Cerai…..


Hmmm tulisan ini terinspirasi dari kasus yang pernah membelit ahmad beberapa waktu lalu.

Untuk ke sekian kalinya ahmad merasa tertuduh. Oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan ibu-ibu komplek. Hehe..

Tersebar kabar bahwa ahmad memberitakan mamah si x cerai dari suaminya. Kata si pembawa pesan sih itu kata ibu-ibu di belakang sana, katanya mamah si x cerai. Sontak gerombolan ibu-ibu itu kaget dam terpana, *anak sekecil ini sudah tahu cerai*. Lantas siapa yang akhirnya mendapat nama buruk? Umminya pastinya. *tahu dari mana xoba kalau bukan dari orang tuanya*. Itulah kesimpulannya.

Mendengar cerita itu seorang ibu menginterogasi ahmad.
“ahmad, cerai itu apa?
“berpisah”
“kata siapa mamah x cerai sama papah x?”
“kan mamahnya x sama papahnya x tinggalnya berpisah”

Begitulah kurang lebihnya… Dan kemudian ahmad pun dinasihati jangan sekali-kali bilang begitu ya! Ga sopan..!

Kalau masalah sekedar berhenti sampai di situ tidak masalah. Masalahnya sahabat sang mamah x merasa bahwa si mamah x itu telah tercoreng nama baiknya.

Dan yang mengherankan…mereka mengambil hati celotehan anak kecil bernama ahmad. Ssst…gosip..gosip…

Taruhlah kalau itu benar ahmad mengucapkan demikian. Kalau tidak?? Berarti itu dzolim terhadap anak-anak. Sementara, jarang ibu-ibu ketika sengaja maupun tidak berbuat salah terhadap anak-anak di sekitar mereka lantas meminta maaf terhadap anak-anak tersebut. Parahnya, jarang ibu-ibu membersihkan nama baik anak-anak yang telah dia dzolimi dengan menuduh mereka sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Ah barudak kene… Begitu kan? Lantas bagaimana ada rumus orangtua salah ga masalah…??

Katanya sih benar lho ahmad bilang ke ibu-ibu kayak gitu. Meskipun begitu sang perawi berita tidak bisa menceritakan kronologisnya. Dan ketika dalam waktu yang berbeda-beda kutanyakan, ahmad selalu mengaku tidak melakukannya, dia bahkan sedih kenapa dia dituduh lagi..dituduh lagi..

Hayo…yang benar yang mana?

Pertama asas praduga tak bersalah. Kedua ibu-ibu juga tidak bisa memberikan bukti. Hanya katanya-katanya. Aku mau urus ke sumber berita juga buat apa gitu lhoh… Malah bisa merenggangkan hubungan bertetangga atau bahkan berpotensi mengadu domba. Karena jika ternyata terbukti mereka yang salah, aku kasihan pasti mereka malunya minta ampun…

Ketiga, kalaupun ahmad benar mengucapkan seperti itu.

Maka dari sisi mendengar dari mana ada beberapa wajhu dalalah:
1) umminya tak pernah menceritakan perihal si mamah papah yang bercerai. Kenal juga ga, punya kepentingan juga ga.. Ga ada faidahnya buat kami membuat gosip murahan seperti itu (bukan berarti kalau gosip “berkelas” itu dibolehin lho ya)
2) bisa jadi ahmad mendengar atau terlibat obrolan ala anak-anak dari teman sepermainannya.
3) kesimpulan ahmad sendiri berdasar daya kreasi pikirannya yang masih cetek ini.

Adapun dari sisi maksud ucapan maka ada beberapa wajhu dalalah:
1) analogi ahmad sendiri. Sampai sekarang ahmad baru tahu batasan bercerai sebatas “berpisah”. Terbukti dari jawaban dia ketika diinterogasi seorang ibu. Karena kebetulan si mamah dan papah tinggalnya beda atau pisah rumah (karena rumahnya dua, jadinya kadang disana kadang disini, kadang bareng kadang pisah, aslinya sih ga bercerai)
2) ahmad tidak bermaksud menyebar gosip apalagi menjatuhkan nama baik. Ahmad ngerti apa sih tentang gosip? Kok yakin ahmad tidak bermaksud begitu? Ya tahu lah, saya kan ibunya… Iih, meni aneh ibu-ibu omongan anak kecil dimasukin hati. Tong kitu teuing atuh bu-ibu..

Dari sisi alasan mengucapkan:
1) sekali lagi belum ada bukti akurat, jadi ada kemungkinan ahmad memang tidak mengucapkan itu
2) kalaupun mengucapkan, bisa jadi dalam kondisi ditanya-tanya. Di komplek ahmad memang sering jadi bahan ditanya-tanya, karena dia bisa aja jawabnya
3) atau dia mendengar slentingan entah dari ibu-ibu ketika mereka ngobrol, atau percakapan anak-anak ketika ngobrolin mamah papah mereka masing-masing. Dan ahmad yang tahu bahwa si mamah papah x ga tinggal bareng lantas menyimpulkan bercerai.
4) ga ada alasan sama sekali. Sekedar nyeletuk saja karena tiba-tiba “lewat di kepala” pada moment dan tempat yang salah

Nah. Bagaimana ahmad mengenal istilah cerai pertama kali? Apakah terlarang baginya mendapat penjelasan tentang cerai di usianya yang 6 tahun ini?

Entah sebuah kelebihan atau kekurangan, di usia 6 tahun ini, ahmad  banyak menggunakan kosa kata yang jarang digunakan oleh anak-seusianya pada umumnya. Bahkan kadang teman ummahat berkomentar, “wah, ahmad bahasanya itu lho”.

Apa kami yang mengajari dia agar memilih diksi tertentu? Tidak. Dia cepat menyerap bahasa dan istilah. Dan sering melakukan improvisasi dalam berkata-kata. Jika dia mendapatkan satu definisi kata atau istilah dia bisa menganalogikan pada beberapa kasus. Tentunya sebatas apa yang dipahaminya.

Seperti kata cerai. Kalau tidak salah ingat dia bertanya tentang cerai bermula dari ketidak sengajaan mendengar ustadz ketika kajian, lupa dari radio atau di masjid. Mungkin juga dia pernah membaca kisah atau terjemahan ayat atau hadits yang terdapat kata “bercerai”. Memang pada konteks pernikahan, bercerai maknanya lebih khusus dari berpisah, berpisah tidak menjadi suami istri lagi. Karena berpisah tidak mesti bercerai. Contoh yang pernah kuberikan pada ahmad, “kalau abi tugas ke jogja, ummi ditinggal di bandung, itu namanya berpisah, tapi tidak dikatakan bercerai”. Adapun pada kalimat “janganlah kalian bercerai-berai”, tentu dia lebih bisa menerima makna berpisah. Yang intinya, dia memahami bercerai itu kurang lebih berpisah.

Kami pribadi memandang andaikata ucapan itu benar adanya, maka kami cukup mengerti maksud ahmad. Dan tak perlu memberikan respon berlebihan. Apalagi sampai dimasukan ke hati. Seperti akhir-akhir ini dia sering berkomentar “ih, ummi ge-er”. Sayangnya dia selalu menempatkan kata ge-er pada kontak yang salah. Paling dijelaskan lagi makna dan tempat yang tepat ketika menggunakannya.

Berlebihan rasanya kalau sampai menjadikan ucapan ahmad ini sumber berita valid, sungguh akal orang dewasa telah hilang sebagiannya. Tinggal dijelaskan biar ahmad ga salah memahami dan menempatkan kata, kan lebih baik untuk semua pihak.

Aku tak kurang-kurangnya wanti-wanti ke ahmad. Karena dia cukup pintar berkata-kata maka aku tak pernah lupa berpesan agar dia hati-hati ketika mengucapkan sesuatu di luar rumah sana. Dia pun menyadari itu. Karena tak hanya satu dua yang menganggap ahmad masih sangat kecil dan tak pantas menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai anak-anak seusianya. Salah-salah si ahmad dianggap “kelainan”.

Beberapa kejadian yang dia alami berkaitan dengan interaksi dengan ibu-ibu, ahmad mengeluh karena sering dituduh. Masyaallah, anak sekecil ini sampai merasakan perasaan sedalam itu. Kalau teman-temannya, misal ditegur atau dipojokkan oleh ibu-ibu karena mainnya kelewatan, paling juga cuma didengar omelan si ibu itu, habis itu lupa. Tapi ahmad tidak!!! Kata-kata, komentar, bahkan tuduhan, membekas dalam hatinya. Aku yakin hatinya pun merasa sakit.

Apa aku harus memaksanya untuk bertingkah “normalnya” anak-anak seusianya? Padahal anak-anak jaman sekarang juga banyak yang ga normal. Apakah aku harus menutup mulutnya ketika dia bertanya tentang cerai itu apa, menikah, melahirkan itu bagaimana, dan semacamnya?

Jadi ibu-ibu, marilah kita bersikap bijaksana terhadap anak-anak kita, anak-anak tetangga kita, teman anak-anak kita. Mereka perlu bimbingan dari rumah dan lingkungannya. Anak-anak juga makhluk sosial. Anak-anak adalah makhluk kecil yang selalu bereksplorasi, dan ingin tahu banyak hal. Kita memberikan apa yang dia butuhkan dari rumah. Dan dia mendapatkan warna baru dari lingkungannya. Dan ibu-ibu adalah salah satu komponen dalam lingkungan sosial anak-anak. Ibu-ibu adalah makhkuk kedua yang sering ditemui anak-anak dalam lingkungan permainan mereka. Maka jadilah ibu yang bijaksana, yang cerdas, yang peduli dan empati, jangan sampai ibu-ibu justru menjadi oknum bullying bagi anak-anak di lingkungannya.

Semua anak yang ada disekitar kita tinggal juga anak-anak kita, kita berperan dalam melakukan kontrol norma di sekitar kita.

Semoga ini menjadi pengalaman berharga. Pelajaran mendidik anak sungguh luas medannya. Lingkungan adalah tempat belajar yang tiada habisnya.

5 thoughts on “Cerai…..

  1. buat mas ahmad, ayo segera pindah ke cibinong yaa.. dek khansa diajari bahasa arab biar ngga hanya sekedar tau kata “ladziiz” 😀

    memang banyak tipe emak2 mba rin, disini juga gitu.. ada tipe emak yg bisa maklum “namanya juga anak2” ,jadi kalo ada yg berantem or else ya dianggap wajar, tapi ada juga emak2 yg sukanya memperpanjang urusan anak2.. kriwikan dadi grojokan, bocahe wis lali, eh mbokne jek ngedumel, mudah2an kita ngga terkamsuk tipe yang kedua ya xixixi..

    sing sabar ya mbaa… ayo ndang pindah wae *hihi.. golek kanca*

  2. Kalo kayak gini, cuma bisa menasehati sabar sama diri sendiri dan si kecil. Makanya masih khawatir sofia main sendiri di luar, pasti ditemeni ana atau tante atau eyangnya

  3. kejadian kayak gini mungkin bisa dibilang “dimana-mana”. orang biasa salah mempersepsikan kabar yang didengarnya. secara teori, mereka kebanyakan tahu kalau tabayyun itu penting, tapi prakteknya masih harus sering diingatkan (termasuk saya hhe…)
    anak-anak emang capet banget nerima informasi baru ya umm… sayang banget kalo pas anak tanya, disuruh bungkam.
    yang sabar yaa ahmad dan ummu ahmad… :))

    pengen sekali-sekali ketemu ama ummu ahmad, tapi saya-nya ada kegiatan aja… hiksss…

  4. Maap ya ibu2. Bls komen by hp suka gagal. Maklum sinyal simpati d sebelah stadion lemooot bgt (woi telkomsel, protes nih). Jd dijawab jamaah aja. Jazakumullah khair atas perhatian semuanya dan doanya. Buat mb indri, insyaallah kita akan brtemu nanti pd waktunya. Buat dek muti, iya shofi msh perlu didampingi, klo ahmad dah ga mau ditemenin, klo umminya ikut main suka disuruh plg. Buat mb aristia, hayu main ke rmh sblm kami pindah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s