnya ubi, singkong, pisang, kayaknya masih mahalan terigu deh… Ini pastinya fenomena lokal, “hanya di warung sini” aja yang ga ada ubi, singkong, dan pisang.

Kenapa ya, susah nyari bahan makanan itu? Karena pamornya rendah? Karena banyak yang ga suka? Atau kenapa? Sedangkan nyari terigu, ada di mana-mana.

Ternyata kita itu penikmat terigu tingkat tinggi lho bu. Mau bukti? Dari jualan pinggir jalan ya bu, kita sebutin, ada gehu, tempe mendo, bala-bala, risoles, lumpia, sampai aneka jajanan pasar yang terbuat dari terigu yang tak bisa disebutkan satu persatu disini, sampai di resto-resto, toko-toko bakery yang menyediakan roti-roti dan kue-kue berbahan terigu yang jumlahnya makin kayak “jamur” aja sekarang, pizza n donat merek terkenal, toko-toko kue n cake -online- home made yang sekarang banyak digeluti ibu-ibu (itu loh yang dihias-hias fondant sampe ga tega mau makannya), dllnya. Terigu yang ada di rumah kita dan di rumah-rumah ummahat belum dihitung lho bu.

Berapa ya jumlah terigu yang terjual dalam 1 hari? Ga penting kali ya pengin tahu hal itu? Ini hanya keresahan, ubi…singkong…pisang…. dimana kamu? Kepengin makan ubi, singkong, n pisang tanduk aja masa harus pulang kampung sih, harus jauh ke pasar atau ke supermarket yang harganya berubah jadi mahal? Ckckck….

*tapi ga perlu ya bersumpah ga makan gandum, lha wong itu makanan halal kok*

12 thoughts on “Gandum oh gandum

  1. Mbaaak sebenarnya dalam dirimu masih tertanam jiwa rimbawati ketok eee…. qqqqq, baca postingan ini, jadiii ingat tuh fakultas penuh kenangan…. menyusuri koridor2 ruang kuliah, suntuknya ketika harus ikut praktikum… memasuki hutan pardiyan yang nyamuknya selalu siap merubung… dan yg paling bikin gregetan ketika harus dapat tugas ngambil sampel polutan di lampu merah dekat MM >.<… hehe, komennya malah ttg nostalgia…

    ngemeng2 ttg singkog, kok biasanya bawaannya mules ya mba kalau makannya lahap banget :p

  2. Eh, ana juga nanam singkong di pekarangan depan rumah lho, mbak. Dulu niatannya cuma untuk penuhin pekarangan yang kosong blong gitu, jadi sampe sekarang belum pernah dimanfaatkan tuh daun ataupun umbinya. Tapi daunnya sering dibuat mainan Nafisa.

  3. salam kenal mbak, saya juga alumni kehutanan UGM angk’99. mbak angkatan brapa? sy juga lg cari2 info tentang HS. anak sy (5th) kaya menderita sekali kalo disuruh brangkat sekolah.

  4. @ mba rosi

    saya aslinya angkatan 2000 mbak, tp pindah BDH jd 2001. mba rosi dulu aktif di SKI ga ya? kayak pernah denger namanya. kalo mba aktif di SKI, harusnya kenal dg saya (hehe, maksa ya mba…^^).

  5. nggak aktif di SKI, cuma kadang merhatiin anak2 SKI. aku aktifnya di LEM. pernah denger ya? Rosi Maulina.
    kalo dirimu? aku cari di bagian Tentang kok nggak ketemu. paling kalo liat wajah bisa inget.

  6. ooo…mba rosi maulina tho…kenal aku mba, bahkan wajah mba rosi aja aku inget lho…. mba dulu di HMI jg ya sama mba anika? mba sekarang dimana? aku biasanya sama mba nana MH ’99, dela, mala, dian, mba eva BDH ’99, dll… namaku rini mba (ih, malu sebut nama di sini), setelah pensiun dari SKI trus bercadar. akhwat BDH yg bercadar cuma 1 lho mba, jd kalo mba inget, itulah diriku… blog ini bukan tentang diriku mba, tapi isinya tentang anakku. mba rosi ada blog?
    (kok kayak tebak2an ya mba?, hehe)

  7. assalamu’alaikum
    Ummu ahmad gmn kbrnya?
    Ini ummahnya aisyah n syifa’.
    Klo dulu saya punya temen kos org kehutanan jg,yg angkatan 99 namanya mbk sri panggilannya eunci org bandung, yg angkatan 2000 namanya maysaroh org medan. Kenal ga njenengan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s