Nihongo on progress


Kui bener pora yo nulis judule.. hehehe…
Beberapa bulan sebelum kami nyusul ke Kyoto, kami berencana les bahasa Jepang di kampung sebelah kampung saya. Alhamdulillah waktu itu nemu tempat les meski kelasnya kampung, tapi malah enak buat saya, fleksibel banget karena bisa janjian kapan berangkat kapan libur, boleh bawa anak (Maryam), disediakan mainan, bahkan boleh numpang beol pula di tempat les.. wkkk. Tak jarang sensei nungguin Maryam anteng ga rewel dulu baru lanjut ngajar. Maklum anak 2,5 th disuruh duduk manis nunggu emaknya sekolah kan ga sabar.
Rencana waktu itu kami akan les 2 paket, masing2 paket sekitar 1,5 bulan, masuk seminggu 3x. Karena ini les privat pertama sensei dengan peserta seorang emak dan anaknya yang masih 10 th, sensei pun belum punya modul khusus untuk kami pakai. Alhasil kami pakai buku yang biasa dipakai sensei ngajar peserta yang mau magang ke Jepang, ditambah materi yang kira2 bakal kami perlukan. Tapi rencana tinggal rencana, karena berbagai hal les hanya bisa berjalan 1 paket. Yaaah, lumayan lah minimal emaknya ini belajar cara baca tulis hiragana dan katakana, dan beberapa percakapan  sederhana. Biar ga malu2in banget gitu masa mau minta maaf bilangnya arigatou, pagi2 ketemu orang di jalan ucapin oyasumi.. wkkkk . 
Pas les, tentu saja saya lebih cepat dari ahmad dalam menghapal hiragana dan katakana, bahkan sedikit bisa baca. Ahmad lebih banyak nge-game soalnya jadi ga hapal2. Tapi setelah sekian bulan les berhenti dan saya ga pernah buka lagi buku les, menguap deh semua, bahkan hiragana saja saya banyak yang lupa. Saya sudah sempat mikir, Ahmad yang belajarnya malesnya minta ampun gimana nanti ngejar pelajaran di sekolah.
Hampir sebulan Ahmad sekolah, dan selama itu pula dia berhadapan langsung dengan bahasa Jepang. Awal-awal memang dia ngaku ga mudeng sensei dan teman2nya pada ngomong apa. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa menangkap sedikit demi sedikit bahkan bisa sedikit ngobrol dengan temannya. Karena dalam kondisi mau tak mau harus menggunakan bahasa Jepang, otomatis hiragana katakana pun hapal dengan sendirinya, dan kosakata pun mulai bertambah. 
Ahmad disarankan untuk banyak bermain dengan teman2 Jepangnya agar bahasanya bisa berkembang. Itu cara paling mengasyikkan dan cukup efektif untuk melatih bahasa.
Kekhawatiran mesti ada saja, bagaimana kalau dia tidak maksimal dalam pelajaran karena kelas 4 ke atas sudah susah pelajarannya, terutama kanjinya. Resiko masuk di tengah2 ya kayak gini, harus ngejar banyak. Tapi apapun lah, serahkan saja pada Ahmad. Asalkan ga mbeler2 amat insyaallah bisa. 
Saya sih belum survei, bagaimana kemampuan anak asing disini dalam mengatasi kendala bahasa, katanya sih dalam 3 bulan anak2 asing rata2 mulai menunjukkan bisa berbahasa Jepang. Ini masih 1 bulan, dan Ahmad sudah menunjukkan progresnya. Mari kita lihat 2 bulan lagi! Semoga semakin baik perkembangannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s