Mau HS? Mulai Saja!


Jika ada teman yang bertanya bagaimana kami memulai HS. Maka jawabannya adalah: mulai saja!

Terlalu banyak berteori malah membuat kita tak segera memulai. Terlalu banyak kawatir, malah membuat kita semakin ragu. Terlalu banyak berpikir idealis malah membuat kita jalan di tempat.

Berikut tips dari saya untuk teman2 yang ingin memulai HS:

1. Mengenal HS

Sebelum orangtua memutuskan sang orangtua sebaiknya tahu lebih dulu apa itu HS. Maka mengenal hakikat HS itu penting

2. Mencari informasi pendukung HS

Setelah mengenal HS, kita perlu mencari informasi seputar HS. Seperti legalitas, komunitas, PKBM, metode, dan syarat serta prosedur ketika akan menempuh ujian penyetaraan. Informasi pendukung lain yg semakin memantapkan niat HS jg perlu. Jangan mencari2 informasi yang akan membuat kita semakin pesimis terhadap HS.

3. Mencari informasi seputar kurikulum yang akan kita pakai

Terus terang, awalnya saya juga belum ada gambaran kurikulum seperti apa yang akan dipakai. Dengan membaca dan bertanya kita lama2 punya gambaran tentang jenis2 kurikulum pendidikan. Tidak mesti harus kurikulum yang keren, tapi yang terpenting adalah kurikulum yang anak kita butuhkan.

4. Kenali karakteristik anak

Kita perlu mengenal karakter anak untuk bisa menentukan kurikulum yang paling tepat untuknya, metode yang paling pas untuknya, dan langkah antisipatif untuk mengatasi kekurangannya. Bahkan kelebihan anak kita adalah modal untuk memaksimalkan proses dan tujuan kita.

5. Menyediakan bahan2 untuk belajar dan fasilitas yang diperlukan

Tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Tak harus menunggu lengkap segala sesuatunya. Tapi kita bisa memulai dari yang sederhana. Sedikit yang kita miliki itu lebih baik jika kita memang bisa memanfaatkannya.

6. Orangtua siap

Khususnya istri. Karena hemat saya, istri lah yang akan lebih banyak mengeksekusi jalannya HS. Dan suami harus menjadi pendukung dan pembantu yang baik. Idealnya proses HS membutuhkan kerjasama yg solid antara suami istri, pasti akan ada saat2 dimana suami istri saling berganti peran. Jika suami kita sibuk, minimal dia harus jadi motivator dan fasilitator yang baik. Oya, jangan pernah berpikir bahwa utk menjadi pelaku HS kita harus menjadi seperti guru di sekolah atau mentor di lembaga bimbingan belajar, apalagi berpikir bahwa kita minimal harus sekelas mereka.

7. Dukungan keluarga besar

Banyak HS gagal karena tidak didukung oleh keluarga besar. Bahkan sejak HS belum dimulai! Ini perlu, tapi tidak harus. Dukungan mereka insyaallah akan semakin membantu proses HS. Tapi ketika keluarga besar tidak setuju, kita tidak lantas menyerah. Keluarga lebih banyak membutuhkan bukti tentang pilihan kita, ketika kita bisa membuktikan bahwa pilihan tsb adalah yang terbaik maka keluarga akan cukup merasa tenang. Kita berharap mereka tidak “terlalu mengganggu” proses yang sedang kita lalui dan tujuan yang sedang dan akan kita raih.

8. Naik turun

Dalam perjalanannya, bisa jadi HS tidak seindah yang kita bayangkan, tidak selancar yang kita harapkan,dan tidak sesempurna yang kita cita-citakan. Adakalanya naik turun. Itu wajar. Ketika down, bukan berarti HS kita sudah diambang kegagalan. Temukan penyebabnya dan perlahan memperbaikinya. Kami juga sering mengalaminya…

8. Jangan membanding-bandingkan

Entah itu antara sekolah, pondok, HS. Atau antara keluarga si x dan si z. Atau antara anak kita dan anak orang lain. Yang diperlukan adalah ketika sekolah atau pondok bisa begitu baik, maka HS pun insyaallah sebenarnya bisa, bahkan bisa jd yang terbaik untuk anak dan keluarga kita. Ketika keluarga lain anak lain bisa, maka keluarga kita dan anak kita pun sebenarnya punya peluang yang sama. Pihak luar adalah motivator… pernah dengar ungkapan ini? “Anak kita tidak bersaing dengan mereka, tapi berkolaborasi dengan mereka”

9. HS bukan harga mati

Adakalanya seseorang memilih HS karena itulah yang dianggap terbaik untuk anak dan keluarga mereka. Tapi kadang juga karena memang tidak ada pilihan lain. Kita berhak membuat pilihan lain dan mengubah pilihan kita. Dalam islam,bukan masalah sekolahlah yang terbaik, pondoklah yang terbaik, HS lah yang terbaik….tapi “tetap menuntut ilmu” itu lah yang terbaik. Menuntut ilmu (syar’i) adalah wajib bagi muslimin dan muslimah…

10. Berusaha, bersabar, dan tawakkal, serta ikhlas.

Inilah kekuatan sebenarnya dari proses HS. Berusaha, dengan berani memulai, dan terus mengembangkannya. Bersabar ketika terjadi apapun dalam proses HS kita. Dan tawakkal, karena hanya Dia lah yang mampu memberi kekuatan kepada kita, apapun yang terjadi dalam proses HS kita, itulah yang terbaik dari Allah. Seringkali hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang Allah berikan. Tak jarang mungkin kita merasa bahwa kita telah berusaha sedemikian keras tapi hasilnya seperti tak seberapa. Ingatlah, bahwa Allah menilai keikhlasan kita selama prosesnya. Mendidik anak adalah kewajiban orangtua. Apa tujuan kita mendidik mereka? Tak lain adalah ikhlas karena Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s