طلب العلم في زمن الا نشغالات (lanjutan)


Nasihat ketiga: Jadilah penuntut ilmu yang memiliki semangat tinggi

Berkata Syaikh… Lemahnya semangat menuntut ilmu adalah persoalan paling mendasar bagi sebagian besar penuntut ilmu, adapun kesibukan-kesibukan duniawi hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Perhatikanlah contoh ulama berikut yang sangat gigih dalam menuntut ilmu. Berkacalah kita pada mereka…

  • Tahukah kalian, jika kita perhatikan biografi ulama, maka kita akan dapati sebuah nama, beliau adalah الخوارزمي , beliau adalah seorang penuntut ilmu, beliau mengunjungi berbagai negara bahkan pada saat musim yang sangat dingin sekalipun hingga kaki beliau ‘mati rasa’. Oleh dokter pun kaki beliau akhirnya dipotong (amputasi). Sungguh beliau kehilangan kakinya karena menuntut ilmu.
  • Tahukah kalian, ada seorang penuntut ilmu bernama Muhammad Ibnu Thahir al Maqdisiy, dikarenakan banyaknya jalan kaki ketika safar dalam menuntut ilmu, sampai-sampai beliau kencing darah.
  • Tahukah kalian ada salah seorang ulama, dikarenakan kehabisan minum selama perjalanannya menuntut ilmu, dan tidak menemukan mata air sampai-sampai meminum air kencingnya sendiri.
  • Tahukah kalian Abi Hatim ar Razi, ketika dalam perjalanannya menuntut ilmu beliau merasakan haus yang luar biasa bahkan hampir wafat karena tidak menemukan air.
  • Tahukah kalian, seorang imam, al faqih, ahlu hadits, beliaulah Imam al Bukhari, beliau sampai-sampai terbangun 20 kali dalam semalam untuk mengulang pelajaran, لمراجعة العلم . (Kebanyakan ‘alim ulama susah tidur karena memikirkan ilmu. Sedangkan kita malah kebanyakan tidur sampai meninggalkan ilmu).
  • Tahukah kalian Ali Ibnu Madiniy, beliau mendapat warisan sebesar satu juta dirham (kalau jaman sekarang sudah jadi milyuner), tapi beliau menghabiskan seluruh uangnya untuk menuntut ilmu sampai-sampai untuk membeli sandal pun tidak mampu.

Itu hanyalah contoh kecil saja dari sekian banyak ulama yang begitu tinggi semangatnya dalam menuntut ilmu. Seandainya penuntut ilmu jaman sekarang berbuat seperti apa yang mereka lakukan, niscaya tidak akan ada lagi perkataan, ‘saya terlalu sibuk untuk menuntut ilmu’.

Intermezo dari syaikh: “Di antara hadirin, coba sebutkan berapa jam waktu yang anda gunakan untuk menuntut ilmu dalam sehari, juga untuk muraja’ah!?” (Pembaca dipersilahkan menjawab dengan jujur, tak perlu ditulis di kolom komentar. Kata syaikh.. jujurlah pada diri anda sendiri…meskipun itu hanya 10 menit saja –belajarnya maksudnya-)

Berkata Syaikh Abu Hafsh, “Kalau anda ingin disebut thalabul ilmi (seperti halnya para ulama), maka anda harus menyediakan waktu untuk menuntut ilmu minimal 12 jam dalam sehari. Jika kurang dari itu, maka keilmuan anda sungguh sangat-sangat diragukan”. (Saya jadi malu, mengaku-ngaku ‘thalabul ilmi’… )

***

Nasihat keempat: Bersemangatlah di atas manhaj yang benar dalam menuntut ilmu.

Banyak para penuntut ilmu menghabiskan waktu bertahun-tahun akan tetapi tidak mendapatkan faidah apa-apa, dikarenakan tidak berjalan di atas jalan para ulama, tidak memulai belajar kitab seperti yang dicontohkan para ulama, tidak mengetahui bagaimana cara belajar mereka, tidak mengetahui bagaimana cara beristifadah (mengambil faidah) dari ahlu ilmi, dan yang lainnya. Maka, bagi para penuntut ilmu yang sibuk dengan pekerjaan duniawinya, hendaklah mengetahui manhaj yang shahih dalam menuntut ilmu agar jangan sampai membuang-buang waktunya yang sedikit tersebut. Ada di antara kita, seorang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu akan tetapi dia tidak mengetahui bagaimana manhaj yang benar dalam menuntut ilmu, sementara seorang yang lainnya begitu sibuk hingga tak ada waktu untuk menuntut ilmu kecuali dalam waktu yang sangat sempit akan tetapi dia mengetahui manhaj yang shahih, metode yang tepat, dalam menuntut ilmu. Dan saya yakin (yaitu Abu Hafsh) yang kedua itu lebih baik dari orang yang pertama, bisa jadi dia mendapatkan hasil yang lebih baik meskipun waktu yang dimilikinya sedikit daripada yang lainnya.

Kata syaikh, akan tetapi permasalahan manhaj yang shahih dalam menuntut ilmu membutuhkan pembahasan khusus yang panjang, dan kita cukupkan dengan ‘tanbih‘ pada perkara ini (yaitu nasihat ringkas ini) untuk senantiasa membangkitkan semangat ikhwah semua dalam menuntut ilmu.

***

Nasihat kelima: Jika waktu yang anda miliki memang sangat- sangat sempit, maka mulailah dari yang paling penting dari hal yang penting lainnya

Jika memang demikian keadaannya, maka mulailah dari mempelajari hal-hal mendasar dalam agama, seperti mempelajari tentang aqidah yang shahihah, tentang arkanul islam, masalah fiqh yang penting seperti thaharah dan selainnya, kemudian mempelajari masalah-masalah ilmiyah yang berhubungan langsung dengan pekerjaan anda. Semisal profesi anda adalah seorang dokter maka pelajarilah fiqh yang shahih seputar kedokteran, jika anda seorang pedagang maka pelajarilah fiqh jual beli dan ilmu tentang zakat. Itu jika memang waktu anda sangat-sangat sempit (dan setelah anda berusaha maksimal memanfaatkan waktu yang anda miliki), maka itu cukup untuk anda insyaAllah.

Syaikh menasihati seperti ini karena beliau mengetahui, betapa banyak penuntut ilmu yang telah disibukkan dengan banyak urusan duniawi akan tetapi mereka tidak memanfaatkan waktu dengan metode yang benar, semisal mempelajari hal-hal yang kurang ‘urgent‘ baginya seperti belajar ushul fiqh (sementaara ilmu-ilmu ushuluddin yang harusnya lebih didahulukan dia malah melalaikannya, pen).

***

Nasihat keenam: Mempunyai pekerjaan sendiri atau lebih tepatnya ‘freelance’ itu lebih baik daripada bekerja pada orang lain (menjadi ‘karyawan’)

Jika anda mampu memiliki pekerjaan pribadi seperti pedagang, atau jenis usaha lainnya yang bersifat wiraswasta maka anda bebas mengatur dan menggunakan waktu anda untuk keperluan menuntut ilmu. Berbeda dengan bekerja pada orang lain yang tentu saja memiliki aturan yang mengikat waktu anda. Waktu anda ada di tangan anda, kapan mau anda gunakan untuk bekerja dan kapan pun akan anda gunakan untuk menuntut ilmu sepenuhnya berada di tangan anda.

Yang demikian itu pun dilakukan oleh Al ‘Allamah Syaikh Al Albaniy. Beliau bisa membuka atau menutup tokonya kapan pun beliau mau. Ketika membutuhkan uang beliau membuka toko. Ketika ingin menuntut ilmu beliau menutup tokonya.

Alangkah banyak ulama yang demikian. Ketika berdagang mereka mengambil untung seperlunya, waktu seperlunya, dan sisanya mereka curahkan untuk menuntut ilmu.

***

Nasihat ketujuh: Memanfaatkan teknologi terbaru

Pada asalnya, menuntut ilmu adalah dengan mendatangi masyaikh, ustadz, guru. Namun pada saat ini, dengan adanya teknologi baru kita bisa memanfaatkannya untuk sarana menuntut ilmu.

Pada zaman sekarang ini, bisa saja bekerja sambil membuka puluhan muhadharah kemudian mendengarkannya. Bahkan dari rumah pun kita bisa mengikuti kajian masyaikh melalui internet, juga bergabung dalam universitas-universitas virtual.

Perhatikanlah, zaman sekarang justru wasilah menuntut ilmu begitu mudah, begitu banyak. Akan tetapi, apa yang terjadi pada para penuntut ilmu zaman ini sebenarnya bukan masalah sulitnya kesempatan dan sarana menuntut ilmu. Akar permasalahannya lebih karena lemahnya semangat dan tekad dalam menuntut ilmu. (Inilah musykilah terbesar penuntut ilmu…, pen)

***

Nasihat kedelapan: Penting untuk mengadakan daurah-daurah intensif bagi orang-orang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya

Di beberapa negara, kaum muslimin mengadakan daurah singkat membahas kitab-kitab yang sebenarnya perlu dibahas dalam waktu yang panjang. Itu tidak mengapa, karena untuk orang-orang yang sedemikian sibuknya, mengadakan daurah beberapa hari setiap bulannya, atau beberapa kali setiap tahunnya, atau bahkan 3 hari dalam satu tahunnya, sangat bermanfaat, sehingga mereka bisa mendapatkan pokok-pokok/intinya. (Tapi, masa iya sih di indonesia sampai separah itu…kayaknya sesibuk-sibuknya pekerja di indonesia tak sampai lah cuma punya waktu 3 hari dalam 1 tahun untuk ikut daurah, Allahu a’lam, pen)

***

Nasihat kesembilan: كن داعيا في عملك

Jika anda tidak bisa menuntut ilmu secara optimal, maksimal, karena kesibukan anda, maka jadilah da’i dalam pekerjaan anda, jadilah da’i di tempat kerja anda, bisa dengan membagi buletin, majalah, berda’wah semampu anda (membuat blog da’wah misalnya, pen), dan lain-lainnya.

***

Nasihat kesepuluh: Menjadi kewajiban bagi orang-orang yang mampu (kaya) untuk menanggung kebutuhan para penuntut ilmu yang cerdas namun fakir

Hal itu dikarenakan para penuntut ilmu adalah para tentara Allah, para pembela agama Allah, dan menjadi benteng agama Allah.

Telah dicontohkan oleh pendahulu kita, diantaranya Imam Al Laits Ibnu Sa’id, beliau menanggung kebutuhan Imam Malik bin Anas pada masa itu. Juga Imam Abu Hanifah, jika melihat murid-murid yang cerdas dalam majlisnya tapi dia fakir, maka beliau menyantuninya. Diantara yang beliau cukupi kebutuhannya adalah Imam Abu Yusuf, imam terbesar dalam madzhab Hanafiyah setelah Imam Abu Hanifah.

***

Terakhir, النصيحة الحادية  عشرة

Ini adalah nasihat tambahan (hadiah). Jika memang seseorang betul-betul sibuk sampai benar-benar tidak bisa menuntut ilmu, bahkan menunaikan haji yang merupakan salah satu rukun islam yang wajib pun tidak mampu, maka cukuplah menuntut ilmu lebih penting bagimu.

(Teteup weh… se-enggak bisa-bisanya menyempatkan menuntut ilmu, tetap menuntut ilmu itu harus. Bagaimana kita bisa ibadah dengan benar kalau kita tidak tahu ilmunya, bagaimana kita bisa melalui perjalanan dunia ini dengan selamat kalau kita tidak mengetahui jalannya. Kitu kan sadayana?)

Akhirnya risalah singkat ini selesai juga. Penulis segera tulis karena khawatir keburu hilang, sekaligus untuk muraja’ah, karena sebelum mulai muhadharah syaikh selalu muraja’ah. Semoga kita semua bisa mengambil faidahnya. Amin….

Kebenaran itu datang dari Allah. Jika ada yang salah, maka itu datang dari kesalahan pribadi penulis.

***

Masih ada muhadharah yang lainnya… don’t miss it…

Berikut i’lannya:

Kamis:

  • ba’da shubuh: lanjutan sebelumnya yaitu tema “nasihat dalam menuntut ilmu dan beberapa hal seputar manhaj”, bisa dihadiri ikhwan maupun akhwat
  • siangnya (jam 9-an): muhadharah di radio an Najiyah dengan tema “Al Islam Din Ar Rahmah” (radioannajiyah.com)
  • jam 11-dzuhur: khusus untuk santri ma’had dengan tema masih seputar nasihat dalam menuntut ilmu (tanpa penterjemah)
  • ba’da ashar: belum dikonfirmasi (kalau ada, berarti lanjutan pertemuan sore sebelumnya), untuk ikhwan dan akhwat

Jum’at:

  • ba’da shubuh: lanjutan shubuh sebelumnya, bisa untuk ikhwan dan khwat
  • ba’da shalat jum’at (langsung), untuk bapak-bapak jama’ah shalat jum’at: tema seperti di radio yaitu “Al Islam Din Ar Rahmah”
  • ba’da ashar: lanjutan sebelumnya dengan tema tambahan

Malam sabtu: tema “الرزق الحلا ل

***

Alhamdulillah muhadharah ini sudah berlangsung 2x (dalam 2 tahun ini). Dalam safari da’wah beliau, kota Bandung menjadi salah satu yang beliau kunjungi. Semoga kami bisa menimba ilmu dari masyaikh yang lainnya di lain waktu. Semoga waktu yang kita miliki barakah dan mendatangkan banyak kebaikan. Amin….

4 thoughts on “طلب العلم في زمن الا نشغالات (lanjutan)

  1. Untuk kalimat, “Terakhir, النصيحة الحادية ”

    Mbakku, kata الحادية -nya sepertinya lebih tepat ditulis الهدية >>>> Jika maksudnya adalah hadiah; present; gift.
    Soalnya, حادية (setelah diperiksa di kamus), artinya penunggang unta perempuan. Muannats dari kalimat حادي = camel driver / cameleer.

    Maafin nek salah yo Mba. Blm ngecek Al-Munawwir soale. n___n

    Btw, jadi sangat tercerahkan habis baca ini. Teruskan perjuanganmu, Mbak! Menulis dan membagi faidah ilmu. Suatu amal yang sangat bermanfaat, insya Allah.
    Barakallahu laki fii ‘ilmiki. : D

  2. Kata-katanya memang betul الحادية tapi ternyata kurang 1 kata lagi — yaitu عشرة (nasehat ke 11), memang pas kajiannya agak rancu dengan penjelasan penerjemah (tentang tambahan nasihat yang merupakan hadiah dari syaikh)

    Begitu, syukron koreksinya

  3. Sip! Kalo gitu jadinya kan jelas di saya… d^___^b.
    Apa poin2 nasihatnya diurutin pakai bahasa Arab semua aja Mba. Biar pembaca lainnya tidak bernasib sama. Maksudnya, sekalian belajar penomeran dalam Bahasa Arab juga.
    #Sekadar usul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s