طلب العلم في زمن الا نشغالات


Pada kesempatan yang berbeda di masjid yang sama, syaikh Abu Hafsh kembali menyampaikan muhadharah tentang “bekerja dan menuntut ilmu” (pen). Tulisan ini adalah muhadharah pertama yang sempat penulis ‘abadikan’ melalui tulisan sederhana, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Sebagaimana judul… syaikh mencoba memberikan beberapa nasihat berharga tentang bagaimana menggabungkan 2 hal berikut ini, yaitu hal-hal yang menyibukkan kita pada dunia dan menuntut ilmu. Dua hal yang oleh kebanyakan orang dianggap sangat bertentangan, bak timur dan barat. Dua hal yang banyak terjadi pada zaman ini. Masa yang sedang kita semua lalui, bahkan kita jalani.

Seperti kita ketahui bersama, akhir-akhir ini kita memang selalu disibukkan dengan dunia kita, dunia yang seringkali melenakan kita. Sampai-sampai karena kesibukan kita mengumpulkan pundi-pundi dunia kita memberikan porsi yang sangat sedikit untuk mengisi pundi-pundi akhirat kita.

Pada pembahasan ini, syaikh memberikan beberapa nasihat. Kurang lebih ada 10 point nasihat. Berikut diantaranya:

***

Nasihat pertama: Tidak adanya waktu karena kesibukan kita tidak berarti tidak ada waktu untuk menuntut ilmu

Kata syaikh, banyak penuntut ilmu tidak maksimal dalam menuntut ilmu. Jika ditanya, ‘kenapa mereka seperti itu?’ Mereka menjawab, “bagaimana mungkin menuntut ilmu sementara mereka punya pekerjaan, kesibukan yang penuh –yang tak henti-hentinya-”. Sungguh jawaban mereka tak bisa dijadikan alasan. Karena sesungguhnya tak ada ta’arudh (pertentangan) antara keduanya.

Para sahabat Nabi adalah uswah kita, teladan kita. Kita ketahui bersama bahwa sebagian di antara mereka adalah pedagang, yang kita tahu tak jarang harus bepergian. Tapi pekerjaan tidak membuat mereka lupa –dan bersantai-santai– dalam menuntut ilmu, tidak pula membuat mereka tidak bisa menemani Rasulullah. Di antara mereka adalah Abu Bakar. Beliau sudah masyhur dikenal sebagai seorang pedagang, akan tetapi pekerjaan beliau tak pernah melalaikan beliau dari agamanya (menuntut ilmu), bahkan beliau termasuk orang yang paling dekat dan selalu menemani Nabi. Begitu juga Utsman bin ‘Affan, beliau adalah pedagang yang kaya raya. Juga Abdurrahman bin ‘Auf, dan banyak sahabat selain mereka. Kesibukan dunia mereka tak pernah menyurutkan mereka dari menuntut ilmu di sisi Rasulullah

Para sahabat Nabi mempunyai cara, teknik, wasilah dimana mereka bisa menggabungkan 2 hal tersebut, yaitu menggabungkan antara menuntut ilmu dan pekerjaan-pekerjaan duniawi. Diantaranya Umar bin al Khaththab, beliau bergantian dengan sahabat lainnya dalam menemani Nabi sementara beliau sedang bekerja, kemudian yang hadir dalam majlis Nabi mengajarkan pada yang tidak hadir, bergantian satu dengan yang lainnya. Saling mengajarkan… Sungguh kesibukan duniawi mereka tidaklah melalaikan dari menuntut ilmu di sisi Rasulullah. Bahkan mereka mencari cara bagaimana agar mereka tak luput dari apa yang Rasulullah ajarkan.

Diceritakan dalam hadits Muslim bahwasanya Rasulullah mengutus beberapa qari kepada sebagian manusia untuk mengajarkan al quran pada malam hari sementara mereka pergi di pagi hari (untuk urusan dunia mereka). Lihatlah bagaimana mereka menggabungkan antara madrasah al quran dengan pekerjaan dunia mereka.

Yang demikian itu juga dilakukan oleh para ulama kibar, aimmah salaf. Selain mereka dikenal sebagai ulama, mereka juga mempunyai pekerjaan duniawi yang tak membuat mereka lalai menuntut ilmu. Seperti ulama-ulama berikut:

  • Abu Hanifah, beliau memiliki sebuah rumah besar (ruangan besar) yang dipakai untuk membuat kain dan pekerjaan lainnya
  • Ibnul Mubarak juga mempunyai usaha perdagangan, di satu sisi beliau juga imam ahli hadits
  • Ibnu Hubairah, beliau adalah seorang wazir, menteri, di waktu yang sama beliau adalah seorang yang sangat tekun menuntut ilmu, mengumpulkan kitab-kitab, dan mendatangi ulama, sampai-sampai Adz Dzahabi berkata bahwa beliau adalah orang yang sangat total dalam menuntut ilmu.
  • Hamzah Ibnu Habib az Zayyat (أحد القرا السبع), beliau membawa minyak dari Kuffah ke Mesir, oleh karena itu beliau dijuluki ‘tukang minyak’.
  • Imam Nawawi, beliau membantu orangtuanya di toko kecil milik ayahnya, semua itu tak menyibukkannya dari al quran dan menghapalnya
  • Sampai ulama jaman sekarang pun, Syaikh Al Albany, beliau dulunya adalah tukang kayu bersama paman dari ibunya, juga membuka toko jam, di antara waktu luangnya, beliau mengisinya dengan menuntut ilmu dan menulis kitab hingga menjadi ulama besar seperti sekarang ini.
  • Dan yang selainnya…

Tak heran, jika dalam kitab-kitab shirah/biografi ulama, sering ditemukan para ulama mempunyai julukan sesuai dengan pekerjaannya. Seperti dijuluki dengan البزاز, الصيدلاني, الطبيب, النجار, dan selainnya. Demikianlah… begitu banyak ulama dikenal dengan julukan dalam pekerjaannya.

***

Nasihat kedua: Mau tidak mau harus memanfaatkan waktu!

Syaikh bahkan mengatakan, menggabungkan antara pekerjaan dunia dan menuntut ilmu merupakan sesuatu yang teramat penting (dalam foto kopian tulisan beliau yang penulis terima, sampai tertulis من الضروري). Plaakkkk!!! kita sepertinya merasa tertampar bukan…?

Mungkin ada musykilah, “bagaimana dengan kebanyakan orang yang setiap harinya disibukkan dengan bekerja dari pagi sampai siang, sore, bahkan malam, kemudian ketika pulang bekerja sisa waktunya yang sedikit itu tidak dia manfaatkan sebaik-baiknya?” Maka baguslah jawaban syaikh ini, “Lantas dimanakah semangat kalian untuk menuntut ilmu, wahai saudaraku?”. Tepatlah perkataan salaf, bahwa ilmu tidak didapat dengan beristirahatnya tubuh

Di antara hal yang sangat penting bagi seorang muslim adalah bagaimana mengatur waktu yang dia miliki agar senantiasa bisa menuntut ilmu.. Di dalam Al Quran banyak didapati Allah bersumpah dengan waktu, seperti “demi masa, demi waktu fajar, demi waktu malam, demi waktu dhuha…”. Menunjukkan bahwa waktu adalah permasalahan yang sangat besar, pantaslah Allah bersumpah dengannya. Seorang muslim terikat dengan ibadah-ibadah yang Allah tentukan waktunya, seperti kapan waktu-waktu shalat yang lima, kapan masuk waktu bulan ramadhan, waktu-waktu haji, dan selainnya. Menunjukkan bahwa seorang muslim senantiasa terkait dengan waktu, selamanya. Demikian itu juga menunjukkan pentingnya kita mengatur dan memanfaatkan waktu yang kita miliki.

Di antara contoh nyata betapa berharganya waktu bagi para ulama adalah kisah Ibnu Mas’ud. Beliau begitu menyesali jika harinya berlalu begitu saja tanpa mendapatkan faidah. Beliau begitu menyesal, sementara matahari terbenam, umur berkurang, tapi amalnya tidak bertambah.

Tentu kita sering mendengar hadits ini: Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu/lalai pada keduanya: kesehatan dan waktu luang”. 

Juga Khalil ibnu Ahmad. Waktu yang paling berat harus beliau lalui adalah saat harus makan. Sampai-sampai beliau merasa waktunya terbuang ketika makan tanpa memberikan faidah ilmiyah. (sementara kita, malah menghambur-hamburkan waktu untuk berwisata kuliner…)

Sementara Abu Yusuf, seorang qadhi yang faqih, beliau adalah murid Abu Hanifah, saat akhir kehidupannya menjelang wafat, beliau terbangun dari tempat tidurnya karena teringat suatu permasalahan fiqih.

Pun begitu dengan Ibnu Jarir ath Thabari di saat akhir hidupnya terbangun dari tempat tidurnya untuk menuliskan permasalahan ilmiyah. Begitulah seharusnya seorang muslim menuntut ilmu sampai kematian datang padanya.

Sementara ‘Abid ibnu Ya’isy, saking memanfaatkan waktu, bahkan ketika makan beliau minta saudarinya untuk menyuapinya, sementara beliau membaca atau dan menelaah ilmu. Begitu beliau lakukan selama 30 tahun.

Adapun Ibnul Jauzi, beliau memohon perlindungan kepada Allah dari –berteman– dengan al baththaaliin (orang-orang yang suka membuang-buang waktu). Karena seringkali berdekat-dekat dengan mereka membuat kita menjadi seperti mereka. Kalau kita??? (Malah “add” teman-teman yang belum jelas keshalihannya dan membawa dampak buruk bagi agama kita. Wa na’udzubillah… )

Contoh semisal ini sungguh banyak sekali dalam biografi ulama…… bahkan dari ulama mu’ashirin pun banyak jumlahnya. Syaikh berkata (Abu Hafsh), “dan saya sangat yakin, jika para pekerja yang sibuk sementara di sisi lain dia juga seorang thalabul ilmi ini serius memanfaatkan waktunya, maka dia akan mendapatkan sebenar-benarnya ilmu, bahkan bisa menjadi lebih baik dari orang-orang yang memang mengkhususkan untuk menuntut ilmu”. Betapa beliau optimis dan realistis memandang kenyataan manusia akhir zaman ini.

Kata beliau, betapa banyak waktu kita sering terbuang sia-sia selama perjalanan. Ambil contoh satu saja, di jakarta, kota yang begitu padat, penuh, dinamis, seringkali membuat kita begitu lama untuk menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. 1-2 jam di jalan menuju tempat bekerja, sebenarnya bisa kita manfaatkan. Jika mungkin, selama di perjalanan maka kita bisa mengeluarkan kitab dan membacanya, atau mendengarkan muhadharah, mendengarkan durus (pelajaran2) lainnya, atau murajaah hapalan kita, atau hal lainnya yang bermanfaat. Betapa kita sering terjebak dalam kesibukan pekerjaan kita, waktu yang seolah selalu habis entah ke mana sementara kita sesungguhnya tak mendapatkan apa-apa…

***

Penulis jadi ingat satu ungkapan di sebuah buku. Tentu kita sudah tidak asing dengan peribahasa “waktu adalah emas”. Tapi ternyata ada sebuah peribahasa yang lebih baik dari itu, “waktu adalah kehidupan itu sendiri”. Begitulah, kehidupan memang tidak bisa ditaksir harganya, tak pula bisa diulangi. Motto atau semboyan islam ini jauh lebih tepat dari yang pertama. Yang demikian itu karena emas bisa ditaksir harganya dan bila hilang bisa dicari gantinya. Betapa materialistisnya pikiran mereka, mempersamakan waktu dengan sebuah materi. Kita tahu, bahwa kerugian materi sewaktu-waktu bisa dicarikan penggantinya pada waktu yang lain. Sedangkan apabila waktu diidentikan dengan sebuah kehidupan, maka bagaimana mungkin sebuah kehidupan bisa dicari penggantinya?Perbedaan antara keduanya sungguh sangat jauh….

Maka tak heran apabila Ibnul Jauzi menasihati anaknya. “Wahai anakku, perhatikanlah dirimu. Sesalilah kelalaianmu yang engkau lakukan di masa lalu. Bersungguh-sungguhlah untuk menyusul orang-orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan selama ada kelapangan waktu . Siramilah dahanmu selama dahan itu masih lembab. Ingatlah waktu-waktumu yang telah hilang. Semoga kesemuanya itu bisa menjadi pelajaran bagimu. Di situlah nikmatnya kemalasan telah hilang dan tingkat-tingkat keutamaan pun telah raib”. (Luftatu ‘l-Kabad fi Nashihati ‘l-Walad)

Bersambung pada kajian berikutnya, insyaAllah… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s