Belajar Bahasa


Sebagai bangsa indonesia yang lahir dan besar dengan bahasa indonesia, sudah tentu bahasa pertama yang kami ajarkan kepada anak pun bahasa indonesia. Terlebih tinggal di tanah perantauan seperti ini, bahasa apa lagi yang bisa kami pakai selain bahasa indonesia? Lha wong yang dikuasai juga cuma bahasa indonesia… Itulah bahasa pertama.

Bahasa berikutnya yang menjadi bahasa pilihan adalah: bahasa arab, bahasa jawa, bahasa sunda, dan bahasa inggris.

Untuk bahasa arab, sayang kami tidak mahir, hanya sedikit yang kami ketahui, bahkan bisa dibilang bahasa arab kami adalah level anak SD di indonesia (hahaha…menggelikan). But it’s OK, mendingan lah daripada ga tahu sama sekali. So dulu itu belajar durusul lughoh, muyassar, jurumiyah, tuhfatussaniyah (nyenggol-nyenggol dikit syarhnya, “al hulal adz dzahabiyah”, mulakhos, dllnya, sampai qothrun nada hasilnya apa? Sekedar numpang lewat saja? Beruntung saja?

Itulah kebanyakan rakyat indonesia, belajar sekedarnya, asal komplet, asal semua pernah dipelajari meski dikit2, yang penting pernah ngerasain aja *jangan nyalahin rakyat indonesia dong, lha wong situ yang salah sendiri!*. Enak memang membela diri. Akibatnya, ketika harus mengajar anak, gagap “gempita”. Tapi, ga papa, belajar lagi bareng anak. Kalau perlu ibunya turun level jadi peserta kejar paket A. Malu? Ga usah malu… mengakui kenyataan itu sudah bersikap kesatria.

Bahasa berikutnya, yang jadi prioritas… adalah antara bahasa jawa (karena kami orang jawa), bahasa sunda (karena kami tinggal di lingkungan sunda), dan bahasa inggris (karena sepertinya itu penting juga). Bahasa lain belum terpikirkan. Tapi belum tahu nih, mana yang prioritas di antara ketiganya. Sama kayak mempelajari hal2 lainnya, sekedarnya -kalau ga mau dibilang hanya mengenal kulitnya-. Hasilnya, anak kami hanya tahu emoh, mboten, nggih, sampun, dereng, dan satu dua kata lainnya. Hanya tahu kata teteh, aa, mang, naon, mah, teh, lieur, dan satu dua kata lainnya juga. Pun dengan bahasa inggrisnya, ibarat hanya tahu “bahasa game” saja, hahaha…. alias ga tahu apa-apa!!! Ini benar2 like mother like son.

Jangan bilang terlambat, anak2 kita yang masih kecil (semoga diberi umur panjang untuk beramal sholih), masih punya banyak kesempatan mempelajari hal2 yang dulu tidak kita pelajari dengan “serius”. Minimal kita berusaha menyediakan fasilitasnya, membuka jalannya. Kalau nasi sudah terlanjur jadi bubur, kita masukin kulkas aja, nanti jadi lontong kok…soalnya lama2 padet gitu…

Tapi kalau dipikir2 anak2 kita sebenarnya banyak beruntung kok. Sekarang kesempatan belajar ada di mana2, dari mana2, banyak ustadz, banyak ma’had, banyak lembaga belajar dan pendidikan. Di era teknologi ini, internet juga sangat membantu memecahkan banyak masalah. Satu saja contoh yang berkaitan dengan topik pembicaraan ini, belajar bahasa inggris. Menyadari diri sendiri bodo banget bahasa inggris, ahmad mungkin lebih banyak belajar pada mbah google daripada sama umminya, bahkan kadang mendingan buka google translate daripada nanya umminya. Pun bahasa arab, mbah google dan mbah munawir lebih diandalkan. Itu wasilah yang memudahkan dan tentu saja halal.

Bayangkan, jika sekarang menjawab pertanyaan anak 5 tahun saja kerepotan, bagaimana menjawab pertanyaannya ketika dia bertambah besar?

Memang benar, sepertinya di rumah ini ada 2 peserta kejar paket A. Kalau punya cucu (halah, jauh banget ya khayalannya), kayaknya malah tambah lagi yang kejar paket A, tambah nenek2 dan kakek2. Hehehe… semoga sempat menikmati jadi nenek ya… Banyak calon mantu, tinggal milih. Tapi apa laku ya? heheh…

Itu baru belajar bahasa….. yang lainnya bagaimana? ?

Jangan khawatir saudara, dari sedikit yang kita miliki itu sungguh berarti… jika tak tahu semuanya, maka mengetahui sebagiannya adalah lebih baik… daripada tidak tahu sama sekali. Berusahalah sedikit daripada tidak berusaha sama sekali. Sedikit demi sedikit siapa tahu bisa jadi bukit…

**

Sekarang banyak maktabah online tersedia, tapi beda lhoh “rasanya” dengan baca kitab/bukunya langsung. Macam kajian, bisa saja dengarin radio, rekaman, tapi melangkahkan kaki ke majlis ta’lim dengarin langsung ustadznya, juga beda lhoh…

Oya, yang lagi nyari kitab bahasa arab, bisa tengok lapak ini… Mana yang sudah anda koleksi? (ga promo lho, cuma ga sengaja mampir kesitu pas cari sebuah kitab). Kayaknya dulu pernah ada yang nanya beli kitab2 bahasa arab dimana ya?

10 thoughts on “Belajar Bahasa

  1. Sama-sama macem ana mbak, hehe numpang lewat aja, jadi malu 3 tahun di Jogja tapi gak bisa apa-apa. Wah kalo yang udah belajar banyak kitab kayak mbak dibilang setara dengan anak SD, gimana dengan ana yang hanya baru mencicipi muyassar dan separo mulakhosh…

  2. itu cuma ikut2an dek… baru tahu “sampulnya” doang. sekedar mampir, udah lewat ya berlalu…
    kalau dipikir, teman2 seangkatan sekarang banyak yang dipanggil “ustadz”, tapi ini malah makin mundur ke belakang
    karena ketidakseriusan, 10 tahun waktu yang cukup untuk menghapus banyak hal
    ga tahu juga nih bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk itu

  3. Setuju Mba! Soal memperkenalkan Bahasa Indonesia dulu sejak dini.
    Baru dapat cerita dari temen Indonesia ana di Riyadh, katanya anak temen beliau yang di Indonesia diajarin Bahasa Arab dulu (maklum, Abi dan Umminya tamatan LIPIA). Anaknya memang jadi gape banget Bhs Arab. Tapi, pas masuk SD anaknya harus singgah dulu ke tempat Bimbel Bahasa Indonesia karena nggak bisa berkomunikasi dgn guru2 dan teman2nya. Kasihan bgt ya?
    Ada lagi temen Indo ana yang udah lama di Riyadh, beliau rajin sekali mengajari anaknya berbahasa Indonesia. Suatu kali pas ana main ke rumahnya, beliau lagi marahin anaknya, eh anaknya malah ngeyel pake Bahasa Arab. Mungkin karena anaknya banyak main sama anak2 Arab. Ibu-anak beromunikasi dengan bahasa yang berbeda tapi saling mengerti satu sama lain. Lucu banget ya?

  4. wah memang perlu banget ya blajar bahasa…apalagi kalo tinggalnya di komunitas yang mayoritas ga gunakan bahasa kita….Tetangga saya hampir semuanya madura….. kalo mereka berinteraksi sesama madura…pastilah dengan b madurayang khas…(nak-kanak, rek arek, lan jalan…hehe)…saya yang didekatnya bengong aja bak sapi ompong….
    Yah kalo saya bahasa indo ….memang bahasa pemersatu…menjembatani budaya yang berbeda…heheehheh…bahasane.

  5. sama juga Ummu Fatih, di tempat tinggal yang dulu mayoritas juga madura. Ada mbah-mbah tua *namany juga mbah* yang jualan gorengan keliling dan gak bisa bhs indo. Kadang diajak aku ngobrol, aku cuma bengooooooooong aja. Ampe aku liatin terus gerakan bibirnya, siapa tahu ada sedikit ucapan beliau yang bisa kumengerti, bhsa jawa tengah aku masin ngerti. Tapi nyatanya blank….gak mudheng blassssh. Bener2 beda nih bhs madura. Tempat tinggal skrg alhamdulillah kebanyakan pendatang jg .

  6. @ ella

    wah..wah…orang indonesia aja pake les bahasa indonesia yah? ada tmn jg cerita, suaminya ngajar seorang ikhwan bahasa inggris, dari nol…ketika si pengajarnya itu jelasin, ikhwan itu malah mudeng kalo jelasinnya pake bahasa arab, bukannya pake bahasa indonesia, karena lidahnya sudah “arob” banget. hehe, untung weh pengajarnya bisa bahasa arab. kalo ga bisa gmn ituh?

    ada jg seorang ustadz (dan istrinya jg ustadzah), pulang dari merantau (menimba ilmu), sang ustadzah kalau menjelaskan pelajaran itu sulit “ditangkep”, nerjemahnya gimanaa gitu… ga mudengi lah… sepertinya setelah lama menetap kembali di indonesia bahasa indonesianya makin membaik. Anak2nya jg gitu, sebagian yg lahir dan besar “di luar” sana ngomongnya pake bahasa arab, tp anak2 yg lahir di indonesia ga bisa bahasa arab (ga seperti kakak2nya). wah, mending yg mana yah?

  7. @ ummu fatih & ummu nafisa

    perlu itu umm…

    kalo ngomong sama orang madura kyknya harus pake “bahasa sate” kali umm. di kampung saya, ada orang madura jualan sate… selain menyediakan bumbu kacang, jg menyediakan bumbu sate yg pake kecap+rawit (justri ini yg lebih nikmat), menyesuaikan lidah setempat. juga menyediakan bahasa madura dan bahasa jawa untuk berkomunikasi dg para pelanggannya.. jd meski ga bisa bahasa madura, teteup bisa pesan sate yg enak..

  8. Harus seimbang kali yah….

    Umm Ahmad n Umm Nafisa….
    Coba kalo instruksi gerak jalan pake bahasa madura….
    ri kiri …..nan kanan (Hayuk gimana prakteknya???) ^_^
    Ini bukan SARA yah…intermezo ajah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s