@ ummu afiifah: suka duka HS kami…


Wa’alaykumussalam ya ummu afiifah. Alhamdulillah, senang rasanya dapat kenalan baru lagi. Karena jawaban komentar bakalan agak panjang, jadi kuputuskan untuk menjadi posting tersendiri.

Suka duka HS banyak umm. Setidaknya inilah perasaan yang aku pribadi rasakan.

Sukanya: kita dapat pahala mendidik anak insyaAllah, kita jd banyak belajar lagi, murajaah lagi, bahkan banyak mempelajari hal-hal baru. Kita jadi tahu perkembangan anak setiap saat, kita jadi tahu proses belajar yg dilalui anak, kita jadi tahu mana metode yg paling pas dengan anak, kita jadi tahu apa saja minat anak, kita jadi tahu apa yg tidak disukai anak saat belajar, apa yg dibutuhkan anak pada tiap perkembangan usianya, kita bisa lebih fokus pada idealisme kita sekaligus bakat anak kita. Kita berlatih disiplin, berlatih menjadi orangtua yang kreatif, dan selalu mencari ide. Kita bisa fleksibel dalam belajar (waktunya, pelajarannya, tempatnya, dllnya). Kita bisa lebih prefentif terhadap aspek negatif sosial yang banyak dijumpai di sekolah-sekolah, kita jg bisa mengkondisikan anak untuk sosialisasi jauh lebih luas lingkupnya di banding di sekolah formal, bahkan yg kami rasakan kedekatan dan kehangatan hubungan anak dan orangtua menjadi lebih karena kita bertiga terlibat bersama dalam kegiatan pembelajaran. Kita jg berlatih memanage banyak hal (prioritas, waktu, tenaga, pikiran, emosi, dan kesabaran tentunya), ini suka atau duka ya?. Aduh sampai bingung, apalagi ya… banyak lah umm… Anak-anak diciptakan untuk menjadi ladang garapan orangtuanya. bagaimana kita menyemai benih dan merawatnya, maka begitu pula kita akan menuainya… sok bijak euy…

Dukanya…pasti juga ada. Tak jarang kami pribadi sulit memiliki me time, waktu yang kami miliki adalah waktu kami bertiga. Orangtua yang terbiasa tidak bersama anak sehari-harinya mungkin bisa risih seharian hampir 24 jam “dibuntutin” anak terus. Saat kita turun semangat, tak jarang semua tinggal impian belaka, kadang merasa rencana yang dibangun terlalu muluk-muluk. Saat kita tak punya ide, rasanya kadang seperti keluarga HS paling konyol sedunia, kok bisa ya segitu pedenya… Saat kita berkaca, kadang kita seperti tak ada apa-apanya dibanding teman-teman HS lainnya. Namanya syubhat, lebih tepatnya…Tapi apa boleh buat, kita harus pede sambil terus berusaha… Saat kita jenuh, kita perlu motivator yang kuat untuk menggerakan lagi roda yang terlanjur berhenti di tengah jalan. Saat kita kurang mendapat perhatian dan “bantuan” dari pasangan, rasanya berat sekali perjuangannya. Tak jarang ibu-ibu sering merasa berjuang “sendirian”. Saat menjadi HS tunggal macam kami, rasanya rindu sekali memiliki komunitas yang bisa menjadi tempat berbagi, tempat memompa semangat, tempat mewujudkan pilihan yang sama, tempat menimba ilmu dan pengalaman. Dan lain-lain… sampai bingung juga…

Tapi kalau dipikir-pikir, duka itu sebenarnya minim sekali. Karena duka itu sebenarnya bagian dari konsekuensi pilihan kita, juga harga yang harus dibayar dari sekian banyak suka yang kita jalani. Bahkan, bisa jadi yang dianggap duka oleh seseorang belum tentu menjadi duka bagi orang lain, malah dianggap hal yang enjoy-enjoy saja. Toh, kalau mau dihitung-hitung, lebih banyak suka daripada dukanya. Anggap saja, duka yang ada sebagai bumbu HS yang wajib ada. Jadi, kalau ga ada duka, ga nikmat rasanya…

Suka duka itu tergantung mata siapa yang memandangnya. Bisa jadi suka-duka sama nikmatnya. Begitu ummu afiifah… Coba kita tanya HS-ers lain yuk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s