Jatuh Cinta pada Surat An Naba


Entah bagaimana awalnya…ahmad jatuh cinta dengan surat An Naba. Setiap membuka situs quran online, dibukanya surat An Naba. Seperti di posting ahmad sebelumnya, dia suka menghapal dengan bantuan quranterjemah.com. Sambil mendengar bacaan syaikh, dia membaca terjemahnya. Seperti membaca kisah saja.

“miii, ih bagus banget…’anin naba-il ‘adzim…”. Kemudian diulang-ulangnya ayat ke-2. Menirukan bacaan murattal syaikh dengan suara dibuat bernada. Aku sampai heran, kenapa dia suka banget dengan An Naba, terutama ayat ke-2. Paling bagus, katanya. Mungkin “taste-nya” beda kali ya.

Intonasinya dalam mengungkapkan kekagumannya pada suara syaikh ketika melantunkan surat An Naba ini menyiratkan histeria yang mendalam. Selain mengulang ayat ke-2, sering pula dia tiba-tiba nyeletuk, “kuntu thuraba”. Diambil awal dan buntutnya doang. Seingatku, belum pernah dia memperlakukan satu suratpun begitu istimewa selama ini. Rupanya, dia sudah mulai bisa membedakan bacaan syaikh ini bagus syaikh itu bagus. Dia suka berkomentar, suara si anu bagus si anu kurang bagus (si anu maksudnya: imam di masjid). Ada-ada saja nih tukang komentar.

Pun ketika dia shalat jamaah di masjid dan tiba-tiba sang imam membaca surat An Naba, sampai rumah dia suka laporan, “mi, imamnya tadi baca ‘amma yatasaa aluun..”. Kemudian dia pun melantunkan beberapa ayat awal surat An Naba dengan “suara indahnya”. Maksudnya, suara indah khas anak-anak tentunya… seember-embernya suara ahmad, suaranya tetap terdengar bagus di telingaku.
Aku jarang sebahagia ini, seperti euforia. Setiap progres ahmad, aku senang tentunya. Tapi, kali ini serasa mendapat rizki bertumpuk-tumpuk. Selama ini ingin sekali pintu hapalannya terdobrak. Mungkin saat inilah pintu hapalannya mulai terkuak sedikit demi sedikit.

Entah mengapa, setiap aku memperkenalkan “hal baru”, ahmad akan merespon dengan baik 6 bulan setelahnya, biasanya begitu. Jadi misal aku memberinya sebuah mainan, atau buku, belum tentu saat aku belikan dia benar-enar tertarik. Paling tidak 6 bulan kemudian, dia baru benar-benar menikmatinya. Itu tak hanya 1, 2, 3, hal. Sering terjadi. Dan untuk hapalan, itu lebih-lebih. Setelah bertahun-tahun berlalu, rasanya baru kali ini ahmad benar-benar menikmatinya. Tak jarang dia “grenggeng-grenggeng” melantunkan surat-surat yang dihapalkannya. Aku sudah menunggunya untuk waktu yang “cukup lama”. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Sering “iri” dengan anak-anak lain yang suka menghapal, mudah menghapal, dan banyak hapalannya. Bisakah dia seperti mereka? Bisakah aku seperti ibu-ibu mereka? Memang, hapalanku sudah banyak berkurang. Kalau dulu, hapalan yang tak seberapa itu masih bisa bertahan karena dipakai untuk mengimami akhawat, sekarang luntur karena ga dimurajaah. Aku bertekad, hapalanku akan sejalan dengan hapalan ahmad. Aku punya waktu menghapal bersama paling tidak sampai 6 atau 7 tahun ke depan hingga dia “lulus SD”, insyaAllah. Semoga Allah senantiasa memberi kami kebersamaan yang panjang dan waktu yang barakah…

Kembali ke surat An Naba…

Dalam beberapa hari, alhamdulillah ahmad hapal 15 ayat pertama, lancar insyaAllah. Dia selalu mengulang-ulang dengan nada suaranya yang baru, mungkin meniru suara syaikh fulan, atau pak fulan yang jadi imam di masjid. Aku pun jadi menyimpulkan, bahwa rasa suka menimbulkan pengaruh yang sangat besar, bahkan menjadi motivasi yang sangat kuat. Bukankah orang yang jatuh cinta akan selalu menyebut-nyebut pujaan hatinya? Ah, semoga ahmad pun demikian, akan selalu mengulang-ulang surat pujaannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s