Jawablah pertanyaan ahmad, ya mi!


Ya allah… ampun… dikasih soal2 sama ahmad ga bisa jawab lengkap. “Mi, sebutkan 14 pembatal keislaman!”.. sampe dipancing2 baru bisa jawab…haha… ngisin-ngisini tho??? Sampe ahmad komentar, “haduuh ummi, ga tau pun! Ckckckck”. Padahal dia jg baca buku.. ga hapal. haha..

Terus, ada lagi soal yang rada vulgar, “coba mi, sebutkan cara2 membersihkan diri ketika haidh!”… gubrakkksss!!!! Kok bacanya bab itu sih???

Terus si dosen ganti pelajaran, “sebutkan nama buah2an, sayur2an, dan juga lauk pauk!” Harus sama persis seperti yg di buku. Tobaaaat…dosennya kejam, hahaha…

Jaman sekarang kebalik2 ya… ibunya mau ngajari anaknya, ngasih pertanyaan, eh dibalik… orangtuanya yang dikasih tebak2an… kalo ga bisa jawab bisa jadi alasan, kalau nanti dia dikasih soal tapi ga bisa jawab gapapa kan lha wong umminya juga ga bisa jawab?!

Iklan

Berpikir logis ala anak-anak


Pernah dengar kalau anak kecil itu sebaiknya ditekankan untuk lebih banyak menghapal, bukan lebih banyak berpikir logis??. Karena usia kecil ketajaman hapalan anak-anak sangat bagus, maka sangat baik untuk diberikan porsi menghapal lebih banyak. Sedangkan untuk berpikir logis itu alami sesuai dengan perkembangan usia.

Tapi herannya ahmad… dia lebih mudah berpikir logis dan rada malas menghapal. Hehe… Kalau anak malas ngapal, jangan komplain anaknya dong, salahkan orangtuanya! Hehehe….

Sudah satu paket, apapun keadaan ahmad kami terima dengan senang hati alhamdulillah… Kelebihan dan kekurangannya. Lha wong orangtuanya juga begini banyak kekurangannya…

Akhir2 ini, ahmad makin bervariasi pertanyaannya, seiring dengan level berpikir logisnya… sayang sekali ga saya catat apa saja pertanyaan2nya. Padahal banyak yang belum terjawab.

Contohnya:  bijaksana itu apa sih mi?
(Hehe, bingung saya jelasinnya)

Pertanyaan2 dadakan sering terlontar saat menjelang tidur. Kayaknya, dalam keadaan mau tidur itu memorinya mereview kembali apa yang pernah dia baca, alami, dengar, dan temui… Ketika ada sesuatu yang mengganjal dia pun baru teringat untuk bertanya. Kalau rasa penasarannya terjawab, barangkali dia bisa tidur nyenyak… hehe.

Seperti halnya anak2 pada umumnya, ahmad juga bisa menarik silogisme dari premis2 yang dia temui. Seperti misalnya, ketika umminya tidur terus (maklum, bawaan hamil, ngantuk aja bawaannya, hehe membela diri), ahmad menyimpulkan, “jangan2 ummi kena penyakit tidur nih, soalnya ada lalat yang kalau menggigit jadi tidur terus”. Hahaha…. silogisme yang konyol!!! Entahlah dia baca dari mana fakta itu. Katanya dari salah satu ensiklopedi, tapi dia pun ga begitu yakin. Makanya dengan rendah hati dia bilang, “maaf ya mi, kalau ahmad salah ingat”. Hahaha…. dia kawatir salah vonis tuh!

Atau yg ini: dia berpikir ketika umminya melahirkan, otomatis umminya akan sibuk mengurus adek bayi, sehingga ga ada yang mengurus ahmad. Jd dia membuat silogisme “sebaiknya abi cari istri baru, biar ummi ngurus adek bayi, ummi baru ngurus ahmad”. Ini silogisme yang menguntungkan abinya tentunya, dan menyengsarakan batin umminya… hahaha… *kayaknya abinya ahmad masih mikir 1150x utk poligami*

Begitulah sedikit contoh konyolnya pikiran2 logis ahmad…

Jadi, temans…. kalau anda ingin anak anda tidak berpikiran konyol seperti ahmad, sebaiknya ajarilah menghapal sebanyak2nya…*senyum*

Masih seperti yang dulu…


Eleuh… kaya judul lagu. Ini tentang ahmad. Ya, ahmad memang masih seperti yang dulu. Masih kecil mungil badannya, masih ngulang2 juz 30 hapalannya… hahaha…*parah kalau ini*

Ga papa. Sekarang lagi jalanin program abi, hapalin 3 baris sehari. Kalau satu halaman 15 baris, berarti 5 hari 1 halaman. Anggap saja 1 halaman 1 minggu. 1 juz ada 10 lembar atau 20 halaman. Berarti 1 juz butuh 20 minggu atau 5 bulan. Berarti setahun 2 juz. Lulus SD kalau bisa hapal 12 juz, syukur2 15 juz. Lulus SMP moga2 hapal 30 juz. Halah…. ngimpi….!!! Aamiin… Doa gitu lho!!! moga2 lancar dan umminya (dan abinya) juga serius.

Ngomong2 soal “masih seperti yang dulu”, memang begitulah adanya ahmad. Meskipun ahmad hampir 7 th, ahmad masih polos dan lugu seperti dulu. Masih cerewet, masih suka ngeyel (hehe), masih suka cerita, masih tidur sama umminya, masih dibantuin segala macamnya…

Ahmad masih suka baca, alhamdulillah. Majalah baru ga sampai 1 hari habis dibacanya… dia ngeluh karena buku kisah semua sudah dibacanya *pengakuannya*, ngeluh karena ga ada majalah dan buku-baru.  Dia masih suka berteman. Merana rasanya sehari ga keluar main sama teman-temannya. Masih suka di depan komputer. Porsi di depan komputer, di depan tablet, dan ngenet masih terlalu banyak. Jangan salahkan umminya, tapi abinya! Hahaha…. *piss, abi!*

Yang jelas, ahmad masih mau HS. Alhamdulillah… semoga program ini selalu seiya sekata… jadi lebih mudah bagi kami untuk melaluinya…

Cerai…..


Hmmm tulisan ini terinspirasi dari kasus yang pernah membelit ahmad beberapa waktu lalu.

Untuk ke sekian kalinya ahmad merasa tertuduh. Oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan ibu-ibu komplek. Hehe..

Tersebar kabar bahwa ahmad memberitakan mamah si x cerai dari suaminya. Kata si pembawa pesan sih itu kata ibu-ibu di belakang sana, katanya mamah si x cerai. Sontak gerombolan ibu-ibu itu kaget dam terpana, *anak sekecil ini sudah tahu cerai*. Lantas siapa yang akhirnya mendapat nama buruk? Umminya pastinya. *tahu dari mana xoba kalau bukan dari orang tuanya*. Itulah kesimpulannya.

Mendengar cerita itu seorang ibu menginterogasi ahmad.
“ahmad, cerai itu apa?
“berpisah”
“kata siapa mamah x cerai sama papah x?”
“kan mamahnya x sama papahnya x tinggalnya berpisah”

Begitulah kurang lebihnya… Dan kemudian ahmad pun dinasihati jangan sekali-kali bilang begitu ya! Ga sopan..!

Kalau masalah sekedar berhenti sampai di situ tidak masalah. Masalahnya sahabat sang mamah x merasa bahwa si mamah x itu telah tercoreng nama baiknya.

Dan yang mengherankan…mereka mengambil hati celotehan anak kecil bernama ahmad. Ssst…gosip..gosip…

Taruhlah kalau itu benar ahmad mengucapkan demikian. Kalau tidak?? Berarti itu dzolim terhadap anak-anak. Sementara, jarang ibu-ibu ketika sengaja maupun tidak berbuat salah terhadap anak-anak di sekitar mereka lantas meminta maaf terhadap anak-anak tersebut. Parahnya, jarang ibu-ibu membersihkan nama baik anak-anak yang telah dia dzolimi dengan menuduh mereka sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Ah barudak kene… Begitu kan? Lantas bagaimana ada rumus orangtua salah ga masalah…??

Katanya sih benar lho ahmad bilang ke ibu-ibu kayak gitu. Meskipun begitu sang perawi berita tidak bisa menceritakan kronologisnya. Dan ketika dalam waktu yang berbeda-beda kutanyakan, ahmad selalu mengaku tidak melakukannya, dia bahkan sedih kenapa dia dituduh lagi..dituduh lagi..

Hayo…yang benar yang mana?

Pertama asas praduga tak bersalah. Kedua ibu-ibu juga tidak bisa memberikan bukti. Hanya katanya-katanya. Aku mau urus ke sumber berita juga buat apa gitu lhoh… Malah bisa merenggangkan hubungan bertetangga atau bahkan berpotensi mengadu domba. Karena jika ternyata terbukti mereka yang salah, aku kasihan pasti mereka malunya minta ampun…

Ketiga, kalaupun ahmad benar mengucapkan seperti itu.

Maka dari sisi mendengar dari mana ada beberapa wajhu dalalah:
1) umminya tak pernah menceritakan perihal si mamah papah yang bercerai. Kenal juga ga, punya kepentingan juga ga.. Ga ada faidahnya buat kami membuat gosip murahan seperti itu (bukan berarti kalau gosip “berkelas” itu dibolehin lho ya)
2) bisa jadi ahmad mendengar atau terlibat obrolan ala anak-anak dari teman sepermainannya.
3) kesimpulan ahmad sendiri berdasar daya kreasi pikirannya yang masih cetek ini.

Adapun dari sisi maksud ucapan maka ada beberapa wajhu dalalah:
1) analogi ahmad sendiri. Sampai sekarang ahmad baru tahu batasan bercerai sebatas “berpisah”. Terbukti dari jawaban dia ketika diinterogasi seorang ibu. Karena kebetulan si mamah dan papah tinggalnya beda atau pisah rumah (karena rumahnya dua, jadinya kadang disana kadang disini, kadang bareng kadang pisah, aslinya sih ga bercerai)
2) ahmad tidak bermaksud menyebar gosip apalagi menjatuhkan nama baik. Ahmad ngerti apa sih tentang gosip? Kok yakin ahmad tidak bermaksud begitu? Ya tahu lah, saya kan ibunya… Iih, meni aneh ibu-ibu omongan anak kecil dimasukin hati. Tong kitu teuing atuh bu-ibu..

Dari sisi alasan mengucapkan:
1) sekali lagi belum ada bukti akurat, jadi ada kemungkinan ahmad memang tidak mengucapkan itu
2) kalaupun mengucapkan, bisa jadi dalam kondisi ditanya-tanya. Di komplek ahmad memang sering jadi bahan ditanya-tanya, karena dia bisa aja jawabnya
3) atau dia mendengar slentingan entah dari ibu-ibu ketika mereka ngobrol, atau percakapan anak-anak ketika ngobrolin mamah papah mereka masing-masing. Dan ahmad yang tahu bahwa si mamah papah x ga tinggal bareng lantas menyimpulkan bercerai.
4) ga ada alasan sama sekali. Sekedar nyeletuk saja karena tiba-tiba “lewat di kepala” pada moment dan tempat yang salah

Nah. Bagaimana ahmad mengenal istilah cerai pertama kali? Apakah terlarang baginya mendapat penjelasan tentang cerai di usianya yang 6 tahun ini?

Entah sebuah kelebihan atau kekurangan, di usia 6 tahun ini, ahmad  banyak menggunakan kosa kata yang jarang digunakan oleh anak-seusianya pada umumnya. Bahkan kadang teman ummahat berkomentar, “wah, ahmad bahasanya itu lho”.

Apa kami yang mengajari dia agar memilih diksi tertentu? Tidak. Dia cepat menyerap bahasa dan istilah. Dan sering melakukan improvisasi dalam berkata-kata. Jika dia mendapatkan satu definisi kata atau istilah dia bisa menganalogikan pada beberapa kasus. Tentunya sebatas apa yang dipahaminya.

Seperti kata cerai. Kalau tidak salah ingat dia bertanya tentang cerai bermula dari ketidak sengajaan mendengar ustadz ketika kajian, lupa dari radio atau di masjid. Mungkin juga dia pernah membaca kisah atau terjemahan ayat atau hadits yang terdapat kata “bercerai”. Memang pada konteks pernikahan, bercerai maknanya lebih khusus dari berpisah, berpisah tidak menjadi suami istri lagi. Karena berpisah tidak mesti bercerai. Contoh yang pernah kuberikan pada ahmad, “kalau abi tugas ke jogja, ummi ditinggal di bandung, itu namanya berpisah, tapi tidak dikatakan bercerai”. Adapun pada kalimat “janganlah kalian bercerai-berai”, tentu dia lebih bisa menerima makna berpisah. Yang intinya, dia memahami bercerai itu kurang lebih berpisah.

Kami pribadi memandang andaikata ucapan itu benar adanya, maka kami cukup mengerti maksud ahmad. Dan tak perlu memberikan respon berlebihan. Apalagi sampai dimasukan ke hati. Seperti akhir-akhir ini dia sering berkomentar “ih, ummi ge-er”. Sayangnya dia selalu menempatkan kata ge-er pada kontak yang salah. Paling dijelaskan lagi makna dan tempat yang tepat ketika menggunakannya.

Berlebihan rasanya kalau sampai menjadikan ucapan ahmad ini sumber berita valid, sungguh akal orang dewasa telah hilang sebagiannya. Tinggal dijelaskan biar ahmad ga salah memahami dan menempatkan kata, kan lebih baik untuk semua pihak.

Aku tak kurang-kurangnya wanti-wanti ke ahmad. Karena dia cukup pintar berkata-kata maka aku tak pernah lupa berpesan agar dia hati-hati ketika mengucapkan sesuatu di luar rumah sana. Dia pun menyadari itu. Karena tak hanya satu dua yang menganggap ahmad masih sangat kecil dan tak pantas menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai anak-anak seusianya. Salah-salah si ahmad dianggap “kelainan”.

Beberapa kejadian yang dia alami berkaitan dengan interaksi dengan ibu-ibu, ahmad mengeluh karena sering dituduh. Masyaallah, anak sekecil ini sampai merasakan perasaan sedalam itu. Kalau teman-temannya, misal ditegur atau dipojokkan oleh ibu-ibu karena mainnya kelewatan, paling juga cuma didengar omelan si ibu itu, habis itu lupa. Tapi ahmad tidak!!! Kata-kata, komentar, bahkan tuduhan, membekas dalam hatinya. Aku yakin hatinya pun merasa sakit.

Apa aku harus memaksanya untuk bertingkah “normalnya” anak-anak seusianya? Padahal anak-anak jaman sekarang juga banyak yang ga normal. Apakah aku harus menutup mulutnya ketika dia bertanya tentang cerai itu apa, menikah, melahirkan itu bagaimana, dan semacamnya?

Jadi ibu-ibu, marilah kita bersikap bijaksana terhadap anak-anak kita, anak-anak tetangga kita, teman anak-anak kita. Mereka perlu bimbingan dari rumah dan lingkungannya. Anak-anak juga makhluk sosial. Anak-anak adalah makhluk kecil yang selalu bereksplorasi, dan ingin tahu banyak hal. Kita memberikan apa yang dia butuhkan dari rumah. Dan dia mendapatkan warna baru dari lingkungannya. Dan ibu-ibu adalah salah satu komponen dalam lingkungan sosial anak-anak. Ibu-ibu adalah makhkuk kedua yang sering ditemui anak-anak dalam lingkungan permainan mereka. Maka jadilah ibu yang bijaksana, yang cerdas, yang peduli dan empati, jangan sampai ibu-ibu justru menjadi oknum bullying bagi anak-anak di lingkungannya.

Semua anak yang ada disekitar kita tinggal juga anak-anak kita, kita berperan dalam melakukan kontrol norma di sekitar kita.

Semoga ini menjadi pengalaman berharga. Pelajaran mendidik anak sungguh luas medannya. Lingkungan adalah tempat belajar yang tiada habisnya.

Doa yang tulus *)


“Ahmad mau doain om biar cepet tobat, cepet sadar, mungkin sudah takdirnya sekarang om belum sadar-sadar, moga-moga nanti sebelum meninggal tiba-tiba sadar”

*) terinspirasi hadits: “….sesungguhnya ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amalan-amalan penghuni neraka sampai jarak dia dengan neraka tinggal satu hasta, karena takdir yang telah ditetapkan, maka dia mengerjakan amalan penghuni surga sehingga dia masuk surga” (Hadits ke-4 arba’in nawawi, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Pilih Kaya atau Miskin?


Ahmad dengar kajian dari radio. Ustadz pas banget sedang membahas masalah yang sedang menjadi “hot” topik di rumah.

Ahmad disuruh milih:
Mau jadi orang kaya tapi tertahan 500 tahun sebelum masuk surga, sampai orang-orang miskin yang ahli surga masuk dulu ke dalam surga, atau mau jadi orang miskin tapi  masuk surga duluan? Baca lebih lanjut