Tingkatan dalam memahami bahasa arab


Kalau ustadz Abu Qatadah membagi menjadi 3 atau 4 tingkatan, maka aku membagi menjadi 5 tingkatan:

  1. Bisa paham ketika baca, mendengar, dan bisa berbicara bahasa arab, menguasai ketiganya
  2. Bisa menguasai 2 hal, misal paham ketika baca dan mendengar tapi tidak bisa bicara dalam bahasa arab
  3. Menguasai 1 hal saja, misal hanya bisa paham ketika membaca, tapi tidak paham ketika mendengar, tidak pula bisa bicara dalam bahasa arab
  4. Sedikit paham pada salah satunya, sedikit paham ketika membacanya saja, atau sedikit paham ketika mendengarnya saja, atau sedikit bisa bicara dalam bahasa arab, pokoknya sedikit-sedikit aja
  5. Tidak bisa ketiganya, tidak bisa baca, tidak paham ketika mendengar orang berbahasa arab, tidak juga bisa bicara dalam bahasa arab, pokoknya ga bisa apa-apa…

***

Ini bukan joke…

Kita termasuk yang mana?

—penulis hanya menyimpulkan “salah satu” faidah dari kajian beliau—

12 thoughts on “Tingkatan dalam memahami bahasa arab

  1. Assalamu’alaikum…tok3x.Kalau yang gak 4 yah malah 5 -____- (memilukan). Maaph mba, baru nongol….nih….inet ana luemothnya subhaanallaah. Nomor HP ana **********. Ntar kalau mba udah baca, edit dan hapus lagi yah nomer ana itu. Miskol dung mba….nomornya mba tu lupa je

  2. Beideweh, tahu toko dan alamat ini gak mba?

    Mutiara Super Kitchen [toko kelontong kayak PROGO gitu). Jalan Soekarno-Hatta no. 497 497, Kebonlega, Bojongloa Kidul. Deket gak? kalau deket ana mo minta tulung tanyain harga Oven di situ : D

  3. @ fafa
    Tahu. kami jg suka ke sana. Ada apa je? emang mau beli oven disini? jauh amat….

  4. @ fafa
    wa’alaykumussalam…alhamdulillah yg lemot ga cuma disini. hehe.
    pantesan blogmu kadaluwarsa, setengah tahun ga disentuh2 ya?

  5. Meringis bacanya. Sepertinya terlempar di pilihan terakhir.
    Belajar Bahasa Arab di tanah Arab, dapat mufradat baru tiap pekan,
    tapi kok masih seperti pungguk merindukan bulan. T____T
    @Fafa: Waaah, Bu Fafa keluar juga dari peraduannya.

  6. @ ella
    ada tambahan: no.6 level anak TK. aku daftar nomer 6 satu kelas sama anakku. lha lupa semua je…

  7. @ ummu nafisa
    menyedihkan sekaligus membahagiakan, ya?
    kalau dah keminter biasanya orang jd malas belajar lg kan?
    semangat! semangat! heheh

  8. emang mau beli oven disini? jauh amat….==> murah jee
    pantesan blogmu kadaluwarsa, setengah tahun ga disentuh2 ya ==> kemarin sempat ngisi, mumpung lagi pergi-pergi ke tempat bagus sinyal jadi bisa macem-macem.

    @Mba Ella: iyaa…nongol ini…tapi ntar yaa mingslup lagi paling-paling

    @De Win: idem kok de….makanya kita harus rajin2x belajar, dan sering2x nyadar diri plus memahami konsekuensinya kalau ternyata kita masih B-O-*-* ==> gitu aja kadang suka kumat malesnya ya meskipun udah tahu kalau masih bodo…bener2x gak tahu diri emang….ana maksudnya

  9. oven yg keliatannya bagus antara 170-220 rb. kalo merk bimasakti dibawah 100 rb. oven listrik ga diliat. gitu kata suamiku. maklum, ke mutiara kitchennya ga bareng aku, jd ga dihapal merk2nya. btw, kalo mo beli di sini trus gmn? mau dipaket ke riyadh gituh? lha ya mahal ongkirnya

  10. Bukan dipaket ke Riyadh mba’yu…dipaketnya ke Banyumas aja…..
    ana carinya yang HOCK nomor 2 atau 3, yang atasnya ada cekungan arangnya gitu. Itu berapa tuh? Bukan yang BIMASAKTI….di Jogja itu katanya yang HOCK nomor 4 (paling kecil) harganya 250 ribu. Nah, jauh kan harganya?

    kalau di sini ada oven yang langsung gandeng sama kompornya (5 burners) gitu…dan kendalanya adalah…tu oven kan guedhe banget lah….jadi kalau cuman bikin sekuprit buat ana berdua sama suami yah gak efisien, karena kalor apinya banyak terbuang percuma..orang yang kepake cuman paling apinya gak sepanjang itu kok. Walhasil jadi boros gasnya. Kemarin sempet lirik2x oven listrik, tapi hmmm ntar aja lah, sekarang ana kalau mau bikin kue yang dikukus aja jadinya…kasihan Syaikh kalau tagihan listrik membengkak gara2x ana demen panggang2x kue *yang bayar listrik kan Syaikh, bukan ana*.Bisa2x ntar suruh bayar listrik sendiri deh, wehhhh gawat…gawat….Itu cocoknya buat usaha kayak bikin cookies gitu baru pas deh oven yang di dapur ana. Jadi mikir kalau besok pulang ke Indo, itu oven tangkringnya pengin ana bawa ke sini heheee

  11. ya deh. aku ada rencana ke mutiara kitchen lg kok, tp nunggu abinya ahmad sempet. ovenku jg hock, tp ga tau itu nomer brp. baru tau, ada nomer2nya segala. tp lupa, dulu harganya berapa, belinya di kalipah apo (dekat pasar baru). mutiara kitchen emang harganya “miring”. kalo oven listrik boros listriknya, kalo oven kompor boros gasnya. gmn ini, katanya indonesia lg penghematan sumber energi, BBM, listrik…tp kayaknya urusan perovenan gini ga ngaruh kali ya, terus produksi… (daripada ga makan, iya toh?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s