Impetigo Bullosa


Beberapa hari lalu jidat ahmad nonong. ga benar-benar nonong sih. Lebih tepatnya ada beberapa bintil merah yang kemudian berisi nanah. Ini pengalaman pertama kali dengan perbintilan ini. Dikira jerawat, bukan. Dikira bisul, juga bukan. Dikira cacar, apalagi. Baru sadar setelah pulang dari Subang, kok makin banyak jumlahnya. Tadinya kecil, satu dua biji, lama-lama jadi 6 dan berisi nanah. Setelah ke dokter, ternyata memang bukan ketiganya, tapi impetigo bullosa!

Cukup kaget juga, karena ahmad bukan tipe anak yang suka main jorok dan kotor. Begitu cari-cari di internet, ciri-ciri ahmad memang persis seperti impetigo bullosa. Karena penyakit ini biasa menyerang anak-anak, ibu-ibu perlu tahu nih. Nemu penjelasan yang cukup bagus dari blog dokter, cak moki. Langsung baca disana ya..

TKP: http://cakmoki86.wordpress.com/2007/07/06/impetigo-kulit-melepuh/

Makin Dewasa


Ahmad sudah mulai bertanya hal-hal berat akhir-akhir ini..
“mi, manhaj salaf itu apa sih?”
“mi, emang perempuan wajahnya harus ditutup gitu?”
“mi, dunia itu sia-sia ya mi?”
eleuh….

istri patuh suami

pernah dia nasihatin,
“mi, kata ustadz istri itu harus patuh suami, jadi ummi harus patuh pada abi”
(hmm…..)

beberapa detik kemudian,
“kalo gitu ahmad mau ah jadi suami!”
(what????)

(masih lanjut)
“biar ummi patuh ke ahmad!!”

????

ah, dia makin dewasa…

Mohon…


anak-anak memang banyak akalnya! kalau permintaannya ga dikabulkan biasanya anak-anak pake aji ngambek. tak beda pula dengan ahmad. hanya mungkin bentuk ngambek setiap anak beda-beda. kalau ahmad termasuk ga parah sih, tapi tetap saja kadang menjengkelkan.

selain punya aji ngambek, ahmad punya ajian lain yang lebih ampuh. ga pake ngambek, ngamuk, atau nangis-nangis. tapi halus menusuk. membuat yang mendengar jadi klepek-klepek.. Baca lebih lanjut

pertanyaan yang sama


menurutku, menjalani HS bukanlah sesuatu yang mudah, tapi bukan pula sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

alhamdulillah, sudah 6 tahun ini kami menjalaninya. tentunya dengan banyak kekurangan disana-sini. dengan kata lain, sejak ahmad lahir kami memang berniat seperti ini.

awalnya, HS adalah murni keinginan kami (orang tua). ya iya lah anak bayi mana ngerti.. tanpa bermaksud memaksakan kehendak kepada ahmad, dia pun akhirnya setuju menjalaninya.

apakah ada semacam rasa terpaksa dari si anak? Baca lebih lanjut