Perlukah Pelajaran PPKn?


Para salafy-HSers mungkin tak asing lagi dengan nama Abu Maryam. Bapak yang aktif berperan dalam homeschooling putra-putrinya ini termasuk salah satu penggagas HS salafy di Cilegon, yang kemudian banyak menginspirasi banyak keluarga salafiyin di indonesia, termasuk saya dan suami. Ada tulisan beliau yang sangat menarik, jawaban atas pertanyaan saya di milis SHS mengenai “apakah di SD perlu pelajaran PPKn”?. Bagi teman-teman yang bukan member milis SHS bisa membaca pandangan beliau tentang pelajaran PPKn di sini. InsyaAllah bermanfaat. Langsung saja…. 

***

PKn kita ajarkan. Sekali lagi ‘bungkus’nya PKn, tapi ‘isi’nya memfokuskan akhlak/muamalah bahkan aqidah. Ana ngajar PKn di SD Al Hanif dan isinya hafalan ayat, hadits atau adab-adab Islamiyyah. Contoh penerapan: Di Buku BSE kelas 2 ada pelajaran tentang Disiplin Menjalankan Perintah Agama dengan Wacana:
Mutia beragama Islam.
Setiap hari, Mutia menunaikan salat.
dst,….
Alin beragama Konghucu
Setiap pagi, Alin selalu berdoa
dst,….
Ebo beragama kristen protestan
setiap hendak melakukan sesuatu Ebo selalu berdoa
dst,….
Bayu beragama Hindu
bayu rajin ke Pura untuk berdoa.
dst,….

Kami beri penjelasan tentang realita di negara Indonesia bahwa ada penganut agama selain Islam. Akan tetapi kami tekankan bahwa hanya Islam yang diridhoi Allah. Kemudian kami klasifikasikan orang kafir itu ada 2: Ahli Kitab dan Musyrikin. Kemudian mereka mengulang ayat 6 Al Bayyinah yang mayoritas siswa kelas 2 di SD kami sudah hafal juz Amma.

Wallahu a’lam, demikian kami mengajarkan PKn. Intinya jangan pernah lupa ‘pisau’ Tashfiyyah untuk ‘membedah’ semua materi yang diajarkan.

Memang ada beberapa SD bermanhaj Salaf yang tidak mengajarkan PKn kecuali jika sudah kelas 6. Kita ajarkan keburukan bukan menyuruh mereka melakukan keburukan namun dalam rangka membentengi agar jangan melakukan keburukan ( aroftu syarr la li syarr lakin litawwaqqih). Misalnya jika ada wacana yang menyebutkan: “Ahmad memberikan selamat Natal kepada Lukas”, maka kita jelaskan tentang haramnya mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir dan di saat yang sama kita ajarkan muamalah yang syar’i dengan orang kafir.

Adapun materi PKn lainnya berkenaan dengan situasi di Indonesia: Letak geografis, keadaan atau kekayaan alam, perbedaan suku bangsa bahasa, dst.

Di kelas 3 saya menyuruh anak untuk menghafal ayat dalam surat al hujurat tentang ukuran kemuliaan yaitu taqwa. Mereka hafalkan ayat dan artinya. Kemudian mereka (siswa kelas 3) sudah menghafal hadits tentang sombong yaitu  sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia maka saya muroja’ah hadits tersebut. Dan hal tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan yakni keberagaman suku bangsa.

Kemudian ada materi ni’mat kemerdekaan maka kami sampaikan bahwa kemerdekaan itu pemberian Allah KEMUDIAN hasil perjuangan banga Indonesia. Kami jelaskan bahwa mensyukuri ni’mat kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu, sambil memberi gambaran kepada siswa, “Bayangkan jika kita sekarang masih dijajah Belanda, mungkin akan sulit belajar Al Qur-an dan As Sunnah”. Sekarang ini siswa kelas 3 saya suruh menghafal ayat dalam surat al Isra tentang perintah birrul walidain (padahal mata pelajarannya Pkn!!!)

Demikian gambaran umum dari metode mengajarkan PKn. Insya Allah ikhwan dan akhwat di sini mungkin bisa lebih menyiasati muatan PKn atau ada hal yang lebih baik dari metode kami mengajarkan Pkn.

Wallahu a’lam

Abu Fathimah (Abu Maryam)



3 thoughts on “Perlukah Pelajaran PPKn?

  1. bismillah..
    subhanallah, memang begitu penting sebuah sekolah islam bermanhaj salaf untuk memiliki guru-guru yang bukan hanya cerdas dalam membuat administrasi guru akan tetapi mempunyai “pisau tashfiyah” dalam menyajikan pemahaman bagi anak-anaknya tercinta.

    tentu saja “pisau tashfiyah” ini tidak akan di dapatkan di Universitas Pendidikan dimanapun di Indonesia (mungkin ada ….tapi nanti..Insya Allah), yang melahirkan guru-guru bermanhaj Shohih.

    karena menurut saja sebuah kedustaan dan pengkhianatan yang sangat besar pada saat ada sekolah yang mengaku bermanhaj salaf dan berdiri di atas sunnah akan tetapi guru-gurunya tidak faham nanhaj bahkan tidak sekeder itu, diantara mereka lalai terhadap ilmu dan tidak mencintai kebenaran, bahkan alergi dengan sebutan SALAF !!!
    ana seorang guru (alhamdulillah) yang masih banyak perlu belajar ilmu syar’i dan ilmu yang berkaitan dengan pendidikan.

    ingin sekali ana mempunyai sekolah sendiri yang mendidik anak-anak didiknya dengan manhaj yang shohih…

    mohon do’anya dari ikhwan semua . Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s