Catatan ta’lim: Bagaimana penuntut ilmu bergaul dengan kitab


Kajian ini merupakan lanjutan dari ta’lim setahun yang lalu yang catatannya bisa dibaca disini. Pada tahun ini, syaikh hafizhahullah kembali mengunjungi Bandung selama beberapa hari (Selasa-Jumat, 8-11 Rajab 1433 H, 29 Mei-1 Juni 2012). Khusus di Ma’had An Najiyah, kajian rencananya akan dilaksanakan setiap hari ba’da subuh dan ba’da asar (Agenda lainnya kurang tau). Catatan ini merupakan catatan kajian ba’da subuh tentang manhaj dalam menuntut ilmu, khususnya terkait dengan bagaimana seorang penuntut ilmu bergaul dengan kitab.

Poin-poin penting yang terkait dengan Kitab bagi penuntut ilmu adalah:

  • Seorang penuntut ilmu seyogyanya berusaha bagaimana bisa ‘memiliki’ kitab-kitab yang diperlukan. Atau dengan kata lain membuat perpustakaan baik perpustakaan pribadi atau yang lainnya. Sebuah fenomena yang banyak terjadi di Indonesia, banyak markaz da’wah yang sebenarnya mempunyai banyak dana akan tetapi perhatian kepada perpustakaan ini sangat kurang.
  • Memperhatikan tingakatan-tingkatan kitab, dimana disana ada kitab bagi tingkat pemula, menengah dan tingakatan atas. Maka seyogyanya seorang penuntut ilmu memilih membaca kitab-kitab yang sesuai dengan tingkatannya karena akan lebih bermanfaat dan tidak menghabiskan waktu.
  • Memperhatikan kitab yang sudah ditashih (diperbaiki kekeliruannya) dan yang sudah ditahqiq (diteliti) karena hal itu akan memberi tambahan manfaat dan lebih selamat. Bisa dikataka bahwa ketika kita membaca kitab yang belum ditashih dan ditahqiq, kita sedang menuntut ilmu yang naqish (kurang)
  • Mengawali membaca kitab-kitab muta’akhirin (saat ini) dahulu daripada kitab-kitab mutaqaddimin (terdahulu). Alasannya adalah karena kitab-kitab terdahulu lebih susah dibaca (sehingga lebih susah dipahami). Dicontohkan, misalnya dalam aqidah, baca terlebih dahulu kitab-kitab Syaikh Ibnu Utsaimin (misal Syarh Aqidah Wasithiyah) yang menjelaskan kitab Ibnu Taimiyah. Banyak perkataan Ibnu Taimiyah yang disajikan Ibnu Utsaimin dengan penyajian yang lebih mudah dipahami.
  • Ada pepatah: لا تجعل كتابك بوقا ولا صندوقا (Jangan jadikan bukumu sebagai terompet dan kotak). Maksudnya adalah jangan engkau perlakukan kitabmu dengan perlakuan yang tidak layak. Terkadang kita melihat sebagian kita memerlakukan buku (atau lembaran kertas/makalah) yang digulung seperti terompet (بوق). Juga terkadang kita menaruh catatan atau uang yang diselipkan dalam buku (sehingga seperti tempat penyimpanan – صندوق)
  • Ketika melihat buku baru, cobalah mengenali isi buku tersebut dengan cepat, sehingga mengetahui apakah buku itu cocok dan tahu apa yang isa didapatkan dari buku tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan:
    • melihat pendahuluan (muqaddimah)
    • melihat daftar isi
    • melihat ringkasan buku (abstrak)
  • Mengatur koleksi buku yang dimiliki, dengan mengelompokkan sesuai bahasan atau aturan tertentu. MIsalnya, kelompok aqidah, fiqih, tafsir dll. Fiqih diatur berdasar fiqih hambali, maliki, syafi’i, hanafi dll
  • Membuat katalog atau daftar koleksi untuk memudahkan pencarian.
  • Membiasakan membaca kitab. Seperti belajar mobil, pada awal-awal akan terasa lambat membacanya, namun ketika sudah terbiasa, akan cepat dengan sendirinya bahkan bisa ngebut.
  • Tidak menitikberatkan pada banyaknya buku yang dibaca, akan tetapi hal lebih penting adalah bisa mengambil manfaat yang banyak dari apa yang dibacanya.
  • Tambahan (dari pertanyaan peserta): Hendaklah tidak mencukupkan diri dengan mengkoleksi kitab-kitab elektronik.

Masjid Umar bin Khaththab, Ma’had An Najiyah, Bandung
Rabu, 9 Rajab 1433 H, Ba’da subuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s