Apa kabar homeschooling?


Ternyata berkomitmen untuk homeschooling tidak mudah. Tak akan berpanjang-panjang, yang jelas sampai saat ini Ahmad masih belum sekolah, masih homeschooling meski beginilah ala kadarnya. Apa boleh buat sudah terlanjur jauh begini … Kita lanjutkan.. hehehe

Sebenarnya mungkin tidak akan benar2 berlanjut, karena insyaallah kami akan menyusul suami ke Jepang, jadi Ahmad rencana akan sekolah disana. Karena beberapa pertimbangan Ahmad insyaallah akan mencoba sekolah. Karena kami benar2 tidak tahu prosedur HS di Jepang, dan karena sudah kacaunya HS Ahmad, semoga back to school bisa menjadi solusi terbaik. Tentu banyak tantangan Ahmad nanti karena dia sudah 10 tahun, masuk SD Jepang tidak dari awal kelas 1. Kami juga mempunyai masalah dengan kedisiplinan, semoga Ahmad bisa belajar disiplin pada anak2 Jepang nanti.

Sebagai orang tua kami juga yang secara tidak sadar sudah mengorbankan Ahmad dalam situasi ini. Karena emaknya yang tidak becus mendidik, HS Ahmad jadi kacau balau. Karena abinya studi di Jepang, Ahmad pun harus mengubah jalan hidupnya :)… Semoga nanti tidak hanya Abi yang belajar disana, tapi Ahmad, Maryam, dan emaknya pun bisa belajar banyak.

Banyak hal yang harus dimulai dari awal, banyak hal yang harus diubah total. Mungkin dengan ke Jepang kami jadi tersadar alangkah banyak hal yang selama ini tidak kami seriusi, baru sadar ketika kami harus pergi jauh ke negri seberang, baru kami bayangkan akan seperti apa kerasnya kehidupan disana. Tentu akan banyak hal yang berbeda dari indonesia, dan banyak hal yang berseberangan dengan islam. Semoga kami bisa melaluinya dengan sebaik-baiknya. Aamiin

Iklan

Belajar matematika di warung soto


Kami sekarang punya langganan rumah makan lumayan enak. Soto kudus… meskipun mereknya soto kudus tapi yang punya orang kebumen. Masih tetangga kampung.

Dari sisi rasa ga identik dengan soto kebumen. Pantes lah disebut soto kudus… karena meskipun yang punya orang kebumen tapi yang meracik bumbu orang “nDemak”… pake “n” ya, biar sensasi pengucapannya pas…ndemak…Hehe…

Sudah 2x kami makan disitu. Sengaja ga dibawa pulang biar rasanya lebih enak. Hehe…

Pas kedua kalinya kami makan disitu, ahmad lihat-lihat harganya… dan dia ngitung habis berapa kami makan. Soto nasi campur 10000, soto nasi pisah 11000, pelengkapnya perkedel 1500, sate telor puyuh 2500, sate paru 2×2500, es jeruk 2×6000, kerupuk 1000. Dengan bantuan abi, ahmad berhasil ngitung habisnya 43000… yeah…. tumben bener ngitungnya… pake lima ratusan segala kan rada mbulet…

Ahmad belajar matematika di warung soto…kkkk

Lalat tsetse afrika


Ngomong-ngomong soal lalat nih….Lalat ada berbagai jenis dan ada dimana-mana. Mereka mempunyai sepasang sayap untuk terbang. Sayap belakangnya yang kecil hanya untuk menjaga keseimbangan. Lalat membantu penyerbukan tumbuhan dengan cara membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lainnya. Namun ada juga lalat yang membawa penyakit.

Berikut ini beberapa macam lalat:

# Lalat apung atau lalat bunga
Disebut demikian karena sering terbang melayang di sekeliling bunga. Garis di tubuhnya mirip dengan tawon

# Lalat hijau dan lalat rumah
Mereka memakan semua jenis makanan. Mereka punya indera perasa di kaki mereka yang membantu mereka apakah makanan itu bisa dimakan.

# Lalat tsetse afrika
Lalat ini membawa penyakit tidur. Mereka menyebarkan penyakit dari hewan liar ke manusia dan ternak dengan cara mnnggigit dan menghisap darah korbannya.

# Lalat kotoran
Seperti semua lalat lainnya, dia memulai hidup sebagai larva yang hidup di dalam kotoran hewan. Mereka memakan dan menghabiskan kotoran tersebut… *hiii…. jijiknya*

Ternyata benar kata ahmad, ada lalat yang bisa menyebabkan penyakit tidur. Tapi insyaallah umminya ahmad lagi hobi tidur bukan karena gigitan lalat Tsetse ini, apalagi lalatnya jauh-jauh datang dari afrika, tapi karena memang bawaan bayi… hehe… *alibi*

Anak-anak memang tajam ya ingatannya… kirain waktu ahmad “ngata-ngatain” umminya tidur mulu karena digigit lalat ahmad ngomong sembarangan. Ternyata dia tahu fakta lalat penyebab penyakit tidur dari sebuah ensiklopedi..

Informasi lalat ini diperoleh dari sumber:
Ensiklopedia Mini (erlangga for kids), halalaman 220

Mau HS? Mulai Saja!


Jika ada teman yang bertanya bagaimana kami memulai HS. Maka jawabannya adalah: mulai saja!

Terlalu banyak berteori malah membuat kita tak segera memulai. Terlalu banyak kawatir, malah membuat kita semakin ragu. Terlalu banyak berpikir idealis malah membuat kita jalan di tempat.

Berikut tips dari saya untuk teman2 yang ingin memulai HS:

1. Mengenal HS

Sebelum orangtua memutuskan sang orangtua sebaiknya tahu lebih dulu apa itu HS. Maka mengenal hakikat HS itu penting

2. Mencari informasi pendukung HS

Setelah mengenal HS, kita perlu mencari informasi seputar HS. Seperti legalitas, komunitas, PKBM, metode, dan syarat serta prosedur ketika akan menempuh ujian penyetaraan. Informasi pendukung lain yg semakin memantapkan niat HS jg perlu. Jangan mencari2 informasi yang akan membuat kita semakin pesimis terhadap HS.

3. Mencari informasi seputar kurikulum yang akan kita pakai

Terus terang, awalnya saya juga belum ada gambaran kurikulum seperti apa yang akan dipakai. Dengan membaca dan bertanya kita lama2 punya gambaran tentang jenis2 kurikulum pendidikan. Tidak mesti harus kurikulum yang keren, tapi yang terpenting adalah kurikulum yang anak kita butuhkan.

4. Kenali karakteristik anak

Kita perlu mengenal karakter anak untuk bisa menentukan kurikulum yang paling tepat untuknya, metode yang paling pas untuknya, dan langkah antisipatif untuk mengatasi kekurangannya. Bahkan kelebihan anak kita adalah modal untuk memaksimalkan proses dan tujuan kita.

5. Menyediakan bahan2 untuk belajar dan fasilitas yang diperlukan

Tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Tak harus menunggu lengkap segala sesuatunya. Tapi kita bisa memulai dari yang sederhana. Sedikit yang kita miliki itu lebih baik jika kita memang bisa memanfaatkannya.

6. Orangtua siap

Khususnya istri. Karena hemat saya, istri lah yang akan lebih banyak mengeksekusi jalannya HS. Dan suami harus menjadi pendukung dan pembantu yang baik. Idealnya proses HS membutuhkan kerjasama yg solid antara suami istri, pasti akan ada saat2 dimana suami istri saling berganti peran. Jika suami kita sibuk, minimal dia harus jadi motivator dan fasilitator yang baik. Oya, jangan pernah berpikir bahwa utk menjadi pelaku HS kita harus menjadi seperti guru di sekolah atau mentor di lembaga bimbingan belajar, apalagi berpikir bahwa kita minimal harus sekelas mereka.

7. Dukungan keluarga besar

Banyak HS gagal karena tidak didukung oleh keluarga besar. Bahkan sejak HS belum dimulai! Ini perlu, tapi tidak harus. Dukungan mereka insyaallah akan semakin membantu proses HS. Tapi ketika keluarga besar tidak setuju, kita tidak lantas menyerah. Keluarga lebih banyak membutuhkan bukti tentang pilihan kita, ketika kita bisa membuktikan bahwa pilihan tsb adalah yang terbaik maka keluarga akan cukup merasa tenang. Kita berharap mereka tidak “terlalu mengganggu” proses yang sedang kita lalui dan tujuan yang sedang dan akan kita raih.

8. Naik turun

Dalam perjalanannya, bisa jadi HS tidak seindah yang kita bayangkan, tidak selancar yang kita harapkan,dan tidak sesempurna yang kita cita-citakan. Adakalanya naik turun. Itu wajar. Ketika down, bukan berarti HS kita sudah diambang kegagalan. Temukan penyebabnya dan perlahan memperbaikinya. Kami juga sering mengalaminya…

8. Jangan membanding-bandingkan

Entah itu antara sekolah, pondok, HS. Atau antara keluarga si x dan si z. Atau antara anak kita dan anak orang lain. Yang diperlukan adalah ketika sekolah atau pondok bisa begitu baik, maka HS pun insyaallah sebenarnya bisa, bahkan bisa jd yang terbaik untuk anak dan keluarga kita. Ketika keluarga lain anak lain bisa, maka keluarga kita dan anak kita pun sebenarnya punya peluang yang sama. Pihak luar adalah motivator… pernah dengar ungkapan ini? “Anak kita tidak bersaing dengan mereka, tapi berkolaborasi dengan mereka”

9. HS bukan harga mati

Adakalanya seseorang memilih HS karena itulah yang dianggap terbaik untuk anak dan keluarga mereka. Tapi kadang juga karena memang tidak ada pilihan lain. Kita berhak membuat pilihan lain dan mengubah pilihan kita. Dalam islam,bukan masalah sekolahlah yang terbaik, pondoklah yang terbaik, HS lah yang terbaik….tapi “tetap menuntut ilmu” itu lah yang terbaik. Menuntut ilmu (syar’i) adalah wajib bagi muslimin dan muslimah…

10. Berusaha, bersabar, dan tawakkal, serta ikhlas.

Inilah kekuatan sebenarnya dari proses HS. Berusaha, dengan berani memulai, dan terus mengembangkannya. Bersabar ketika terjadi apapun dalam proses HS kita. Dan tawakkal, karena hanya Dia lah yang mampu memberi kekuatan kepada kita, apapun yang terjadi dalam proses HS kita, itulah yang terbaik dari Allah. Seringkali hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang Allah berikan. Tak jarang mungkin kita merasa bahwa kita telah berusaha sedemikian keras tapi hasilnya seperti tak seberapa. Ingatlah, bahwa Allah menilai keikhlasan kita selama prosesnya. Mendidik anak adalah kewajiban orangtua. Apa tujuan kita mendidik mereka? Tak lain adalah ikhlas karena Allah…

Enaknya sekolah rumah (1)


Saat musim hujan seperti sekarang ini, hujan sering turun di waktu-waktu yang tidak diinginkan, pagi pas jam berangkat sekolah, atau siang dan sore pas jam pulang sekolah.

Kalau jaman aku kecil sih malah senang kalau hujan turun. Berangkat sekolah “nyeker” (lucunya aku dulu, meskipun punya sepatu tapi tak jarang sekolah memilih ga pake alas kaki alias nyeker seperti sebagian teman-teman, bahkan pake sandal pun tidak), meskipun punya payung tapi suka milih pake payung pelepah pisang ambil dari kebon tetangga, seru.. Bahkan teman-teman ada yang sangat kreatif. Pake baju plastik dari kresek bekas ukuran besar, kepalanya ditutup kresek ukuran kecil. Mungkin itulah cikal bakal jas hujan yang ada sekarang. Kali… (ngaco kalau ini). Kadang tasnya diganti pake plastik kresek juga. Jangan salah, jaman itu masih cukup banyak anak yang sekolahnya pake “tas” kresek. Jangan tanya apakah sampai sekolah baju seragam merah putih kering kerontang. Selama pelajaran biasa saja tuh pake baju basah-basahan. Paling kalau berhari-hari seperti itu baru sakit. Hehe..

Nha, pulang sekolah ada petualangan seru yang siap menantang. Karena di belakang SD inpres membentang sawah yang dipenuhi genangan air hujan, anak-anak sering memanfaatkan kesempatan untuk bermain. Jangan heran kalau anak-anak tidak langsung pulang, tapi malah buka seragam langsung nyebur ke air yang warnanya seperti karamel bahkan susu coklat itu. Kalau aku sih ga pernah (ciee…), soalnya ga bisa berenang dan takut ada ular atau lintah. Tak mau kalah aku pun ikut serta bermain meskipun hanya berjalan-jalan di pematang yang terendam air hujan cukup dalam. Karena kami sudah hapal dimana letak jalur pematang menuju area rumah penduduk desa, maka dengan bantuan sebilah bambu kecil, dengan mudah kami menyusurinya. Kadang juga terpeleset, baju basah. Tapi ga kapok juga. Malah terbahak-bahak. Di jakarta warga menangis-nangis karena selalu banjir. Sementara kami malah bahagia kalau sawah banjir.

Bukannya memilih jalan raya untuk pulang, kami malah menantang rute yang membahayakan. Kalau dipikir-pikir, cukup dalam lho genangan airnya, bisa selutut, sepaha, bahkan ada bagian yang sampai sedada. Tentunya tas atau buku kami panggul di atas kepala, bagi anak perempuan roknya ditarik setinggi-tingginya. Haha… (jangan ditiru ya..).

Ya, begitulah bagaimana kehidupan sekolah anak kampung jaman dulu. Orangtua sepertinya tak ada yang khawatir terhadap anak-anaknya. Paling-paling marah karena setiap hari mengotori seragam. Sebab itulah kebanyakan seragam anak tak berwarna putih susu, tapi coklat susu. Haha..

Sebenarnya saat musim hujan kegiatan belajar banyak yang tidak efektif. Si ini absen lah karena sakit, si itu juga absen karena sakit, anak-anak pada terlambat, gurunya juga terlambat, belum kalau kelas bocor, belum kalau anak-anak bajunya basah-basahan. Belum lagi kalau beberapa pelajaran ditiadakan karena hujan. Tapi ga masalah kan yang penting datang. Daripaa nanti di raport ada keterangan:
S : 11 hari
I : 7 hari
A : 5 hari
(s = sakit, i = ijin, a = alpha atau tanpa keterangan alias bolos). Kalau banyak catatan kriminal seperti itu kan bisa mempengaruhi rangking kelas. Wah gawat…

Kalau anaknya rajin sekolah sih hujan lebat tak jadi masalah. Kalau pemalas, hujan rintik saja bisa jadi alasan bolos. Apalagi kalau anaknya gampang sakit kayak ahmad ni, bisa ijiiiiin terus. Lha kalau musim penghujan berlangsung 4-6 bulan, mosok tho yo bolos setengah tahun. Hehe.. Cuma ambil summer school aja. Halah gaya kaya di londo sono…

Hmmm inilah nikmatnya jadi ahmad…

(sambil memperhatikan anak-anak yang penuh perjuangan ditengah hujan menuju sekolah ^^)

Semoga yang di rumah maupun di sekolah anak-anak tetap belajar dengan senang hati…

Doa yang tulus *)


“Ahmad mau doain om biar cepet tobat, cepet sadar, mungkin sudah takdirnya sekarang om belum sadar-sadar, moga-moga nanti sebelum meninggal tiba-tiba sadar”

*) terinspirasi hadits: “….sesungguhnya ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amalan-amalan penghuni neraka sampai jarak dia dengan neraka tinggal satu hasta, karena takdir yang telah ditetapkan, maka dia mengerjakan amalan penghuni surga sehingga dia masuk surga” (Hadits ke-4 arba’in nawawi, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Pilih Kaya atau Miskin?


Ahmad dengar kajian dari radio. Ustadz pas banget sedang membahas masalah yang sedang menjadi “hot” topik di rumah.

Ahmad disuruh milih:
Mau jadi orang kaya tapi tertahan 500 tahun sebelum masuk surga, sampai orang-orang miskin yang ahli surga masuk dulu ke dalam surga, atau mau jadi orang miskin tapiĀ  masuk surga duluan? Baca lebih lanjut