Wajah telanjang


Melihatku pake jilbab kecil (dlm rmh), ahmad berkomentar “ih, ummi kayak bibi, wajahnya telanjang”.

Hehehe… Baru tahu ada istilah baru nih.. “wajah telanjang”.

Dengan polos ahmad tanya, “kenapa sih mi kebanyakan wanita wajahnya telanjang?”

“Hmmm…tanyalah ke mereka..” ^^

Bener lhoh, aku ga pernah ngajari ahmad bilang “wajah telanjang”. Klo biasanya aku yang ditanya atau dikomentarin orang “kenapa bercadar”, sekarang anakku yang tanya ke ibu-ibu nih, “kenapa wajahnya telanjang?”.

# benar juga ya…kenapa bercadar selalu dipertanyakan? #

Doa yang tulus *)


“Ahmad mau doain om biar cepet tobat, cepet sadar, mungkin sudah takdirnya sekarang om belum sadar-sadar, moga-moga nanti sebelum meninggal tiba-tiba sadar”

*) terinspirasi hadits: “….sesungguhnya ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amalan-amalan penghuni neraka sampai jarak dia dengan neraka tinggal satu hasta, karena takdir yang telah ditetapkan, maka dia mengerjakan amalan penghuni surga sehingga dia masuk surga” (Hadits ke-4 arba’in nawawi, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Pilih Kaya atau Miskin?


Ahmad dengar kajian dari radio. Ustadz pas banget sedang membahas masalah yang sedang menjadi “hot” topik di rumah.

Ahmad disuruh milih:
Mau jadi orang kaya tapi tertahan 500 tahun sebelum masuk surga, sampai orang-orang miskin yang ahli surga masuk dulu ke dalam surga, atau mau jadi orang miskin tapi  masuk surga duluan? Baca lebih lanjut

burung yang malang


suatu hari,

sebelum tidur siang ahmad berpesan, “mi, nanti kalo abi tanya, ahmad belajar ga? jawab iya, ya. kalo abi tanya,
belajar apa? jawab, belajar merawat burung yang sakit.”

ahmad rupanya kawatir ditegur abi karena ga belajar.

tapi benar, ahmad ga bohong kok. hari itu dia memang belajar merawat burung yang sakit…

ahmad nemu burung yang terpincang-pincang di dekat rumah, beberapa meter dari rumah. rasa kasihannya muncul, dia
berinisiatif membawa burung itu pulang. tapi sayang, karena ga berani megang burung itu malah digelandang pake
ranting sampai teras rumah. yo panteees, burung itu makin parah. oalah le..le..piye tho..

kesalahan dia satu, kenapa bawa ke rumahnya digiring pake ranting, harusnya kan dipegang pelan-pelan.. mungkin itu yang membuat burung itu makin parah lukanya. akhirnya aku pun menyuruh dia minta maaf ke burung itu. “buruung, maafin ahmad ya..”, rengeknya. aku bilang, “lagi, yang tulus minta maafnya, kasihan tuh burungnya”. dia pun dengan
polos mengulangnya, “burungggg.., ahmad minta maaf ya…”. hehe…

burung itu ditempatkan di pagar, ditutup sekelilingnya. ditetesi betadin karena nampak lecet-lecet punggungnya.
dikasih beras dan disuapin minum pake sendok. tadinya burung itu dah ga bisa apa-apa, tapi kemudian mulai bisa
jalan. gembiralah ahmad..

setelah dirasa keadaan si burung lebih baikan, kita tinggal tidur. sorenya, begitu bangun ahmad langsung nengok
burung itu, ternyata sudah dikerubutin banyak semut, mana udah mau hujan lagi. akhirnya burung itu dipindah ke
teras, tempat yang lebih aman. selang beberapa lama ditengok lagi, burungnya sudah terkulai tak bernyawa. hiks…kasian banget. tadi napasnya ngik-ngik, sesak banget. eeee…sekarang malah meninggal burungnya. dah takdir
tuh burung mati hari itu. mau gimana lagi. lihat burung meninggal aja sedih banget…

menjelang maghrib ahmad menggali tanah dengan cangkul kecil, burung itu dikubur. innalillahi wa inna ilaihi
raji’un…semoga kesalahan ahmad pada burung itu diampuni Allah…

*Cerita bbrp th yg lalu

catatan 6 tahun


# November kemarin Ahmad 6 tahun. Badan masih tetap mungil, Alhamdulillah. Kadangkala sakit, wajar. Sering mogok belajar, juga wajar (hehe).

# Alhamdulillah sudah selesai hapalan juz 30, dan sudah masuk juz 29. Hanya saja karena beberapa kekurangan, Ahmad harus banyak murajaah juz 30 agar lebih hapal. Baca al quran sampai surat an nisaa’

# Alhamdulillah sudah mulai rutin sholat 5 waktu. Sesekali bolong. Ngantuk ga mau bangun shubuh, sakit ga mau sholat, capek main sampai akhirnya ketiduran, dsb. Sekarang sudah tidak ngaco kalau ditanya “sholat wajib sehari berapa kali?”, Kalau sebelumnya suka jawab seenaknya, “tujuh kali”, sekarang sudah jawab “lima kali”. Jumlah rakaat pun sudah hapal, jadi kalau sholat dzhuhur mesti 4 rakaat (hehe..maklum dulu kan suka lupa, kadang kurang dari 4 rakaat). Kalau jamaah ke masjid dan masbuk, dia sudah mudeng kalau dia mesti nambah sendiri jumlah rakaat yang ketinggalan.

Baca lebih lanjut

Mendulang Faidah dari Hadits Arbain Nawawi


Merasa bingung mengkombinasikan pelajaran untuk anak-anak? Apakah anak kita termasuk tipe anak yang senang dengan banyaknya mata pelajaran? Ataukah tipe yang merasa terbebani dengan banyaknya mata pelajaran?

Sekarang ini banyak dipakai metode belajar tematik. Satu tema bisa mencakup bahasa Indonesia, matematika, IPA, sosial, seni, bahasa Inggris dan lainnya. Di beberapa sekolah belajar tematik ini dipakai untuk kelas rendah (kelas 1-3).

Tapi yang ingin kubicarakan kali ini bukan tentang pelajaran-pelajaran di atas. Insya-a-llah anak-anak jaman sekarang (terutama para orangtua) sepertinya banyak yang tidak menganggap pelajaran tsb cukup berat. Berbeda dengan pelajaran aqidah, fiqh-ibadah, hadits, bahasa Arab, siroh, akhlaq dan pelajaran diniyah lainnya. Deretan pelajaran ini oleh sebagian orangtua dan juga pengajar dianggap mata pelajaran yang “sangat berat” untuk diberikan kepada anak-anak, sehingga wajar kalau di sekolah-sekolah pada umumnya tidak diberikan, atau paling tidak hanya diberikan sebagian kecil saja. Padahal secara prioritas pelajaran-pelajaran ini lebih penting dari pelajaran umum.¬† Baca lebih lanjut