Bagaimana membaca yang baik


Lanjutan muhadharah Syaikh Abu Hafsh Syadi Muhammad Salim Alu An Nu’man di Ma’had An Najiyah Bandung. Berikut catatan untuk kajian tanggal 31 Mei 2012 M/10 rajab 1433 H, ba’da subuh.

Materi kali ini terkait dengan bagaimana seorang penuntut ilmu membaca kitab/buku dengan baik sehingga dia bisa mengambil banyak faedah darinya. Berikut poin-poinnya:

  • Menyiapkan lingkungan yang baik untuk membaca dengan menyusun tempat yang baik dan tempat tersebut harus tenang.
  • Mampu membedakan beragam kitab dari sisi
    • Kesulitan membaca/memahami
      • Misal: kitab tentang ushul fiqih butuh ketelitian membaca lebih dari yang lainnya, kitab aqidah harus dibaca kata per kata, kitab sejarah/siroh bisa dibaca dengan cepat
    • Frekuensi kebutuhan membacanya (sesekali atau harus berulang-ulang). Dan seorang penuntut ilmu hendaknya bertanya pada gurunya ketika dia belajar pada bidang tertentu, kitab apa sajakah yang mesti dibaca berulang-ulang dan apa yang bisa dibaca sesekali saja.
    • Apakah kitab tersebut kitab rujukan atau kitab yang harus dibaca lengkap. Akan tetapi, bagi seorang penuntut ilmu yang mendalami bidang tertentu (spesialis), maka dia harus membaca secara lengkap buku dibidangnya.
  • Setelah membaca buku tertentu, sisihkan waktu untuk bisa mendeskripsikan apa yang ada dalam buku tersebut lalu mengkaitkan dengan apa yang telah kita pelajari dalam bidang yang sama dengan buku tersebut. Maka ibarat membangun rumah, dengan cara demikian kita akan membangun pengetahuan kita dari bawah dan makin lama makin ke atas.
  • Menguji kemampuan sejauh mana bisa menguasai buku tersebut dengan baik. Salah satu caranya adalah, setelah mempelajarinya, cobalah menjelaskan isinya seolah-olah sedang mengajar (atau bahkan ajarkan isi buku tersebut)
  • Janganlah menjadi seorang pembaca yang mudah menyerah dalam artian menelan begitu saja isi dari buku tersebut tanpa berfikir lebih lanjut. Jadilah pembaca yang kritis.
  • Janganlah jadi pembaca yang tujuan awalnya hanya mencari kesalahan buku tersebut. Hal ini tidaklah berarti bahwa dia tidak memperhatikan kesalahan yang ada pada buku tersebut.
  • Berusaha untuk mengetahui apa yang dimaksud penulis dengan beragam istilah yang ada dalam buku tersebut sehingga tidak keliru dalam memahami maksud penulis. Seringkali didapatkan satu istilah yang sama tetapi berbeda maksudnya antara satu penulis/buku dengan yang lainnya. Misalkan istilah makruh, dalam banyak kitab ulama madzab Syafi’i seringkali yang dimaksudkan adalah haram.
  • Menyebutkan faedah-faedah penting yang didapatkan dengan cara menulis catatan pinggir pada buku atau pada halaman kosong yang ada dalam buku.
  • Mempunyai buku panduan (rujukan, utama) khusus untuk bidang tertentu dimana dia dijadikan buku inti. Maka jika membaca buku lain dalam bidang yang sama, faedah-faedah yang didapatkan dari buku lain tersebut dicatat dalam buku inti tersebut dalam bahasan yang sama dengan faedah tersebut. Dengan demikian, kita akan bisa mengumpulkan faedah-faedah dari banyak buku dalam 1 buku.
  • Tidak boleh mencukupkan diri dengan belajar dari buku saja (otodidak) akan tetapi tetap butuh seorang guru, yang akan memudahkan dalam memahami bidang tertentu dan juga menghemat waktu. Tetapi, jika buku tersebut besar (berjilid-jilid) yang tidak memungkinkan untuk belajar buku tersebut sampai selesai, maka kita bisa bermusyawarah dengan guru sehingga bisa mengambil faedah darinya.

Semoga bermanfaat…

 

2 thoughts on “Bagaimana membaca yang baik

  1. perenungan dulu sebelum menjawab. masih mengganjal, apa tulisan tsb pantas dimuat ‘disitu’. hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s