Masalah TBC pada Anak dan Puyer


Spesial untuk salah satu sahabat dunia mayaku, teh indri di cibinong sana…

Apa yang terjadi ketika anak-anak kita sakit? Khawatir bukan? Sebagai orang tua yang baik dan bertanggung jawab tentulah kita ingin penanganan yang terbaik untuk buah hati kita.

Permasalahan yang dihadapi salah satu sahabat dunia mayaku ini kurang lebih pernah juga kualami. Body ahmad yang very-very mungil (padahal doyan makan apa aja), susah naik berat badan, kadang cuma 1 ons tiap bulannya, sangat membuat kawatir. Pernah…curiga, jangan2 flek, ups konon istilah yang tepat adalah TBC! CMIIW.

Sebagai sesama ibu, rasanya perlu nih berbagi informasi ini..

Tidak mudah lho menegakkan diagnosis TBC paru pada anak. Banyak sekali penyakit yang gejalanya mirip dengan TBC. Pada anak, gejala utamanya justru bukan batuk, karena TBC paru pada anak menyerang kelenjar bukan paru-parunya. Begitu kata dokter Purnamawati SpAK, MMPed dalam bukunya Q & A Smart Parents for Healthy Children.

Masih menurut beliau, kita mencurigai anak menderita TBC paru bila:

1. Ada kontak erat dengan orang dewasa penderita TBC (orangt tua, pembantu, sopir? mungkin ada di antara mereka yang sudah batuk 1 bulan lebih? gejala lainnya terdapat pembengkakan kelenjar di leher yang bentuknya seperti kalung mutiara. coba semua yang dekat dengan anak anda di rontgen dada)

2. Gejala lain yang tidak khas untuk TBC paru adalah sering demam berkepanjangan, gangguan pertumbuhan, serta diare yang tidak kunjung sembuh

Kalau anak kita ada gejala mencurigakan ke arah TBC lakukan pemeriksaan tes mantoux, yang bisa disertai pemeriksaan darah meski tak ada yang khas untuk TBC paru. Ingat, rontgen dada tidak dapat dipakai untuk mendiagnosis TBC paru pada anak. Jangan mencap anak TBC paru hanya karena anak tampak kurus. Coba plot  berat dan tinggi badan di kurva pertumbuhan buku kesehatan anakmu.

Negara kita emang endemis TBC paru. Sehingga paparan kuman TBC paru cukup tinggi. Kita semua bisa saja terkena paparannya, tapi belum tentu individu yang terpapar otomatis terinfeksi. Jika daya tuhuh mampu melawan, anak-anak bisa saja tidak akan jatuh sakit.

IDAI membuat sistem skoring diagnosis TBC berdasarkan ada tidaknya riwayat kontak dengan penderita TBC, hasil tes mantoux, masalah berat badan, demam, pembesaran kelenjar, kelainan di tulang, dan hasil rontgen. Anak diidagnosis TBC jika skornya lebih besar atau sama dengan 6. Terapi pencegahan (profilaksis) diberikan pada anak dengan ujimantoux tetapi skornya kurang dari 6.

Nyatanya, banyak dokter dengan mudah mendiagnosis anak TBC hanya dengan gejala badan kurus, berat badan susah naik, dengan berbekal hasil rontgen dada saja.

**

Alhamdulillah, meskipun ahmad termasuk kurus untuk anak seusianya, tapi kami tidak mempermasalahkan  TBC itu lagi. Setiap bulan tingginya selalu naik meskipun tidak banyak, makan juga tak ada masalah berarti, sepertinya dia selalu makan, kadang juga badannya terasa beraaat, kadang ringan, aktivitasnya memang banyak menguras energi dan otaknya kayaknya ga berhenti ‘berpikir’ sehingga mungkin wajar badannya ceking, panas juga jarang bahkan ketika panas dia cepat sembuh, batuk pilek juga jarang dan kalaupun batuk pilek dia juga cepat sembuh tanpa obat-obatan, mencret atau diare…jarang juga. Semoga sehat-sehat selalu ya nak. Mungkin kamu kurus ceking nurun bapak ibumu. Semoga cepat tumbuh besar dan sehat, amin. Semoga khansa juga begitu. Bisa jadi asupannya tidak sebanding dengan aktivitasnya. Atau mungkin juga karena lelah mudik. Pengalaman pribadi, kalau pulang kampung nafsu makan ahmad jadi merosot tajam, sakit. Tapi ketika balik ke bandung, normal lagi meski butuh waktu.

**

Adapun tentang puyer….. hmmm, aku juga punya pengalaman buruk dengan ini. Salah satunya…beberapa waktu lalu. Ahmad kembung kurang lebih 2 minggu. Kambuh-kambuhan, kadang kembung kadang enggak. Terutama pas malam, kembung banget. Mungkin ada makanan yang ga pas masuk ke perutnya, pikirku. Semacam ada gas terperangkap dalam perutnya, begitu sih menurut informasi yang kubaca-baca. Ditambah lagi waktu itu mulai masuk “musim dingin”, emang iya…duingiiin banget. Karena udah 2 minggu masih kembung kambuh-kambuhan, akhirnya kami ke dokter. Maunya sih ke dokter anak langganan. Alasanku pun simpel, beliau spesialis imunolog anak, tahu pula riwayat ahmad, kayaknya ga mungkin deh kasih obat macem-macem dan aneh-aneh. Prinsipku, ke dokter itu tidak mesti pulang bawa sekantong obat. Malah syukur kalo ga dibawain obat, tandanya ga ada masalah…. hehe. Tapi karena jauh, akhirnya pilihan jatuh ke dokter dekat rumah. Untuk sakit kembung tanpa gejala lain yang berarti kami dikasih 2 macam obat, obat lambung dan puyer. Puyernya berisi 3 macam obat, ada antibiotiknya pula. “tenang aja, ini antibiotik bagus kok, yang dosis tinggi!”. DEG!!! ah sudahlah, daripada ribut kayak waktu itu di rumah sakit mending ga usah aku perpanjang pertanyaan tentang obat-obat itu. . Aku sudah terlanjur dipandang “awam” sekali mengenai RUD ini. Sampai rumah, puyer itu tak disentuh… tengkyu dok, aku sungguh mendapat pelajaran sore itu. Lain kali aku tak akan kembali padamu.

Pernah juga seorang dokter bilang, anaknya kalau sakit batuk pilek dia beri puyer. Alasannya, kalau ga parah dan cuma 1-3 hari sih ga masalah, lha ini sampai 1 minggu. Kasian, batuknya ‘grok..grok..’, susah ngeluarin lendir, susah napas karena mapet, badan panas lagi. Akhirnya diraciklah obat khusus untuk anaknya, isinya penurun panas, pengencer dahak, obat pilek, dll. Trus jadilah puyer… satu obat bisa untuk ini, ini, dan itu, biar sekali minum katanya. Meskipun itu hak dia sebagai dokter untuk anaknya, tapi aku sebagai orang awam merasa sangat-sangat tidak rasional.  Buat anak sendiri aja tega begitu, apalagi buat anak orang lain? Duh…

Yang aku baca bahwa serangan batuk pilek pada anak umumnya karena virus (tinggal kenali aja jenis batuk anak kita, yang karena bakteri dan berbahaya itu gejalanya khusus), ga perlu obat macem-macem, bahkan yang katanya terbilang aman secara farmakologis. Jika anak bisa disembuhkan tanpa memasukkan obat-obat kimia ke dalam tubuhnya, why not? Kasih banyak minum putih, hangat, jus juga bisa, jaga makannya, berikan thibbun nabawi, diuap, dikompres, dijaga kebersihannya, jaga istirahatnya, jangan lupa dirukyah, doain….  Dan perlu sabar… sabar menunggu lebih lama penyakit itu hilang dari anak kita. Karena obat kimia yang mungkin dianggap lebih cepat menyembuhkan itu ternyata berefek negatif. Bayangkan kalau anak kita batuk pilek tiap bulan atau minimal 2 bulan sekali. Berapa banyak dia meminum obat setiap tahunnya…? Ah, mungkin aku yang salah kali ya… pinter mana coba aku dibanding dokter? ehe ehe…

**

Di halaman 224 masih di buku tsb, tertulis… jawaban dokter Wati tentang puyer. Puyer terkait dengan polifarmasi. Sebungkus puyer bisa berisi lebih dari 3 obat (banyak juga lebih dari 5 obat, bahkan ada bayi/anak yang memperoleh puyer yang terdiri atas 15, 19, bahkan 23 obat!). Padahal 1 obat saja bisa menimbulkan efek samping, apalagi banyak obat. Padahal, umumnya penyakit anak-anak tak butuh banyak obat.

Dalam sebuah workshop yang disponsori WHO perihal sosialisasi penggunaan obat secara rasional yang diselenggarakan di india, peserta dari negara asia merasa bingung melihat resep anak batuk pilek karena obatnya banyak sekali. Semakin heran ketika mengetahui bahwa semua obat tersebut dibuka dari bungkusnya dan digerus! Heeeehhhh!! Ternyata puyer hanya ada di indonesia, puyer tak ada di semua negara berkembang peserta workshop di atas. Para ahli farmasi protes. Pabrik obat bikin penelitian susah-susah untuk menemukan bentuk obat yang terbaik, dibuat atas kaidah Good Manufacturing Practices, kok malah dilanggar. Kemasan dibuka, obat digerus, lalu dibagikan ke masing2 kertas pembungkus/sachet tanpa ditimbang (divided by eyes, kata salah seorang pakar sambil prihatin). Bagaimana interaksi obatnya? Bagaimana aspek sterilitas pembuatan obat, dst, dst? Tuh banyak kan isu seputar puyer.

Memang banyak yang berpendapat bahwa puyer adalah yang terbaik buat anak indonesia karena jika anak butuh banyak obat maka dengan puyer harganya menjadi murah. Padahal kapan sih anak butuh banyak obat? Demam, diare, batuk pilek, tidak butuh banyak obat.Kalau sakit berat (misalnya leukimia, kelainan jantung, ginjal) mungkin butuh banyak obat. Tapi anak sakit berat kan presentasenya kecil. (ahmad kawasaki aja obatnya cuma 2 macem, aspilet dosis rendah dan imunoglobulin intravena, dah cukup itu. obat-obat yang lain ga perlu kata dokter imunolognya). Ada yang berargumen, puyer is the best karena dosisnya bisa didesain individual. Obat dalam bentuk sirup, misalnya parasetamol sirup, juga bisa diberikan dengan dosis tepat. Misal anak butuh dosis 1,5 ml, kan obat sirupnya bisa ditakar dengan spuit, sehingga bisa akurat. Di lain pihak, bila puyer merupakan bentuk yang terbaik, yang teraman, dan yang termurah, pasti sudah diadopsi di negara berkembang lain. Badan internasinal terkait kesehatan dan terkait kesejahteraan anak pasti tidak tinggal diam, akan mensosialisaasikan agar dimanfaatkan negara lain. Seperti ketika mensosialisasikan pemberian Oral Rehydration Reaction untuk diare, karena itu yang paling tepat selain murah. Di Tanzania misalnya, yang jauh lebih miskin dari indonesia, tidak ada puyer kok! Konsumen yang bijak akan membantu iklim layanan kesehatan agar semakin hari semakin baik.

Nah, berikut tips ketika anak memang butuh obat:

1. Dengan halus, minta agar dokter tidak memberikan puyer sehingga secara tidak langsung kita melindungi anak kita dari polifarmasi. Ketika obat yang diberikan dalam bentuk puyer umumnya sulit bagi orang tua untuk mengetahui jumlah obat yang ada di dalamnya. Di lain pihak, seandainya semua obat itu diberikan dalam bentuk sirup, maka kita membawa pulang beberapa botol (4 atau lebih, sehingga otomastis kita kaget. Aduh sakit apa sih kok obatnya banyak bangettt!!)

2. Hitung jumlah baris di kertas resep. Semakin banyak, semakin kita kritis. Separah apakah anak kita kok sampai obatnya lebih dari dua?

3. Tunjuk masing-masing baris obat dan tanyakan: obat apa, apa tujuan pemberian obat tersebut, bagaimana kerjanya, apa resiko efek samping, cara pakai, dst

4. Simpan kopi resep. minta agar tulisan terbaca

5. Obat/puyer jangan langsung ditebus. Browsing aja dulu toh bukan keadaan gawat/darurat (mayoritas gangguan kesehatan anak adalah gangguan ringan).

**

Nah, kalau aku pribadi… ketika menjumpai dokter yang “tidak rasional”, maka carilah 2nd opini. Aku pribadi mempunyai keyakinan untuk tidak kembali lagi ke dokter yang “aneh”. Sehingga… buat ibu-ibu, jangan putus asa, mencari dokter yang tepat adalah perjuangan berat.  Sebagai konsumen kita boleh memilih, kualitas dan harga macam mana yang kita inginkan, bukan?

Aku terbiasa terbuka kepada dokter langganan. Bisa jadi mungkin diantara sekian banyak kecocokan tetap saja ada perbedaan pandangan antara dokter dan pasien. Janganlah sungkan untuk berterus terang pada dokter yang sudah kita pilih atau kita percaya. Aku pernah ngeluh ke dokter kandunganku, “dok, kenapa sih di rumah sakit bersalin kok ada promosi susu formula, itu kan menyalahi kode etik dok…malah banyak juga yang memberikan susu formula ke bayi baru lahir. apa maksudnya nih dok?”. Kemudian dokter pun menjelaskan, “memang itu sebenarnya ga boleh bu, tapi…..mau gimana lagi…bla..bla..(banyak alasannya)”. Dokter kandunganku sampai tahu apa saja yang aku inginkan, obat apa saja yang aku keberatan, bahkan tahu masalah keuangan untuk mengatasi masalah kesehatanku. Aku juga pernah bilang ke dokter anakku, “dok, saya heran kenapa banyak dokter anak kok gampang banget sih ngasih antibiotik ke anak, saya ga suka dokter yang begitu dok, susah dok saya cari dokter yang rasional pemberian obatnya”. “Oooh, kalau saya ga kok bu….(sambil ketawa dokternya)”. Tentunya aku menyampaikannya sambil bercanda, tapi serius. Dan sudah terbangun ‘chemistry’ antara pasien dan dokter.

Kadang juga kita perlu menunjukkan pada dokter bahwa kita ini ga buta-buta amat mengenai obat. Sehingga dokter pun ga sembarangan resepin obat untuk anak kita. “ibu ini kritis juga ya! gawat nih kalau salah obat saya bisa dituntut malpraktek!”. Pengalaman di lapangan, ada dokter yang memang komunikatif banget, tanpa ditanya detail sudah bersedia menjelaskan, memberi informasi yang kita butuhkan. Tapi ada juga dokter yang kayak “gong”, kalau ga ditabuh ga bunyi. Jadi kita sebagai pasien harus lebih aktif. Adakalanya diagnosis dan obat yang diresepkan tidak sesuai dengan penyakit karena kita menyembunyikan fakta atau kurang lengkap dalam memberikan informasi. Dan tentu saja, datangilah dokter yang diperkirakan menguasai masalah kesehatan yang kita hadapi.

Recommended:  Buku Q & A Smart Parents for Healthy Children, penulis dr. Purnamawati S, Pujiarto, SpAK, MMPed (pengasuh milis sehat).

Buku ini benar-benar membuat saya sebagai ibu bersikap “rasional” terhadap obat ketika anak sakit

3 thoughts on “Masalah TBC pada Anak dan Puyer

  1. hadeuh, perasaan ana wis menulis panjang lebar lho teh, kok commentku tiada nampak hiks.. mungkin karena waktu itu coba2 komeng pake hape, tapi jebulnya failed

    jazaakillah khoiro atas ulasan spesialnya ya teh🙂 , insya Allah sangat bermanfaat buat ana dan juga para pembaca setia rumahkusekolahku ^^

    iya teh, ana juga insya Allah termasuk ngga gampang memberika obat ke anak, terutama ketika flu/common cold -yang biasanya penyakit langganan anak2-
    biasanya kasih treatment natural aja sperti yang teteh tulis, alhamdulillah maksimal biasanya 2 mingguan udah sembuh

    alhamdulillah sejak ana boost daya tahan tubuh khansa dengan madu (syamil), bi idznillah flu sudah jarang menghinggapi genduk (bukan iklan)

    dan juga insya Allah ana paham mengenai polifarmasi dalam puyer, tapi sepertinya kekhawatiran berlebihan pada Khansa kemarin membutakan mata hati *hayah*

    skali lagi haturnun atas infonya ya teh, smoga Allah melindungi keluarga kita dari kemadhorotan, dan senantiasa diberkahi Allah kesehatan

    NB : mana potonya mas ahmaaad?hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s