Mendidik Anak dengan Sunnah


Aku suka menulis. Dari dulu. Meskipun tulisannya ga berbobot, tapi aku sebenarnya suka menulis. Ga peduli memenuhi aturan penulisan ataupun tidak, bagiku itu cukup untuk menyimpan ilmu, menuangkan ide, melepas kepenatan, memuntahkan isi pikiran, atau sekedar cari-cari kerjaan.

***

Dulu, meski aku sekolah SMA di sekolah paling vaforit di kabupatenku, yang sekarang katanya jadi RSBI, tapi aku sulit menyalurkan hobiku ini. Padahal harusnya di situ ada kesempatan. Minder… Teman-teman sepertinya lebih, “wah”. Aku ga ada apa-apanya. Pikirku.

***

Tapi aku jadi berpikir, menulis adalah hak setiap orang. Tapi alangkah baiknya jika yang ditulis adalah hal-hal baik dan bermanfaat. Karena menulis kemungkaran justru mendatangkan dosa, dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita tulis. Kadang aku menulis di kertas, di buku, bercampur dengan catatan kuliah atau catatan kajian. Kadang juga menulis di HP, sekedar menjadi “draft” yang tersimpan. Sekarang pun, kadang aku corat-coret di kertas, atau ketak-ketik di komputer. Waktu kuliah dulu, aku rajin menulis di mading SKI. Bahkan di buku komunikasi SKI banyak sekali tulisanku. Kalau jaman sekarang, bisa jadi aku dikatakan lebay.. Mungkin akhwat dan ikhwan sebenarnya bosan karena selalu melihat tulisanku “di mana-mana”. Itu juga termasuk kenangan “memalukan”. Heheh…

***

Kalau aku mau rajin buka-buka file, baik yang “lunak” maupun yang “keras” (seperti buku-buku catatan), bisa jadi aku menemukan tulisan-tulisan yang tercecer. Seperti tulisan di bawah ini. Tulisan ini tentang pandanganku terhadap maraknya metode pendidikan sekarang ini. Banyaknya teori-teori psikologi pendidikan anak. Dunia pendidikan memang semakin berkembang. Sangat variatif…

***

Alhamdulillah, antusiasme orang tua dalam mendidik anak semakin menggelora akhir-akhir ini. Itu tandanya sebenarnya masyarakat merindukan hadirnya anak-anak penerus masa depan yang berkualitas baik. Lihat saja sendiri di lapangan. Lihat di blog-blog juga banyak. Termasuk aku sendiri juga sering mengambil faidah dari cerita-cerita mendidik anak yang kudapatkan di blog-blog tetangga. Banyak yang inspiratif…

***

Ngomong-ngomong soal metode mendidik anak, pasti banyak sekali macamnya. Dari yang modern, yang ala barat, yang ala si X dan si Y dan si Z. Dan yang jelas ala Nabi, sahabatnya, para salaf, juga telah diajarkan. Tapi terus terang, kita masih harus banyak belajar. Karena masih banyak yang belum kita ketahui. Ya, aku pikir mungkin perlu kajian lebih banyak masalah mendidik anak ini. Perlu lebih banyak ulama dan ustadz yang mengupas “kitab-kitab” tentang pendidikan anak. Untuk mengobati penyakit ketidaktahuan kita tentang sunnah dalam mendidik anak. Apalagi melihat keadaan anak-anak jaman sekarang. Sungguh takut jika anak-anak kita ikut tergerus perubahan zaman…

***

Aku pribadi percaya, meskipun metode mendidik ala Nabi yang kata sebagian bahkan kebanyakan orang dianggap kuno, jadul, mana cocok diterapkan di jaman sekarang, ga komplet lah, dll, sebenarnya Islam sudah meletakkan pondasi dasarnya. Ga mungkin kan aturan dasar itu ga mengikuti jaman? Bukankah setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam islam sudah sempurna dan akan selaras sampai akhir zaman?

***

Kadang memang terkesan ambigu, misal ada satu persoalan mendidik anak yang sebenarnya sudah ada kaidahnya dalam islam, bahkan dicontohkan Nabi juga dipraktekkan para sahabatnya. Tapi ternyata kebetulan juga dipakai kaum “barat”, mereka mempelajarinya, meneliti, susah-susah membuat teorinya, mengembangkannya, bahkan banyak biaya mereka keluarkan untuk mempublikasikan “temuannya”. Sampe akhirnya temuan mereka ini rame dipake banyak orang. Tapi hakikatnya, islam kan sudah meletakkan pondasinya, meskipun “mereka” mengklaim sebagai “temuan” mereka. Wah, kita yang harusnya bangga dong… kaum kuffar saja mengambil metode kita, bahkan mengakuinya (mungkin kita saja yang kurang “menda’wahkannya” sehingga lebih dikenal dengan pendidikan modern). Yang jelas, diantara sekian banyaknya perbedaan, pada satu masalah, ada titik temu kesamaan antara pendidikan islam dengan pendidikan barat. Itu menunjukkan, bahwa kebenaran itu memang “waahid”, datang dari Allah…

***

Aku pribadi juga bukan berarti tidak pernah membaca teori-teori mereka, dan oleh karena kasus seperti alinea di atas saya bisa saja “membenarkan” atau memakai salah satunya.

Masalahnya, mana yang kita suka, ketika kita “mengutip”, “Qola Syaikh fulan…..”, atau “Qola Thomas Armstrong, Freud, dsb…..”. Tentu terdengar lebih indah yang pertama kan…. Ini bukan berarti saya melarang mengutip dari tokoh kafir, atau ahlu bid’ah. Jika apa yang mereka katakan “haq”, kan maka ambillah…. dan juga boleh membawakan perkataan mereka untuk “pengkhabaran”, atau imtitsal.

***

Aturan-aturan dalam al qur’an memang bersifat umum, makanya perlu sunnah, dan contoh amal dari Rosululloh sampai ke penerus2nya setelah beliau…. Sayangnya, tidak banyak yang terekam dalam “file” kita sedemikian komplitnya, untuk mengakses “penjelasan” rinci itu pun, kita tak semudah mengklik mouse. Kita butuh ulama, ustadz, agar ilmu itu sampai kepada kita. Dan yang penting, kita butuh belajar dari mereka. Iya, bukan?

***

Betapa sebenarnya Islam telah sedemikian lengkap mengajarkan pada kita, demi kebaikan kita. Dengan memberikan contoh (seperti saat Nabi mengajari seorang shohabat yang salah ketika sholat), dengan bertahap sesuai perkembangan anak (bayi disusui sampai 2 th, tidak langsung memberinya makan sewaktu baru lahir, melatih berjalan juga sesudah waktunya, dll), mengajarkan dimulai dari yang pokok (para salaf mengajarkan anak2nya mengenal Alloh, mengenalkan kalimah tauhid sebelum mengajarkan yang lainnnya), tidak membebani anak dengan pelajaran diluar kemampuannya (sebagaimana keumuman ayat, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha), memberikan ujian (ini banyak kita dapati dari ibroh kisah2 sahabat dan juga Nabi2 terdahulu), memberikan larangan kepada anak (ada perempuan kecil yang dipertemukan dengan Aisyah, ia memakai gelang kaki yang menimbulkan bunyi, maka Aisyah tidak mau dipertemukan dengannya kecuali jika gelang kakinya dipecahkan). Juga kisah ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khoththob didatangi oleh Abdurrohman bin ‘Auf bersama anaknya yang memakai baju sutra, maka beliau pun merobek bajunya). Bahkan sampai dengan pemberian hukuman (saat diperlukan dan kondisi yang mendesak, seperti memukul, sebagaimana perintah Alloh untuk memukul anaknya ketika berumur 10 th yang tidak mau sholat, juga kisah Aisyah memukul anak yatim sebagai pelajaran baginya).

***

Sebenarnya Nabi kita juga mengajarkan metode mengajar anak dengan kelembutan tidak dengan paksaan, (dalam hadits Aisyah, “sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya”. Seperti perilaku Nabi ketika menegur orang badui yang kencing di masjid).

Juga seperti kisah Umar bin Abi Salamah, “Dulu saat aku masih kecil berada di bawah pemeliharaan Rosululloh. Tanganku menjelajahi nampan. Maka Nabi menegurku: ‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah. Makanlah apa yang ada di kananmu. Santaplah apa yang ada di dekatmu.’ Akhirnya ini menjadi etika makanku.” Nabi senantiasa melakukan nahi munkar ini dengan lembut dan kasih sayang terhadap anak-anak, dengan mengatakan “mendekatlah wahai anak kecil”. Dan sikap kelembutan dan penuh kasih sayang ini sangat besar pengaruhnya terhadap Umar bin Abi Salamah. Ia bercerita, ia selalu mempraktekkannya dan akhirnya menjadi kebiasaannya.).

***

Semua itu adalah ajaran islam, yang membawa kebaikan -tentu saja jika diterapkan dengan hikmah sesuai kondisinya dan pada tempatnya-, yang juga bisa jadi sebagiannya dianut oleh selain muslim.

***

Aku jadi berpikir, tidak usahlah jauh-jauh, mulai dari diri sendiri dulu, untuk membuat “tren” mengedepankan mengutip qoul salaf, ditengah maraknya orang2 membawakan teori modern dengan hingar bingarnya.

***

Aku juga jadi ingat, suatu malam aku membaca buku Ibnul Jauzi yang telah diterjemahkan (Rahasia Sukses Menasihati Anak, Al Qowam), tentang nasihat beliau mendidik anak beliau.

***

Beliau (ibnul Jauzi) bercerita……

“ Seingatku, aku tidak pernah bermain di jalanan bersama anak2 sebayaku. Aku pun tidak pernah tertawa terbahak2. Bahkan ketika aku berumur kurang lebih 7 th, aku datang ke pelataran masjid jami’. Aku tidak memilih halaqoh yang di dalamnya disampaikan berbagai disiplin ilmu. Akan tetapi aku meminta syaikh penyampai hadits untuk menyampaikan haditsnya………….. Dulu, anak2 sebayaku senang menceburkan diri ke sungai Dajlah dan bermain2 di atas jembatan. Sedangkan aku dalam usia kanak-kanak itu, lebih senang mengambil 1 juz dan duduk menjauh dari orang2 di samping sebuah ruqoh untuk sibuk belajar.”

MasyaAllah…

***

Apa yang beliau kisahkan tentu memberi pelajaran tentang metode mendidik anak, apa yang sebaiknya dilakukan anak beliau, juga anak2 kita sebagai penerus generasi salaf (amiiin). Apa yang beliau maksudkan dari nasihat itu, bukan berarti beliau melarang anaknya bermain (karena setiap anak berbeda kemampuannya, kondisinya, perlakuannya). Tapi alangkah baiknya, jika anak beliau tersebut “mbokyao” mengikuti nasihatnya…. Ini bukan tanpa alasan. Beliau bercerita, dulu beliau memohon pada Alloh diberi 10 anak. Ternyata Alloh mengabulkan doanya tersebut, dan beliau benarbenar diberi 10 anak, 5 laki-laki dan 5 perempuan. 2 anak perempuannya meninggal, dan dari anak laki-laki beliau, tidak ada satu pun yang hidup kecuali Abu al Qosim. Dan yang menyedihkan lagi, menurut pengakuan beliau, beliau melihat adanya ketidakseriusan anaknya dalam menuntut ilmu (seperti beliau di waktu kecil). Hingga akhirnya beliau menulis risalah yang berisi nasihat tersebut untuk anaknya.

***

Sedangkan sekarang, justru metode belajar sambil bermain (apa kebalik ya? Hehe, ga tahu lah) banyak dipakai para ibu, para guru. Begitu juga teori modern sangat menganjurkan. Namun demikian, sejatinya Nabi juga tidak melarang anak-anak kecil pada zaman beliau bermain (karena ini adalah fitroh mereka, dunia mereka). Sehingga bermain pun sah-sah saja, apalagi sambil belajar…. Tentunya jaman berlalu, berubah, berganti, tipe manusianya pun berganti (seperti kita semua tahu dari hadits, bahwa zaman yang akan datang lebih jelek dari sebelumnya), tapi aturan tak pernah lekang oleh waktu….

***

Hayu, kita banyak berburu metode-metode salaf dalam mendidik anak dengan segala penjelasannya, perinciannya, dan pengalaman sudara2 kita yang sudah menerapkannya…. aku yakin, di antara mereka (keluarga salafiyin) juga tak kalah spesifiknya mengaplikasikan metode yang ada.

***

Aku juga setuju, kita harus bersikap lapang dan dewasa menyikapi “perubahan” zaman ini. Tanpa bermaksud bersikap “kelewat keras” terhadap fenomena pencuplikan metode dan teori modern dan adopsi-nya, mari kita mengajak ikhwah semua mengubah tren masyarakat kita ini, mendidik anak dengan sunnah, mulai dari blog ini…..

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s