Dadu dalam Permainan Anak-anak


Jaman SMP dulu, ada teman yang suka bawa mainan monopoli ke sekolah (sekarang aku geleng-geleng deh! jaman baheula aja anak-anak dah begitu). Namanya juga anak kampung, tahun 90-an dulu, mainan monopoli itu masih terhitung barang langka, yang punya juga anak-anak kaya. Jadi kita heboh lah.. Pas lagi jam pelajaran pun dia dan teman-teman beraksi dengan monopolinya itu. Diam-diam tentu saja. Ada aja taktiknya biar ga ketahuan bu guru atau pak guru. Padahal anak itu perempuan loh, anak pak polisi lagi. Hehe, ga ada hubungannya kali…. Aku juga termasuk salah satu korbannya. Yah, sesekali sih. Tapi tetap saja, itu menambah daftar masa lalu yang kelam. 

Permainan monopoli seperti yang kita tahu adalah menggunakan dadu. Setelah aku kuliah, aku baru tahu kalau permainan menggunakan dadu itu HARAM. Kemana aja bu selama itu? Maklum lah setiap hari kan dikelilingi bid’ah. Meskipun keluargaku adalah keluarga kyai, tapi kenyataannya banyak hal-hal yang tidak sesuai syar’i. Boro-boro ngerti masalah seperti itu, lha wong pak kyai aja ngerokok dianggap halal-halal aja tuh, main catur sampai lupa waktu juga biasa.

Pernah kubaca dalam sebuah buku atau majalah yang lupa judulnya apa, al furqon atau apa gitu… kurang lebih sudah 10 tahun yang lalu. Diantara yang kubaca menjelaskan tentang berbagai permainan yang diharamkan dalam syariat islam, masuk di dalamnya permainan dadu (dengan atau tidak disertai taruhan), dilarang. Tetapi masih terngiang terus meskipun aku benar-benar lupa dalilnya. Makanya bu, ilmu tuh jangan cuma ditulis di buku (nyelip tuh bukunya kemana), jangan cuma disave di komputer (kalo data-datnya hilang?), jangan cuma disimpan di blog (cuma copy paste pula), tapi disimpan di dada, dipatrikan dalam hati. Payah nih ummu ahmad!! Hingga akhirnya ketemu juga tulisan tentang masalah dadu ini di sini. Sudah lama juga baca artikel ini, kayaknya pas dengan tema posting kali ini. Jadi mengingatkan kembali…

Berikut cuplikannya:

Dalil-dalil yang mendukung ulama yang mengharamkan,

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلمقَالَ « مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِى لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ ».

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia seakan-akan telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260).

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya bermain dadu karena disamakan dengan daging babi dan darahnya, yaitu sama-sama haram (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 16). Imam Nawawi pun mengatakan, “Hadits ini sebagai hujjah bagi Syafi’i dan mayoritas ulama tentang haramnya bermain dadu” (Syarh Shahih Muslim, 15: 15).

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمقَالَ « مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ ».

Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938 dan Ahmad 4: 394. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Abu ‘Abdirrahman, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَثَلُ الَّذِى يَلْعَبُ بِالنَّرْدِ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى مَثَلُ الَّذِى يَتَوَضَّأُ بِالْقَيْحِ وَدَمِ الْخِنْزِيرِ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى ».

Permisalan orang yang bermain dadu kemudian ia berdiri lalu shalat adalah seperti seseorang yang berwudhu dengan nanah dan darah babi, kemudian ia berdiri lalu melaksanakan shalat” (HR. Ahmad 5: 370. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini dho’if).

Dikisahkan pula bahwa Sa’id bin Jubair ketika melewati orang yang bermain dadu, beliau enggan memberi salam pada mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 8: 554).

Malik berkata, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka aku menganggap persaksiannya batil. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak ada setelah kebenaran melainkan kebaikan” (QS. Yunus: 32).  Jika bukan kebenaran, maka itulah kebatilan” (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, 8: 259).

Sedangkan sebagian ulama menganggap boleh bermain dadu. Di antara hujjahnya adalah dari perbuatan Ibnul Musayyib. Namun kisah ini tidak shahih dan tidak tegas. Itu hanyalah kisah dari ahlu batil. Jika itu pun shahih, maka perbuatan Ibnul Musayyib tidak bisa mengalahkan dalil-dalil larangan yang dikemukakan di atas.

Ya, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Alhamdulillah, sekarang sudah tahu hukumnya. Dan alhamdulillah juga ga pernah memakai metode “permainan dadu” ini untuk proses pembelajaran ahmad selama ini. Seperti kita ketahui, sekarang ibu-ibu (dan bapak-bapak juga) banyak yang kreatif, saking kreatifnya untuk belajar matematika pun dadu-dadu ini dimanipulasi menjadi permainan yang menarik, terkesan edukatif, dan dianggap maslahat, malah dianggap halal-halal saja. Ada yang model monopoli, ular tangga, bantal dadu, kerajinan flanel berbentuk dadu, permainan matematika dengan dadu, dsb, sebaiknya ini dihindari. Na’udzubillah, kita jangan terlalu kreatif sampai sejauh itu ya…. semoga kita terhindar darinya. Dan bagi yang sudah terlanjur mempraktekkannya, segera bertaubatlah, belum terlambat insyaAllah. Masih banyak wasilah, uslub, yang halal dan mubah, banyak yang “nyunnah”. Jika kita memang kreatif, maka tentu kita bisa lebih kreatif dari sekedar memanipulasi permainan dadu ini untuk anak-anak kita, bukan? Semoga…

Di G-Compris juga ada permainan dadu (dan catur). Ahmad sudah kuberi tahu dari dulu, “kecuali yang ini (dadu dan catur)”. Alhamdulillah dia nurut. Mendengar kata haram, sepertinya jiwanya juga merinding. Hehe… Dan sekarang dia lebih bisa menerima kenapa ini haram, setelah dia ikut membaca artikel tentang permainan dadu ini. Alhamdulillah, ini gunanya anak bisa membaca. Ummi ga bohong kan, hadits Nabi yang menjelaskan…. Ya Allah, semoga Engkau selalu memberi kemudahan bagi kami, bagi semua ibu dan bapak untuk menasihati anak-anak… dalam menegakkan sunnah bersama suami dan anak-anak kami, keluarga kami. Amin.

8 thoughts on “Dadu dalam Permainan Anak-anak

  1. astaghfirullah umm.. lha ana dodol monopoli niaga Islam iki kepriben? nek ngono ndang ta delete saka list produkku dweh, tinggal 1 siy, mengko insya Allah ta rundingan mbe zauji meh diapakne iki barange hehe..

    jazaakillah khoiro infone yo mba, aku malah ra nglegewa hiks.. *dasar kesed ta’lim ngene ki dadine😥

  2. buke khansa, khansa pondokin di rumah umminya aja, hehe..
    kalo aku punya anak perempuan… (sambil berkhayal)…
    ah, aku terlalu sering kehilangan, sulit diungkapkan dg kata2 jika harus berpisah lg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s