Ujian kepercayaan


Suatu sore, aku mendapat kabar buruk tentang ahmad dari seorang kakak teman akrabnya. Bahwa ahmad “ngojok-ojoki” temannya itu minta uang ke bundanya untuk jajan. Selain itu juga berita buruk bahwa ahmad ngajak keluar komplek ngejar penjual cimol (jajanan khas sunda kalau ga salah). Juga laporan bahwa ahmad suka ngancam temannya itu, semisal kalau temannya ga mau sesuatu maka ahmad ga mau nemanin dia.

Maksud kakaknya itu baik, sebatas share agar aku selaku umminya ahmad tahu bahwa ternyata di luar sana ahmad bertindak “melanggar norma”, dan agar dinasihati. Aku pun senang ada seorang anak SMA yg cukup gentle seperti itu. Suka sekali dg keberaniannya dan sikap terbukanya itu. Hanya saja, sebagai pihak yg menerima laporan tentu aku harus mengkonfirmasi kebenarannya dari banyak pihak. Halah, masalah kayak gini aja dianggap penting… mungkin diantara yg baca cerita ini ada terbersit komentar seperti itu. Jangan salah, hal-hal yang dianggap kecil seperti inilah yang akan menjadi bumerang suatu hari nanti, jika tidak dipecahkan dengan bijaksana. (sok bijak iyeu….)

Mari kita runut satu per satu. Masalah jajan. Terus terang, anakku bukan tipe “gila jajan”. Bahkan dahulunya, lihat teman-temannya makan jajanan dia mah ga tertarik. Ga heran begitulah… di rumah aja disediain makanan responnya santai. Ahmad bukan tipe anak yang “tergila-gila” dengan makanan. Makanya jangan heran badannya mungil karena ga suka ngembat segala macam makanan. Semakin ke sini, aku mulai melonggarkan peraturan jajan. Karena dari dulu aku stok makanan, buah, susu, dan lumayan suka bikin cemilan sendiri, maka ahmad memang tergolong jaraaaang jajan. Bahkan dengan aturan baru sekarang yaitu boleh jajan “makanan tertentu” dan harga tertentu pun, dan maksimal sekian, ahmad masih tergolong anak yg disiplin dalam “jajan”. Kenapa? Umminya pelit? Ga punya uang? Bukan itu. Aku adalah orang yang sangat royal dalam membelanjakan harta. Bukan sok punya banyak uang lho ya, apalagi buat foya-foya. Ga ngeman… begitulah. Anak-anak satu kost atau satu wisma jaman SMA atau kuliah dulu insyaAllah tahu adat kebiasaanku ini.

Akhir-akhir ini ahmad memang lagi suka banget jajan es yoghurt. Dia memang suka minuman yoghurt, yakult. Yang jelas ga boleh adalah ale-ale, mount tea, teh sisri, oky jely drink, dan sejenisnya. Mending tak buatin jus meski harganya jadi lebih mahal, atau es teh favorit keluarga, yaitu es teh tong tji. Aku juga kurang begitu tahu awal mula dia menyukai es yoghurt ini. Sepertinya karena terpengaruh kebiasaan teman-temannya. Sekali ngicip dan enak, jadi keterusan. Dan itu pun salah satu “jajanan” yang aku tolerir kebolehannya.

Nah, laporan menyesakkan dada ini berkaitan dengan dakwaan bahwa ahmad suka ngojok-ojoki temannya itu minta uang buat beli es yoghurt ini, dan kemudian ahmad minta jajan itu pada temannya. Itu pengakuan temannya pada kakaknya yang “setengah protes” padaku sore itu. Baik lah… laporan diterima, akan segera diselidiki. Laporan kedua, tentang ngajak keluar komplek. Sudah menjadi aturan baku, bahwa di sini (bukan hanya aturan keluargaku) bahwa anak-anak dilarang bermain jauh keluar komplek. Yah, kita tahu lah rawannya tinggal di perkotaan, penculikan, penipuan, tersesat, dllnya. Suatu sore, ahmad, temannya itu (kita sebut si X) dan 1 anak lagi (kita sebut si Y) ketahuan si teteh keluar komplek (total: 3 anak). Setelah temannya itu 9si X) ditanya sama kakak dan bundanya, ngakunya keluar diajak ahmad. Baiklah, laporan diterima, akan segera ditinjak lanjuti. Pastinya aku ga mau dapat masalah menyebabkan anak orang lain hilang atau kenapa-kenapa. Yang ketiga, masalah ahmad suka ngancam. Katanya, ahmad suka bilang ke temannya (si X), “kalo kamu ga mau, nanti ahmad ga mau…..lho”. Laporan ini juga diterima, akan segera di investigasi…

Malamnya, aku pun mulai melakukan investigasi pada ahmad. Dengan pelan-pelan, sambil dipangku, dirangkul, dipeluk, diajak ngomong baik-baik, tak lupa sambil dipuji-puji bahwa ahmad anak baik, sholih, jujur, ga suka bohong sama ummi dan sesekali dielus-elus kepalanya…. mengalirlah banyak cerita. Pelan tapi pasti. Niat pertama adalah mencari kebenaran. Kedua untuk cross ceck bukti-bukti yang disampaikan oleh kakak temannya itu. Ketiga, aku benar-benar diuji untuk mempercayai anakku, bahkan aku diuji untuk mempercayai hasil pendidikanku selama ini pada ahmad. Inilah saatnya, pikirku…

Apa coba pengakuannya? Yang pertama. Bahwa dia ga pernah ngojok-ojoki temannya itu untuk minta uang buat jajan. Aku suruh dia ngingat-ingat siapa tahu dia lupa pernah nyuruh temannya minta uang buat jajan. Tapi berkali2 diulang dengan bentuk pertanyaan yang berbeda dia istiqomah ga melakukan itu. Yang ada, dia cerita temannya itu yang kepingin jajan trus minta uang ke bundanya, bilangnya disuruh ahmad, katanya mau beli es yoghurt eh malah buat beli mount tea. Ga hanya sekali itu terjadi, kata ahmad kadang temannya itu benar-benar beli es yoghurt dan ahmad dibagi 1, tapi bilang ke tetehnya (kakaknya itu) ahmad yang minta…. Allahu a’lam, yang benar yang mana.

Yang kedua, ahmad mengaku bahwa dia ga ngajak temannya itu ke luar komplek, melainkan temannya satu lagi (si Y) yang kepingin beli cimol kemudian ngajak ahmad dan si X temannya itu keluar komplek ngejar mang tukang jual cimol (halah…halah….ngejar-ngejar cimol, bararudak aya-aya wae). Kemungkinan pengakuan ahmad benar, alibiku, ahmad ga pegang uang sama sekali (hehe, dia kagak ngerti uang, alhamdulillah bukan bocah mata duitan, lha wong beli jagung rebus serebu, kembaliannya aja ga diambil, dah dapet jagung kabur ga peduli duit kembaliannya) dan belum pernah makan cimol, dia ga suka jajanan yang kenyal-kenyal macam cimol, cireng, cenil, dsb. Tapi sayangnya, temannya itu ngaku ke bunda dan kakaknya bahwa ahmad yang ngajak keluar. Record selama ini, ahmad ga berani keluar-keluar komplek. Hayo loh… siapa ini yang benar. Jadi ingat widya, harusnya aku minta bantuan sarjana hukum ini untuk memecahkan kasus ini. Heheh….

Yang ketiga, masalah mengancam. Justru yang aku tahu ancaman-ancaman itu datang bertubi-tubi pertama kalinya adalah dari temannya itu sendiri (si X). Aku sering melihat dengan mata dan mendengar dengan telingaku sendiri ancaman-ancamannya. Ya, ancaman kelas anak kecil ya macam itu lah, tapi sangat tidak mendidik dan berdampak psikologis yang buruk. Aku bukan lagi membela ahmad, tapi siapa sih yang suka sering diancam? Ahmad selama ini banyak mendapat ancaman gertak sambal dari teman-temannya. Pernah selama beberapa waktu hampir setiap hari aku mendengar curhat polosnya tentang bullying teman-temannya terhadapnya. Mungkin saja dia juga mengancam sebagai bentuk defense dari perlakuan teman-temannya. Tapi aku sangat tidak setuju jika ahmad jadi meniru ancaman mereka.

Keberanian dan kejantanan anak SMA itu membuatku membuka mata. Aku harus selalu siap mendapat masukan apapun tentang anakku, karena itu bentuk perhatian yang positif. Seandainya setiap orangtua bersikap terbuka seperti ini mungkin akan banyak masalah sosial anak yang terpecahkan, setidaknya, membendung arus penyimpangan norma dan moral anak-anak di masyarakat.

Aku pun tak menutup mata, bahwa bisa saja ahmad yang sangat manis di rumah, yang jujur, ga suka bohong, yang polos dan lugu, tiba-tiba di luar sana bertindak sebaliknya. Tapi malam ini aku benar-benar mempertaruhkan kepercayaanku padanya, akan kupegang kata-katanya bahwa dia benar-benar ga bohong, bahkan dia yang sering dibohongi temannya dan tak jarang menjadi korban fitnah sesama anak-anak. Jangan dibayangin fitnah yang gimana gitu, masalah anak-anak kecil ya begitu itu lah… (sampai susah jelasinnya).

 

Terakhir, ini untukmu, ahmad….

Aku akan menaruh kepercayaan itu padamu. Tugasku sudah kulakukan, mendidikmu, memberimu contoh tentang kejujuran, kebaikan, menasihatimu ketika kau salah dan lupa. Dan sekarang kewajibanku adalah mempercayaimu. Entah akan jadi apa jika aku tidak lagi percaya padamu. Meskipun kau hanya seorang anak kecil umur 5 tahun, tapi selama ini kau sudah membuktikan banyak hal, lebih dari anak-anak seusiamu yang pernah aku kenal. Jika ada kalanya kau bertindak di luar norma maka itu tak membuatku tidak lagi mempercayaimu. Kau anak kecil yang penuh petualangan, adakalanya semua kejadian itu wajar. Hanya saja aku berharap kau tak akan pernah tersesat dalam pergaulan, kau akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, dan sekali kau bersalah kau akan mengakui dan meminta maaf untuk tak mengulanginya kembali. Aku percaya dengan janjimu, bahwa kau akan berusaha selalu jujur, baik pada siapapun, tak meminta-minta, dan menolak pemberian teman yang sekiranya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Aku tahu siapa dirimu melebihi siapapun. Kau selalu kuajarkan, bahwa jangan sampai hanya karena kita sekali berbohong maka kita tidak dipercaya selamanya….

# semoga ini menjadi pelajaran berharga #

2 thoughts on “Ujian kepercayaan

  1. butuh sarjana hukum umm? *ngacung* whehehe..

    masya Allah, ternyata ada vietnam lebih kejam daripada vietkong di pergawulan anak2 ya umm.. hiks, mesakne mas ahmad.. wis sini main aja sama dek khansa, paling banter digemes2 khansa *hayah*

    kalo kasusnya seperti ini, hukum positif yg berlaku di indonesia yaitu satu saksi bukan saksi, alias penjelasan temen ahmad tidak dapat diterima ketika blm ada -minimal- satu orang lagi yg menguatkan *eaaa.. sok serieus, mbuh betul opo ora :D*

    nek ngono ati2 wae nek bergaul sama temen akrabnya itu umm, dibatasi sik wae, jangan sampe mas ahmad jadi kambing putih terus
    kalo lama ngga gawul sama ahmad kan temennya ngga mungkin melimpahkan kesalahan ke ahmad, lha wong ngga pernah dolan lagi hehehe.. kira2 semingguan lah ahmad di rumah sama ummi ajah, kalo ngga bikin trip kemanaa gitu kalo pas jam mainnya, kalo mau ke cibinong juga boyeeh, nanti insya Allah ta jemput nang terminal ;p

    sabar ya teh, Ahmad -insya Allah- wont betrayed your trust, insya Allah teteup sesuai prasangka ibundanya ^^

  2. @ ibuke khansa
    lhah, betul itu pribahasa: jd kambing hitam. kasus kyk gini lumayan “sering”. mbuh knp? apa krn anakku nrimo bgt sama tmn2nya apa ya? diapa2in ya nrimo, kalo misal dia ngerasa ga salah dia yo pergi aja, ga membela diri ke tmn2nya. kalo yg lain kan bisa ngamuk, ngantem, balik ngata-ngatain, atau nangis. lha ini meneng ae, santai kyknya…

    kalo aku sih sama itu anak ga mslh, mau dia ngemeng apa ga usah dianggep, lha aku kenal anaknya kyk gmn, dulu kan srg bgt main disini, aku srg diam2 mengamati, mendengarkan, sering jg jd hakim diantara mereka. pokoknya, omongannya ga bisa dipegang. tapi masalahnya mbek bundanya itu, atau tetehnya itu… kalo ahmad nrimo ae ga menjunjukkan kebenaran, ya bisa saja bundanya ga ngerti “kesalahan” anaknya… anakku sih santai dianggap bersalah, lha kalo bundanya terlena dg kepura2an anaknya, waduh… musibah itu…

    btw, ahmad dah di pisah dr anak itu, dah 2-3 hari ini, ga boleh nyamper. tp susah kalo disuruh ga ketemu. lha anak2 sak RW mainnya di lapang dpn rumahku, tp dah dibilangin, jgn didekatin, jgn mau dikasih jajan, jangan mau diajak ke rumahnya. aku mau lihat perubahannya. gitu.. dulu ahmad jg pernah dipisah dari teman2nya, 1 bulan ga boleh “ketemu”. ga cuma 1 minggu… insyaAllah selama ini ada efek positifnya. mari kita lihat hasilnya… kali bisa jd bahan posting nanti. hahaha… kurang kerjaan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s