Pilih Kaya atau Miskin?


Ahmad dengar kajian dari radio. Ustadz pas banget sedang membahas masalah yang sedang menjadi “hot” topik di rumah.

Ahmad disuruh milih:
Mau jadi orang kaya tapi tertahan 500 tahun sebelum masuk surga, sampai orang-orang miskin yang ahli surga masuk dulu ke dalam surga, atau mau jadi orang miskin tapi  masuk surga duluan?

Jawaban ahmad:
Mau jadi orang miskin saja

(tapi kok terus mikir)
“Kalau Ahmad nanti gajinya terlanjur banyak terus jadi kaya gimana mi?”

*****

Sebagaimana nasihat dari Rasulullah,
“Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian jangan melihat orang yang ada di atas kalian, itu lebih baik bagi kalian agar nikmat Allah tidak hilang dari kalian.”

*****

Sepertinya kita sebagai orangtua perlu mengajarkan pada anak-anak untuk lebih banyak “bergaul” dengan orang miskin, atau orang-orang yang kekurangan, atau orang yang “ada di bawah” kita. Bergaul dengan orang kaya, orang yang berlebih, orang yang “ada di atas” kita, kadangkala membuat anak-anak silau pada apa yang ada pada mereka, dan
menjadi sedikit rasa syukur pada apa yang dia miliki, nikmat yang selama ini Allah beri.

# Ketika anak kita naik sepeda, ajaklah dia melihat temannya yang cuma bisa jalan kaki, seharusnya dia bersyukur karena punya sepeda
# Ketika kita bepergian hanya sekedar naik motor, ajaklah dia melihat tetangga yang mau pake motor saja harus pinjam kesana-kemari, seharusnya kita bersyukur memiliki motor meskipun butut
# Ketika kita baru bisa tinggal di kontrakan, ajaklah dia melihat teman kita yang mau ngontrak rumah saja pusing cari hutangan, seharusnya kita bersyukur kita tak perlu merepotkan orang karena harus meminjam uang
# Ketika kita bisa makan setiap hari lengkap dengan lauk pauk sayur mayur dan buah-buahan yang segar, ajaklah dia melihat orang-orang disekitar kita, banyak diantara mereka makan beberapa suap nasi saja susah, bahkan berhari-hari tidak makan, kita harus bersyukur satu hari saja kita dalam keadaan kelaparan belum pernah.

Sayang sekali, banyak anak-anak malah malu berteman dengan orang yang kekurangan, padahal dari mereka kita belajar banyak-banyak bersyukur. Sayang sekali, banyak  anak-anak malah memilih berteman dengan orang-orang kaya, padahal dari mereka kita belajar meremehkan nikmat Allah dan lupa bersyukur. Lihatlah Rasulullah, lebih senang duduk-duduk bersama orang miskin, bahkan beliau juga miskin. Kalau kita tidak mau
berteman dengan orang miskin, jangan-jangan selama ini sebenarnya kita malu memiliki seorang nabi yang miskin?!

6 thoughts on “Pilih Kaya atau Miskin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s