pertanyaan yang sama


menurutku, menjalani HS bukanlah sesuatu yang mudah, tapi bukan pula sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

alhamdulillah, sudah 6 tahun ini kami menjalaninya. tentunya dengan banyak kekurangan disana-sini. dengan kata lain, sejak ahmad lahir kami memang berniat seperti ini.

awalnya, HS adalah murni keinginan kami (orang tua). ya iya lah anak bayi mana ngerti.. tanpa bermaksud memaksakan kehendak kepada ahmad, dia pun akhirnya setuju menjalaninya.

apakah ada semacam rasa terpaksa dari si anak? mungkin.. ketika dia melihat anak-anak lain bersekolah, kadang ada perasaan ingin “bersama” dengan mereka. ketika terjadi konflik selama belajar, bisa jadi dia berpikir “ah, sekolah pasti lebih enak”. ketika umminya marah, “ah, bu guru mah baik ga pernah marah!”

perasaan semacam itu wajar-wajar saja. sebagaimana rasa bosan anak sekolahan terhadap lingkungannya dan rutinitasnya.

tapi rasa tak nyaman yang kadang muncul itu tidak = ga betah HS, tidak = sekolah itu lebih baik, atau parahnya = HS itu buruk! (kayak rumus kan yah? ingat nih rumus penting)

sebenarnya teman-teman sudah tahu ahmad belajar di rumah. tetangga-tetangga juga tahu. orangtua juga tahu. tapi pertanyaan senada seperti di bawah ini selalu saja ada:
“eh, ahmad kok ga sekolah-sekolah?”
“ahmad kapan masuk sekolahnya?”
“pagi-pagi ahmad kok main, ga sekolah?”
“gimana umm, ahmad kapan masuk sd, teman-temannya udah kelas 1”
“jadi HS umm, atau masuk sd tahun depan?”
(tentu aku sudah sering menjawab pertanyaan seperti itu dari mereka, pada orang yang sama)

ahmad juga selalu jawab, “ahmad sekolah kok di rumah”, tanpa merasa bersalah (da..ya emang salah dia apa?)

jujur pertanyaan yang berulang-ulang seperti itu membuat ahmad boring habisss… aku bilang pertanyaan yang mempermainkan perasaan (eh bu, suka-suka yang nanya dong..). anak-anak juga bisa merasa tertekan kan? ketika dia sudah merasa nyaman, pertanyaan itu datang merecoki batinnya. karena HS masih menjadi hal yang asing di suatu komunitas masyarakat, ketika menjalaninya pun dia juga butuh perjuangan, lahir dan batin. anak-anak macam ahmad bukan ingin tampil spesial kok, jadi perlakukan mereka sewajarnya saja, seperti anak-anak lainnya..

kami tahu, ya beginilah resikonya. ga ada hak kita untuk melarang mereka bertanya. tapi mita tolong boleh kan? tolong..jangan tanyakan itu terus menerus kalau ketemu ahmad. coba lah tanyakan sesuatu yang membuat dia makin bersemangat sekolah di rumah. jangan tanyakan itu terus-menerus kalau sudah tahu itu hanya sebuah retorika. atau hanya pertanyaan untuk menguji.

hal yang sebenarnya tidak perlu diproklamirkan ini, menjadi penting untuk disampaikan kepada teman-teman dan tetangga, juga orangtua. yeah, siapa tahu teman-teman dan tetangga yang sering banget nanya baca blog aku ini…

Dia bukannya tidak belajar, saat ini dia hanya tidak “sekolah”…gitu aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s