Sedihnya lebaran di rantau


Lebaran hari ke-sekian, mbah uti nelpon ahmad…

Ahmad: “mbah, ahmad sedih lebaran ga mudik, ga ada yang ngunjungi”

Mbahnya: “terus?”

Ahmad: “Jadi kuenya dimakan sendiri”

Hahaha….. (terdengar tawa riuh di seberang sana)

***

*umminya dah serius dengerin telponnya, kirain bakal ada cerita yang mengharukan, ternyata….*

Iklan

Berpikir logis ala anak-anak


Pernah dengar kalau anak kecil itu sebaiknya ditekankan untuk lebih banyak menghapal, bukan lebih banyak berpikir logis??. Karena usia kecil ketajaman hapalan anak-anak sangat bagus, maka sangat baik untuk diberikan porsi menghapal lebih banyak. Sedangkan untuk berpikir logis itu alami sesuai dengan perkembangan usia.

Tapi herannya ahmad… dia lebih mudah berpikir logis dan rada malas menghapal. Hehe… Kalau anak malas ngapal, jangan komplain anaknya dong, salahkan orangtuanya! Hehehe….

Sudah satu paket, apapun keadaan ahmad kami terima dengan senang hati alhamdulillah… Kelebihan dan kekurangannya. Lha wong orangtuanya juga begini banyak kekurangannya…

Akhir2 ini, ahmad makin bervariasi pertanyaannya, seiring dengan level berpikir logisnya… sayang sekali ga saya catat apa saja pertanyaan2nya. Padahal banyak yang belum terjawab.

Contohnya:  bijaksana itu apa sih mi?
(Hehe, bingung saya jelasinnya)

Pertanyaan2 dadakan sering terlontar saat menjelang tidur. Kayaknya, dalam keadaan mau tidur itu memorinya mereview kembali apa yang pernah dia baca, alami, dengar, dan temui… Ketika ada sesuatu yang mengganjal dia pun baru teringat untuk bertanya. Kalau rasa penasarannya terjawab, barangkali dia bisa tidur nyenyak… hehe.

Seperti halnya anak2 pada umumnya, ahmad juga bisa menarik silogisme dari premis2 yang dia temui. Seperti misalnya, ketika umminya tidur terus (maklum, bawaan hamil, ngantuk aja bawaannya, hehe membela diri), ahmad menyimpulkan, “jangan2 ummi kena penyakit tidur nih, soalnya ada lalat yang kalau menggigit jadi tidur terus”. Hahaha…. silogisme yang konyol!!! Entahlah dia baca dari mana fakta itu. Katanya dari salah satu ensiklopedi, tapi dia pun ga begitu yakin. Makanya dengan rendah hati dia bilang, “maaf ya mi, kalau ahmad salah ingat”. Hahaha…. dia kawatir salah vonis tuh!

Atau yg ini: dia berpikir ketika umminya melahirkan, otomatis umminya akan sibuk mengurus adek bayi, sehingga ga ada yang mengurus ahmad. Jd dia membuat silogisme “sebaiknya abi cari istri baru, biar ummi ngurus adek bayi, ummi baru ngurus ahmad”. Ini silogisme yang menguntungkan abinya tentunya, dan menyengsarakan batin umminya… hahaha… *kayaknya abinya ahmad masih mikir 1150x utk poligami*

Begitulah sedikit contoh konyolnya pikiran2 logis ahmad…

Jadi, temans…. kalau anda ingin anak anda tidak berpikiran konyol seperti ahmad, sebaiknya ajarilah menghapal sebanyak2nya…*senyum*

Masih seperti yang dulu…


Eleuh… kaya judul lagu. Ini tentang ahmad. Ya, ahmad memang masih seperti yang dulu. Masih kecil mungil badannya, masih ngulang2 juz 30 hapalannya… hahaha…*parah kalau ini*

Ga papa. Sekarang lagi jalanin program abi, hapalin 3 baris sehari. Kalau satu halaman 15 baris, berarti 5 hari 1 halaman. Anggap saja 1 halaman 1 minggu. 1 juz ada 10 lembar atau 20 halaman. Berarti 1 juz butuh 20 minggu atau 5 bulan. Berarti setahun 2 juz. Lulus SD kalau bisa hapal 12 juz, syukur2 15 juz. Lulus SMP moga2 hapal 30 juz. Halah…. ngimpi….!!! Aamiin… Doa gitu lho!!! moga2 lancar dan umminya (dan abinya) juga serius.

Ngomong2 soal “masih seperti yang dulu”, memang begitulah adanya ahmad. Meskipun ahmad hampir 7 th, ahmad masih polos dan lugu seperti dulu. Masih cerewet, masih suka ngeyel (hehe), masih suka cerita, masih tidur sama umminya, masih dibantuin segala macamnya…

Ahmad masih suka baca, alhamdulillah. Majalah baru ga sampai 1 hari habis dibacanya… dia ngeluh karena buku kisah semua sudah dibacanya *pengakuannya*, ngeluh karena ga ada majalah dan buku-baru.  Dia masih suka berteman. Merana rasanya sehari ga keluar main sama teman-temannya. Masih suka di depan komputer. Porsi di depan komputer, di depan tablet, dan ngenet masih terlalu banyak. Jangan salahkan umminya, tapi abinya! Hahaha…. *piss, abi!*

Yang jelas, ahmad masih mau HS. Alhamdulillah… semoga program ini selalu seiya sekata… jadi lebih mudah bagi kami untuk melaluinya…

Belajar merangkak…..


Beberapa bulan ini HS kami tak tentu arah. Seperti tips nomor 8, adakalanya HS itu naik turun. Maka solusinya adalah mencari penyebabnya dan memperbaikinya

1. Sibuk pindahan

Sebelum pindahan ke cibinong, kami memang dipenuhi banyak kesibukan. Sudah pindah, masih sibuk beberes. Sudah selese beberes, harusnya sudah tidak ada alasan terlalu sibuk untuk melanjutkan HS kan? hehe

2. Hamil

Persis sebelum pindahan, qadarallah saya hamil. Kayaknya ini hadiah pindahan. Abinya ahmad memang naik jabatan, tapi sejatinya itu bukan hadiah, melainkan musibah. Hadiah yang sebenarnya adalah kehamilan ke-5 saya ini…(moga2 kali ini sehat, lancar, lahir selamat).  Mual2, mabok, sakit-sakitan, sampai ambruk… Boro2 mikirin HS, anak anteng ga rewel sudah sangat membantu… Sekarang sudah usia 3 bln, keluhan2 sudah berkurang, badan juga mulai sehat, makan sudah mulai enak. Jadi ga ada alasan untuk tidak bersemangat HS kan? Hahaha…. *nyindir diri sendiri*

3. Suami sibuk

Beberapa waktu sebelum pindahan suami sibuk ngejar thesis, juga sibuk ngurusi tender, n calon kantor baru di cibinong. Sampai ga sempat bercanda… apalagi membantu istri (dlm hal ngurusi HSnya ahmad)…. *ah yang bener???* Hahaha….

4. Sakit-sakitan

Qadarallah beberapa waktu akhir2 ini ahmad lumayan sering sakit-sakitan. Demam, batuk, pilek, sakit perut, ga enak badan… sakit sedikit saja ahmad bisa libur beberapa lama. Kebanyakan liburnya daripada belajarnya… hehe…

Sekarang, kami ibarat belajar merangkak… kalau sudah kuat semoga bisa bediri, berjalan, dan berlari…

Mau HS? Mulai Saja!


Jika ada teman yang bertanya bagaimana kami memulai HS. Maka jawabannya adalah: mulai saja!

Terlalu banyak berteori malah membuat kita tak segera memulai. Terlalu banyak kawatir, malah membuat kita semakin ragu. Terlalu banyak berpikir idealis malah membuat kita jalan di tempat.

Berikut tips dari saya untuk teman2 yang ingin memulai HS:

1. Mengenal HS

Sebelum orangtua memutuskan sang orangtua sebaiknya tahu lebih dulu apa itu HS. Maka mengenal hakikat HS itu penting

2. Mencari informasi pendukung HS

Setelah mengenal HS, kita perlu mencari informasi seputar HS. Seperti legalitas, komunitas, PKBM, metode, dan syarat serta prosedur ketika akan menempuh ujian penyetaraan. Informasi pendukung lain yg semakin memantapkan niat HS jg perlu. Jangan mencari2 informasi yang akan membuat kita semakin pesimis terhadap HS.

3. Mencari informasi seputar kurikulum yang akan kita pakai

Terus terang, awalnya saya juga belum ada gambaran kurikulum seperti apa yang akan dipakai. Dengan membaca dan bertanya kita lama2 punya gambaran tentang jenis2 kurikulum pendidikan. Tidak mesti harus kurikulum yang keren, tapi yang terpenting adalah kurikulum yang anak kita butuhkan.

4. Kenali karakteristik anak

Kita perlu mengenal karakter anak untuk bisa menentukan kurikulum yang paling tepat untuknya, metode yang paling pas untuknya, dan langkah antisipatif untuk mengatasi kekurangannya. Bahkan kelebihan anak kita adalah modal untuk memaksimalkan proses dan tujuan kita.

5. Menyediakan bahan2 untuk belajar dan fasilitas yang diperlukan

Tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Tak harus menunggu lengkap segala sesuatunya. Tapi kita bisa memulai dari yang sederhana. Sedikit yang kita miliki itu lebih baik jika kita memang bisa memanfaatkannya.

6. Orangtua siap

Khususnya istri. Karena hemat saya, istri lah yang akan lebih banyak mengeksekusi jalannya HS. Dan suami harus menjadi pendukung dan pembantu yang baik. Idealnya proses HS membutuhkan kerjasama yg solid antara suami istri, pasti akan ada saat2 dimana suami istri saling berganti peran. Jika suami kita sibuk, minimal dia harus jadi motivator dan fasilitator yang baik. Oya, jangan pernah berpikir bahwa utk menjadi pelaku HS kita harus menjadi seperti guru di sekolah atau mentor di lembaga bimbingan belajar, apalagi berpikir bahwa kita minimal harus sekelas mereka.

7. Dukungan keluarga besar

Banyak HS gagal karena tidak didukung oleh keluarga besar. Bahkan sejak HS belum dimulai! Ini perlu, tapi tidak harus. Dukungan mereka insyaallah akan semakin membantu proses HS. Tapi ketika keluarga besar tidak setuju, kita tidak lantas menyerah. Keluarga lebih banyak membutuhkan bukti tentang pilihan kita, ketika kita bisa membuktikan bahwa pilihan tsb adalah yang terbaik maka keluarga akan cukup merasa tenang. Kita berharap mereka tidak “terlalu mengganggu” proses yang sedang kita lalui dan tujuan yang sedang dan akan kita raih.

8. Naik turun

Dalam perjalanannya, bisa jadi HS tidak seindah yang kita bayangkan, tidak selancar yang kita harapkan,dan tidak sesempurna yang kita cita-citakan. Adakalanya naik turun. Itu wajar. Ketika down, bukan berarti HS kita sudah diambang kegagalan. Temukan penyebabnya dan perlahan memperbaikinya. Kami juga sering mengalaminya…

8. Jangan membanding-bandingkan

Entah itu antara sekolah, pondok, HS. Atau antara keluarga si x dan si z. Atau antara anak kita dan anak orang lain. Yang diperlukan adalah ketika sekolah atau pondok bisa begitu baik, maka HS pun insyaallah sebenarnya bisa, bahkan bisa jd yang terbaik untuk anak dan keluarga kita. Ketika keluarga lain anak lain bisa, maka keluarga kita dan anak kita pun sebenarnya punya peluang yang sama. Pihak luar adalah motivator… pernah dengar ungkapan ini? “Anak kita tidak bersaing dengan mereka, tapi berkolaborasi dengan mereka”

9. HS bukan harga mati

Adakalanya seseorang memilih HS karena itulah yang dianggap terbaik untuk anak dan keluarga mereka. Tapi kadang juga karena memang tidak ada pilihan lain. Kita berhak membuat pilihan lain dan mengubah pilihan kita. Dalam islam,bukan masalah sekolahlah yang terbaik, pondoklah yang terbaik, HS lah yang terbaik….tapi “tetap menuntut ilmu” itu lah yang terbaik. Menuntut ilmu (syar’i) adalah wajib bagi muslimin dan muslimah…

10. Berusaha, bersabar, dan tawakkal, serta ikhlas.

Inilah kekuatan sebenarnya dari proses HS. Berusaha, dengan berani memulai, dan terus mengembangkannya. Bersabar ketika terjadi apapun dalam proses HS kita. Dan tawakkal, karena hanya Dia lah yang mampu memberi kekuatan kepada kita, apapun yang terjadi dalam proses HS kita, itulah yang terbaik dari Allah. Seringkali hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang Allah berikan. Tak jarang mungkin kita merasa bahwa kita telah berusaha sedemikian keras tapi hasilnya seperti tak seberapa. Ingatlah, bahwa Allah menilai keikhlasan kita selama prosesnya. Mendidik anak adalah kewajiban orangtua. Apa tujuan kita mendidik mereka? Tak lain adalah ikhlas karena Allah…

Pindah ke cibinong


Hai tmn2… apa kabar? Ketemu lg di rumahkusekolahku. Lama bgt ya ga ngeblog… hehe.. brp bln ya? *ngitung dulu*

Sebenarnya sudah satu-dua bulan ini langganan inet lagi, tapi masih sibuk n mentok mau ngeblog. Hehe gaya banget sok sibuk… *sibuk mual2 maksudnya??*.

Juni lalu, keluarga kami pindah ke cibinong. Ya apa mau dikata, suami pindah kerja disini. Padahal kalau disuruh milih, aku pilih bandung aja. Setelah dijalani di sini siapa tahu pilihan berubah.. hehe

Kesan pertama

Begitu pindah ke cibinong, kesan pertama adalah “PANAS”. Benar2 panas. Awal2 disini, bisa mandi 3-4 kali. Rekor dahh…

Kesan kedua

waduh, anak2 ngomongnya parah…b**o lu! Go**ok lu! To**l lu! Anj***! Sampe salah satu penghuni kebon binatang berkeliaran seenaknya (padahal belum pernah lihat tuh ada anjing di kebon binatang, kkk). Sampe2 ahmad protes, “mi, anak2 ngomongnya kok pada kasar, udah dinasihatin ahmad tapi tetap aja begitu!”..

Kesan ketiga

susahnya mau cari dokter yang speknya sesuai dengan kebutuhan… di bandung kan lengkap… ada dr setyorini (konsulen fetomaternal), dr heri fadjari (hematologist), dr budi spA (ahli imunologi n alergi) , dr sri endah spA (kardiolog anak), ada teh wiwit (istri teman suami, dokter mata langganan yg selalu setia menjawab berbagai pertanyaan n banyak mmberi bantuan).. disini serasa dilempar jauh k pedalaman… haha…

Kesan keempat

Ga kayak dibandung… disini semua serba dekat dari kontrakan, dekat pasar, giant, superindo, carefour, ramayana, robinson, ke kantor abi juga dekat.. kajian jg lumayan dekat n bisa terjangkau lah… dll.. maklum cibinong kan pusat kota meskipun termasuk kota kecil… tapi kan kebutuhan kita ga cuma belanja…

Kesan kelima

Mau tak mau sepertinya memang harus serius HS. Pernah googling, ada pkbm dekat sini. Lumayan… Krn disini ga ada SDIT salaf, ada pun jauh (di bogor atau cileungsi), dan ga mungkin rasanya sekolah di SD umum, jd HS insyaallah dilanjut. Moga2 bisa semangat lagi melanjutkan HSnya. Soalnya dah beberapa bulan ini karena banyak hal ahmad banyak vakum dan kegiatannya acak-acakan… yang pantas disalahin ya umminya pasti… Karena kantor abi dekat, jadi bisa sering diajak ngantor. Kayaknya seru tuh bisa berkeliling CSC, melihat2 semua puslit dg segala isinya. Ahmad adalah karyawan lipi termuda…. hehe…. ga ding, bercanda…

Segitu aja lah kesannya….
nanti mual bacanya… hahaha…

The next post insyaallah akan bercerita seputar ahmad, aktor utama blog ini…