Renungan di Pagi Hari


Pagi-pagi benar datang seorang tamu tak diundang. Cas..cis..cus.. ngobrol sana ngobrol sini. Setelah keperluannya terpenuhi, dia menutup pembicaraan dengan sebuah cerita yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tema dia pagi itu. “oh iya mba, waktu kapan itu aku ke supermarket, sebuat saja XXX, pas mau maghrib kami turun mau ambil mobil di parkiran, kami lihat seorang ustadz sama istri dan anak-anaknya malah baru datang mau belanja. Itu kan jelas-jelas mau adzan. Padahal ustadz itu kalau ceramah gitu lho mba. Kenapa ga nunggu adzan dulu, sholat dulu, baru belanja.” Begitulah kurang lebihnya.

**

Selesai aku dengar sekilas info darinya, aku komentar, “yah, kita kan ga tahu kenapa ustadz itu tiba-tiba belanja jam segitu, –kalau melihat “reputasi” beliau selama ini-, bisa jadi beliau belum tentu meniatkan belanja maghrib-maghrib, mungkin ada sesuatu yang tidak kita tahu, wallahu a’lam”. Coba pikir, gara-gara satu kelakuan yang nyeleneh, kita divonis seperti itu, mau ga kita?

**

Itu bukan cerita aneh pertama yang kudengar darinya.

**

Bisa jadi, seringkali kita membicarakan keanehan orang lain sementara keadaan kita justru lebih buruk. Memang, gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak begitu jelas.

**

Aku bukan dalam rangka membenarkan pergi belanja maghrib-maghrib. Apalagi membela sang ustadz. Tapi satu kejadian yang dilakukan seseorang bukanlah standar untuk menilai keseluruhan orang tersebut. Renungkanlah, apakah kita sering memvonis seseorang seperti itu?

**

Aku seringkali tidak membukakan pintu untuknya, tapi setiap kali aku terpaksa membuka pintu, terpaksa pula aku harus mendengar cerita-cerita tak berbobot dan tak imiah. Malah ngajak ghibah! Astaghfirullah… Setidaknya jawaban pedasku sudah membuatnya diam. Semoga dia segera berkaca… Omongan pedas ku di pagi itu membuat mataku terbuka (ga ngantuk lagi), kata-kataku itu menjadi cermin untukku berkaca…

5 thoughts on “Renungan di Pagi Hari

  1. Sabar mbakyu, kita senasib, yuk di-doakan saja.
    Jadi inget kajiannya ust Firanda ttg ‘Keutamaan Amalan Hati’. Hasan AL Bashri mendefinisikan orang yang tawadhu’:
    ‘Orang yang tawadhu’ adalah orang yang bila ia keluar dari rumahnya lalu bertemu dengan muslim yang lain, maka ia senantiasa memandang muslim lainnya tersebut lebih baik dibandingkan dirinya.’
    Jangan pede dengan amalan yang kita lakukan, krn belum tentu diterima Allah. Mungkin saja orang lain yang dalam pandangan kita ibadahnya tidak seberapa dibanding kita, ternyata ibadahnya malah lebih bernilai meskipun sedikit, itu disebabkan amalan hati yang dia lakukan.
    Ketika kita tidak bisa menghitung amalan hati orang lain, janganlah merasa sombong merasa lebih bertakwa dibanding orang lain di hadapan kita.

    Dinasehati aja mbakyu, tapi kalo orangnya bebel ama nasehat dan ngerasa dirinya yg paling bener, wes gak usah didengeri kalo dia lg jelek2in orang. ^ ^

  2. wah, tulisanmu ini membuat hati adem dek. syukron ya. jazakillahu khair
    *terlalu sibuk ‘melihat’ orang lain membuat lupa ‘melihat’ diri sendiri*

  3. Jadi bersyukur (apa sedih ya?) dengan keadaan ana sekarang. Tinggal se-flat dengan keluarga2 Mesir yang susah nginggris dan ngerti fusha tapi nggak bisa ngomongnya. Ana pun fusha-nya masih seiprit bgt. Nginggris pun blibet2. Kacau!!! Jadinya jarang ada acara saling berkunjung karena gagap bahasa tsb. Apalagi mo ngomongin orang?? Wong kalo perlu apa2 kadang pake bahasa tarzan. Hihihi. Perbedaan bahasa yang membawa nikmat kah?

    Sabar ya Mba. Pernah mengalami juga yang seperti itu. Jadi cukup ngerti gmn rasanya. Btw, mana cerita Ahmad lagi? #Pembaca setia. Tau gak Mba, ana kalo baca cerita Ahmad, yang muncul di bayangan ana malah Ahmad anak temen ana yang di Balikpapan. Usianya soalnya rada sepantaran gitu. Hadeuh, maaph yaa. Habisnya blm pernah ketemu sih. -___-V
    n___n

  4. bersyukur aja lah… hehe.. kalo aku pake bahasa tubuh kali ya? bhs arab ga bisa, bahasa inggris ga ngerti

    “Btw, mana cerita Ahmad lagi?” >>> blm rilis neng…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s