Tingkatan dalam memahami bahasa arab


Kalau ustadz Abu Qatadah membagi menjadi 3 atau 4 tingkatan, maka aku membagi menjadi 5 tingkatan:

  1. Bisa paham ketika baca, mendengar, dan bisa berbicara bahasa arab, menguasai ketiganya
  2. Bisa menguasai 2 hal, misal paham ketika baca dan mendengar tapi tidak bisa bicara dalam bahasa arab
  3. Menguasai 1 hal saja, misal hanya bisa paham ketika membaca, tapi tidak paham ketika mendengar, tidak pula bisa bicara dalam bahasa arab
  4. Sedikit paham pada salah satunya, sedikit paham ketika membacanya saja, atau sedikit paham ketika mendengarnya saja, atau sedikit bisa bicara dalam bahasa arab, pokoknya sedikit-sedikit aja
  5. Tidak bisa ketiganya, tidak bisa baca, tidak paham ketika mendengar orang berbahasa arab, tidak juga bisa bicara dalam bahasa arab, pokoknya ga bisa apa-apa…

***

Ini bukan joke…

Kita termasuk yang mana?

—penulis hanya menyimpulkan “salah satu” faidah dari kajian beliau—

Iklan

Hmmm… Anak-anak Jaman Sekarang


Suatu siang, teman ahmad yang lagi main di rumah minta dibukain gorden (hijab antara ruang tamu dan ruang tengah). Biar bisa lihat jam katanya. Dia pernah jadi teman TK ahmad, dulu sebelum ahmad keluar. Sekarang dia sudah TK B.

Si anak tampak berkali-kali ngecek jam. Aku pun penasaran, kenapa gitu lihatin jam terus? Ternyata, dia takut kebablasan mainnya soalnya jam 3 sore mau les. Baca lebih lanjut

Mendidik Anak dengan Sunnah


Aku suka menulis. Dari dulu. Meskipun tulisannya ga berbobot, tapi aku sebenarnya suka menulis. Ga peduli memenuhi aturan penulisan ataupun tidak, bagiku itu cukup untuk menyimpan ilmu, menuangkan ide, melepas kepenatan, memuntahkan isi pikiran, atau sekedar cari-cari kerjaan.

***

Dulu, meski aku sekolah SMA di sekolah paling vaforit di kabupatenku, yang sekarang katanya jadi RSBI, tapi aku sulit menyalurkan hobiku ini. Padahal harusnya di situ ada kesempatan. Minder… Teman-teman sepertinya lebih, “wah”. Aku ga ada apa-apanya. Pikirku.

***

Tapi aku jadi berpikir, menulis adalah hak setiap orang. Tapi alangkah baiknya jika yang ditulis adalah hal-hal baik dan bermanfaat. Karena menulis kemungkaran justru mendatangkan dosa, dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita tulis. Kadang aku menulis di kertas, di buku, bercampur dengan catatan kuliah atau catatan kajian. Kadang juga menulis di HP, sekedar menjadi “draft” yang tersimpan. Sekarang pun, kadang aku corat-coret di kertas, atau ketak-ketik di komputer. Waktu kuliah dulu, aku rajin menulis di mading SKI. Bahkan di buku komunikasi SKI banyak sekali tulisanku. Kalau jaman sekarang, bisa jadi aku dikatakan lebay.. Mungkin akhwat dan ikhwan sebenarnya bosan karena selalu melihat tulisanku “di mana-mana”. Baca lebih lanjut

Dadu dalam Permainan Anak-anak


Jaman SMP dulu, ada teman yang suka bawa mainan monopoli ke sekolah (sekarang aku geleng-geleng deh! jaman baheula aja anak-anak dah begitu). Namanya juga anak kampung, tahun 90-an dulu, mainan monopoli itu masih terhitung barang langka, yang punya juga anak-anak kaya. Jadi kita heboh lah.. Pas lagi jam pelajaran pun dia dan teman-teman beraksi dengan monopolinya itu. Diam-diam tentu saja. Ada aja taktiknya biar ga ketahuan bu guru atau pak guru. Padahal anak itu perempuan loh, anak pak polisi lagi. Hehe, ga ada hubungannya kali…. Aku juga termasuk salah satu korbannya. Yah, sesekali sih. Tapi tetap saja, itu menambah daftar masa lalu yang kelam.  Baca lebih lanjut

Renungan buat para bapak dan calon bapak


Sudah pukul 19.00 malam. Saatnya aku berangkat untuk mengejar pesawat ke jakarta pukul 20.30. Traveling-bag sudah disiapkannya sejak pagi.

“Pergilah,” katanya memandang mataku. “Ini belum waktunya. Kontraksinya bukan di fundus, tetapi di bagian bawah. Mungkin . Sakit biasa.”

Aku pun mengangguk berusaha yakin. Bagaimanapun ia seorang dokter. Baca lebih lanjut

Perlukah Pelajaran PPKn?


Para salafy-HSers mungkin tak asing lagi dengan nama Abu Maryam. Bapak yang aktif berperan dalam homeschooling putra-putrinya ini termasuk salah satu penggagas HS salafy di Cilegon, yang kemudian banyak menginspirasi banyak keluarga salafiyin di indonesia, termasuk saya dan suami. Ada tulisan beliau yang sangat menarik, jawaban atas pertanyaan saya di milis SHS mengenai “apakah di SD perlu pelajaran PPKn”?. Bagi teman-teman yang bukan member milis SHS bisa membaca pandangan beliau tentang pelajaran PPKn di sini. InsyaAllah bermanfaat. Langsung saja….  Baca lebih lanjut